
Pagi hari nya rumah Nisa sudah heboh dengan gerutu an ibu mertuanya. Dia merasa kecolongan karena Roy dan Nisa serta kedua putrinya rupanya pindah ke hotel saat mereka tidur semalam.
"Kau lihat Sri,, wanita seperti itu yang selalu kau bilang baik ?".
"Dia sudah menguasai pikiran Roy sehingga anak itu menurut kepadanya".
"Bukan begitu nyonya, Bu Nisa memang wanita yang baik selama ini".
"Pak Roy tak pernah mengeluh dengan sikapnya".
"Jadi kau berani menentang ku demi wanita itu Sri??".
"Dia belum lihat siapa aku sebenarnya".
"Aku akan memberinya pelajaran setelah ini".
"Lepaskan semua tabir pelindung yang kau pasang di rumah ini".
"Mulai sekarang, aku yang ambil alih".
Sri gemetar mendengar ultimatum dari majikan nya. Dia tahu pasti seperti apa kekuatan wanita itu. Sri hanya berharap kalau Nisa akan baik-baik saja nanti nya.
Sebenarnya Sri sudah menyayangi Nisa sejauh ini. Tinggal dengan nya beberapa waktu ini, cukup bagi Sri untuk mengenal watak dan kepribadian Nisa. Ternyata karakternya tidak seperti yang di tuduhkan oleh majikan nya. Nisa dan kedua putrinya adalah orang yang baik menurut Sri.
"Siapkan semuanya Sri, hari ini juga aku akan membuat wanita itu sengsara".
"Selama ini aku diam, tapi rupanya wanita itu semakin ngelunjak".
"Nyonya pikirkan dulu baik-baik".
"Kasihan mas Roy nanti kalau dia sampai tahu semua ini".
"Mas Roy bisa saja meninggalkan nyonya dan lebih memilih Bu Nisa".
"Kau lihat kan Sri, dia sudah melakukan nya".
"Biar ku beri wanita itu sedikit pelajaran".
Sri terpaksa menuruti kemauan dari ibu Roy. Dia menyiapkan sesajen dan menaruhnya di dalam kamar tamu. Kali ini sasaran nya adalah menantunya sendiri. Menantu yang tak di restu i nya hanya karena dirinya seorang janda. Sri sungguh sangat kasihan dengan Nisa.
Sesuai permintaan majikan nya, Sri menyiapkan sesajen yang di minta oleh ibu Roy. Sri menaruh semua perlengkapan di kamar nya. Tak banyak yang tahu sisi lain dari ibu Roy yang sering melakukan pemujaan. Bahkan Roy sendiri pun tak mengetahui hal ini. Diam-diam, kegiatan ini sudah di lakukan nya selama bertahun-tahun.
__ADS_1
"Semuanya sudah siap nyonya".
"Bagus Sri,,, taruh foto wanita itu di tempat sesaji".
"Nyonya,,,pikirkan baik-baik, Bu Nisa sekarang sudah menjadi menantu nyonya".
"Kau berani ikut campur sekarang,,,entah apa yang ada dalam diri wanita itu, sampai kalian semua terpengaruh oleh nya".
"Tak usah banyak bicara Sri, diam lah seperti waktu-waktu yang lalu!!!".
Sri tertunduk dan langsung berlalu pergi dari hadapan majikan nya tersebut. Dia sudah tidak bisa lagi menghalangi niat majikan nya untuk mencelakai Nisa, menantu nya sendiri.
Sungguh sangat di sayangkan, majikan nya ini tidak mengenal Nisa dengan baik. Padahal menantu nya itu tidak seperti yang di sangka kan nya.
Nyonya Harti, ibunda Roy langsung masuk ke dalam kamar. Dia menutup pintu dan bersemedi di depan sesajen yang sudah di siapkan oleh Sri. Dari dalam tas kecil milik nya. Wanita itu mengeluarkan boneka dari kain kafan berbentuk pocong berukuran kecil.
Nyonya Harti memegang boneka tersebut dan memejamkan mata. Mulut nya komat-kamit membaca mantra. Tubuh boneka itu di panggang di atas kepulan asap kemenyan yang baru saja di hidupkan nya.
Dengan penuh amarah, harti menusuk boneka tersebut dengan jarum, tepat mengenai perut nya. Berulang kali dia melakukan nya sambil tersenyum puas.
Di kamar hotel, nisa tiba-tiba terbangun karena merasakan sakit di perut nya. Dia berteriak memanggil Roy untuk menolong dirinya.
