Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Makin Sering Mendapat Penglihatan.


__ADS_3

Walaupun di restoran mahal, Nisa tetap merasa tak nyaman. Hanya karena bisnis semata, Nisa menuruti keinginan Roy.Setiap kali habis mendapatkan penglihatan, badan Nisa terasa tidak enak semua.


"Makanlah Nisa,,, kau akan jauh lebih baik setelah ini".


"Tapi pak,,maaf saya sedang tidak berselera".


"Ini sudah di luar kantor, panggil aku Roy".


"Tak perlu bersikap terlalu formal".


"Maaf pak, saya tak bisa menemani anda terlalu lama, saya harus mengunjungi saudara saya di rumah sakit".


"Aku bisa mengantarmu kalau kau mau".


"Tapi saya sudah janji dengan suami saya ".


"Tak apa,, suami mu pasti akan mengerti".


"Ini urusan pribadi saya pak, jadi tidak etis kalau saya membawa orang luar, sementara saya punya suami".


"Nisa,,, catat ini,, sebentar lagi suami mu itu akan meninggalkanmu".


"Dan saat itu, hanya aku yang akan menemani


mu".


"Maaf pak,, saya harus pergi sekarang".


"Nisa,,, jangan lupa besok kita masih harus bertemu lagi".


Nisa hanya mengangguk. Dia terburu-buru meninggalkan restoran dan kembali ke kantor. Sangat menyebalkan memang melihat kelakuan Roy, tapi Anton sudah mempercayakan proyek tersebut kepada Nisa. Dan Nisa tidak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut.


"Reni,,pak Dito ada di ruangan nya atau masih makan siang??".


"Beliau ada tamu penting Bu, jadi sudah di ruangan nya".


"Tamu penting siapa??".


"Saya kurang tahu Bu,,, namanya ibu Lena".


"Baiklah Reni,, telepon saya kalau tamu pak Dito sudah pulang".


"Baik Bu".


Nisa masuk ke ruang kerjanya. Dia masih memikirkan tamu Dito tadi.


"Lena......siapa dia??".


"Apa mungkin rekan bisnis nya yang baru''.


"Tenang Nisa,,kau harus positif thinking".


Nisa menunggu hampir 1jam, baru tamu yang Dito pamit pulang. Nisa kemudian masuk ke


ruangan Dito.


"Klien baru mas??".


"Iya,, dia baru datang dari Malaysia".


"Untunglah dia percaya dengan presentasi ku


dan bersedia berbisnis dengan perusahaan kita".


"Kita ke rumah sakit sekalian saja mas?".

__ADS_1


"Kasihan Anton dan Ratri, mereka tak punya keluarga sama sekali".


"Ok,,, kita berangkat sekarang?".


"Iya,,,nanti pulang ke rumah, si kembar belum tidur".


Mereka kemudian keluar dari ruangan dan langsung menuju meja Reni.


"Reni,, kami mau ke rumah sakit menjenguk Ratri, tolong atur ulang jadwal pertemuan hari ini".


"Baik Bu,,, sampaikan salam untuk Bu Ratri, semoga beliau lekas membaik".


"Ok,,, terima kasih Reni".


Dito dan Nisa berjalan menuju parkiran. Saat hendak masuk ke dalam lift, Nisa tertahan karena tiba-tiba ada penglihatan kalau lift tersebut bakal putus talinya.


"Tunggu mas,,, liftnya rusak,, sebaiknya aku panggil teknisi".


"Jangan bercanda Nisa,, kita buru-buru kan?".


"Aku tak bercanda mas, tahan orang yang


akan naik lift, atau mereka akan celaka".


Nisa menelpon teknisi di kantor, sementara Dito masih berjaga di depan lift. Mereka


membuat tulisan bahwa lift sedang rusak.


Setelah itu mereka memutar menuruni tangga.


Teknisi tiba di kantor dan segera memeriksa kerusakan lift. Benar saja, ada salah satu tali yang putus dan hanya tinggal tersambung sedikit. Mereka heran, dari mana Nisa bisa mengetahui hal tersebut.


Teknisi segera mengganti tali lift yang hampir putus tersebut. Mereka juga mengecek bagian lift yang lain supaya tidak terjadi kecelakaan.


"Ada apa??".


"Tidak,, lift nya sudah terkondisikan sekarang, untung aku mengetahuinya tepat waktu, kalau tidak kita sudah celaka tadi".


"Ya,,, kuakui.....istriku semakin pintar sekarang".


