Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Meminjam Tubuh Sofia.


__ADS_3

Nisa masih saja terbaring koma di rumah sakit. Arwahnya masih belum bisa memasuki tubuhnya. Nisa masih bergentayangan di sekitar lingkungan rumah sakit.


Anton dan Ratri mendengar kabar tentang Nisa ketika mereka baru kembali dari bulan madunya. Mereka langsung datang ke rumah sakit untuk menjenguk Nisa. Pagi ini keduanya terlihat mendatangi ruang ICU.


Melihat Anton dan Ratri berjalan, Nisa langsung saja menghampiri keduanya. Dia


sangat berharap, Ratri dapat melihat arwahnya. Nisa tergesa-gesa menyambut kedatangan Anton dan Ratri. Dia sedang berbicara dengan orang tua dan mertua Nisa.


Nisa segera menghampiri keduanya.


"Anton,Ratri, kalian harus membantuku".


"Aku terjebak di sini tak bisa masuk ke tubuhku lagi, hanya tinggal kalian harapan ku".


Anton dan Ratri tak bereaksi apapun. Mereka masih larut dalam kesedihan ketika mendengarkan keterangan dari orang tua Nisa.


"Ayolah teman,,, gunakan kekuatan kalian untuk melihatku".


"Aku ada di sini".


Nyatanya, mereka memang tidak bisa melihat Nisa. Anton dan Ratri bahkan tidak mendengar suaranya. Nisa terduduk dilantai koridor rumah sakit. Kali ini dia benar- benar


sangat putus asa.


Dokter datang sehabis memeriksa Nisa. Dia memanggil seluruh anggota keluarga. Dokter menjelaskan tentang penyakit yang dialami oleh Nisa.


"Kejadian ini sangat langka, dan kami masih harus mempelajarinya".


"Ibu Nisa bisa terus dirawat di sini, dan kami akan memantaunya".


"Atau keluarga bisa membawanya pulang dengan menyediakan perawat untuk merawatnya di rumah".


"Dan si kembar sudah diperbolehkan pulang".


"Dokter, berapa lama sampai Nisa kembali sadar??".


"Kami belum bisa memperkirakan,itu tergantung kondisi pasien, tapi ibu Nisa merespon suara, kalau sering mengajaknya berbicara, mungkin bisa membantu supaya dia cepat sadar".


"Baik dokter, terima kasih".


Nisa shock mendengar keputusan dari dokter.


Dia sudah pasrah dan menyerahkan semua keputusan pada keluarganya. Nisa menganggap kalau dirinya hanya akan menjadi beban bagi Dito. Nisa kemudian duduk menyendiri di koridor rumah sakit.


"Hmm....kebagian jaga malam lagi,aku kan baru saja sampai,, mereka memang sungguh tidak pengertian".


"Aku capek sekali, mana di rumah koperku belum dibongkar.....".


Seorang perawat jaga kelihatan sangat lelah.


Dia duduk di samping Nisa sambil mengutarakan kekesalan nya.


Sofia, nama perawat itu. Dia baru saja pulang kampung karena kakaknya menikah. Baru saja tiba di kost an, dia sudah mendapat giliran jaga malam di rumah sakit.


"Hei....kau kenapa,, apa keluargamu ada yang meninggal??".


Nisa menoleh ke kiri, tidak ada satu orangpun kecuali dirinya. Berarti perawat itu bisa melihat dirinya.


"Kau bicara denganku??". Ucap Nisa sambil menunjuk dirinya.


"Tentu saja kau,,, memang ada orang lain lagi di sini selain kau???".

__ADS_1


"Semua orang disini memang mulai aneh".


"Aku benar-benar kesal sekarang".


"Tunggu,,,berarti kau bisa melihatku kan??".


"Ah,,,,jangan bilang kau arwah penasaran, aku menyesal sekali menyapamu tadi".


"Sudah,, aku kembali ke ruangan ku saja".


"Tunggu,,kau harus menolongku,, kumohon".


"Maaf nona, aku tak punya waktu, lagipula


aku banyak kerjaan dan sangat sibuk".


"Tapi, hanya kau yang bisa melihatku, jadi


tolong....aku perlu bicara dengan suamiku".


"Kau cari orang lain saja, aku sungguh tak punya waktu".


Nisa terus saja mengikuti perawat itu sambil membujuknya. Namun dia bahkan cuek, tak mendengarkan sama sekali.


"Stop,,jangan ikuti aku,cukup sampai disini, sudah kubilang, aku tak bisa membantumu".


"Aku mohon,,aku punya anak kembar,


tolonglah......demi mereka".


"Jangan memaksaku.....diam!!!".


Sofia menutup telinganya dan berteriak. Kebetulan saat itu teman-teman nya lewat di dekatnya.


