
Semalaman Alan pingsan tak sadarkan diri di tengah hutan larangan. Tubuhnya pucat pasi dan dingin layaknya es. Warga menemukan nya tergeletak di dekat rumah kosong. Mereka tak tahu pasti kenapa pemuda itu bisa berada di tengah hutan.
Alan di bawa ke rumah kepala dusun agar segera di periksa. Kondisi nya sudah sangat mengkhawatirkan. Untung saja ada salah satu warga yang melihatnya, jadi mereka segera menolongnya.
Bapak terlihat buru-buru berganti pakaian. Roy dan Nisa yang masih bersantai di depan televisi, jadi heran di buatnya.
"Ada apa to pak, kok seperti nya panik begitu??".
"Itu,, teman kalian kemarin, nyasar di hutan larangan".
"Pagi ini warga menemukan nya di dekat rumah kosong".
"Laki-laki itu tak sadarkan diri,, sementara ini warga baru mencari keberadaan teman perempuan nya".
"Maksud bapak, Alan dan Siska??".
"Sepertinya iya,, bapak kurang tahu siapa namanya".
"Kalau begitu biar Roy ikut pak,, siapa tahu bisa membantu di sana".
"Ya sudah,, ayo kita lekas berangkat".
Bapak dan Roy langsung berjalan menuju rumah kepala dusun.Mereka hendak memastikan kebenaran berita yang di bawa oleh warga kampung. Sementara, Nisa dan Sofia tampak berbincang di ruang tamu.
"Kasihan sekali mas Alan ya Bu??".
"Kau mengenalnya Sofia?".
"Ibu masih belum ingat, dulu mas Alan dekat sekali dengan ibu".
"Dia kan adik angkatnya pak Dito".
"Ibu sama mas Alan dulu, sudah seperti perangko, lengket.... kemana-mana berdua".
"Aku justru baru mendengar hal ini dari kamu".
"Bagaimana mungkin saya bisa lupa ya??".
"Ibu tak mengenali mas Alan??".
"Entahlah Sofi,, aku saja terkadang masih bingung dengan diri ku sendiri".
"Dalam waktu sekejap, tiba-tiba menjadi istri Roy".
"Ya sudah Bu,,,jangan terlalu di pikirkan".
"Nanti kalau sudah waktunya, ibu pasti ingat semuanya".
Sofia kembali ke kamar si kembar, meninggalkan Nisa sendirian yang masih bengong.Entah kenapa Nisa bisa melupakan masa lalunya. Yang di ingatnya, Dito sudah meninggal dan dia pernah menikah dengan Satria. Selebihnya, Nisa tak ingat apapun lagi.
Di rumah pak kadus, sudah banyak orang yang berkumpul. Mereka hendak berangkat ke hutan larangan, mencari saudara dari Alan.
Laki-laki itu sudah sadar, walaupun kondisi badan nya masih lemas. Dia meminta tolong kepada warga untuk mencari kakaknya Siska.
Setibanya di rumah pak kadus, Alan dan bapak langsung masuk ke tempat Alan di rawat. Mereka memastikan keadaan nya baik-baik saja.
"Bagaimana keadaan mu sekarang Alan, apa sudah lebih baik".
__ADS_1
"Saya sudah mendingan pak Roy".
"Aku kan menyuruh mu kembali ke Jakarta, kenapa kau malah pergi ke hutan?".
"Untung saja kau selamat".
"Kalau tidak, aku juga yang repot menjelaskan kepada Anton".
"Maaf pak, tadinya saya hanya ingin mencari Siska yang sudah lebih dulu masuk ke dalam hutan".
"Tapi, saya malah masuk perkampungan gaib yang ada di sana".
"Sampai sekarang, Siska justru belum di temukan".
"Alan,, sejak semula datang ke sini, kakak mu itu memang sudah membawa 'teman' dalam perjalanan".
"Padahal, leluhur di sini sangat gawat kalau urusan dengan hal tersebut".
"Tentu saja mereka bermaksud mengerjai Siska".
"Semoga saja kakak mu tidak kenapa-napa".
"Lain kali, kalian harus permisi dulu ke Mbah Cokro kalau membawa masuk makhluk gaib dari luar".
"Salah-salah kejadian nya bisa seperti Siska ini".
"Maaf pak, saya sungguh tidak mengerti tentang hal-hal seperti ini".
Roy mendengar ucapan Alan dengan menahan emosi. Bagaimana mungkin dia bisa berpura-pura tidak tahu, sedangkan kejadian Nisa waktu itu karena ulahnya dan kakaknya Siska. Mereka berdua menyembah iblis di rumah besarnya. Nisa yang hampir saja di jadikan korban.