Nisa tertawa menerima pujian dari suaminya.


Mereka berkendara ke rumah sakit. Sesekali Dito menggoda Nisa.Dia melemparkan guyonan yang menghibur. Nisa bisa tertawa lepas kalau bersama suaminya tersebut.


Sampai di rumah sakit, mereka langsung menuju ruangan tempat Ratri dirawat. Anton


sedang menyuapi Ratri yang terbaring lemah di tempat tidur.


"Hei.....apa kabar bumil??".


"Nisa, aku senang sekali kau datang".


"Maaf, aku baru datang sekarang, suamimu mengerjai ku dengan boss sinting seperti si Roy itu".


"Jangan begitu Nis,,, dia aset bagi perusahaan kita".


"Iya,,, sudah jangan bicarakan dia,, aku ingin tahu kondisi calon keponakan ku".


"Dokter bilang kandungan Ratri terlalu lemah, jadi dia tak boleh bangun dari tempat tidur".


"Jadi jangan bangun,,, biar Anton yang menjadi suami siaga".


"Aku dulu juga begitu Ton,, nikmati saja, istri kita sedang ingin dimanja".


"Aku bahagia,, apa pun akan kulakukan untuk anak dan istriku".

__ADS_1


"Nah...kan, apa kubilang, terbukti kan sekarang kalau Anton suami siaga".


"Pokoknya Roy urusan mu Nis,, sementara aku dan Ratri off dulu".


"Beres kalau itu".


Mereka berempat kalau sudah bertemu, pasti tak ingat waktu. Tak terasa hari sudah menjelang sore. Nisa dan Dito pamit pulang.


Sebelum pergi, Nisa meninggalkan sederet pesan untuk Anton. Anton hanya mengangguk patuh.


"Sayang,, kau ingin langsung pulang, atau kita sekalian makan dulu".


"Terserah kau saja mas".


"Aku ingin nostalgia sama kamu, makan di pinggir jalan seperti waktu pacaran dulu".


Nisa setuju dengan ide dari Dito. Mereka kemudian mendatangi tempat makan favorit keduanya dulu.


Mereka sengaja memilih tempat duduk di bagian belakang. Sekalian nostalgia jaman dulu. Nisa dan Dito sedang menunggu pesanan makanan mereka saat Roy masuk ke warung makan tersebut.


"Nisa,, kau disini rupanya,, boleh aku bergabung??".


"Pak Roy,,anda disini juga,,kenalkan ini suami saya Dito".


"Kalian sedang makan rupanya, saya boleh ikut duduk kan?".


Tanpa menunggu jawaban, Roy langsung bergabung dengan aku dan mas Dito. Terus terang aku tidak nyaman kalau berada di dekatnya. Atau mungkin saja dia mengikuti aku dan mas Dito dari tadi.


"Maaf pak Roy,, anda masih sendirian??".


"Iya pak Dito,,, wanita yang saya cintai masih belum mau membuka hatinya".


"Sayang sekali, anda kan pengusaha terkenal, kaya, muda dan ganteng".


"Itulah.....saya juga heran, kenapa dia masih menolak saya".


"Bukankah begitu ibu Nisa??".


Nisa gugup dan menelan ludahnya sendiri. Dia jadi terbatuk-batuk. Dia masih memandang wajah Roy yang memberinya pertanyaan.


"Hati-hati sayang, kau sedang tidak fokus".


"Maaf pak Roy, saya sedang memikirkan anak-anak, jadi tidak fokus dengan pertanyaan anda".


"Tak apa Bu Nisa,, masih banyak waktu untuk menjawab pertanyaan saya".


"Dan pak Dito sendiri,,, anda kerja atau...".


"Kami membangun bisnis bersama, jadi saya dan istri saya satu kantor".


"Bagus sekali,,, saya malah berniat menjadikan Bu Nisa leader di perusahaan cabang kami nantinya".


"Sayang,,. kau belum mengatakan hal ini padaku".


"Aku juga baru tahu tentang ini".


"Maksud pak Roy apa??".


"Nanti kita bicarakan lagi".


"Dasar pengusaha sinting. Seenaknya bicara


saja, aku jadi tak enak dengan mas Dito".


Nisa marah-marah di dalam hati. Perkataan Roy yang tanpa berpikir dulu membuat suasana menjadi tidak nyaman. Nisa benar-benar dibuat jengkel dengan kelakuan boss gila ini.

__ADS_1


__ADS_2