
Dokter keluar dari ruang operasi setelah 2 jam berlalu.Nisa segera menghampiri dokter
untuk menanyakan kondisi Ibu.
"Bagaimana kondisi ibu saya dokter?".
"Robekan pisau nya hampir mengenai jantung, untung anda membawanya kesini
tepat waktu,kalau tidak bisa fatal akibatnya".
"Malam ini masa kritisnya, kami akan terus memantau kondisi pasien".
Dokter kemudian undur diri setelah menjelaskan kondisi ibu Nisa.Nisa hanya bisa
terdiam dan menangis.Dito yang sedari tadi
menemaninya berusaha menguatkan hatinya.
"Berikan no telpon ayahmu Nis, biar aku yang menghubunginya".
Nisa menyerahkan ponselnya kepada Dito.Dia
kemudian memberitahu ayah Nisa tentang kondisi ibunya di rumah sakit.
"Ayahmu akan segera kemari dengan penerbangan terakhir malam ini".
"Aku akan mencarikan minum untukmu".
Nisa masih terdiam membisu, dia sama sekali tidak mendengar perkataan Dito.
Dia tak mampu lagi berpikir, bayangan ibu yang bersimbah darah di dapur, masih saja
menghantui pikirannya.
"Minumlah Nis, supaya kau lebih tenang".
Nisa meraih botol minuman yang disodorkan Dito,kemudian meminumnya.
"Dito, kalau kau ingin pulang silahkan,,terimakasih atas bantuanmu".
"Kalau boleh, aku akan tetap disini menemanimu sampai ayahmu datang".
Nisa mengangguk dan memeluk Dito.
Nisa terisak pelan di pundak Dito, dan menumpahkan perasaan sedihnya.
Mereka berdua menunggu di kursi depan ICU.
Bude Wati datang dan menanyakan kondisi
adiknya.Nisa yang masih kalap, hendak berdiri memaki bude Wati,namun tangan Dito
memegangnya erat dan menahan Nisa untuk bangun.
"Bude benar-benar tak tahu ibumu kenapa".
"Pak Udin yang memberitahu bude, dan bude langsung datang kemari".
"Ibu baik-baik saja, bude boleh pulang sekarang".
"Biar aku dan Dito yang menjaga ibu disini".
"Jangan sampai teman bude itu mencium
bau darah ibu".
"Kau jangan kurang ajar Nisa, dia ini adikku, aku berhak melakukan apapun disini".
"Silahkan......tapi tinggalkan teman bude di
rumah, jangan sampai dia bikin celaka lagi".
"Sudah Nis,,,,ini dirumah sakit, jangan ribut,,
kasihan ibumu".
"Silahkan Bu Wati kalau anda mau duduk"
"Terima kasih Dito".
Nisa tak melihat sosok Buto ijo itu di dekat bude Wati.Kali ini Nisa mengalah membiarkan
bude Wati ikut menunggui ibu di rumah sakit.
Nisa yakin, peristiwa yang menimpa ibu ada hubungannya dengan bude Wati dan Buto ijo
__ADS_1
itu.Mungkin memang ibu akan dijadikan tumbal oleh bude Wati.
Setelah ibu sadar nanti, Nisa akan membuat
perhitungan dengan Buto ijo itu. Kalau memang nyawa Nisa yang harus melayang
demi melawannya,Nisa rela, asal jangan sampai dia menyakiti ibu atau ayahnya.
Ayah Nisa tiba dari kampung halaman.
Beliau langsung menuju rumah sakit tempat
istrinya dirawat.
Setibanya di rumah sakit, Nisa langsung memeluk ayahnya.Dia ingin sekali bercerita, tapi disana masih ada bude Wati. Nisa
menahan diri agar tak membuat ayahnya cemas.
"Bagaimana keadaan ibumu Nisa?".
"Kita masih harus menunggu ibu melewati mas kritisnya pak".
Tiba-tiba bude Wati menyela pembicaraanku dan bapak.
"Ari,,,,, apa sebelum kau pergi kalian bertengkar?".
"Maksud mbak Dewi apa?".
"Kalau kalian baik-baik saja, tak mungkin adikku mencoba bunuh diri dengan mengunci
pintu dapur".
"Bude.........".
Nisa ingin menjawab, tapi bapak menahan
tangannya.
"Sewaktu ku tinggalkan, ibu Nisa baik-baik saja mbak, tapi mana tahu ada yang mencoba
mencelakainya".
"Kita tunggu saja sampai istriku sadar mbak,. biar dia sendiri yang bercerita".
"Aku yakin dia tidak bahagia denganmu, makanya dia mencoba bunuh diri".
