Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Berubah Haluan.


__ADS_3

Pengawal Fransisca membuka kunci pintu ruangan dan menyeret Nisa ke luar. Wanita itu di lemparkan ke bawah kaki Fransisca. Bisa mendongak melihat kaki Francis di atas kepalanya.


"Rupanya kau punya nyali juga untuk melawan ku, hah......!!!".


"Baiklah........ku beri kesempatan sekali lagi padamu,,, berlututlah di depan ku dan cium kaki ku,, lalu aku akan melepaskan mu!!".


"Ayo......lakukan sekarang Nisa,, cium kaki ku dan katakan kalau kau bersedia jadi budak ku".


Nisa terdiam mendengar hinaan Francis,, sementara wanita itu masih meletakkan kaki nya tepat di atas kepala Nisa. Tak tahan mendengar ucapan nya Nisa akhirnya bangkit dan meludahi wajah Fransisca.


"Cuih......itu yang patut kau terima, dasar wanita iblis...!!!!".


Fransisca menutup matanya menerima air ludah dari Nisa. Sementara para pengawal refleks memegangi kedua tangan Nisa. Mereka ingin memukulnya, tapi isyarat tangan Francis menghentikan nya. Gadis itu bangkit dan menerima saputangan dari anak buahnya.


Fransisca tersenyum manis di hadapan Nisa yang masih berdiri di depan nya. Sejurus kemudian, Francis mendekati dirinya.


"Plak............!!!!!


Francis membalas tindakan Nisa dengan tamparan keras mendarat di pipinya. Darah segar mengalir dari sela-sela mulutnya.


"Kurang ajar........!!!!!!!".


"Kau sudah bosan hidup rupanya??".


"Baik,,,bagaimana kalau ku kabulkan saja permintaan mu sekarang juga".


"Katakan,, kau memilih mati dengan cara apa,,, aku bisa mengabulkan permintaan terakhir mu ini".


Francis mengambil pisau tajam dari atas meja dan memainkan nya di wajah Nisa. Dia menusukkan tepat di lehernya, hingga darah mengalir mengenai pisau yang tajam tersebut.


"Jangan Francis,, lepaskan Nisa, biar aku saja yang menggantikan dirinya".


"Ayo,,, bunuh aku saja kalau itu bisa membuat mu puas".


"Ayo,,,lakukan sekarang juga.......!!!!!".


"Kau dengar Nisa,,,dasar adik yang lemah".


"Dia begitu tidak berguna,,,rela menyerahkan nyawa untuk wanita seperti diri mu".


"Jangan banyak bicara Francis,, kalau kau ingin membunuhku, lakukan sekarang juga".


"Aku sama sekali tidak takut kalau saat ini harus mati di tangan mu".


"Plok.....plok.....plok.........!!!".


"Bagus,,, Nisa..........aku suka dengan wanita seperti mu".


"Kau tak takut mati,, tapi bagaimana dengan siksaan yang berat,,,,apa kau tertarik untuk menjalaninya??".


"Francis,,sebenarnya kau ini kenapa??".

__ADS_1


"Nisa tidak bersalah dalam hal ini,, kenapa kau malah menyerang dia".


"Karena aku suka dengan orang yang menantang diri ku".


"Dia tak takut mati bukan??".


"Beritahu dia bagaimana kau melihat teriakan manusia yang dicabik-cabik oleh singa waktu itu".


"Ceritakan padanya saat singa-singa itu menggigit kepalanya dan darah nya mengalir membasahi tanah".


"Kita lihat setelah ini,, apa kau masih tidak takut mati??".


"Hmmm ....baiklah,, kuberi waktu kalian 1 jam untuk bercerita".


"Sementara aku akan mencari makan siang dulu".


"Atau kalian bisa saling berpamitan,,siapa tahu kali ini Nisa bernasib buruk".


"Ha.....ha....ha...ha...!!!".


Para pengawal berjaga di luar, dan sebagian mengikuti Francis. Mereka membiarkan Nisa dan Alan terikat berdua di ruang tamu.


"Nisa,, kita harus mencari cara untuk keluar dari sini secepatnya".


"Wanita itu sangat berbahaya".


"Kau bahkan belum tahu kan,, kekuatan mistis yang ada padanya".


"Aku tahu, aku sudah tahu semuanya sejak awal berjumpa dengan nya".


"Memangnya kau pikir, selama kau bersembunyi, dia tidak meneror ku??".


"Kau salah Dito,, beberapa waktu yang lalu, aku sempat di buat kewalahan olehnya karena serangan makhluk gaib di rumah".


"Itulah kenapa aku putuskan untuk membawa pergi anak-anak untuk sementara".


