
Ternyata Ayu bukan gadis biasa. Dia sudah sering berurusan dengan dunia hitam. Dulu pun Dito sudah pernah hampir gila dibuatnya, karena Ayu menggunakan ilmu pelet.
Kali ini pun niatnya begitu juga. Terbukti Dito langsung menempel padanya di awal perjumpaan. Bahkan ketika Nisa diserang makhluk halus pun, Dito setengah tak mempercayai kalau itu perbuatan Ayu.
Serangan pertama, gagal melukainya dan Nisa yakin kalau Ayu tidak tinggal diam, mengingat makhluk yang dikirimnya juga sangat ganas.
Di kamarnya, Ayu sedang emosi. Usahanya untuk menyingkirkan Nisa telah gagal. Makhluk yang dikirimnya untuk membuat Nisa celaka, kembali dengan tangan kosong.
Mulut Ayu malah mengeluarkan darah segar.
"Aku harus bisa menghabisi mu, Dito akan kembali menjadi milikku".
"Aku yang lebih dulu berhak atas dirinya bukan gadis bodoh bernama Nisa itu".
Ayu terus berbicara di dalam hatinya. Dia sangat kesal dengan ulah Nisa. Dia sudah mempercantik diri agar Dito kembali padanya.
Nyatanya Nisa menghalangi usahanya itu.
"Kali ini kau boleh menang Nisa,, tapi cepat atau lambat, aku pasti menghabisi mu".
Sementara di kamarnya, Nisa masih kesal dengan kelakuan Dito. Ditambah perutnya agak nyeri karena ulah makhluk yang dikirim Ayu semalam. Dito membuka matanya dan memeluk Nisa dari belakang. Dia berusaha membujuk Nisa yang sedang marah.
"Sayang,, kita jadi jalan-jalan hari ini??".
Nisa diam saja tak menjawab omongan Dito.
Kepalanya sungguh pusing dan badannya nyeri semua.
"Sayang,,, kau mendengar ku kan??".
"Tolong mas,,, kepalaku pusing, aku sedang tak ingin apa-apa hari ini".
"Tapi Ayu menelpon, dia akan mengantar kita ke danau Toba".
"Pergilah bersamanya kalau kau memang ingin jalan-jalan, aku disini saja".
"Kau yakin??".
Nisa tak menjawab,hatinya sungguh sakit, ditambah nyeri di perutnya. Rasanya dia ingin cepat pulang ke Jakarta. Pelet dari Ayu telah menutup mata Dito, sehingga dia menuruti perkataan Ayu.
Dito tengah bersiap-siap ketika mamanya masuk ke kamar mereka. Dia melihat Nisa meringkuk di kasur dan masih memakai selimut.
"Kau mau kemana sudah rapi begini??".
"Aku mau antar Ayu jalan ma, sudah lama kami tak bertemu".
"Dasar keterlaluan kau,, lihat istrimu, dia sedang tidak enak badan".
"Aku sudah minta ijin Nisa ma,,tenang saja, Nisa tidak apa-apa".
"Batalkan sekarang juga,atau mama sendiri yang akan membunuhmu".
Mama Dito kemudian mendekati Nisa di kasurnya. Dia memeriksa badan Nisa.
__ADS_1
"Kau demam sayang,, ayo kita ke dokter".
"Dito, bawa Nisa ke mobil sekarang!!".
"Mama saja yang antar Nisa, Ayu sudah menunggu di depan".
Dito pergi begitu saja dari kamarnya. Mama memeluk Nisa dan membantunya untuk bangun dari tempat tidur.
Tenang saja Nis, papa mu sudah pergi ke tetua adat untuk minta penangkal guna-guna dari Ayu. Sekarang kita periksa dulu, supaya kau sehat dan bisa mendapatkan suami mu kembali.
Nisa berangkat ke rumah sakit bersama ibu mertuanya. Baru kali ini dia merasa sangat kehilangan Dito. Kalau dalam kondisi sadar, dia tak akan mungkin meninggalkan Nisa seperti ini.
"Kau harus banyak beristirahat agar perutmu tidak kram, kalau terus seperti ini, kau bisa kehilangan bayi mu".
"Baik dok, saya akan menjaganya dengan baik".
"Tolong obatnya diminum teratur ya Bu, kalau perlu pasien harus bed rest dulu".
"Baik dokter".
Nisa dan mertuanya meninggalkan rumah sakit dengan perasaan cemas. Nisa marah dengan perlakuan Ayu kepadanya. Anaknya yang menjadi sasaran. Dan sekarang pun Dito sudah bertekuk lutut padanya.
"Sayang,, kau dengar kan apa kata dokter??".
