
Anton mengejarnya. Kesempatan itu dia gunakan untuk mendatangi rumah Rudi.
Selagi Rudi tengah menunggunya di restoran,
dia ingin tahu, ada apa sebenarnya di rumah Rudi tersebut.
Anton memarkir mobilnya di depan rumah.
Satpam rumah yang sudah mengenal nya pun mengijinkan dia masuk. Dengan langkah pasti
dia masuk ke dalam.
Sampai di pintu,,,Anton sangat kaget karena ternyata Rudi menghadangnya di depan pintu.
Anton heran,,, karena Rudi jelas masih di restoran, dan ini memang Rudi Asli, bukan penampakan.
Anton berpikir, bagaimana mungkin Rudi
cepat sekali sampai ke rumah.
"Anton,,,tadinya aku ingin memberitahu kalau,
aku kurang enak badan".
"Akhir-akhir ini, aku kepikiran Nina dan Deni terus".
"Aku sudah kehilangan kedua anakku, entah....
kutukan apa yang menimpaku".
"Aku ingin memberitahu kutukan yang menimpamu, asal kau mengijinkan ku melihat
halaman belakang rumahmu".
"Tentu saja........".
"Pa,,, kau lupa kalau halaman belakang tidak pernah dibuka sejak tragedi waktu itu".
Sedikit lagi usaha Anton berhasil, kalau kuntilanak itu tidak datang tiba-tiba.
"O...iya, Anton aku lupa, siapa pun tidak boleh masuk halaman rumah itu lagi".
"Ayo,,,, masuklah....aku akan menceritakan padamu tentang tragedi itu".
"Papa,,,kau lupa kalau hari ini ada janji dengan dokter??".
"Maaf Anton, bukan bermaksud mengusir,,, tapi sore ini kami ada janji dengan dokter, kau
bisa kembali lagi lain waktu".
Anton terpaksa pergi dari rumah Rudi karena
kuntilanak itu mengajaknya masuk dan menutup pintu. Usahanya untuk bisa masuk halaman rumah belakang gagal lagi.
Sementara di rumahnya, Nisa sendirian karena Dito belum pulang dari kantor. Walaupun Nisa bilang sudah sehat, tetap saja
Dito belum mengijinkannya bekerja.
Nisa sedang memasak makan malam, ketika tiba-tiba di belakangnya muncul sosok
kuntilanak yang ada di rumah Rudi.
"Mau apa kau kemari??".
"Memperingatkan mu...........!!!!!".
"Jauhi rumah ku kalau kalian semua ingin selamat".
"Kalau begitu, lepaskan Rudi dan kembalikan rumah Yeni,,, kau sudah membunuh putri mereka bukan??".
"Tinggalkan urusan mu di dunia,, alam kalian berbeda,, kembalilah dan jangan ganggu keluarga itu lagi".
__ADS_1
"Lebih baik kau diam,,,atau bukan hanya benda tajam itu yang masuk ke perutmu,,, tapi juga nyawamu yang akan melayang".
Nisa undur beberapa langkah ke belakang,
karena tiba-tiba semua benda di dapurnya
melayang menuju ke arahnya.
Nisa berlari dan menutup pintu diiringi lengkingan tawa menakutkan dari kuntilanak itu. Nisa masuk ke kamar, dia tidak menyangka akan mendapatkan serangan mendadak dari kuntilanak itu.
Badan nya masih belum kuat untuk melakukan serangan balik atau menangkis
serangan dari kuntilanak itu
Nisa masih belum aman, karena tawa kuntilanak itu masih terdengar menggema di rumahnya. Nisa masuk ke kamar tidurnya dan mengunci pintu, tapi tiba-tiba kuntilanak itu sudah di belakangnya.
Dia masih tertawa cekikikan dan matanya
menatap Nisa tajam. Nisa merasa badan nya semakin lama semakin dingin. Bibirnya biru dan badan nya menggigil kedinginan.
Nisa sudah hampir hipotermia, pembuluh darahnya bisa pecah karena dingin yang diciptakan oleh kuntilanak itu. Dia sendirian dan Dito belum pulang dari kantor.
Kuntilanak itu sudah tertawa puas, menyambut kemenangan nya. Satu lagi
manusia tewas di tangan nya.
Nisa sudah terkapar di lantai. Dia sudah sekarat hampir meninggal karena kedinginan, ketika tiba-tiba dari cincin nya keluar gumpalan asap yang menyelimuti Nisa.
Sejurus kemudian,dihadapan Nisa muncul khodam nya, ibu ratu. Dia berdiri persis di depan Nisa. Serangan hawa dingin dari mata kuntilanak itu, ditahan oleh selendang ibu ratu.
