Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Selubung Misteri.


__ADS_3

Jenazah pak Agus baru saja di pindahkan ke kamar jenazah. Para petugas kepolisian dan dokter masih memeriksa rekaman cctv yang memperlihatkan seorang wanita yang mirip dengan Nisa, memasuki kamar pak Agus, sesaat sebelum dirinya meninggal.


"Kalau dilihat dengan seksama, ini memang mirip sekali dengan bu Nisa".


"Bagaimana mungkin beliau berada di dua tempat secara bersamaan?".


"Untung saja ada petugas polisi bersama ku tadi, kalau tidak, aku pasti sudah jadi tersangka".


"Yang jelas, aku tadi di ruangan meeting bersama dengan kalian".


"Jadi tak mungkin aku yang membunuh pak Agus".


"Tenang saja bu Nisa, kami akan selidiki ini sampai tuntas".


"Apa mungkin ada orang yang tidak suka dengan istri saya, makanya dia nekat berdandan seperti Nisa".


"Bisa jadi pak, tapi yang jelas orang itu tidak mempunyai sidik jari karena finger print nya kosong".


"Ini sungguh kasus yang aneh".


Semua orang tengah berpikir keras. Dari hasil visum jenazah pak Agus, tidak juga di temukan sidik jari di tubuhnya. Kuat dugaan kalau dia memang bunuh diri. Sedangkan pemicunya harus lah di cari dan di temukan secepatnya.


Setelah selesai pertemuan di rumah sakit, Nisa dan Roy langsung kembali ke hotel. Rencana semula hendak ke rumah mereka, urung di laksanakan. Nisa begitu tertekan dengan kejadian di rumah sakit tadi.Roy jadi merasa kasihan dengan istrinya ini.


"Kau istirahat saja dulu, nanti sore aku akan mengantar mu pulang".


"Biar aku yang di sini, kau di rumah bapak dulu untuk sementara".


"Jangan mas, aku tak mau mereka mengira aku kabur".


"Kesan nya seperti aku lah yang menghabisi nyawa pak Agus".


"Aku hanya butuh istirahat sebentar saja".


"Aku yakin setelah ini aku pasti baik-baik saja".


"Ya sudah Nisa....tidurlah,,biar aku disini menjaga mu".


Nisa merebahkan badan nya di atas ranjang. Semua yang berkelebat di benaknya, berusaha dia hilang kan. Sampai akhirnya memejamkan mata, Nisa seperti di bawa oleh seorang wanita cantik. Aneh nya, kedua nya berkeliling di tempat yang sudah sangat familiar bagi Nisa.


Wanita itu menunjukkan perhiasan dan juga barang kuno terbuat dari emas. Patung-patung serta lukisan di dinding, mirip seperti peninggalan kerajaan zaman dulu. Wanita itu mengambil kunci dan membuka seluruh peti yang berjejer rapi di depan nya.


Peti-peti tersebut berisi emas, permata, perak, berlian dan kain sutra yang jika di miliki manusia, pastilah tak akan habis untuk tujuh turunan.


"Pilih lah yang kau sukai,,semua ini akan menjadi milik mu".


Sesaat Nisa tergoda ketika wanita tersebut menyuruh dirinya mengambil satu benda yang di inginkan nya. Nisa mendekati peti dan menyentuh semua isi di dalamnya. Dia hendak mengambil salah satu liontin yang menarik perhatian nya. Namun, sebelum liontin itu di genggamnya, Nisa keburu terbangun dengan keringat bercucuran.

__ADS_1


"Mas,,aku ada di mana?".


"Kita masih di hotel sayang,,,,kenapa...apa kau sakit?".


"Tidak,, aku hanya bermimpi buruk".


"Patung itu,,,dia benar-benar hidup mas".


"Mana mungkin, tak ada satu pun orang yang bisa menyentuh nya, darimana dia bisa hidup".


"Kau hanya bermimpi Nisa,,jangan terlalu serius memikirkan kejadian pak Agus".


"Mungkin kau benar mas,,,aku terbawa suasana".


"Makanya kau pulang saja, istirahat lah dulu".


"Nanti setelah kau pulih, baru kau kembali kesini".


Memang benar yang di ucapkan oleh Roy. Kalau tetap bertahan di sana, mungkin Nisa tak akan sanggup. Lagipula rekaman cctv rumah sakit,mungkin sudah di ketahui pihak keluarga pak Agus. Dirinya akan di tuduh sebagai tersangka.


