
Setelah banyak kejadian yang terjadi di rumah Wibisana, polisi memutuskan untuk menghancurkan rumah iblis tersebut. Lagi pula Fransisca juga sedang di obati oleh kyai Maksum. Alan sebagai wakil keluarga Wibisana, menyetujui keputusan tersebut.
Nisa dan Fransisca untuk sementara harus menjalani pembersihan dari makhluk halus bersama kyai Maksum. Setiap hari keduanya
mendengarkan doa-doa dan lantunan ayat suci yang dibacakan oleh pak kyai sendiri.
Lambat laun kedua wanita itu sudah kelihatan jauh lebih normal. Nisa juga sedikit demi
sedikit sudah bisa mengingat siapa dirinya sebenarnya. Sementara Fransisca, ingatan nya kembali ke saat dirinya masih tinggal dengan Alan adiknya. Dia juga tak mengenali nama Fransisca lagi, yang dia ingat namanya adalah Siska saja.
Melihat kemajuan yang di alami oleh keduanya, baik pak kyai maupun Ki Santoso
tentunya merasa sangat senang. Tapi mereka masih khawatir dengan iblis yang belum berhasil di musnahkan. Bukan tak mungkin, dia akan kembali mengganggu Nisa dan Siska nantinya.
Pagi ini, pak kyai kembali mengunjungi Nisa di rumahnya. Sejak peristiwa malam itu, Siska dan Alan tinggal bersama di rumah Nisa. Selain memudahkan pak kyai mengobati, juga agar rumah Nisa tidak kosong.
"Bagaimana kabar kalian berdua hari ini??".
"Siska,,,Nisa,,,apa kalian berdua bisa tidur nyenyak??".
"Tidak bermimpi buruk lagi bukan??".
"Tidak kyai Maksum,, kami berdua sudah lebih tenang sekarang".
"Dan lagi,, aku mulai mengingat banyak hal".
"Termasuk kedua putri kembar ku".
"Tak sadar kalau ternyata aku sangat merindukan mereka berdua".
"Bagus kalau begitu,, kalian teruslah membaca kitab suci yang sudah aku berikan".
"Jangan lagi bersekutu dengan iblis atau makhluk halus".
"Dan....satu lagi,, pikiran kalian tidak boleh kosong".
"Atau iblis dan sebangsanya akan kembali merasuki jiwamu".
"Kalian mengerti bukan??".
"Ya ....tentu kyai".
"Alan,, Nisa dan Siska sudah jauh lebih baik sekarang".
"Aku akan mengantar kyai Maksum kembali ke rumahnya".
"Kau jagalah Nisa dan kakak mu".
"Kalau ada yang aneh pada keduanya, segera telepon aku".
"Baik Ki Santoso, saya mengerti".
Kyai Maksum dan Ki Santoso meninggalkan rumah Nisa. Hanya tinggal mereka bertiga sekarang.
"Nisa,, kau sudah bisa kembali bekerja kalau kau mau".
"Dan kak,, aku akan mencarikan pekerjaan untuk mu".
"Bagaimana kalau kau minta tolong pada Roy".
__ADS_1
"Dia mungkin bisa mempekerjakan Nisa kan Alan??".
"Bagaimana kak, kau setuju bekerja di perusahaan Roy??".
"Terserah kalian saja,, kalau Roy mengijinkan, aku bersedia".
"Baguslah....aku akan tanya kan pada Roy nanti".
"Alan,, aku bolehkan menelpon Sofia,, aku rindu sekali pada si kembar".
"Tentu saja Nisa, lakukan apa pun yang kau mau".
Nisa mengambil ponsel yang baru saja di berikan oleh Alan. Mengingat barang-barang Nisa hilang semua sewaktu dia di culik dulu.
Dia langsung menghubungi Sofia yang masih ada di Yogya bersama orang tua Nisa.
"Sofia,, ini aku Nisa,, bagaimana kabar mu dan anak-anak??".
"Bu Nisa,,, sudah lama sekali ibu menghilang".
"Ku kira tak kan bisa mendengar suara ibu lagi".
"Maaf Sofia,, terjadi sesuatu hal di sini, jadi aku baru bisa menghubungi mu".
"Kalau memungkinkan, bawalah anak-anak kembali ke sini".
"Ajak ibu dan bapak sekalian,, aku sudah kangen pada mereka".
"Nanti aku akan transfer uang dan ticker kalian".
"Baik Bu,, Sofi sudah tak sabar segera kembali ke Jakarta".
