
Alan di bawa duduk ke atas sofa di meja tamu.Dia masih belum sadar apa yang baru saja di alaminya. Bapak memberinya air putih untuk di minum, supaya pikiran nya jernih kembali.
"Kau sudah sadar sekarang, Alan??".
"Siapa wanita tadi sebenarnya pak,, lalu hendak di bawa kemana saya tadi".
"Tak apa Alan, kau harus terbiasa kalau tinggal di sini, jangan banyak melamun dan bengong, akibatnya bisa seperti kejadian tadi".
"Penghuni di sini semuanya jahil, kau harus maklum".
"Bapak benar Alan, dulu pun saya juga seperti mu, saat pertama kali menjadi suami Nisa".
"Kalau kau takut, kau kembali saja ke kota dan menginap di hotel untuk sementara".
"Tidak usah pak Roy, saya di sini saja".
"Ya sudah kalau itu mau mu, tidur lah sana".
Alan masuk ke kamar Sofia, yang sementara di tempati Alan karena Sofi masih di kota. Bapak beranjak dan berpamitan pada Roy untuk masuk ke kamarnya. Roy pun segera memeriksa semua pintu dan menyusul Nisa ke dalam kamar. Di lihatnya sang istri sudah tertidur pulas. Roy lantas berbaring di sampingnya dengan hati-hati.
Keesokan paginya, Roy mendapat telepon dari pihak kepolisian. Mereka mengabarkan kalau jenazah kedua pekerja di rumah Roy sudah di temukan. Aneh nya, penemuan tubuh keduanya justru hanya berada di dalam rumah. Di masukkan ke dalam frezer yang ada di gudang bawah. Padahal Roy sangat yakin kalau di rumah nya tak mempunyai gudang bawah tanah.
"Aku harus segera pergi Nisa, polisi sudah menunggu di rumah kita".
"Aku ikut Roy, bagaimanapun juga aku juga tinggal di rumah itu bukan?".
"Ya sudah,,,bersiapalah sementara aku menyirih Alan bersiap".
Roy keluar kamar, bicara sebentar dengan bapak dan kemudian menyuruh Alan menyiapkan mobil.
Kali ini Roy sangat penasaran dengan keterangan dari polisi. Teka-teki munculnya ruang bawah tanah di rumah nya, Roy sama sekali tak habis pikir.Dulu sewaktu hendak membelinya, Roy sudah sangat teliti, tapi kenapa sekarang jadi aneh.
Setelah Nisa siap, mereka bertiga segera berangkat menuju ke kota. Di benak Roy dan Nisa timbul banyak sekali pertanyaan tentang ruang bawah tanah ini. Di mana letak dan seperti apa bentuknya, mereka sama sekali tak punya gambaran.
Sesampainya di rumah nya, Roy dan Nisa langsung menghampiri polisi yang masih memenuhi halaman rumah Roy. Jenazah Sri dan Paijo masih di dalam kantong jenazah, menunggu ambulance yang akan membawa keduanya untuk diotopsi.
"Selamat pagi pak, bagaimana dengan ruang bawah tanah tersebut, apa saya bisa melihatnya langsung??".
"Silahkan pak Roy, setelah itu anda dan istri anda harus ikut kami ke kantor".
__ADS_1
"Sepertinya ini bukan basement biasa karena kami menemukan banyak sekali tengkorak di salah satu ruangan".
"Saya menduga kalau ruangan itu di gunakan sebagai tempat pemujaan aliran sesat".
Roy dan Nisa jelas terkejut. Selama mereka tinggal di sana, sama sekali tak ada keanehan.
Sri dan Paijo juga tak pernah mengatakan apapun tentang ruang bawah tanah tersebut.
Keduanya semakin bertambah penasaran.
"Silahkan pak,mari saya antar lewat sini".
"Itu kan kamar Alan pak, belum lama di gunakan oleh karyawan kami untuk tidurdi situ".
"Justru itu lah pak, makanya selama ini tak ada yang menaruh curiga".
"Basement nya ada di bawah kamar di samping mushola rumah pak Roy".