Nisa mengepalkan tangannya menahan amarahnya.Kata-kata bude Wati sudah benar-benar keterlaluan.
Nisa keluar rumah sakit untuk mencari udara segar. Dito menyusul di belakangnya, karena khawatir terjadi sesuatu kepada Nisa.Dia
sedang diliputi amarah saat ini.
Di depan rumah sakit, Nisa mencegat ojek yang sedang lewat.Tujuannya hanya satu, kantor bude Wati.Dito terus saja mengikuti
motor yang membawa Nisa.
Sesampainya di kantor, Nisa langsung men-dobrak kamar khusus milik Buto ijo itu.
"Hai,,,,,keluar kau iblis,,, aku tidak takut padamu".
"Ayo............lawan aku kalau kau berani!!".
"Keluar kau sekarang.....!!!".
"Nisa,,,,hentikan,,,,kendalikan dirimu".
Nisa yang sudah kalap mengobrak-abrik tempat sesaji.Dia bahkan memukul meja dan merusak semua lukisan yang ada di dinding.
Dito yang mencoba menenangkannya, nyatanya tidak berhasil.Nisa yang marah seperti dirasuki setan.Dia masih berteriak
menantang Buto ijo itu.
Dito sudah kehabisan cara menenangkan Nisa.Jalan terakhir Dito menampar wajahnya.
Barulah Nisa terduduk dan menangis di lantai.
"Nisa,,,, kau seperti orang gila,, lihat apa yang
kau perbuat".
"Kau bukan seperti Nisa yang ku kenal".
"Aku benci Buto ijo itu Dito".
"Aku ingin memusnahkannya sekarang juga".
__ADS_1
"Tidak semudah itu,, kau tahu kan, pusatnya ada di kamar bude mu".
"Budemu majikan Buto ijo itu,, dia tidak mungkin bisa dimusnahkan, kecuali pemiliknya meninggal".
Melihat tempat sesajen yang porak-poranda di hancurkan oleh Nisa, sepasang mata merah menatap penuh kebencian.
Melihat sosok ibu ratu di dalam diri Nisa,Buto ijo itu tidak berani melawannya.Tempo hari
dia sudah merasakan kekuatan khodam yang ada di tubuh Nisa tersebut.Dia hanya bisa menggeram marah.
Nisa diantar ke rumah sakit oleh Dito.Sebelum masuk, Dito berpesan panjang lebar kepada Nisa supaya ayahnya tidak bertambah khawatir.Nisa menuruti semua perkataan Dito.
Dokter baru saja keluar dari ruang perawatan.
Ibu masih belum sadarkan diri, tapi beliau sudah melewati masa kritisnya.
Dokter mengizinkan keluarga masuk ke ruang perawatan tapi bergantian.Ibu masih membutuhkan perawatan intensif pasca
operasi.
Di rumah sakit hanya tinggal aku dan bapak.
bude Wati dan Dito pulang setelah memastikan kondisi ibu.
"Apa yang kusaksikan ini benar pak, bude Wati
yang memelihara pesugihan".
"Hari ini buktinya, ibu hampir dijadikan tumbal
oleh bude Wati".
"Bapak sudah tahu semuanya Nisa".
"Bapak hanya mencari waktu untuk pergi dari rumah bude mu, tapi malah ibumu lebih dulu menjadi korban".
"Lalu Nisa harus bagaimana pak?".
"Bersikaplah seperti biasa, nantinya budemu
kewalahan sendiri".
"Buto ijo itu makhluk yang beringas dan sulit
dikendalikan, kalau dia tidak mendapat tumbal, maka pemiliknya sendiri yang akan
dihabisinya".
"Kita tunggu saja apa yang akan terjadi selanjutnya".
"Baik pak".
Di rumah bude Wati, Buto ijo itu mengamuk.
Dia marah karena gagal mendapatkan tumbal.
Barang-barang di rumah bude Wati sudah di-
jungkir balikan oleh Buto ijo itu.
Kali ini giliran bude Wati yang dicekik lehernya,kemudian dibuat melayang dan
dihempaskan ke bawah.
"Ampun.......maafkan aku".
"Ampuni aku.......!!!!".
Seolah tak mendengar kata-kata bude Wati,
Buto ijo itu menggeram marah, mata merah-
nya menyala.Dia menghampiri bude Wati
seakan-akan hendak memangsanya hidup-
hidup.
Bude Wati berlutut di bawah kaki Buto ijo.
Dia meminta pengampunan dan berjanji akan
mencarikan tumbal yang baru.
Sungguh, dunia sudah terbalik, manusia
__ADS_1
menyembah jin dan setan hanya demi
kenikmatan yang sesaat.