Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Sejenak Mencari Ketenangan.


__ADS_3

Sampai di kampung Larangan sudah malam hari. Mbah Cokro bahkan langsung meminta di antar ke rumahnya. Nisa dan Roy serta bapak masuk ke rumah sudah lebih dari jam 10 malam.


"Alan,, kalau kau keberatan bermalam di sini, kau bisa kembali ke hotel".


"Saya menginap di sini saja pak Roy, kalau anda tidak keberatan".


"Tentu tidak, masuk lah kalau begitu".


"Kau tak keberatan kan kalau tidur di ruang tamu".


"Jangan kahawatir Roy, biar bapak yang menemani Alan,,kau istirahat lah sana....bapak tahu kau pasti sangat capek".


Alan berjalan masuk ke kamarnya. Di lihatnya Nisa sudah tertidur di atas ranjang. Bahkan dia tak sempat mengganti baju. Tubuhnya terlihat sangat lelah, seolah baru saja bekerja berat.


Roy memandangi wajah Nisa. Begitu tenang dan teduh. Tak ada salah nya dengan wanita pilihan nya ini. Tapi kenapa ibunya justru sangat membenci Nisa. Dan lagi, dari mana kekuatan jahat yang di peroleh ibu nya untuk mencelakai Nisa.


Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ada di benak Roy. Namun jiwa dan raganya sudah terlalu letih untuk berpikir. Berbagai kejadian di hari ini membuat dia shock berat. Kedua karyawan di rumah nya tewas dengan mengenaskan.


Roy berbaring di samping Nisa. Di belainya wajahnya yang sudah terlelap. Wajah inilah yang selalu menentramkan hatinya. Tak perduli badai yang menerjang langkahnya, Roy selalu bisa menemukan kedamaian di sisi Nisa. Itulah , kenapa Roy begitu mencintainya.


"Sayang,,, kau sudah lama disini".


"Cukup lama kalau untuk memandangi wajah mu yang cantik ini".


"Tidur lah,,,aku yakin kau pasti sangat capek".


"Kau juga Roy,,,, kemarilah......aku butuh pelukan mu yang hangat".


"Hari ini sungguh hari yang sangat berat!!".


Roy beringsut dan langsung menyambut tangan Nisa. Istrinya itu meringkuk di bawah lengan nya. Roy membelai kepala nya dan mencium kening nya dengan lembut.


"Aku mencintai mu Nisa,,berjanjilah kalau kau akan terus di sisi ku selamanya".


"Kenapa tidak,, kita kan satu paket sayang".


"Aku pasti akan selalu ada di samping mu".


"Aku juga sangat....sangat ....mencintai mu Roy".


Dekapan hangat Roy sejenak bisa melupakan kejadian yang terjadi siang tadi. Keduanya terlelap dalam dekapan malam yang gelap. Esok masih lah panjang kalau hanya sekedar untuk merangkai mimpi. Melupakan sejenak kecamuk badai di dalam jiwa.


Pagi hari, Nisa terbangun oleh suara celoteh riang kedua putrinya. Saat membuka mata, Roy masih mendekapnya erat. Nisa mencium lembut bibir suaminya. Sejenak kemudian, Roy pun membuka matanya.


"Bangun sayang, ini sudah pagi".


"Jangan menggodaku seperti ini Nisa, kau harus bertanggung jawab karena sudah mengganggu tidur ku".


"Ini sudah siang Roy, tak enak pada bapak".


"Lagipula anak-anak sudah bermain di halaman".

__ADS_1


"Hanya sebentar sayang, aku sudah sangat merindukan mu".


Nisa tak kuasa menolak keinginan suaminya. **** singkat di pagi hari itu cukup ampuh menjadi mood booster bagi Roy. Keduanya segera mandi lalu mencari kedua putri kembar nya. Sudah 3 hari Nisa dan Roy tak bertemu mereka.


"Sheina....Sheila...kemari lah, papa sangat merindukan kalian".


"Papa...lama sekali mama di rumah sakit, apa sekarang sudah sembuh??".


"Tentu saja,, kalau tidak mana mungkin papa dan mama pulang".


"Pa...tadi Sheila pergi ke sana, katanya bu Sri memanggilnya".


"O..ya,,apa begitu Sheila??".


"Iya pa,,,bu Sri menangis melihat Sheila, tapi dia berjalan ke hutan dan menghilang".