"Habis liburan kukira pikiranmu jadi fresh, ternyata sama saja, suka ngomong sendiri".


"Bukan begitu,,,aku sedang menelpon kakak ku, kalian mau mendengarnya??".


"Ih...ogah,, males banget gue".


Keduanya berlalu meninggalkan Sofia dengan tatapan mengejek.


"Kau sudah paham kan sekarang, kenapa aku tidak bisa menolongku?".


"Mereka akan mengira aku orang gila".


Nisa masih terdiam di samping Sofia. Dia kemudian punya cara agar Sofia mau


membantu nya. Nisa berjalan ke arah tubuh Nisa dan... berhasil Nisa bisa merasuki badan Sofia.


"Akhirnya.....maaf Sofia,, aku pinjam badanmu sebentar saja".


Nisa segera ke ruang ICU untuk menemui Dito. Dia tak sabar untuk bisa segera memeluk suaminya tersebut.


Di luar ruangan tampak orang tua Nisa sedang duduk. Nisa segera berlalu dan masuk ke ruangan. Di lihatnya, suaminya Dito sedang tidur di samping ranjang.


"Mas,, bangun mas Dito, ini aku Nisa, istrimu mas".


Dito membuka matanya. Di depan ya berdiri seorang perawat yang menyentuh lengan nya.


"Maaf, apa ada sesuatu dengan istri saya??".

__ADS_1


"Mas,, ini aku istrimu,, aku Nisa mas".


"Maaf mbak, mungkin anda salah orang, istri saya memang sedang koma, jadi tolong jangan mengada-ada".


"Dengar mas,, bawa aku pulang ke rumah, dan kau carilah perawat bernama Sofia".


"Minta dia untuk merawat ku dan anak kita".


"Tolong turuti kata-kata ku mas,,, aku sedang berusaha untuk bisa kembali lagi kepadamu".


"Anda kan yang bernama Sofia??".


"Oh....jadi ini tujuan anda dengan mengaku sebagai istri saya".


"Silahkan anda keluar dari sini,atau saya akan laporkan kepada kepala rumah sakit".


"Mas,,, kau tak paham juga rupanya".


"Harus gimana aku menjelaskan padamu mas".


Nisa tiba-tiba memeluk Dito dengan erat.Dia lalu mencium bibirnya seketika. Persis sama dengan yang dilakukan Nisa ketika sedang berciuman dengan suaminya itu.


Sesaat Dito terhanyut dan terlena. Ciuman itu mengingatkan nya pada Nisa istrinya. Namun kemudian dia tersadar dan segera melepaskan pelukan Sofia.


Anda sudah melewati batas nona. Ini di rumah sakit, seharusnya anda tahu diri. Sekarang juga saya akan mengadukan tindakan anda ini pada kepala rumah sakit.


Sejenak Nisa tersadar kalau dia memasuki tubuh Sofia. Dia menyesal telah berlaku ceroboh. Nisa tak ingin Sofia terkena masalah. Hanya dia satu-satunya yang bisa membantu Nisa sekarang.


Sofia berlutut dan memegangi kaki Dito. Dia meminta maaf dan menahan kakinya agar tidak keruangan kepala rumah sakit.


"Maafkan saya pak,,, saya memang kadang sering ceroboh".


"Saya janji pak, hal ini tidak akan terjadi lagi".


"Tolonglah pak, jangan adukan saya, kalau saya dipecat, lalu bagaimana saya bisa mengirim uang ke kampung".


Nisa pura-pura menangis di depan Dito.


Dia tahu salah satu kelemahan Dito adalah orangnya tidak tega. Nisa yakin sekali Dito akan memaafkan Sofia.


"Baiklah,,,kau boleh bangun, aku memaafkan


mu kali ini".


"Tapi tolong jangan kau ulangi lagi seperti ini".


"Baik pak,, saya permisi dulu".


Tergesa-gesa Sofia membuka pintu kamar, Namun Dito mencegahnya.


"Tunggu....!!!!!".


"Katakan kenapa kau mencium ku tadi".


Nisa masih belum bisa menjelaskan kepada Dito tentang keberadaan nya di sini. Kemudian dia berpikir untuk mencari alasan


supaya Dito tidak lagi mempermasalahkan kejadian tadi.


"Karena wajah bapak mengingatkan saya dengan pacar saya yang sudah meninggal".


"Jadi, tanpa pikir panjang, saya langsung mencium bapak tadi".

__ADS_1


Sofia berlari keluar dari ruang ICU. Wajahnya memerah menahan malu. Sampai di luar, Nisa terlempar dari tubuh Sofia. Dia tersadar kembali dan keheranan karena baru keluar dari ruang ICU.


__ADS_2