"Ya Tuhan,,, kenapa kita terlibat dengan keluarga macam ini Nisa".


"Kalau tahu begini, lebih baik kau koma saja, daripada harus mempersulit hidup mu dan anak-anak".


"Kau tenang saja,, aku ingin lihat seperti apa iblis yang melindunginya".


"Kalau kau bisa, carilah di ruangan ini, mestinya ada semacam tempat pemujaan".


"Sentra gaib keluarga Wibisana berpusat di sini".


"Harusnya kalau ingin mengakhiri kekuatan mereka, kita harus bisa mencarinya di sini juga".


"Bagaimana aku harus mencarinya kalau tangan dan kaki ku juga terikat seperti mu".


"Kemarilah,,aku akan coba melepasnya".

__ADS_1


Dito bergeser menuju ke arah Nisa. Dia berdiri membelakangi Nisa, dan mengarahkan tali di tangan nya ke mulut Nisa. Nisa berusaha menggigit tali yang mengikat kuat tangan Dito.


"Tahan Dito,, sebentar lagi pasti terlepas".


"Ayo, cepat Nisa....nanti Francis keburu datang".


"Sedikit lagi,, tahan.....akhirnya terlepas juga".


Dito segera membuka ikatan di kakinya setelah tangan nya berhasil bebas. Dia lalu menuju ke arah Nisa dan melakukan hal yang sama pada dirinya. Keduanya sudah bebas sekarang. Sedangkan para pengawal di depan belum ada yang menyadarinya.


Nisa dan Dito kemudian naik ke lantai atas menuju kamar Alan. Dari sana, rencananya mereka akan mencari jalan keluar dan kabur.


Saat naik ke kamar Alan, Nisa melewati satu kamar yang aneh. Pasalnya, dua kali dia kesini sebelumnya, kamar tersebut tidak ada.


Dari dalam kamar terdengar bunyi geraman. Suaranya sangat keras, sehingga Nisa berhenti di depan pintunya.


"Ayo cepat Nisa,,,sebelum Francis datang, kita harus keluar dari tempat ini".


"Tunggu Alan,, kau mendengar sesuatu dari dalam sana".


"Sepetinya ada yang mencurigakan".


"Biarkan saja sekarang, lain waktu kita masuk kembali ke sini".


Bukan Nisa namanya kalau tidak ngeyel. Alih-alih kabur dan menyelamatkan dirinya, Nisa malah membuka pintu kamar tersebut. Saat pintu nya di buka, ruangan itu sangat gelap.


Terlihat ada lorong panjang yang sangat gelap. Nisa ragu untuk masuk ke lorong tersebut karena sama sekali tidak membawa senter ataupun ponsel. Dia hendak berbalik dan keluar, ketika suara berat dari lorong menggema memanggilnya.


"Masuk lah,,,,kemari lah anak manusia......!!".


"Aku sudah menunggu mu".


"Ayo masuk......!!!!".


Nisa seperti tersihir oleh panggilan dari dalam lorong tersebut. Pikiran nya seperti terhipnotis. Langkahnya otomatis masuk ke dalam mengikuti sumber suara.


Sementara Dito sudah sampai di dalam kamar Alan. Tapi saat dia menengok ke belakang, ternyata Nisa tidak mengikutinya. Dia kemudian berbalik dan kembali mencari Nisa. Dia ingat betul kalau Nisa berdiri di depan kamar dekat dengan tangga.


Sampai di sana, Dito sangat terkejut.Pasal nya kamar tersebut sudah menghilang, berganti dengan dinding kokoh yang ditempeli lukisan. Dito mondar-mandir sambil berbisik menyebut nama Nisa. Namun, nihil....


Nisa menghilang bagai di telan bumi. Dia raib tanpa meninggalkan jejak sama sekali.


Dito berinisiatif mengambil lukisan bergambar payung di dinding tersebut. Mana tahu di belakang lukisan ada sebuah ruangan tersembunyi. Namun nyatanya di sana tidak ada apapun juga.


"Nisa,,,selalu saja seperti ini, kau sangat keras kepala".


"Kapan kau mau merubah sifat ngeyel mu itu".


"Kalau begini, aku harus mencari mu kemana sekarang??".


Dito masih berdiri di depan tangga. Dari jauh terdengar suara sepatu Francis memasuki ruang tamu. Dia berteriak marah pada penjaga, saat melihat Alan dan Nisa sudah kabur. Dito buru-buru naik ke kamar Alan sambil mengendap-endap. Dia berharap dirinya dan Nisa bisa keluar dari rumah terkutuk milik keluarga Wibisana ini.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2