Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Malam Pertama Bersama "Mu".


__ADS_3

Nisa menatap wajah Satria di depan nya. Dirinya sama sekali belum pernah melihat wajah asing di depan nya. Tapi, Satria jelas-jelas membisikkan namanya di telinga Nisa tadi.


"Katakan,,siapa kau sebenarnya??".


"Kau menyebut nama ku Nisa bukan??".


"Ceritakan, sebenarnya apa yang terjadi padaku".


"Kenapa aku bisa sampai ditempat ini??"


"Sekar,,,lebih baik tak usah banyak bertanya".


"Mulai hari ini, jiwa mu serta tubuh mu sudah sepenuhnya menjadi milikku".


"Aku sudah memberikan mahar yang besar untuk menebus mu".


"Selamanya,,kita akan terikat menjadi satu".


"Anisa Sekar Kirana mengikat janji sehidup semati, dengan Satria Yuda Wibisana".


Nisa menatap wajah laki-laki yang kini menjadi suaminya. Nama yang di ucapkan nya, seperti tak asing di telinga Nisa. Seperti pernah mendengarnya,,tapi siapa, dan di mana, ingatan Nisa masih belum bekerja dengan baik.


Dari dalam kamarnya, sayup-sayup terdengar suara Gending Jawa yang masih di mainkan oleh para penabuh gamelan. Pasalnya pesta pernikahan nya kali ini ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk.


Keluarga ningrat seperti kedua pengantin, pantaslah bila memberikan hiburan gratis untuk masyarakat di sekitarnya. Mereka sangat antusias untuk menonton pertunjukan wayang tersebut. Namun tidak bagi kedua pengantin. Mereka memilih menghabiskan malam pertama berdua saja.


Nisa masih duduk di depan meja rias untuk melepaskan perhiasan serta aksesoris yang di gunakan nya tadi. Baju pengantin khas ratu Jawa juga masih di kenakan nya.


Dari depan cermin, terlihat Satria sudah menanggalkan baju beskap serta lilitan kain jarik di tubuhnya. Dia mengenakan celana pendek dan mendekat ke arah Nisa.


Satria berdiri di belakang tubuh Nisa. Kedua tangan nya membelai tangan Nisa dengan kepalanya menyandar di bahu istrinya tersebut.


"Kau diam saja, biar aku yang membantu mu melepaskan nya".


Nisa hendak protes, namun jari telunjuk Satria sudah menempel di bibirnya. Dia berbisik mesra di telinga Nisa.


"Malam ini kau ratunya,,aku siap melayani dan menjadi budak cinta mu".


Tubuh Nisa me remang mendengar bisikan Satria yang menyapu hangat telinga nya. Pria itu dengan lihai melepas sanggul dan aksesoris dari kepalanya. Rambut panjang Nisa terurai indah menutupi punggungnya.

__ADS_1


Melihat pantulan wajah Nisa di cermin, membuat hasrat Satria bangkit. Nisa sungguh sangat cantik, bak putri dari negeri dongeng.


Lesung pipinya, serta kulit putih mulusnya,, sungguh membuat Satria menjadi gila.


Satria memainkan rambut panjang Nisa dan sesekali menciuminya. Wangi yang khas, bagaikan candu baginya. Sesaat kemudian, Satria menyibakkan rambut panjang Nisa dan menyesap lehernya yang jenjang. Bibirnya menelusuri setiap jengkal kulit serta meninggalkan jejak merah di sana.


Perlakuan manis Satria membuat Nisa memejamkan mata. Hatinya hendak menolak, mengingat Nisa belum mengenal suaminya, Namun tubuhnya seperti enggan berbohong. Gelombang kenikmatan yang di hadirkan Satria, memancing hasrat Nisa. Bukan salah Satria, karena mereka berdua sudah sah menjadi pasangan suami istri. Wajar kalau Satria menginginkan Nisa untuk melayani dirinya di malam pertama.


"Tanda merah ini, bukti kalau kau milik ku, hanya milik ku Sekar".


"Istri ku,, malam ini aku akan memanjakan mu".


"Kau hanya harus menikmati pelayanan dari budak mu ini".


Tubuh Nisa bergetar hebat, ketika tangan kekar Satria, menelusup masuk ke dalam belahan dadanya. Satu kali hentakan, dan kancing kebaya Nisa sudah berjatuhan di lantai. Bajunya yang terbuka membuat Satria leluasa memainkan buah dadanya.


Satria berbalik dan berlutut di hadapan Nisa.