"Ku kira kau benar sayang, aku pulang ke rumah bapak saja dulu".


"Kalau terus di sini, aku bisa ikut gila".


"Ya sudah..bersiaplah,,aku akan mengantar mu mumpung masih sore".


"Ajak Alan kalau kau kesana".


"Jangan kau pikirkan hal itu, biar aku yang mengurusnya".


Nisa dan Roy membereskan pakaian mereka dan check out dari hotel. Roy akan mengantar Nisa dulu, sambil menunggu kabar dari pihak kepolisian. Dia juga masih harus mencari kedua orang tua serta kakak nya yang menghilang saat pembunuhan Sri dan Paijo.


Mobil yang di kendarai Alan melaju kencang menuju kampung Larangan. Semua hal yang di alami oleh Nisa kali ini sungguh berat. Alan menyaksikan semuanya di depan mata nya sendiri.Dia yakin kalau kejadian belakangan ini ada hubungan nya dengan makhluk gaib.


Di kampung Larangan, bapak kembali menemui mbah Cokro. Dia merasa tidak tenang sejak laki-laki tua itu memperingatinya tentang keselamatan anak dan menantunya.


"Sudah terlambat sekarang Ari,, dia sudah menemukan putri mu".


"Dan itu berarti kalau dia tak akan melepaskan Nisa".


"Kalian harus lebih berhati-hati dan juga waspada mulai sekarang".


"Dia bisa muncul sewaktu-waktu dan mencelakai putri mu".


"Sebenarnya siapa yang mbah maksud kan??".


"Memangnya apa salah putri ku,, dia bahkan tak tahu apapun tentang rumah itu".

__ADS_1


"Semua sudah diatur sedemikian rupa".


"Rumah itu memang sudah di persiapkan sebelumnya oleh mertua Roy".


"Niat nya semula adalah cucu kembar mu, Ari".


"Tapi tampaknya Nisa jauh lebih di butuhkan oleh wanita itu".


"Saran ku Ari, jangan biarkan anak dan menantu mu pergi dari kampung ini".


"Mereka sudah hampir sampai".


"Tahan Roy dan Nisa tetap berada di sini".


"Aku hampir mendapatkan tempat persembunyian wanita itu".


"Nisa adalah kunci baginya, jadi di manapun Nisa berada, wanita itu harus bisa membawanya".


Bapak semakin tidak paham dengan arah pembicaraan mbah Cokro. Dia tidak memberikan penjelasan, tapi malah bermain teka-teki. Bapak masih bingung tentang semua hal ini. Lalu bagaimana bisa Nisa ada hubungan nya dengan semua ini.


"Aku mohon mbah, kalau ini menyangkut putri ku, tolong jelaskan semuanya padaku".


"Sebenarnya apa yang mbah Cokro ketahui".


"Aku ingin mendengar cerita lengkap nya mbah".


Mbah Cokro menghela nafas panjang. Persoalan ini begitu rumit karena menyangkut keluarga Roy.


Namun, di sisi lain memang nyawa Nisa yang di pertaruhkan. Dan Nisa sudah seperti putrinya sendiri.


"Aku bersedia bercerita kepada mu semuanya Ari".


"Tapi, kau harus berjanji kalau setelah mendengar kebenaran ini, hubungan mu dengan keluarga Roy, jangan sampai terpengaruh".


"Dalam hal ini, Nisa dan Roy sama sekali tidak paham".


"Mereka berdua adalah korban dari persekongkolan jahat orang tua Roy".


"Tenang saja mbah, aku sudah menghadapi apapun selama ini".


"Apapun yang mengancam keselamatan keluargaku, maka akuntak akan tinggal diam".


"Nisa putri ku satu-satunya, kalau bukan aku bapaknya, siapa lagi yang akan melindunginya".


"Kau benae sekali Ari,, baik lah...aku akan ceritakan tentang semua yang terjadi dari awal sampai akhir".


Mbah Cokro duduk di kursinya, di depan bapak. Orang tua itu menarik nafas panjang, seolah meminta kekuatan agar bisa bercerita dengan lancar. Meskipun nanti setelah ini, entah bagaimana reaksi bapak, mbah Cokro sudah siap.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2