
Malam itu, Nisa dan Roy memenuhi panggilan ke kantor polisi untuk memberi kesaksian. Nisa terlebih dulu berkomunikasi dengan arwah gadis muda yang ditemuinya. Rupanya sebelum di tusuk perutnya, dia sempat di perkosa oleh pelaku. Mayatnya langsung di masukkan ke dalam koper untuk di sembunyikan.
Adapun pelaku kejahatan tersebut, saat ini sedang dalam pengejaran. Polisi sudah mengantongi identitas pelaku penculikan.
Setelah dari kantor polisi, Nisa menemui orang tua korban. Gadis itu menitipkan pesan kepada Nisa untuk di sampaikan kepada orang tuanya.
Sewaktu di culik, gadis itu sedang menyiapkan kejutan untuk ulang tahun pernikahan orang tuanya. Semua sudah siap, dan putri mereka sudah menyembunyikan kado di bawah kasur tempat tidur orang tuanya. Gadis itu ingin orang tuanya mengambil hadiah pemberian darinya. Kenang-kenangan terakhir sebelum dirinya meninggal.
Kedua orang tua korban segera masuk ke kamar dan memeriksa bawah kasur. Rupanya ada sepasang cincin nikah yang di hadiahkan untuk mereka. Keduanya tak kuasa membendung air mata. Mereka sangat bersedih karena pemberian terakhir dari putrinya tersebut.
"Kalian pasti bangga punya putri seperti dia".
"Sekarang dia sudah tidak merasakan sakit lagi".
"Dia sudah tenang dan tersenyum lega melihat anda berdua".
"Terimakasih banyak nak,, berkat kau, putri kami dapat di makamkan dengan layak".
"Kami ikhlas kalaupun dia harus diambil lebih dulu".
"Yang penting pembunuhnya harus mendapat hukuman yang setimpal".
"Saya hanya ingin menolong Bu, tolong kalian
jangan bersedih lagi".
"Kami harus pamit sekarang".
"Jaga diri kalian baik-baik,, nanti kita bertemu lagi di lain kesempatan".
Nisa dan Roy meninggalkan hotel. Mereka harus segera pulang ke Yogya. Karena beberapa hal, Nisa dan Roy tertahan sampai hampir seminggu di Jakarta.
"Kita langsung ke bandara sekarang??".
"Terserah kau saja mas, kalau masih ada urusan di tempat lain, aku ikut saja".
"Tidak,, tapi mungkin kita tak bisa langsung ke kampung".
"Kita menginap di kota untuk beberapa hari, mencari rumah dan tempat untuk usaha".
"Kau setuju kan kalau kita usaha kecil-kecilan dulu".
"Entah itu kuliner atau retail,nanti kita pikirkan".
"Yang penting kita sudah satu kota dengan orang tua mu".
"Kalau di kampung, aku bisa kehabisan uang nanti".
"Aku harus bekerja demi kalian bertiga".
"Apa pun rencana mu, aku akan selalu mendukung mu mas".
"Terima kasih Nisa".
__ADS_1
Setelah sampai di bandara, mereka langsung masuk pesawat untuk pulang kembali ke Yogya. Pengalaman menegangkan selama di Jakarta, akan di bawanya menjadi cerita kepada bapak nanti.
Di pesawat, Nisa tertidur. Sampai pesawat mendarat, baru Roy membangunkan nya.
Tampaknya Nisa memang kelelahan. Belum lagi sakit kepala nya yang kadang masih sering muncul.
"Kita ke hotel dulu, baru besok pagi kita jalan".
"Ini sudah hampir malam, kau juga kelihatan capek".
"Ayo,, aku sudah memesan kendaraan di depan".
Nisa memeluk lengan suaminya dan mengikuti langkah nya keluar bandara. Di depan mereka sudah ada kendaraan menunggu. Mereka masih harus menempuh perjalanan ke hotel. Sementara malam mulai merambat naik, meninggalkan semburat warna merah di ufuk senja.
Nisa dan Roy tiba di lampu merah di depan sebuah hotel, ketika matanya menangkap pemandangan yang ganjil. Di tengah perempatan, berdiri sesosok manusia bercelana kolor hitam dan berkepala kambing. Nisa ingat betul kalau saat itu adalah waktu Maghrib. Nisa menatap makhluk itu erat karena kebetulan Nisa berhenti di lampu merah.
Tak berapa lama, dari arah berlawanan, sebuah mobil boks menabrak pengendara sepeda motor yang menerobos lampu merah.
Pemotor itu tampak tak bergerak dengan darah mengucur dari bagian kepalanya.
Orang-orang datang menolong dan Nisa masih di dalam mobil bersama Roy. Di lihatnya makhluk berkepala kambing tersebut mendekati korban dan menjilati darah nya. Dia kemudian tertawa senang. Nisa sampai bergidik menyaksikan nya.
