Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Kebersamaan.


__ADS_3

Nisa keluar dari ruang ICU. Dia segera mencari Mawar untuk menjalankan rencana yan sudah mereka sepakati bersama. Arwah Dito harus tetap tinggal di dekat tubuhnya selama dia koma. Jadi tidak mungkin bisa mengikuti Nisa sama seperti yang di lakukan oleh Mawar.


"Oh.......so sweet.....!!!".


"Aku melihat kalian berdua tadi,,kalian sungguh pasangan serasi".


"Maafkan aku karena telah menggoda suami mu Nisa"


"Rupanya aku harus mulai berhati-hati sekarang".


"Sudah tidak ada lagi privasi, sejak kau mengikuti ku".


"Kata mu kau tak bisa menjawab ku di tempat umum".


"Kau sudah siap di katakan orang gila??"


"Kau tidak lihat aku memasang headset,, mereka pikir aku menerima telepon".


"Jangan bilang kau belum pernah melihat benda ini di kampung".


"Memang belum,,, apa itu tadi,,,keset????".


"Bukan nya itu alas kaki kan,,, kalau di kampung ku,,hi...hi....!!!".


"Mawar,,,,,,,,aku bisa gila kalau seperti ini".


"Ini headset,,, bukan keset...kedua benda itu berbeda fungsinya"


"Nisa,, kau jangan berteriak seperti itu,,, lihat..orang-orang memandang mu dari tadi".


"Ini gara-gara kau,, aku bisa jadi gila beneran kalau seperti ini".


"Tenang Nisa,,, nanti aku pijit kepala mu supaya kau merasa rileks".


Nisa mempercepat langkahnya. Dia menaiki sepeda motornya. Di belakangnya menempel gadis berjubah putih melambai-lambai ditiup angin. Kalau semua orang bisa melihatnya pasti terlihat sangat lucu pemandangan mereka berdua berboncengan.


"Nisa, pelan kan laju motor mu, aku bisa masuk angin nanti".


"Lagian siapa suruh kau membonceng ku".


"Kau kan bisa terbang sendiri, atau menghilang".


"Tapi aku kan tidak tahu rumah mu".


"Aku takut nyasar nanti".


"Hmmm.....terserah kau saja Mawar,, tapi berhentilah bicara".


"Aku pusing mendengar celotehan mu seharian ini".


Mawar terdiam mendengar kata-kata Nisa. Dia tak mau Nisa berubah pikiran dan tak jadi menolongnya. Dia duduk tenang di boncengan sampai tiba di rumahnya.


Nisa memasuk kan motornya ke garasi rumahnya. Dia lalu mengetuk pintu. Sofia yang masih bermain dengan si kembar, segera membukakan pintu. Sofia terkejut melihat penampakan kuntilanak di belakang Nisa. Dia lalu memperingatkan majikan nya tersebut.


"Bu,, ada yang ikut pulang dengan ibu".


"Iya,,, kau suruh saja dia masuk sekalian Sofia".


"Biasakan diri mu, mulai hari ini dia akan tinggal bersama kita".


"Hei......jadi kau juga bisa melihat ku??".


"Wah.....kalian ini keluarga yang keren rupanya".

__ADS_1


"Seisi rumah bisa melihat hantu semua".


"Ada anak kecil juga di sini,,, aku sangat suka melihat anak kecil".


"Dia anak mu Nisa".


"Mawar,, aku ingatkan kau, jangan ganggu anak-anak ku".


"Sofia,, jaga mereka, aku mau mandi dulu".


"Tenang Nisa,, aku akan membantu Sofia menjaga mereka berdua".


"Lakukan sesuka mu Mawar".


Nisa masuk ke kamar nya untuk membersihkan diri. Hanya tersisa si kembar, Sofia dan Mawar di situ. Dasar Mawar berasal dari kampung, kelakuan nya seperti dia masih hidup saja. Berlarian di sepanjang rumah mengejar kucing bersama si kembar. Aneh nya kedua bocah itu tidak takut sama sekali. Mereka bahkan terhibur dengan tingkah laku Mawar. Memang,,, anak kecil itu masih suci. Mereka tidak bisa membedakan hantu dan manusia. Semua makhluk tak kasat mata pun, tak luput dari penglihatan nya.


Selesai mandi Nisa cepat-cepat berpakaian. Dia penasaran dengan suara gelak tawa si kembar. Biasanya kedua putrinya tak seheboh ini. Apa mungkin karena kehadiran Mawar di rumahnya, sehingga membuat si kembar terhibur.


"Ada apa ini Sofia,,dari dalam kedengaran heboh sekali".


"Ibu lihat saja sendiri kelakuan hantu itu".