"Maafkan mama, ini di luar kuasa kami, Dito kembali seperti waktu dulu lagi".
"Besok pagi kalian harus pulang ke Jakarta, supaya guna-guna wanita itu hilang dari tubuh Dito".
Sampai di rumah, mama mertuanya membantu Nisa berkemas. Papa Dito sudah memesan tiket penerbangan untuk mereka malam ini juga. Nisa sudah menelpon Dito untuk segera pulang, Namun Dito tak kunjung datang juga.
"Bagaimana ini,, Dito tak mengangkat telpon nya".
"Nisa pulang sendiri saja ma,, yang terpenting menyelamatkan bayi kami dulu".
"Lalu Dito??".
"Nanti Nisa akan cari cara membawa Dito kembali, kalau sekarang harus menghadapi Ayu, kondisi Nisa jelas tidak memungkinkan".
Lima menit setelah Nisa dan mertuanya ke Bandara, Dito pulang ke rumah. Karyawan memberitahu kondisi kesehatan Nisa sehingga harus dirujuk ke Jakarta. Dito langsung menyusul ke Bandara.
"Ratri,, aku sudah di perjalanan menuju Bandara".
"Ok,, aku akan segera ke rumah sakit mengurus penjemputan mu dengan ambulan".
"Terima kasih banyak".
"Semua sudah siap ma,, kalian tak perlu khawatir".
"Ratri sudah mengurus semuanya untuk ku".
"Syukurlah sayang,, mama harap cucu mama baik-baik saja".
Sampai di Bandara, mereka menuju ruang keberangkatan. Nisa harus menunggu beberapa saat. Tak lama kemudian, Dito tiba- tiba sudah datang dan menyusul ke ruang tunggu.
__ADS_1
"Kenapa kau tak ijin padaku kalau mau pulang ke Jakarta??".
Nisa masih terdiam, dia enggan menjawab pertanyaan dari suaminya.
"Nisa harus menjalani perawatan untuk kandungan nya di Jakarta".
"Bukankah kami sudah menghubungimu berulang kali, kemana saja kau??".
"Itu bukan urusan mama,dan aku belum mau pulang sekarang".
"Tapi Nisa istrimu,, kau tak kasihan melihatnya pulang ke Jakarta sendirian?".
"Itu salahnya sendiri ma, tidak bilang dulu sama suaminya".
"Sudahlah ma, kalau memang mas Dito ingin tinggal disini silahkan".
"Aku bisa pulang sendiri mas, kau jangan khawatir, aku tidak selemah itu".
"Silahkan, kau habiskan waktumu dengan Ayu, aku tak perduli lagi".
Nisa mendekat ke ruang tunggu pdengan dibantu pramugari.
Mertua Nisa menangis melepas kepergian menantunya.Sementara Dito seolah tak perduli lagi dengan istri dan calon bayinya.
Dito memang sudah terkena guna-guna dari Ayu. Dia melupakan semuanya dalam sekejap. Yang menjadi prioritasnya sekarang hanyalah Ayu saja.
Sebelum menaiki pesawat, Nisa melambaikan tangan nya ke arah mertuanya. Dari cincin Nisa keluar sinar berwarna biru mengenai wajah Dito. Dia seperti tersetrum dan kembali kesadaran nya.
Dia melihat pramugari mendorong kursi roda Nisa, saat itu dia tersadar dan ingat dengan Nisa lagi.
"Ma,,aku harus menemani Nisa,, tolong ma,, ".
Dito berlari menemui petugas Bandara. Dia menunjukkan semua paspor, tiket dan kelengkapan lainnya.Setelah diperiksa, barulah dia boleh naik ke pesawat.
"Anak itu sudah gila,,, untung kita membawa semuanya".
"Semoga di Jakarta nanti dia tak lagi mengingat Ayu".
"Syukurlah ....di saat- saat terakhir, dia sadar dan mengingat istrinya".
Nisa mendapat tempat duduk dengan seorang pemuda tampan.Pramugari itu menitipkan sementara Nisa padanya.
"Maaf mas, kalau saya merepotkan".
"Santai saja mbak,,, yang penting anda nyaman di sini".
"Suami mbak sungguh tega membiarkan istrinya yang sakit terbang sendirian".
"Saya Nico mbak, kebetulan baru pulang liburan dari danau Toba".
"Saya Nisa, senang berkenalan dengan mu".
Walaupun sudah naik ke pesawat, Dito tak menemukan keberadaan Nisa. Dito duduk di bagian belakang, sementara Nisa di tempat khusus agar tidak terganggu dengan penumpang yang lain. Beruntung pemuda bernama Nico itu menjaga nya dengan baik selama penerbangan.
__ADS_1