
"Cokro.......kau sudah terlalu lama ikut campur".
"Sekarang ini aku harus menumpas semua keturunan dari Kakak ku".
"Dan kau juga harus mati di tangan ku Cokro".
"Kau lupa satu hal Mbah Sri.....".
"Kau itu sudah meninggal, arwah orang yang meninggal tak lebih kuat daripada manusia".
"Kalau dulu aku bisa memasung mu di bilik kayu,,, sekarang pun aku bisa membinasakan kamu".
"Ha....ha....ha......!!!".
Mbah Sri tertawa menyeramkan. Dia seolah menantang Mbah Cokro. Demi mendapatkan anak kembar Nisa, dia melakukan berbagai cara. Termasuk memperalat kembaran Nisa yang bernama Nila.
Nisa dan bapak mendatangi Mbah Cokro di bilik kayu. Nisa seolah tak percaya menyaksikan wajah yang mirip ibu, tapi berpenampilan menyeramkan. Dia sedang berdialog dengan Mbah Cokro.
Sosok nila yang menghilang, ternyata berdiri di belakang Mbah Cokro. Dia juga menatap penuh kebencian ke arah Mbah Cokro, Nisa dan bapak. Rupanya, saudara kembar Nisa tersebut, sudah ikut sifat jahat Mbah Sri.
Mbah Cokro bersiap untuk melumpuhkan Mbah Sri, sementara bapak dan Nisa berjaga di belakangnya. Dalam hitungan detik, pintu bilik terbuka lebar. Mbah Sri terbang ke arah
Mbah Cokro. Dia langsung menyerang dada
Mbah Cokro hingga membuatnya jatuh tersungkur ke belakang.
Nisa dan bapak berusaha menolong Mbah Cokro, tapi dari arah depan ada tali terbang dan melilit tubuh bapak dan Nisa. Mereka berusaha melepaskan diri, saat sebuah api mengarah ke tempatnya dan bapak.
Nisa yang panik, menutup matanya seraya meminta pertolongan. Terlambat.....bola api sudah berhasil mengenai punggungnya, sementara bapak didorong oleh Mbah Cokro
sehingga tidak terkena lemparan api tersebut.
Nisa yang terjatuh ke tanah, segera berguling-guling, berusaha memadamkan api, sementara tangan nya masih terikat kuat.
Bapak yang sudah terbebas segera menolong Nisa, sementara Mbah Cokro menghadang bah Sri. Tak cukup sampai disitu. Lilitan rambut yang sangat panjang, mengarah ke kepala ah Cokro. Dia diam, saat tubuhnya dililit oleh rambut. Namun, sedetik kemudian, rambut itu terlepas dan terbakar di udara.
Mbah Cokro segera duduk bersemedi, sementara Nisa, dengan sisa kekuatan nya, berusaha menggunakan kekuatan cincin nya.
Sinar biru dan sinar merah dari Nisa dan Mbah Cokro berhasil menembus arwah Mbah Sri dan Nila. Keduanya terbakar dalam kobaran api yang menyala. Mereka akhirnya menghilang tak berbekas.
Nisa yang kehabisan tenaga dan terkena luka bakar, akhirnya pingsan di tempat. Bapak dan Mbah Cokro segera menolongnya. Mbah Cokro mengusap sebuah keris kecil ke luka Nisa tersebut. Luka itu langsung menutup seketika, hilang tak berbekas.
"Mungkin luka bakar mu bisa sembuh Nisa, tapi bekas merah di punggung mu, mungkin tidak bisa hilang seketika".
"Terimakasih Mbah, ini sudah jauh lebih baik".
"Ayo kita ke dalam, arwah keduanya sudah musnah sekarang".
"Putri mu sudah tidak dalam bahaya lagi"
Dengan dibantu bapak, Nisa masuk ke dalam rumah. Ibu membuka pintu kamar dan langsung memeluk Nisa.
"Syukurlah,,kalian tidak apa-apa".
"Bu,, Mbah Sri dan putri kita Nila sudah tenang sekarang".
__ADS_1
"Mereka tak akan mengganggu kita lagi, bilik itu sudah tidak berpenghuni".
"Tak apa pak,, itu sudah yang terbaik untuk mereka".
"Aku akan mengunjungi makamnya besok".
"Sayang,, kau terluka??".
"Sayangnya iya Dito, Nisa terkena bola api yang dilemparkan Mbah Sri".
"Punggungnya terbakar,, tapi sekarang sudah membaik".
"Anak-anak bagaimana mas??".
"Kau tenang saja, mereka aman !!".
"Sebaiknya kau dibawa ke dokter saja".
"Tidak usah mas,,, Mbah Cokro sudah mengobati ku tadi".
