Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Alan masuk Hutan Larangan.


__ADS_3

Alan dan Siska keluar dari rumah Nisa dan berjalan cukup jauh melewati persimpangan hutan larangan. Di tengah jalan, langkah Siska terhenti. Dia persimpangan, dia berbelok dan masuk ke dalam hutan larangan. Alan berusaha menahan nya, tapi kekuatan Siska tak mampu di cegah. Gadis itu.terus berjalan masuk ke tengah hutan.


Alan terus saja mengikuti kakaknya tersebut, menuju ke sebuah rumah kosong di tengah hutan. Tentu saja Alan mengenalinya. Sewaktu bersama Nisa dulu, dia kerap kali menemukan Nisa di dalam rumah tersebut.


Hanya saja kali ini Alan terkejut, karena bangunan rumah tersebut jauh lebih indah.


Warna cat rumahnya baru, dan di halaman rumah terdapat taman bunga yang indah.


Siska lebih dulu sampai, sementara Alan masih tertinggal jauh di belakangnya.


Saat Alan sampai di sana, Siska sudah di sambut oleh seorang pria dan wanita yang sangat cantik. Mereka mempersilahkan Siska untuk masuk ke dalam. Tentu saja hal ini membuat Alan heran. Apa memang rumah ini ada yang menempati sekarang. Mengingat dia memang sudah tak pernah lagi singgah di Yogya.


Siska dan Alan akhirnya masuk ke dalam rumah tersebut. Rumah yang sederhana, namun semua perabotan lengkap. Semua nya di susun rapi dan indah. Penghuni rumah pun sangat ramah mempersilahkan Siska dan Alan untuk singgah ke dalam rumah.


"Selamat datang di gubuk kami, mari....silahkan masuk".


"Maaf kalau boleh tahu, apa kalian baru tinggal di sini??".


"Iya,, belum lama kami pindah, sejak lahan di belakang di buat perumahan".


Alan tersentak mendengar ucapan dari pemilik rumah tersebut. Karena terburu-buru, dia tidak memperhatikan ada perumahan yang di bangun di kawasan hutan larangan. Alan kemudian memandang ke luar rumah, dan ternyata benar, rumah ini bukan satu-satunya di hutan ini. Banyak rumah lain berjajar di samping rumah tersebut.


Alan kembali masuk ke dalam rumah. Di lihatnya Siska sudah minum teh yang di sajikan oleh pemilik rumah.


"Maafkan kakak saya yang terlalu lancang mengganggu istirahat kalian".


"Tidak masalah, kami sudah terbiasa menerima tamu".


"Ayo, silahkan di minum dulu".


Tanpa pikir panjang, Siska langsung minum dan mengambil makanan yang di hidangkan oleh pemilik rumah. Sedangkan Alan, di masih belum menyentuh gelasnya sedikitpun.


"Untuk sementara, kalian tinggal di sini saja dulu".


"Kamar di rumah kami cukup untuk dua orang lagi".


"Lagipula kalian dari jauh bukan, pasti capek kalau langsung pulang".


"Tapi, kami belum mengenal kalian".


"Saya Roro dan ini kakak saya Arya".

__ADS_1


"Senang sekali berkenalan dengan kalian, saya Alan dan ini kakak saya Siska".


Setelah berkenalan, Alan baru mau menyentuh minuman nya. Dia yakin kalau mereka orang baik. Di tambah lagi deretan perumahan berjejer yang ada di lingkungan tesebut, sepertinya memang sudah lama di huni.


Dito jadi berpikir kalau kampung Nisa ternyata sudah jauh lebih maju. Orang-orang kota berdatangan dan membuka perumahan di kampung nya. Sudah berapa lama, sejak tubuh Dito meninggal. Dia sudah sangat jauh dengan Nisa. Apalagi sekarang Nisa sudah menikah lagi dengan Alan.


"Kenapa melamun mas,, hati-hati Lo, disini dekat hutan, nanti kesurupan".


"Em....saya hanya sedang berpikir, sudah berapa lama kalian tinggal di sini?".


"Sudah lama sekali mas, tapi perumahan ini baru di bangun di sini".


"Sejak di bangun, lakunya cepat sekali mas".


"Tahu-tahu sudah penuh rumah".


Menjelang sore, aktivitas di perumahan itu baru kelihatan. Anak-anak kecil bermain di depan rumah mereka. Suara tawa riang mereka sampai ke rumah yang di singgahi Alan. Dia keluar rumah. Di lihatnya wajah anak-anak itu datar tanpa ekspresi. Sorot matanya pun tampak layu tak bercahaya.


