
Sofia melihat arwah Nisa terjatuh di depan nya. Dia kemudian ingat kalau terakhir kali tadi, tubuhnya dipinjam arwah ini. Sofia ingin marah, tapi banyak orang duduk di koridor,
alhasil dia kembali ke ruang perawat dengan kesal.
"Apa yang dilakukannya dengan tubuhku tadi".
"Ah...wanita itu sungguh keterlaluan".
"Awas saja kalau dia aneh-aneh dengan tubuhku ini".
Dito masih terkejut dengan perlakuan perawat
tadi kepadanya. Dia kemudian keluar menemui orang tua Nisa.
"Pak,, sebaiknya kita bawa saja Nisa pulang, lagipula besok pagi adalah batas terakhir
untuk menjawab keputusan dokter".
"Bapak terserah kamu saja Dito, kalau menurutmu baik, bapak akan ikut".
"Aku akan mencari perawat untuk Nisa dan si kembar pak, supaya aku bisa kembali bekerja".
"Tapi Dito, bapak bukan bermaksud lari dari tanggung jawab, cuma bapak dan ibu harus kembali ke Jogja".
"Silahkan pak,, Nisa dan si kembar, biar aku yang urus".
Dito memasang lowongan kerja untuk menjadi perawat di rumahnya. Dia juga minta bantuan Anton dan Ratri. Namun ternyata tidak mudah mencari perawat di saat seperti ini.
"Mas,,ayo...temui Sofia, hanya dia yang cocok untuk merawat ku dan si kembar".
Dito kemudian teringat dengan perawat muda yang mencium nya waktu itu. Dia menemui
nya di ruang rawat.
"Saya mencari Sofia, dia ada di sini".
"Saya Sofia,,anda siapa??".
Dito menarik tangan Sofia keluar. Disana, Nisa sudah berdiri di samping mereka.
"Kemarin kau menawarkan diri untuk merawat istriku kan??".
"Aku menerimanya sekarang".
"Tunggu pak,,anda bicara apa??".
"Saya tidak merasa mengenal anda?"
"Kau lupa, aku bisa mengadukan mu atas insiden waktu itu??"
"Maksud bapak,, insiden apa?".
__ADS_1
Nisa tersenyum nakal di sebelah Sofia, ketika tiba-tiba dirinya ditarik oleh sosok tinggi besar dan bermata merah. Makhluk itu menggendongnya dan membawa Nisa ke dalam ruangan di samping kamar mayat.
Sofia tentu saja melihat semua itu, tapi dia tak kuasa berbuat sesuatu. Risa dan Dena segera berlari mengejar Nisa yang terus menjerit ketakutan dan meminta tolong.
Nisa tahu betul sosok yang membawanya itu adalah Genderuwo. Dia pernah sangat trauma dengan makhluk itu. Dia meronta-ronta hendak melepaskan diri dari Genderuwo tersebut.
Itulah yang dimaksud Risa dan Dena kemarin
tentang makhluk yang mereka takuti. Entah kenapa tiba-tiba dia bisa menangkap Nisa.
Sudah terlambat bagi keduanya untuk menolong Nisa. Makhluk itu sudah membawanya masuk ke ruangan tempatnya tinggal di rumah sakit ini.
Perawat mencari Dito dan memanggilnya, karena tiba-tiba kondisi Nisa drop. Dia kejang-kejang dan sesak nafas. Dokter sedang menangani kondisinya saat ini.
Dito berlari ke ruang ICU, sementara Sofia mencari Nisa ke arah makhluk itu membawanya tadi. Sofia sangat khawatir, tapi tak menemukan keberadaan Nisa di manapun
Sementara Nisa dibawa menjauh dari tubuhnya, makanya kondisi tubuhnya drop.
Genderuwo itu membanting Nisa ke lantai.
Dia segera mengikat tangan dan kakinya sambil menggeram kasar.
"Tolong....jangan sakiti aku, lepaskan aku".
"Genderuwo itu tidak perduli. Dia segera menyentuh Nisa dengan kasar. Genderuwo itu bahkan menciumi Nisa dengan brutal.
Nisa menangis, tak kuasa melawan Genderuwo yang kasar itu. Dia bahkan hanya bisa pasrah, ketika Genderuwo itu akhirnya menyetubuhinya. Setelah selesai melakukan nya, dia berteriak puas dan meninggalkan arwah Nisa yang masih terikat.