"Roy,,,, bangun perut ku rasanya sakit sekali".
Roy terbangun seketika mendengar teriakan Nisa. Dia segera melompat dari tempat tidur dan menghampiri Nisa yang sedang berteriak sambil memegangi perut nya. Keringat nya bercucuran dan wajah nya pucat pasi. Badan nya berguling ke kanan dan ke kiri berusaha menahan rasa sakit nya.
Roy buru-buru mengangkat tubuh istri nya itu.
Dia berlari ke bawah dan meminta bantuan pegawai hotel untuk membawa mereka ke rumah sakit. Sesampai nya di rumah sakit, Nisa langsung masuk ke ruang gawat darurat. Tubuh nya sudah lemas dan tak lagi mempunyai tenaga. Dia hanya bisa merintih menahan sakit yang terus menghujam perut nya.
"Tolong istri saya dokter,, dia sudah hampir pingsan".
"Sebaik nya bapak tunggu di luar, biar kami periksa dulu".
Begitu Roy keluar, dokter segera memeriksa kondisi perut Nisa dengan seksama. Tampak nya tidak ada masalah apa pun saat Nisa di USG. Semuanya tampak bagus dan kelihatan normal. Namun, Nisa masih saja mengeluh kesakitan. Sementara dokter hanya menyuntik kan obat pereda nyeri untuk Nisa, sambil menunggu observasi lebih lanjut.
Dokter keluar dari ruang periksa dan menemui roy. Dia berusaha mencari tahu kronologi sakit nya Nisa.
"Bagaimana dokter,, istri saya sakit apa??".
"Kami masih mencari tahu pak,,karena hasil pemeriksaan semuanya bagus".
__ADS_1
"Apa istri anda salah makan atau mengkonsumsi obat-obatan tertentu??".
"Setahu saya tidak dok, kami tiba di hotel sudah malam, dan langsung tidur".
"Baik lah pak, kalau begitu untuk sementara ibu Nisa harus opname dulu".
"Kami akan memeriksa lebih lanjut perihal penyakit nya".
"Baik dokter".
Roy masuk ke ruangan tempat Nisa di rawat. Dia sudah tampak lebih tenang, walau mukanya masih sangat pucat. Suntikan pereda nyeri yang di berikan dokter sedikit mengurangi kesakitan nya.
Roy mengeluar kan ponsel nya dan menelpon Sofia. Saat Roy membawa Nisa, mereka semua masih tertidur tadi. Roy takut kedua putri nya mencari Nisa.
"Sofi,apa anak-anak sudah bangun??".
"Kalau sudah kau antar mereka ke sekolah hari ini, Nisa sedang sakit, semalam aku membawanya ke rumah sakit".
"Baik pak Roy, tapi bu Nisa sakit apa pak?".
"Aku masih belum tahu Sofi, dokter masih memeriksanya".
"Minta Alan untuk mengantar mu, seteaah itu suruh Alan menjemput orang tua Nisa, aku akan memberitahu ibu di rumah".
"Baik pak Roy".
Sofia segera melaksanakan perintah Roy. Dia memeberitahu si kembar tentang kondisi Nisa. Tak lupa Sofi menenangkan mereka agar tak membuat keduanya khawatir dengan kondisi ibu mereka.
NIsa masih tergeletak lemah di ranjang rumah sakit. Dia tak lagi merasa kesakitan. Tentu saja hal itu karena nyonya Harti menyudahi serangan fajar nya hari itu. Dia sedang berada di meja makan untuk sarapan.
Roy masuk ke dalam dan menggenggam jemari Nisa. Dia sudah sadar dari tadi. Nisa melempar senyum kepada Roy yang duduk di dekat ranjang nya.
"Kau sudah merasa baikan,, atau masih merasakan kesakitan?".
"aku sudah mendingan Roy, maaf sudah membuat mu panik".
"Dokter masih belum menemukan penyakit mu, makanya kau harus di rawat untuk sementara".
"Aku tahu Roy, entah kenapa perut ku rasanya seperti di tusuk-tusuk, ngilu dan nyeri, baru kali ini aku merasakan nya".
"Sabar lah Nisa, aku yakin kau pasti akan sembuh".
__ADS_1
Roy mencium kening Nisa.Dia tahu kalau Nisa sedang tidak baik-baik saja. Biasanya dia tak pernah mengeluh untuk hal apapun, tapi kali ini wajah nya menunjuk kan sesuatu yang berbeda. Roy tampak merasa cemas dengan keadaan istri nya kali ini.