
Nisa masih kesal dengan perkataan Roy di warung makan. Sedianya mereka ingin nostalgia malah gagal. Keduanya pulang dengan raut muka kecewa.
"Itu yang kau bilang boss sinting??".
"Dia memang sinting kan,,, cuma dia kaya jadi
tidak terlihat gila nya".
"Sabar sayang,,, yang penting semuanya baik untuk perusahaan".
"Lihat saja nanti,, Anton harus membayar mahal untuk kekesalan ku ini".
Dito masih saja mengejek dan menertawakan
Nisa. Sepanjang jalan tak henti-hentinya menggoda istrinya tersebut.Sampai di rumah, Nisa masih saja cemberut.
Rumah sudah gelap, itu berarti Sofia dan si kembar sudah tidur. Nisa dan Dito langsung masuk ke kamar mereka. Mereka segera mandi dan berganti pakaian tidur. Seharian ini sungguh melelahkan bagi Nisa dan Dito.
"Anak-anak sudah tidur kan??".
"Berarti memang ini waktu buat kita berdua".
"Tapi aku capek sekali mas,,kepalaku juga sedikit pusing".
"Tenang Nisa, malam ini aku yang akan memanjakan mu".
"Kamu seringnya modus melulu sih mas".
Dito tertawa mendengar keluhan Nisa. Sudah bisa ditebak, malam ini pasti sesi bercinta Nisa dan Dito berlangsung dengan penuh drama.
Nisa terbangun jam 2 malam, dia segera memakai baju tidurnya dan keluar dari pintu kamar. Si kembar dan Sofia masih tertidur pulas. Nisa kemudian melangkah ke dapur
untuk mengambil minum.
Nisa duduk di meja makan sambil menikmati susu coklat buatan nya. Malam yang sunyi.
Suara kendaraan masih terdengar di depan rumahnya. Nisa hendak kembali ke kamarnya,
ketika tiba-tiba muncul sesosok perempuan
berbusana Jawa lengkap. Anggun dan cantik, lengkap dengan selendangnya.
Nisa berdiri mematung, sosok itu sudah lama tak dijumpainya, semenjak dia terbaring koma. Cincin merah delima miliknya pun sampai sekarang belum ditemukan.
Perempuan itu memandang tajam ke arah Nisa. Sosok ibu ratu kembali menemuinya.Harum bunga melati semerbak memenuhi ruangan tempat mereka berdua berdiri.
"Nisa,,aku kembalikan yang menjadi milikmu sebelumnya".
"Berhati-hatilah kali ini, tugasmu semakin berat dan perjalanan mu masih panjang".
"Pesan ku, jangan pernah lengah, semua mengincar mu kali ini".
"Aku kembalikan. cincin mu, pergunakan sebaik-baiknya".
__ADS_1
Ibu ratu menghilang setelah mengucapkan pesan kepada Nisa. Bersamaan dengan menghilangnya sosok khodam penjaga Nisa tersebut, di meja tergeletak cincin merah delima yang selama ini dicari.
Nisa mengambil cincin tersebut dan memakainya kembali di jarinya. Nisa kemudian kembali ke dalam kamarnya.
Dito terbangun saat Nisa naik ke tempat tidur.
Dia melihat wajah Nisa yang tampak kebingungan.
"Ada apa,, kau habis melihat hantu??"
"Tidak,,, hanya cincinku sudah kembali lagi".
"Dimana kau menemukan nya??".
"Ibu ratu yang memberikannya padaku, disertai deretan pesan yang tak biasa".
"Sudah,, jangan kau pikirkan".
"Tidurlah....kau pasti capek, jadi omongan mu ngelantur lagi".
Nisa pun kembali berbaring, tak ada gunanya mengajak bicara Dito dalam keadaan seperti ini.Dalam pikirannya sudah tak perduli dengan yang terjadi. Mengalir saja, dinikmati dan dijalani. Perlahan-lahan mata Nisa pun terpejam. Dia kembali ke alam mimpi.
"Bu,,,, Bu Nisa,,, Sheila badan nya panas Bu".
Sofia mengetuk pintu kamar Nisa dan mem bangunkan keduanya. Nisa bergegas bangun dan membuka pintu kamar. Dia kemudian menghampiri Sofia yang berdiri panik di luar kamar.
"Kenapa dengan Sheila??".
"Badannya panas Bu, entah kenapa, tapi tadi malam masih baik-baik saja".