Polisi menunjukkan jalan masuk dari kamar Alan di samping mushola rumah Roy. Petugas itu menggeser patung semar yang terletak di pagar pembatas tempat Alan biasa duduk bersantai. Seketika dinding nya bergeser dan ada tangga yang menuju ke bawah ruangan.
Polisi berada di depan dan langsung turun ke ruangan bawah. Tangga otomatis yang muncul langsung begitu kita menggeser patung. Hanya seukuran manusia, jadi Roy dan Nisa harus antri saat hendak turun tangga.
Polisi menunjukkan tiga buah kantong jenazah yang berisi tengkorak manusia. Kelihatan nya sudah cukup lama mereka meninggal. Sesaat Nisa takjub karena di bawah rumahnya terdapat harta karun yang begitu banyak.
Satu yang paling menarik perhatian Nisa. Patung wanita cantik terbuat dari emas. Berukuran sedang, di taruh di atas meja di antara banyak patung di sekitarnya.
Mata patung tersebut bercahaya, berkilauan, membuat Nisa seolah tersihir. Tanpa sadar Nisa maju ke depan karena merasa seolah wanita itu memanggilnya.
Sementara Di sampingnya, polisi sedang berbincang dengan Roy, sama sekali tidak memperhatikan Nisa.
"Peti ini masih terkunci pak Roy, barangkali anda menyimpan kuncinya?".
"Kemarin kami sudah berusaha membuka nya, tapi semua alat kami tidak mempan pada gembok ini".
"Alat yang dipakai selalu rusak, padahal sudah banyak ahli kunci yang mencobanya".
"Saya tidak tahu pak, ruangan ini pun saya baru tahu dari anda, jadi mana mungkin saya yang simpan kuncinya".
"Apa kita pindahkan ke atas dulu saja pak, baru setelah itu kita cari cara untuk membukanya".
__ADS_1
"Sudah kami lakukan pak, tapi tak ada satupun yang mampu mengangkatnya pak Roy".
Polisi masih berbincang dengan Roy, saat mereka di kejutkan oleh suara tawa Nisa yang melengking. Dia berdiri dia depan patung emas, dengan tatapan mata yang menyiratkan kemarahan.
"Kalian sudah berani menginjakkan kaki di wilayah ku rupanya??".
"Nisa....apa maksud mu bicara seperti itu?".
"Aku bukan Nisa,,,tapi penguasa di tempat ini".
"Kalian sudah mengganggu dan mengusik ketenangan ku".
"Dan aku sangat membenci hal itu!!".
"Ku peringatkan,,, pergi dari sini, sebelum terjadi sesuatu yang tidak kalian ingin kan".
"Baik,,,kami akan pergi, tapi....lepaskan Nisa, biarkan dia ikut kami".
"Kau tak berhak mengatur seorang penguasa, aku minta pergi sekarang juga!!!".
Wajah Nisa berubah garang. Dia kemudian mengangkat satu tangan nya. Seketika semua patung bergerak ke arah Roy dan polisi yang bersamanya. Ruangan bergetar hebat dan lampu berkedap-kedip.
"Ayo pak Roy,, kita keluar dari sini!!".
"Tapi pak, bagaimana dengan istri saya??".
Roy tetap bergeming saat polisi meninggalkan nya di dalam bersama Nisa. Dia tak mau keluar, sementara Nisa masih kerasukan. Roy tetap menunggu, apapun yang terjadi dengan nya, dia pasrah asal bersama dengan Nisa.
Setelah polisi pergi, getaran di ruangan tersebut berhenti seketika. Semua patung kembali ke posisinya semula. Wajah Nisa juga sudah terlihat biasa saja, walaupun masih kerasukan. Nisa mendekati Roy dan menyentuh wajahnya. Roy tetap tenang menghadapinya.
"Jangan pernah mengusik tempat ini kecuali bersama wanita ini".
"Dialah pemilik kunci kejayaan".
"Bawa dia kembali kepadaku, namun hanya bersama mu".
"Aku akan mengabdi selamanya pada nya, hanya padanya dan diri mu".
Nisa terjatuh tak sadarkan diri setelah mengucapkan kalimat tersebut. Roy sama sekali tak paham. Dia hanya buru-buru mengangkat Nisa dan membawanya keluar ruangan harta karun tersebut.
__ADS_1