"Dari mana ibu menemukan nya??".


"Kenapa bisa sampai di rumah ini??".


"Ceritanya panjang Sofi,,yang pasti dia lah yang menyebabkan Dito celaka".


"Dan dia butuh bantuan ku supaya dia tidak lagi meminta korban".


Mereka berdua setengah berbisik bicara di belakang Mawar. Tapi gadis itu tiba-tiba sudah ikut bergabung di tengah Nisa dan Sofia. Mereka sampai kaget di buatnya.


"Hayo......kalian lagi ngomongin Mawar ya???".


"Hmmmm....nampaknya aku harus menyiapkan jantung ku".


"Ayo katakan, apa yang kalian bicarakan tadi??".


"Sofia menanyakan asal mu dari daerah mana??".


"Rumah ku di pelosok kampung".


"Kau pasti belum pernah ke sana".


"Kau jangan salah Mawar,,,aku juga berasal dari kampung".


"Bahkan rumah ku di tepi hutan".


"Kau pasti berbohong Nisa,,,penampilan mu sudah seperti orang kota".


"Aku tidak percaya kalau kau asli kampung".


"Dasar anak ini,,,,kau memang ngeyel".


"Sudah....aku mau makan dulu".


Nisa bergegas melangkahkan kaki nya ke meja makan. Seharian ini perutnya belum terisi. Dia menahan lapar demi menjaga suaminya. Nisa menoleh ke belakang. Di lihatnya Mawar mengikuti dirinya.


"Jangan bilang kau juga mau makan??".


"Hi...hi.....hi......aku lupa Nisa".


"Saking semangat nya aku jadi berasa hidup lagi,,aku jadi sedih".

__ADS_1


"Ya sudah,,, kau boleh duduk di sini menemani ku".


"Walaupun kau tidak makan, melihat ku nanti kau pasti merasa kenyang".


Mawar senang sekali duduk di meja makan bersama Nisa. Dia bercerita tentang kehidupan di desanya. Rupanya dia anak tunggal dari tuan tanah di kampungnya. Pantas saja kalau dia punya batu giok.


Berarti Mawar berasal dari keturunan darah biru.


Nisa sengaja diam dan menjadi pendengar yang baik. Mawar bercerita panjang lebar sampai terdengar suara ponsel Nisa berdering. Nisa segera menjawab panggilan tersebut.


"Ya Roy,,, ada apa??".


"Aku sudah dapat akses masuk ke diskotik yang kau sebut kan".


"Besok pagi kita ke sana".


"Tapi kau harus ubah penampilan mu dulu".


"Aku akan berpura-pura menjual mu".


"Setelah itu kau bisa masuk ke lingkungan mereka".


"Aku sudah siap kan identitas baru mu,, aku bisa mengantarnya ke rumah mu sekarang".


"Sebaiknya besok saja Roy,, ini sudah malam, lagipula Dito tengah berada di rumah sakit".


"Tidak baik kalau bertamu di rumah wanita yang suami nya sedang tidak ada".


"Nanti bisa timbul fitnah di lingkungan rumah ku Roy".


"Baiklah Nis,, besok pagi aku ke rumah mu".


"Sekarang beristirahatlah,, besok akan menjadi hari yang panjang untuk mu".


"Terima kasih Roy".


"Nisa,,laki-laki itu tampaknya sangat mencintai mu".


"Aku bisa melihatnya dari tatapan matanya kepada mu".


"Apa karena hal itu, suami mu mencari hiburan kepada ku".


"Sudah,,, jangan bergosip, tak baik di dengar orang".


"Aku sudah kenyang dan capek sekali,,, aku tidur dulu ya...".


"Ingat,, jangan ganggu putri ku dan suster Sofi".


"Biarkan mereka beristirahat dengan tenang".


"Baik.....biar aku jaga rumah mu saja".


"Lagipula aku juga tidak ada kegiatan".


"Satu lagi Mawar,,, jangan buat usil di jalanan depan rumah".


"Kalau sampai ada yang celaka,,, itu karena ulah mu".


"Jadi,,, duduk diam di rumah ini saja".


"Malam ini jangan bergentayangan".


Mawar mengurungkan niat nya untuk berkeliling sekitar tempat tinggal Nisa. Bagai manapun, Nisa pasti akan mengetahuinya nanti. Jadi lebih baik dia menunggu di sofa saja,, atau di atas genteng. Ah.....Mawar jadi pusing kalau harus diam tak bergerak. Sementara Nisa sudah terlelap di alam mimpi. Dia memang kelihatan sangat capek.

__ADS_1


Mawar membiarkan Nisa beristirahat malam ini.


...****************...


__ADS_2