Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Bude Wati Kena Batunya


__ADS_3

Genderuwo yang haus darah itu, terus saja


menggeram di depan bude Wati.Dia masih saja menyiksa bude Wati.Genderuwo itu


ingin segera meminum darah persembahan.


Bude Wati tak kehilangan akal, dia menyayat pergelangan tangannya, dan meminta Genderuwo itu menghisapnya.


Setelah puas mencicipi darah dari majikannya


Genderuwo itu pun tenang sekarang.


Akan halnya bude Wati,dia meminta pak Udin


menelpon dokter untuk mengobati lukanya.


Dokter menjahit luka bekas sayatan pisau di


tangan bude Wati.Dokter menyarankan untuk


bude di rawat di rumah sakit.


Bude menolak saran dokter dan meminta tranfusi darah dilakukan di rumah saja.


Bude juga meminta seorang perawat untuk


membantunya selama dia sakit.


Dirumah sakit, bapak dan Nisa masih setia menunggu ibu,walaupun masih belum sadarkan diri.Dito sesekali menjenguk ketika


ada waktu luang.


Perawat sedang memandikan ibu ketika tiba-tiba tangannya bergerak.perawat itu segera


memanggil dokter untuk memeriksa ibu.


Ibu sudah sadar, tapi kondisinya masih lemah,


sehingga tidak boleh banyak bicara dulu.


"Nisa,,,,kau pulanglah, lihat keadaan bude mu,


sudah beberapa hari ini dia tidak datang ke


rumah sakit".


"Bude paling sedang sibuk dengan urusan


kantor pak,,,lagipula buat apa kita perduli,


bukannya ibu seperti ini karena ulahnya".


"Jangan jadi orang pendendam Nis, itu tidak baik".


"Ibumu sudah mendingan,lagipula dia kakak


satu-satunya dari ibu mu".


Nisa bergegas meninggalkan rumah sakit untuk kembali ke rumah bude Wati.


Dari luar pagar, rumah bude tampak berbeda,


seperti ada aura gelap yang menyelimuti sekitar rumah.


Nisa melangkah masuk ke dalam rumah.


"Aneh...........".


"Sepi sekali rumah ini, bude juga tidak kelihatan".


"Mbak siapa ya???".


"Lo...!!! harusnya saya yang bertanya, mbak ini


siapa, dan sedang apa disini".


"Maaf mbak, saya perawat yang ditugaskan menjaga ibu Wati".


"Memangnya bude saya sakit apa?".


"Mbak lihat saja sendiri di dalam".


Nisa melangkah masuk ke dalam kamar bude


Wati.Beliau tergeletak di tempat tidur dengan


kondisi yang menyedihkan.Badan nya kurus kering tinggal tulang.Matanya melotot ke depan dan mulutnya selalu menggeram.

__ADS_1


Nisa juga melihat Buto ijo itu diatas kepala


bude Wati sedang memegangi rantai yang


mengikat leher bude Wati.


Kondisi nya antara hidup dan mati karena darahnya dihisap oleh si Buto ijo.Dia juga


kesulitan bicara sebab lehernya dicekik oleh Buto ijo tersebut.


"Sejak kapan bude saya seperti ini mbak?".


"Ini sudah satu Minggu mbak, tapi kondisinya justru semakin menurun".


Nisa kasihan melihat kondisi bude Wati. Tapi


Nisa juga tidak bisa menolong apapun.Buto


ijo itu telah menjadikan bude Wati sasaran


kemarahannya.


Nisa mendekati ranjang bude Wati dan mencoba berbicara kepadanya.


"Bude,,,,,ini masih belum terlambat, sebaiknya


bude segera melepaskan Buto ijo itu, sudah


terlalu banyak yang jadi korbannya.


"Bude Wati hanya bisa menjawab dengan


geraman, rantai yang dipasang Buto ijo


di lehernya terlalu kuat mengikatnya".


Nisa keluar dari kamar bude Wati, dia segera


menelpon Dito.


"Halo.......Dito,,,kau bisa menjemputmu di rumah bude Wati sekarang?".


"Memangnya ada yang penting Nis?".


"Aku jelaskan kalau kau sudah sampai sini".


Dito memacu laju motornya Agar segera sampai ke rumah bude Wati.


"Katakan,,,,,sepenting apa masalahnya sampai


kau panik seperti itu".


Tanpa menjawab, Nisa langsung menyeret Dito ke kamar bude Wati.Dito yang melihat


pemandangan di depan nya jadi miris.


"Bude Wati..............??".


"Ya,,,karena tidak mendapatkan tumbal, bude


Wati sendiri yang jadi sasarannya".