Nisa merasakan nyeri, namun dia berusaha melepaskan rantai yang mengikatnya. Genderuwo itu sangat kejam dan ganas.
Dia melakukan serangan tiba-tiba pada arwah Nisa.
Sofia yang melihat memar di tubuh Nisa sangat khawatir. Dia tahu pasti apa yang dialami oleh arwah Nisa. Makhluk itu mungkin menyiksanya dengan kejam.
Dengan tertatih-tatih Nisa berusaha keluar dari sarang Genderuwo itu. Di depan ruangan sudah menunggu Dena dan Risa. Mereka langsung menolong arwah Nisa.
"Kau harus segera pergi dari sini,, kalau tidak dia tak akan pernah melepaskan mu?".
"Kau tak akan dibiarkan kembali ke tubuh mu".
"Kau akan langsung meninggal seketika".
Nisa langsung pusing mendengar perkataan mereka berdua. Dengan berpegangan pada dinding rumah sakit, Nisa mencari Sofia.
Nisa menemukannya di ruang ICU. Dia langsung masuk ke tubuhnya.
"Sebaiknya kita segera bawa ibu pulang pak".
"Saya bersedia merawat ibu di rumah".
"Tolong bapak mekanismenya dengan pihak rumah sakit agar setelah ibu Nisa sembuh, saya masih bisa kerja disini".
__ADS_1
Dito menyetujui permintaan Sofia. Malam itu juga mereka meninggalkan rumah sakit.Nisa masih di dalam tubuh Sofia. Dia naik ke mobil ambulans yang membawa Nisa.Sampai di dalam mobil, Nisa keluar dari tubuh Sofia.
Dia melihat ke arah Nisa, dan tampak kebingungan karena berada di atas mobil ambulans.Dia berbicara lirih kepada arwah Nisa.
"Kau mau membawaku ke mana??".
"Maaf Sofia, mulai hari ini kau bekerja untuk merawat ku dan si kembar".
"Aku tak punya jalan lain, di rumah sakit itu nyawaku terancam".
"Memangnya apa yang terjadi denganmu??".
"Makhluk itu menyiksaku tanpa ampun".
"Mungkin aku bisa mati kalau tidak melarikan diri dari sana".
"Baiklah,,, aku akan membantumu,,, tapi jangan pernah lakukan kontak fisik dengan suamimu menggunakan tubuhku,, kau mengerti??".
Nisa menyetujui permintaan Sofia. Yang terpenting sekarang hanyalah pergi sejauh mungkin agar Genderuwo itu tidak bisa menyakitinya lagi.
Setelah beberapa saat perjalanan, mereka tiba di rumah Dito. Petugas kesehatan menurunkan Nisa dan membantunya memasang peralatan di kamarnya. Sementara
Dito keluar dari mobilnya membawa kembar dengan dibantu Sofia.
"Suster Sofi,tolong bawa kembar ke kamar yang sudah saya siapkan".
"Baik pak".
Sofia memasuki rumah Nisa. Dia terhenti di pintu dan memandang rumah Nisa. Rumah yang nyaman dan keluarga yang harmonis.
Sayang sekali ibu dari anak-anak ini harus terbaring tak berdaya di tempat tidur.
"Kau lihat kan,, mas Dito sangat menyayangi
ku, itulah sebabnya aku meminta bantuanmu".
"Sampai aku sadar kembali,,tolong kau sebagai perantara aku berkomunikasi dengan suamiku".
Sofia memandang Dito yang sedang memindahkan Nisa ke kamarnya. Terlihat bahwa dia sangat mencintai Nisa. Sofia kemudian mendorong kereta bayi kembar sampai ke kamar mereka.
Dito sudah selesai memindahkan Nisa ke kamarnya. Dia mencium kening istrinya yang masih diam tak bergerak.
"Sayang,, kita sudah kembali ke rumah lagi".
"Aku rindu sekali padamu Nisa, kau lihat kan aku tidak mengubah dekorasi kamar ini, supaya ketika kau sadar, kau tidak merasa asing".
"Kau tahu sayang,,, sampai kapan pun aku akan menunggumu".
"Berjuanglah Nisa, demi aku dan anak-anak".
Dito memeluk erat tubuh Nisa. Setelah berhari-hari, akhirnya dia bisa menangis di samping Nisa. Air mata Dito jatuh mengenai kelopak mata Nisa. Dia bereaksi, jarinya bergerak walau masih lemah.
__ADS_1
...****************...