Dia memegang tengkuk istrinya dan ******* habis bibirnya. Tangan nya yang bebas masih sibuk memberikan pijatan di kedua p******a


milik Nisa. Nisa mendesah pelan, menikmati setiap gerakan Satria di tubuhnya. Pelan tapi pasti, Nisa di buat melayang oleh kemampuan Satria menaklukan wanita.


"Jangan berhenti,,, bukan begitu sayang??".


"Kau masih harus tahan sebentar lagi,, ini baru pemanasan saja".


"Aku......ah.......Satria,,, hentikan !!!".


Nisa sudah tidak tahan. Sentuhan Satria membakar jiwanya. Hasratnya meronta minta di puaskan. Bahkan tubuh Nisa sudah dalam keadaan polos tanpa busana. Nyatanya, Satria masih belum puas menyiksa dirinya. Satria masih saja mempermainkan gairah istrinya.


Satria mengangkat tubuh polos Nisa dan membaringkan nya di tempat tidur. Tangan dan bibirnya masih aktif mengeksplor setiap jengkal tubuh mulus di hadapan nya. Tanda merah di tubuhnya sudah hampir rata.


Nisa sudah merintih dan memohon kepada Satria. Dia tak sanggup menahan nya lagi. Saat akhirnya Nisa menangis,, barulah Satria mempercepat penyatuan mereka. Satria juga sudah hampir kehilangan kendali. Dorongan yang di rasakan nya terlalu kuat.


"Ayo Nisa,,, sebut nama ku".


"Katakan kalau kau mencintai ku".


"Aku mencintai mu Satria,, aku sangat mencintai mu".

__ADS_1


"Oh....Satria,,,, ini nikmat sekali!!!".


Kedua nya melebur menjadi satu. Saling mengisi dan saling berbagi kenikmatan. Puncaknya, ledakan gairah keduanya di iringi erangan bersahutan dari pasangan suami istri tersebut. Nisa tergolek lemas tak berdaya. Sementara Satria,, matanya memerah dan mengeluarkan sinar yang menyorot langsung ke arah mata Nisa. Wanita itu tak sadarkan diri di atas ranjangnya.


Bayangan hitam besar dan berbulu lebat keluar dari kamar. Menyisakan pasangan pengantin yang tertidur kelelahan mereguk madu asmara. Tak ada yang menyadari sama sekali, ketika bayangan hitam itu masuk ke pohon besar yang berada di belakang rumah.


Saat pagi menjelang, pagelaran wayang pun berakhir. Nisa terbangun dari tidurnya. Di sampingnya, suami nya Satria masih terlelap memejamkan mata. Nisa hendak bangkit, namun badan nya sakit semua. Di sekujur


tubuhnya terdapat bekas kemerahan, tanda cinta yang di dapatnya dari Satria semalam.


Nisa mengguncang Satria pelan untuk membangun kan nya. Dia malu kalau harus keluar kamar sendirian, sementara masih banyak saudara yang menginap di rumah.


Terlebih lagi tanda merah di lehernya pasti akan menarik perhatian semua orang.


"Mas,, bangun..ini sudah siang".


"Kau saja bangun sendiri,, jangan ganggu aku, aku masih ngantuk".


"Pergi ke dapur sana, jadi istri jangan malas-malasan".


Nisa tersentak kaget. Satria yang bersamanya, berubah menjadi ketus hanya dalam waktu semalam. Di bandingkan dengan sikap lembutnya semalam, ini sangat bertolak belakang. Nisa masih berpikir, mungkin karena kecapaian bercinta semalaman.


Nisa turun dari tempat tidur dan segera mandi. Dia kemudian berpakaian dan kembali membangunkan Satria. Setelah berusaha keras, suaminya itu akhirnya mau bangun juga. Nisa masih berada di atas ranjang, sambil menunggu Satria mandi.


Ketika hendak mengganti sprei di kasurnya, Nisa melihat banyak bulu halus menempel di atas sprei. Sepertinya tidak ada binatang di rumah Satria, tapi dia heran, dari mana datangnya bulu tersebut.


Daripada pusing, Nisa langsung saja membersihkan nya. Mungkin saja, semalam kucing masuk ke dalam kamar mereka.


"Kenapa kau masih di sini,, ambilkan teh ku".


"Tapi mas,, aku malu kalau harus ke depan".


"Alasan saja, apa yang membuat mu malu??".


"Lihat ini,, ulah nakal mu semalam".


Satria mendekati Nisa. Dia melihat tanda merah di sekujur lehernya. Dia tak yakin itu perbuatan nya. Semalam, dia sama sekali tak ingat apapun. Rasa kantuk begitu menyerang dirinya, hingga jatuh ketiduran.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2