Setelah keadaan kembali normal, Mbah Cokro pamit pulang. Keluarga Nisa sudah bisa beristirahat dengan tenang sekarang. Gangguan makhluk halus dari bilik kayu sudah tidak ada lagi. Suasana rumah aman dan terkendali.
Sejak pagi hari, semua orang sudah sibuk bersiap-siap. Mereka akan mengikuti karnaval desa. Sejenak mereka melupakan kejadian malam tadi. Semuanya larut dalam sukacita.
Si kembar bahkan sudah disiapkan Sofia, memakai kostum putri raja. Nisa dan Dito juga sudah bersiap memeriahkan acara karnaval hari ini. Mereka tinggal berangkat ke balai desa, ketika mobil Roy memasuki pekarangan rumah. Dia turun sambil tersenyum.
"Wah,,,anak-anak cantik sekali,,, kalian sudah siap rupanya??".
"Iya Roy,,untung saja kau datang tepat waktu".
"Baik pak,, dengan senang hati".
Nisa yang berjalan digandeng Dito, menarik perhatian Roy. Dia terlihat lain dari biasanya.
Roy kemudian menanyakan keadaan Nisa padanya.
"Kau kenapa Nisa??".
"Aku tak apa,,lebih baik kita segera berangkat".
"Punggungnya terbakar Roy, akibat insiden semalam".
"Tapi ini sudah diobati, jadi sudah mendingan".
"Memangnya,,ada insiden apa semalam??".
"Kalau aku boleh tahu".
"Ceritanya panjang Roy,, nanti saja ku ceritakan sehabis karnaval".
Roy terdiam mendengar penjelasan Dito. Walaupun masih kepikiran dengan kondisi Nisa, namun dia diam seketika. Hanya sesekali mencuri pandang padanya.
"Nisa, tentang kerjasama kita dengan pak Bara, akan berlanjut di Jakarta".
"Pak Roy,, mungkin nanti biar dilanjutkan sama Anton saja".
__ADS_1
"Sepertinya, aku ingin fokus mengurus si kembar".
"Sepertinya tidak bisa,, pak Bara meminta kita berdua yang mengurus semuanya".
"Kalau begitu, kita lihat saja nanti".
"Iya Roy,, disaat seperti ini, jangan bicarakan bisnis dulu".
"Bersenang-senanglah,,,nikmati karnaval pagi ini".
"Setidaknya ada kenangan sebelum kembali ke Jakarta".
Roy tersenyum dan mengangguk. Dia tak menanggapi perkataan Dito, tapi malah langsung melihat peserta karnaval yang unik-unik. Mereka dari berbagai kampung di sekitar desa Nisa.
"Itu peserta dari kampung kita".
"Kalian tunggu di sini dulu".
Nisa mengamati satu-persatu peserta karnaval. Dia melihat Dion juga ikut berpartisipasi. Tapi, lagi-lagi dirinya hanya sendiri saja. Istrinya tak terlihat menemani Dion.
"Bu, memangnya Dion hanya pulang sendiri saja ke kampung??".
"Dion siapa Nis??".
"Dion, yang anaknya Bu Mimin itu Bu".
"Oh,,,dia tak mungkin berani ke kampung ini, mereka sudah menjual rumahnya, sejak ketahuan kalau orang tuanya penganut aliran
sesat".
"Tapi Bu,,Dion ikut jadi peserta karnaval".
"Ah.....tak mungkin, kau pasti salah lihat".
Nisa yakin dirinya tak mungkin salah lihat. Yang dilihatnya tadi adalah Dion. Pria yang sama, yang kerap kali Nisa jumpai di waktu dulu.
Dia memperhatikan lagi. Mencari-cari sosok
Dion diantara peserta karnaval. Nisa benar menemukannya. Diantara barisan bapak- bapak, Nisa melihat Dion tersenyum padanya.
"Bu,,,ibu lihat kan, itu Dion..berdiri di sebelah pak Edi".
"Ngaco kamu...,disebelah pak Edi kosong Nis,
tidak ada Dion atau siapa pun".
Nisa meyakinkan sekali lagi. Memang benar itu adalah Dion. Bahkan dia tersenyum ke arahnya. Nisa lalu memikirkan sesuatu.
Dia iseng-iseng, mengirim chat ke nomer WhatsApp Dion. Nisa berbasa-basi menanyakan kabar dan keberadaan nya.
Ternyata Dion membalas. Dia bahkan mengirim foto dirinya dan istrinya, sedang berada di luar kota. Nisa kemudian mengakhiri chat nya dan masih memandangi Dion yang tersenyum padanya.
Nisa jadi penasaran. Siapa Dion yang sedang di kampung ini. Dengan raut wajah bahagia dia mengikuti karnaval kampung.
...****************...
__ADS_1