"Ya sudah,, nanti aku hubungi kau lagi".
"Apa kau tahu akses ke kartu ATM ku atau yang lain nya".
"Semua ada di ponsel ku yang hilang".
"Aku sama sekali tak tahu Nisa".
"Dan aku serta Siska otomatis kehilangan semua milik kami waktu bersama dengan hancurnya rumah Wibisana".
"Apa di ponsel ini ada no telpon Roy??".
"Jelas ada, dia yang membelikan itu untuk mu".
Nisa mencari kontak Roy dan langsung menghubunginya. Dia sama sekali tidak mengingat jati diri Akan yang sebenarnya. Yang dia ingat, Alan adalah adik dari Siska dan bukan Dito.
"Ya Nisa,, ada yang bisa ku bantu??".
"Aku butuh uang Roy,, kau bisa pinjamkan pada ku?".
"Kau butuh uang untuk apa??".
"Untuk biaya perjalanan si kembar ke sini".
"Kenapa kau baru bilang sekarang,, tunggu...aku akan segera ke sana".
Roy senang sekali dengan keadaan Nisa yang sekarang. Tentu saja dia yang akan di untungkan dengan kejadian ini. Secara finansial, dia akan bergantung pada Roy, dan bukan Alan. Roy akan menggunakan kesempatan tersebut untuk mendekati Nisa kembali. Secara, Dito sudah cukup lama meninggal. Kali ini Roy memastikan kalau Nisa tak akan mungkin menolaknya.
__ADS_1
Setengah jam kemudian, Roy sampai di rumah Nisa. Dia segera turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah.
"Roy,, kau sudah sampai rupanya".
"Sementara rekening mu di blokir, kau bilang saja padaku semua keperluan mu".
"Nanti pihak bank akan memanggilmu untuk membuat rekening baru".
"Syukurlah kalau begitu Roy".
"Barang pribadi ku raib semua, padahal semuanya ada di dalam ponsel ku".
"Kapan anak-anak akan pulang??".
"Aku mau mereka terbang besok pagi, dengan pesawat pertama".
"Baik lah,, aku akan mengatur semuanya".
"Kau tenang saja, besok pagi kita jemput mereka di bandara".
"Dan untuk Alan serta Siska, sebaiknya malam ini mereka pindah ke rumah ku saja".
"Si kembar tak akan nyaman kalau ada orang asing di sini".
"Bagaimana, kalian berdua setuju bukan??".
"Kami setuju Roy".
"Nisa,, ikut lah ke rumah ku,, kau tak boleh tinggal sendirian bukan??".
"Malam ini kau ikut menginap saja di rumah ku".
"Baik Roy".
Sudah di putuskan kalau Alan dan Siska akan tinggal di rumah Roy selama mereka belum bisa mengontrak rumah. Semua harta Fransisca, pemberian si iblis sudah lenyap tak bersisa. Jadi mereka harus memulai dari nol lagi. Dan, malang bagi Alan karena Nisa tak mengingat bahwa Alan adalah Dito suaminya. Jadi Alan terpaksa merelakan Roy kembali mendekati Nisa.
Sudah malam ketika mereka tiba di rumah Roy. Mereka berempat segera masuk ke rumah Roy.
"Kalian boleh menempati rumah di sebelah".
"Atau kita tidur di sini dulu".
"Besok pagi baru kalian pindah ke sana".
"Nisa dan Siska tidur di kamar ku saja, aku dan Alan biar di sini".
Nisa dan Siska baru mau ke kamar, saat sesuatu di atas lemari menarik perhatian nya.
Tanpa sadar Siska berjalan ke tempat Roy menyimpan barang "aneh" miliknya. Siska seakan mendengar panggilan halus di telinganya.
"Siska......kemari.......aku di sini Siska".
"Kemarilah.........aku membutuhkan mu".
"Siska.........Siska..........!!!".
Nisa kebingungan melihat Siska malah menuju ke arah dapur. Dia berusaha memanggilnya, tapi pandangan Siska kosong.
Dia berjalan lurus ke depan, seperti ada yang memanggilnya.
__ADS_1
Nisa langsung berlari ke depan memanggil Roy dan Alan. Keduanya terkejut, dan langsung berlari mengikuti Nisa. Benar saja, Fransisca seperti bergerak sendiri. Seakan ada yang menguasai tubuhnya. Tentu saja mereka bertiga panik, tak tahu harus melakukan apa. Selang beberapa saat, Roy baru kepikiran untuk menelpon ki Santoso.
...****************...