"Hentikan,,,kau sudah melampaui batas mu".
"Kau sudah mengusik anak ku,,,jadi aku akan memberi hukuman padamu".
Kuntilanak itu makin tertawa mendengar omongan ibu ratu kepadanya. Sebelum tawanya berhenti, selendang ibu ratu telah digerakkan, sehingga membuat kuntilanak itu
terus berputar tidak berhenti.
Dalam sekejap,,,kuntilanak itu telah berubah wujud seperti semula. Wujud yang menjijikan.
Dia berteriak marah dan menyeringai tajam, setelah itu terbang entah kemana.
Nisa membuka matanya. gumpalan asap yang menyelimutinya perlahan menghilang.Rasa dingin di tubuhnya juga sudah tidak ada lagi. Nisa masih bisa melihat senyum ibu ratu sebelum beliau menghilang.
Kuntilanak itu menangis di pohon belakang rumah Rudi. Dia tak bisa lagi berubah wujud jadi manusia. Itu berarti dia tak bisa menjadi Yeni lagi. Kesaktian nya juga sudah banyak berkurang akibat melawan khodam Nisa tadi.
Nisa bangun dan membereskan kekacauan
di rumahnya sebelum Dito pulang. Dia masih kelihatan lemah akibat serangan mendadak tadi. Tinggal sedikit lagi pekerjaan nya, tapi bel pintu keburu berbunyi.
Nisa membuka pintu,tampak Dito tersenyum sambil menunjukkan bungkusan plastik untuk Nisa.
"Sayang,,,aku bawakan makanan kesukaan mu,,,".
"Apa ini mas??".
Nisa membuka kantong plastik yang berisi bakso itu. Dia tersenyum dan mengecup pipi Dito untuk berterima kasih.
"Makanlah,,supaya kau cepat pulih".
"Kau beristirahat dengan baik kan,,kenapa wajahmu pucat lagi???".
"Aku tak apa mas,,,jangan terlalu khawatir".
"Ayo, kita masuk ke dalam".
Sampai di dalam rumah, Dito masih bisa melihat bekas kekacauan di rumahnya. Dia
memeriksa semua bagian dalam rumah.
"Dia datang lagi menyerang mu??".
__ADS_1
"Kenapa kau tidak menghubungiku??".
"Itu bukan apa-apa mas,, aku bisa menghadapinya".
"Kekacauan sebesar ini,,,,dan kau bilang tidak
apa-apa???".
"Iya,,karena ada yang membantuku, dan ku
jamin kuntilanak itu tidak akan berani datang
kemari lagi".
"Kenapa kau bisa yakin begitu??".
"Karena ibu ratu sudah mengalahkan nya".
"Dia sudah berubah wujud seperti semula".
"Itu berarti,Yeni sudah bisa pulang kembali ke rumahnya".
"Dan masalah ini selesai".
"Kau senang kan mas??".
"Apa kau yakin dengan ucapan mu??".
"Iya mas,, aku sendiri yang melihat nya tadi".
"Syukurlah,,,jadi dia sudah tak bisa menyakitimu lagi".
"Ini mas, aku buatkan kopi untukmu,,
minumlah......".
"Terima kasih sayang".
Nisa kemudian mengambil mangkok dan menyiapkan bakso untuk mereka berdua
makan.Setelahnya Nisa menghubungi Ratri
untuk menyampaikan kabar gembira bagi Yeni".
"Kau yakin Nis,,,baiklah...aku akan sampaikan
kepada Yeni supaya dia bersiap-siap".
"Ok,,,makasih Nisa".
"Mba Yeni,,sekarang mbak dan Deni sudah bisa kembali lagi ke rumah kalian".
"Kuntilanak itu sudah tidak bisa jadi manusia lagi, dia sudah kembali ke wujud aslinya.".
"Syukurlah Ratri,,,tolong sampaikan terima kasih saya ke Nisa, aku senang sekali bisa
menemui mas Rudi lagi".
"Deni,,,ayo kita siap-siap untuk pulang".
"Iya ma..".
"Mbak,,kuntilanak itu masih di rumahmu,,,jadi berhati-hatilah".
"Dan satu lagi,,bongkar saja halaman belakang rumahmu, itu rumah kuntilanak,,biar
dia pergi jauh dari rumah itu".
"Baiklah,,,aku mengerti".
Yeni dan Deni kemudian meninggalkan rumah Anton. Mereka senang sekali,akhirnya bisa kembali ke rumah setelah sekian lama.
__ADS_1