Alan merasakan ada keganjilan di kompleks perumahan ini. Ketika senja tiba, para penghuni rumah malah justru keluar dari rumah dan pergi entah kemana. Padahal seharusnya mereka berdiam diri di rumah. Orang bilang pamali kalau senja masih ada di luar rumah.


Rupanya tidak hanya warga perumahan, kakak Roro, Arya pun ikut pergi dari rumah. Langkahnya kelihatan tergesa-gesa. Seakan hendak mengejar sesuatu.


"Ini kan sudah senja, harusnya mereka tetap di dalam rumah bukan??".


"Mereka mengalirkan air dari desa, supaya besok pagi bisa untuk memasak".


"Harus semuanya yang pergi??".


"Kalau itu, aku tak tahu,, sebaiknya jangan bertanya yang bukan urusan mu".


"Tutup mata dan telinga mu, serta jangan sok tahu dengan kehidupan orang-orang di sini".


Perubahan sikap Roro menjadikan tanda tanya bagi Alan. Namun dia hanya bisa berkata di dalam hati. Alan takut Roro akan mengamuk lagi.


"Kak, sebaiknya kita tinggalkan tempat ini".


"Kita cari penginapan lain sebelum malam tiba".


"Aku merasa ada yang aneh di sini".


"Diam saja Alan,, kau tak akan bisa keluar dengan mudah dari tempat ini".

__ADS_1


"Apa maksud kakak bicara begitu?".


"Turuti saja kemauan mereka,, kau akan dapatkan kesenangan".


"Jangan pikirkan yang lain Alan".


"Teman-teman ku di sini, akan melayani mu dengan baik".


Alan semakin di buat takut mendengar ucapan dari Siska. Seperti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh kakaknya itu.


Menjelang malam, Alan masuk ke kamar yang di sediakan oleh Roro. Suara tuan rumah itu sudah tak lagi terdengar sejak senja tadi. Entahlah, mereka semua pergi ke mana. Bahkan, kakaknya Siska pun tak lagi terlihat.


Alan berbaring di kasur dan menatap ke langit-langit kamar. Dalam sekejap, dirinya di serang rasa kantuk yang teramat sangat. Tak sadar, Alan sudah terlelap di ranjangnya.


Dalam tidurnya dia bermimpi, berada di sebuah hutan dan di kelilingi oleh makhluk-makhluk mengerikan. Mereka semua hendak memangsa Alan. Dia mencoba melarikan diri dari tempat tersebut. Namun dia selalu kembali ke tempat yang sama.


Akhirnya makhluk mengerikan tadi menangkap dirinya dan membawa ke sebuah tempat yang gelap. Mereka semua siap mangsa Alan. Masing-masing orang membawa pisau yang sangat tajam, dan diarahkan ke tubuh Alan. Tak berapa lama dia terbangun dengan keringat bercucuran dan berteriak meminta tolong.


Saat Alan membuka matanya, Roro sudah berada di atas tubuhnya. Padahal Alan yakin sekali kalau pintu kamarnya tadi sudah di kunci.


"Bagaimana kau bisa masuk ke sini".


"Tentu saja aku bisa masuk, kau lupa siapa pemilik rumah ini".


"Tapi, mau apa kau kemari??".


"Malam ini, kau akan menjadi milik ku".


"Selamanya kau akan selalu di sini menemaniku".


"Aku tak akan membiarkan mu pergi".


Roro mencoba mencium Alan yang sudah berada di bawah tubuhnya. Sesaat tampak wajah Roro berubah mengerikan. Matanya tampak menghitam, dengan punggung berlumuran darah.


Sekuat tenaga Alan mencoba pergi dari tempat tersebut dengan berteriak kencang. Deretan rumah yang tadi siang di temuinya, sudah berubah menjadi semak belukar.


Alan semakin ketakutan. Dia berteriak meminta tolong, di tengah-tengah hutan yang gelap gulita..Alan berlari sekencang-kencangnya, berusaha keluar dari hutan larangan. Roro yang sudah berubah menjadi kuntilanak, berusaha terbang mengejarnya.


Karena terburu-buru, kaki Alan tersandung batu. Dia jatuh tak sadarkan diri di tengah hutan larangan. Malam masih panjang, dan tak ada yang mengetahui keberadaan Alan di hutan tersebut.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2