"Ada apa, kau tak kuat melihat korban kecelakaan itu??".
"Mas,, ku beritahu padamu, ada makhluk asing di sana".
"Sepertinya dia yang sengaja mencelakai
mereka".
"Tunggu mas,, kau lihat wanita itu,,rupanya
dia pemiliknya".
"Setelah mendapatkan satu nyawa, dia buru-buru mengajaknya pergi".
"Sungguh keterlaluan wanita itu".
"Kau ini bicara apa sih, aku tak paham".
Percuma Nisa menjelaskan pada Roy karena dia juga tidak bisa melihat. Sepertinya dia adalah pemilik makhluk berkepala kambing tersebut. Mungkin dia sengaja membawanya ke jalan agar dia mencari tumbal sendiri.
Dan petang ini, makhluk itu berhasil mendapat nyawa seorang pengendara motor.
Miris sekali, masih ada saja para pemuja setan hanya demi mendapatkan kekayaan. Mereka rela mengorbankan nyawa orang lain yang tidak bersalah.
Cukup lama jalanan macet karena polisi mengevakuasi para korban kecelakaan. Pemotor itu meninggal seketika, sementara sopir bok dan teman nya di bawa ke rumah sakit. Mobil Nisa kembali berjalan menuju hotel di samping jalan tersebut.
"Ayo, aku sudah memesan kamar, kita tinggal masuk dan mengambil kunci".
"Kita akan menginap beberapa hari di sini".
"Besok pagi kita cari rumah di kawasan yang strategis".
__ADS_1
"Sekarang, aku hanya ingin istirahat saja".
Nisa mengikuti langkah suaminya masuk ke dalam kamar hotel. Di lorong kamarnya, Nisa bertemu kembali dengan wanita di jalan tadi. Rupanya dia juga menginap di sini. Makhluk peliharaan nya itu di tuntun nya pakai tali, layaknya menuntun seekor kambing. Sayangnya dia makhluk yang tak kasat mata.
Badan kambing itu sangat hitam dengan tanduk mengkilap seperti emas. Kepalanya berwujud kambing dengan mulut belepotan darah yang habis di minum dan di jilat i nya.
Seutas tali kekang melilit lehernya dan dihubungkan dengan gelang yang di pakai oleh wanita cantik tersebut. Jadi, makhluk peliharaan nya itu mengikutinya terus sepanjang waktu.
"Apa yang kau lihat,, tak enak kalau wanita itu sampai melihat mu tadi".
"Tidak,, aku hanya kagum dengan kecantikan nya".
"Menurutku biasa saja, kau jauh lebih cantik darinya".
"Kau lihat dia tadi masuk ke kamar mana mas??".
"Entah lah,, tak penting juga buat ku".
"Ini kamar kita, ayo cepat masuk".
"Jangan terlalu mengurusi orang lain".
"Dia bisa salah paham nanti".
Nisa masuk ke kamarnya. Namun dia masih penasaran dengan wanita yang melintas tadi. Ingin sekali Nisa mengetahui identitasnya.
Perbuatan nya itu tidak bisa di benarkan. Mencelakai orang lain demi untuk kepentingan nya sendiri.
Roy berbaring di ranjang, setelah dia mandi terlebih dulu. Menyusul Nisa yang kemudian membersihkan badan nya. Roy memesan makan malam untuk di bawa ke kamarnya.
Sementara Nisa masih berpakaian, dia menelpon kedua putri mereka.
Sheina dan Sheila sepertinya merindukan Roy dan Nisa. Mereka bertanya kapan ayah dan ibunya kembali. Sambil tak lupa bercerita tentang kegiatan keduanya di sekolah.
"Ayah dan ibu baru pulang lusa, jadi kalau kalian ingin hadiah, tak boleh menyusahkan nenek dan kakek juga kak Sofi ya??".
"Kami anak manis ayah,, kami tidak pernah nakal".
"Bagus,,,ayah sayang sekali dengan anak-anak manis dan cantik ayah ini".
"Sekarang kalian tidur dulu ya,, besok harus sekolah bukan??".
"Baik ayah,,. bye ayah....love you!!".
"Mereka sekarang lebih dekat padamu mas".
"Aku dilupakan sebagai ibunya".
"Bukan begitu,, mereka juga menyayangi mu".
"Beruntung aku mendapat cinta mereka berdua bukan??".
"Padahal aku bukan ayah kandungnya".
__ADS_1
Nisa mengerti perasaan Roy. Dia bersyukur putrinya sudah lengket pada Roy. Jadi keduanya tidak kehilangan kasih sayang walaupun ayahnya sudah meninggal.
...****************...