"Lalu,, apa yang akan kau lakukan?".


"Kita temui ustad yang tempo hari membantu


mengatasi kesurupan di pabrik".


Nisa dan Dito bergegas mendatangi rumah


kyai Ahmad. Nisa tak tega melihat budenya


semakin menderita.


Setelah mengutarakan maksudnya, Kyai Ahmad lantas mengikuti Nisa menuju rumah


bude Wati.Setelah melihat kondisi bude,kyai


Ahmad berbicara kepada Nisa.


"Nak,,,,ini berat,,,Buto ijo itu tak mau melepaskan bude mu begitu saja".


"Dia sudah turun-temurun diwariskan oleh


pendahulu budemu, makanya dia juga harus


diwariskan atau dikembalikan ke tempatnya

__ADS_1


melakukan ritual dulu".


"Bapak hanya bisa mendoakan saja untuk mengurangi penderitaan budemu".


"Tapi pak,,, bukankah seharusnya Buto ijo ini


bisa dimusnahkan?".


"Bisa,,,,kalau kita tahu dimana menyimpan


cemeti itu".


"Cemeti apa maksudnya pak, Nisa tidak mengerti".


"Sosok Buto ijo itu bisa dikendalikan kalau kita mencambuknya dengan sebuah cemeti".


"Seharusnya benda itu ada pada majikannya".


"Namanya cemeti Gelung rambut, sebuah cemeti yang di gagangnya ada hiasan seperti


rambut yang digulung".


"Konon katanya, setelah dicambuk, Buto ijo itu akan tertahan di gelungan rambut tersebut dan tidak bisa keluar".


"Lalu dimana saya bisa mencari benda itu pak?".


"Hanya budemu yang bisa menjawabnya, tapi


mengingat kondisinya yang seperti ini, bapak


tidak yakin cemeti itu bisa ditemukan".


"Lagi pula, Buto ijo itu terus menempel pada


budemu bukan?".


"O,,,iya Nis,,,,aku ingat kamu menyebutkan benda itu saat kau kesurupan di restoran dulu".


"Aku....????".


"Iya,,,, mungkin saja itu terjadi mengingat mbak Nisa adalah garis keturunan terakhir dari keluarga Bu Wati".


"Mungkin saja mbak Nisa yang bisa mencari jalan keluar untuk masalah ini".


Nisa semakin bingung setelah mendengar penjelasan dari kyai Ahmad.Tiba-tiba telepon


berdering dari ruang tamu.Nisa bergegas mengangkat nya.


Bapak menelpon dari rumah sakit.Bapak mengabarkan kalau kondisi ibu sudah


membaik,dan meminta Nisa untuk segera ke rumah sakit.


Nisa bergegas menuju ruang ICU.Bapak sudah menunggu di luar ruangan.


"Bagaimana kondisi ibu sekarang pak?".


"Ibu mu pingsan setelah menceritakan kejadian waktu itu".


"Kata dokter, luka tusuk di perutnya belum kering, jadi masih belum boleh bergerak".


"Mulai sekarang,kita harus hati-hati, terutama kau Nisa, tinggal kau dan ibumu yang masih ada hubungan darah dengan bude Wati".


"Bude Wati sudah menerima balasannya pak".


"Kondisinya sekarang seperti mayat hidup".


"Buto ijo itu menyiksa bude Wati, dia bahkan tidak melepaskan jerat rantai dari lehernya".


Nisa kemudian menceritakan pembicaraannya dengan kyai Ahmad.


"Bapak sudah tahu itu, kau dulu juga diikuti Genderuwo yang dipelihara oleh kakek buyutmu kan??".


"Tidak mudah mengalahkan Genderuwo itu,


khodam yang ada di tubuhmu yang bisa me- musnahkan nya".


"Dan sekarang Nisa harus berhadapan dengan Buto ijo??".


"Entahlah pak,,,apa Nisa sanggup melakukannya".


"Kita memang ditakdirkan harus menghadapi


hal ini Nisa, karena ternyata kedua moyangmu penganut aliran sesat".


"Kau generasi terakhir dari kedua keluarga kami, semua ada di tanganmu sekarang".


Nisa bingung harus berbuat apa.Nisa tidak mau mewarisi pesugihan yang telah dipelihara secara turun- temurun.

__ADS_1


Nisa harus menemukan cemeti itu secepatnya.Kalau.dulu dia bisa mengembalikan Genderuwo itu dan membatalkan perjanjian gaib dengan kakek buyutnya,dia juga harus bisa memutus perjanjian dengan Buto ijo ini.


__ADS_2