Mbah Cokro yang di panggil oleh warga sudah datang di rumah pak kadus. Dia segera menemui Alan yang masih berbaring lemas.
"Jangan ada yang di sembunyikan, supaya aku bisa menemukan saudara mu".
Alan kemudian bercerita semuanya yang terjadi padanya dan Siska dari awal sampai akhir. Hingga akhirnya dia di temukan pingsan oleh penduduk, pagi hari tadi.
"Ini berat sekali, aku yakin kalau dari awal kakak mu sudah berniat tidak baik di sini".
"Dia membawa teman ke sini, tanpa kau meminta ijin dulu dengan penunggu kampung ini".
"Lalu, bagaimana dengan kakak saya Mbah?".
"Mereka mungkin sedang memberi pelajaran pada kakak mu".
"Tapi, yang harus kau tahu, bisa saja kakak mu tidak selamat".
"Kemungkinan itu harus kau ketahui dari awal".
"Karena dia sudah berani menantang penghuni gaib di kampung ini".
Mbah Cokro memandang wajah Alan dengan seksama. Seperti ada sesuatu di dalam dirinya yang menarik perhatian orang tua itu.
Namun, dia segera keluar dan memanggil bapak juga Roy.
"Bagimana Mbah,, apa ada sesuatu yang buruk??".
"Kita sudah membuang iblis yang merasuki Nisa".
__ADS_1
"Tapi, dua orang ini sengaja ingin menarik Nisa kembali ke dalam lingkaran setan".
"Siapa dia sebenarnya Roy,, kau mengenalnya bukan??".
"Tentu saja Mbah, iblis yang ada di tubuh Nisa, berasal dari rumahnya".
"Dan kakak perempuan nya itu, dia wanita yang sangat berbahaya".
"Kalau begitu,kenapa kalian berdua masih di sini??".
"Bukankah Nisa sendirian di rumah sekarang??".
Roy dan bapak saling berpandangan. Sedetik kemudian mereka segera sadar kalau ini hanya pengalih perhatian supaya Siska bisa kembali membawa Nisa. Bapak dan Roy langsung berlari pulang menuju rumah nya.
Mereka berharap Nisa baik-baik saja.
Di rumah, Nisa memang kedatangan tamu. Tiba-tiba Siska muncul dengan badan penuh luka. Nisa langsung membawanya masuk ke dalam rumah dan mengobatinya.
Nisa membalut luka di tangan dan kakinya. Kemudian dia memberi minum teh hangat untuk Siska.
"Bukan nya semua orang sedang mencari mu tadi??".
"Apa mereka tidak menemukan mu?"
"Justru aku datang ke mari untuk menemui mu Nisa".
"Apa maksud mu Siska, kasihan warga kampung yang sedang mencari mu bukan?".
"Aku ingin kau membawa ku kepada Satria".
"Dia menyuruhku untuk membebaskan nya".
"Ayolah Nisa,, bukankah dia suami mu?".
"Apa kau lupa dengan suami mu sendiri?".
"Siapa Satria,,,aku sama sekali tak mengenalnya".
"Kau adalah bagian darinya,,dan aku akan menyatukan kalian kembali".
"Lepaskan aku Siska, kau menyakiti ku!!".
"Aku tak mau pergi dengan mu!!!".
"Lepaskan aku!!!".
"Sebaiknya kau diam saja, dan turuti kata-kata ku".
"Kita akan membawa Satria kembali kepada mu!!".
Nisa masih ketakutan dengan perlakuan Nisa yang mencengkram tangan serta lehernya. Kebetulan dia sedang di rumah sendirian, karena ibu dan Sofia sedang pergi ke pasar bersama si kembar.
Ketika bapak dan Roy tiba, rumah terlihat sepi. Mereka berusaha masuk, ketika terdengar teriakan dari dalam rumah. Rupanya Siska sudah tahu kedatangan kedua orang tersebut untuk menyelamatkan Nisa.
"Sebaiknya kalian pergi dari sini, atau kalian berdua hanya akan melihat jasad Nisa".
Dengan isyarat, bapak menyuruh Roy memutar ke kamar Nisa dan masuk lewat jendela. Sementara bapak sibuk berbicara dengan Siska. Nampaknya gadis itu sudah di kuasai oleh kekuatan jahat. Dia ingin melenyapkan Nisa, agar bisa berkumpul kembali dengan Satria.
__ADS_1
...****************...