"Sofia,, kau sudah mengukur suhunya??".
"Sudah semua Bu,, tp lebih baik langsung ke rumah sakit saja".
Nisa dan Dito buru-buru ke rumah sakit. Mereka tidak sempat berganti baju dan masih memakai piyama. Sampai di rumah sakit, Sheila langsung dibawa ke ruang dokter untuk diperiksa.
"Jangan khawatir Bu,, ini hanya demam biasa".
"Setelah minum obat nanti, pasti sembuh".
"Tunggu sebentar biar perawat yang meminumkan obatnya, anak ini masih ASI kan??".
"Sudah tidak dok,,,saya sempat koma lama kemarin, jadi langsung dikasih susu formula".
"Oke,,,nggak apa-apa,, semoga lekas sembuh ya Bu".
"Terima kasih dokter".
Sementara menunggu resep dan obat dari dokter, Dito menghampiri Nisa.
"Pagi ini aku ada meeting dengan klien penting, mana sudah tertunda dua kali".
"Pergilah mas,, biar aku nanti naik taxi saja".
__ADS_1
"Maaf sayang, ini terpaksa, lagipula Sheila sudah tidak mengkhawatirkan".
"Iya mas".
Nisa menunggu sampai perawat selesai menangani Sheila.Dia duduk di ruang tunggu, ketika tiba-tiba Roy datang menghampirinya.
"Pak Roy,, sedang apa anda disini??".
"Aku ingin menemani mu memeriksa si kecil".
"Darimana anda tahu kalau putri saya sakit".
"Tidak penting Nisa,,,yang penting ini.......".
pakailah,,tidak sopan memakai pakaian seperti ini".
Roy melepas mantelnya dan memakaikan nya
pada Nisa. Nisa memandangi dirinya.
Dia hanya mengenakan gaun tidur dan piyama yang tipis, sehingga bentuk tubuhnya terlihat dari luar. Nisa jadi malu melihat perlakuan Roy padanya.
"Maaf pak,, saya terburu-buru, jadi tidak sempat mengganti baju".
"Tak apa, kau pakai saja mantel itu, dan aku yang akan mengantarmu pulang".
Nisa melongo mendengar ucapan Roy. Tak berapa lama, perawat keluar membawa Sheila. Dia memberikan pada Nisa dan menyerahkan obat juga. Nisa segera meninggalkan rumah sakit dan pulang ke rumahnya bersama dengan Roy.
Di dalam mobil pun, Roy yang menggendong Sheila. Dia terlihat nyaman dan tak menangis.
Perasaan Nisa sudah tak enak dari tadi. Namun dia tetap tersenyum di depan Roy.
Mereka sudah sampai di rumah, tapi Roy langsung pergi.Nisa segera masuk dan memberikan Sheila pada Sofia, dengan sederet pesan yang sama dari perawat rumah sakit. Setelahnya Nisa bergegas mandi dan berangkat ke kantor.
"Nisa, siang ini aku ingin kau datang ke kantor ku".
"Memangnya kenapa lagi pak??".
"Ada hal penting yang harus kita bahas".
"Baik pak,, sebentar lagi saya ke sana".
Nisa meletakkan telpon dari Roy saat di depan mobilnya melintas sesosok perempuan berbaju putih. Nisa menghentikan mobilnya seketika. Suara rem yang berdecit di aspal mengagetkan pengguna jalan yang lain.
Perempuan itu terlihat pucat pasi. Dia memandang ke arah Nisa tanpa bersuara. Sejurus kemudian wanita berbaju putih tersebut tiba-tiba menghilang.
Orang-orang ramai berkerumun di dekat mobil. Mereka takut terjadi sesuatu pada pengendara nya. Nisa membuka kaca spion dan berbicara kalau dia baik-baik saja.
Nisa masih penasaran dengan wanita yang
menghadang nya tadi. Dia merasa tidak mengenal sama sekali. Atau barangkali dia arwah yang tengah bergentayangan siang hari.
Nisa melanjutkan perjalanan ke kantor. Sampai di tempat parkir, rupanya wanita tadi mengikutinya. Arwahnya berdiri di dekat mobil Nisa.Ketika Nisa mendekatinya, dia kemudian menghilang lagi.
__ADS_1
Sekali lagi Nisa langsung pergi.Dia tak mau mengurusi sesuatu yang tak masuk akal.Nisa langsung naik ke ruangan kantor nya.