"Om Alan juga lihat tadi,,, tapi om Alan tak mau bicara dengan bu Sri".


Roy terkejut mendengar ucapan putrinya. Dia menoleh ke arah Alan. Aneh nya pemuda itu justru pura-pura tidak mendengar ucapan Sheila.


"Sana kalian masuk,, mama Nisa sudah masak buat kalian berdua".


"Hore........kami masuk dulu pa".


Si kembar menghambur ke dalam rumah mencari Nisa. Sementara Roy mendekati Alan yang masih berdiri di samping pagar.


"Apa benar yang putri ku katakan tentang mu tadi , Alan?".


"Apa kau bisa melihat arwah Sri, seperti yang di ceritakan Sheila".


"Apa mereka tadi beneran pak,,aku kira kedua putri bapak sedang mengkhayal".


"Jadi saya cuma mengikuti imajinasi mereka saja".


"Oh....begitu,, ya sudah....lupakan saja, Sheila memang suka berimajinasi".


"Ayo masuk,,,kita sarapan bersama".


Alan menghela nafas. Hampir saja Roy mengetahui kemampuan dirinya. Untung Alan bisa mengalihkan perkataan Roy, jadi dia tidak lagi banyak bertanya.


Alan sudah bertekad untuk mengambil kembali apa yang menjadi miliknya. Tapi dia akan bergerak pelan-pelan saja. Tunggu sampai semua keluarga Nisa percaya padanya. Saat ini dia masih harus banyak bersabar.


Alan mengikuti Roy masuk ke dalam rumah. Nisa rupanya memasak nasi goreng abon kesukaan nya dulu. Tak sabar rasanya Alan mencicipi masakan nya. Sudah lama dia menantikan hal ini lagi, sejak Nisa kehilangan sebagian ingatan nya.


"Sayang, aku sudah buat nasi goreng udang untuk mu".


"Ayo duduk lah....biar aku ambilkan".


"Papa payah,,,padahal nasi goreng mama ini enak sekali".


"Sayangnya papa tidak suka".

__ADS_1


"Benar pak Roy,, Nisa paling jago memasak naai goreng abon yang lezat".


Reflek Roy langsung menoleh ke arah Alan. Sepertinya dia tidak salah dengar. Alan menyebut nama Nisa tadi.


"Maksud saya teman saya Risa pak,, dia jago membuat nasi goreng abon seperti bu Nisa".


"Saya sampai salah ucap saking enaknya masakan bu Nisa ini".


"Tuh kan pa.....om Alan saja suka sama masakan mama".


"Sudah....lanjutkan makan kalian setelah itu boleh main lagi".


"Kita kapan sekolah ma,, aku bosan di rumah kakek".


"Nanti,, papa yang akan urus semuanya, supaya kalian bisa sekolah lagi".


Si kembar melanjutkan makan dengan lahap nya.


Tinggal Roy yang masih pusing memikirkan langkah selanjutnya. Rumah nya sudah tak mungkin lagi di tinggali. Dia harus mencari rumah baru secepatnya. Walaupun ukuran nya kecil, yang penting bisa di tinggali oleh keluarga kecilnya.


"Roy, apa sudah ada kabar dari polisi".


"Sejauh ini belum ada pak, ponsel keluargaku juga tidak aktif semua".


"Sabar saja dulu,, tunggulah disini sampai polisi memberi keterangan".


"Bapak mau ke tempat mbah Cokro dulu".


"Tunggu pak, biar saya ikut ke sana".


"Kalau begitu ayo,,,kita berangkat sekarang".


Roy berpamitan pada Nisa dan kedua putrinya.


Dia mengambil kunci mobil dari Alan dan langsung berangkat ke rumah mbah Cokro.


"Memangnya kapan Sofi kembali kemari bu, apa dia bilang pada ibu??".


"Katanya lusa Nis, sekalian menunggu ujian nya selesai".


"Sudah....tinggalkan saja nak Alan, biar ibu yang bereskan".


"Iya bu,,".


"Bu Nisa,,apa kita bisa bicara sebentar, ada yang ingin saya sampaikan pada ibu".


"Tentu saja Alan,, kita ke ruang tamu saja".


Alan berjalan menuju ruang tamu, di ikuti oleh Nisa di belakang nya. Entah apa yang akan di sampaikan oleh Alan kepadanya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2