Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Teror.


__ADS_3

Sejak kejadian ular masuk rumah kemarin, Nisa terus saja merasa was-was. Pasalnya berbagai macam keanehan lain terus muncul


di dalam rumahnya. Seperti malam ini, masih sore saja sudah muncul bola api mengelilingi rumah Nisa. Kobaran nya menyala besar dan apinya berjatuhan ke bawah. Nisa dan Sofia mendekap erat tubuh anak-anak. Mereka khawatir kalau anak-anak ketakutan.


Nisa mengintip dari dalam jendela si kembar. Rupanya bukan hanya satu tapi banyak sekali serangan bola api dari luar. Benda-benda itu seakan ingin membakar habis rumah Nisa.


Beruntung hanya Nisa dan Sofia saja yang bisa melihat api yang mengelilingi rumahnya tersebut.


Nisa hanya bisa berdoa di dalam hati. Berharap dirinya bisa paling tidak mengimbangi kekuatan jahat dari luar tersebut. Yang terpenting, anak-anak nya bisa selamat. Dengan kekuatan nya, dia mencoba menghalangi api yang masuk ke rumahnya.


"Sofia,,jaga anak-anak di dalam, biar aku coba memadamkan api itu".


"Tapi hati-hati Bu,, sepertinya benda itu sengaja di kirimkan ke rumah kita".


"Iya,, aku sudah tahu siapa yang mengirimkan nya".


Nisa menuju ke dapur rumahnya. Dia kemudian bersemedi dan memohon bantuan ibu ratu untuk mengatasi serangan gaib di rumahnya. Matanya terpejam dan fokus pada api yang menyala di sekitar rumahnya.


Tak lama, sebuah sinar biru menerangi seluruh tubuh Nisa dan langsung melebur membuat api padam seketika. Cukup banyak Nisa mengeluarkan tenaga dalam nya. Tubuhnya sudah sedikit lemas dan kelelahan.


Nisa bangkit dan berdiri lalu masuk ke dalam rumah. Dia bersyukur masalah ini bisa di atasi dengan baik.


"Sudah selesai Sofia,, semoga tidak ada gangguan lagi setelah ini".


"Memangnya siapa yang ingin berbuat jahat pada kita Bu??".


"Aku masih belum tahu Sofi, kita lihat saja nanti".


"Kau tidurlah,, ini sudah hampir pagi".


"Iya Bu".


Nisa dan Sofia masuk ke kamar mereka masing-masing. Sudah larut malam, dan Nisa masih terjaga. Dia berniat merebahkan tubuhnya ke tempat tidur, namun terdengar suara berat mengancam dirinya.


"Kau pasti akan mati,, aku tidak akan membiarkan mu hidup".


"Jangan coba-coba main-main dengan tuan ku".


"Urus diri mu sendiri hei manusia!!".


"Siapa kau sebenarnya,,, kenapa mengganggu hidup ku".


"Aku tak tahu permasalahan kalian".


"Sebaiknya berhenti meneror hidup ku".


"Atau aku juga akan bertindak".


Suara berat tersebut tertawa disertai dengan masuknya angin kencang ke dalam kamar nya. Barang-barang berterbangan dan berputar di atas kepalanya. Nisa berdiri dan melihat semua kekacauan di kamarnya, Namun tiba-tiba tubuhnya diangkat ke atas dan dibenturkan ke dinding kamar.

__ADS_1


Nisa hanya bisa meringis merasakan sakit di tubuhnya. Dia kemudian berpegangan pada kaki ranjang supaya tidak lagi diangkat ke atas. Namun tetap saja barang-barang masih berhamburan di atas kepala Nisa.


"Hentikan,, kau sudah membuat ku marah kali ini".


"Sebenarnya kau siapa,, tampak kan diri mu di hadapan ku".


"Ayo,,, hadapi aku kalau kau berani".


"Ha.....ha......ha......ini belum seberapa".


"Sampai anak muda itu di temukan,,, aku akan tetap mengganggu mu".


"Aku tak ada hubungan nya dengan dia".


"Pergi dan cari di tempat lain".


"Atau aku tak segan-segan pada mu kali ini".


Nisa menggosok cincin nya dan mengarahkan ke atas. Kali ini sinar merah yang keluar, sanggup meredakan badai di dalam kamar nya.


Belum pulih tenaga Nisa untuk memadamkan bola api tadi, di tambah lagi serangan di dalam kamarnya. Nisa benar-benar di buat tak berdaya. Tenaga dalamnya habis digunakan melawan makhluk gaib kiriman Fransisca. Nisa terbaring lemah di lantai kamar.


Pagi harinya, seisi kamar Nisa berantakan. Dia juga ketiduran di lantai. Sofia yang hendak berpamitan ke play grup sampai terkejut di buatnya.


"Memangnya semalam di kamar bu Nisa ada gempa??".


"Ibu tertimpa sesuatu, apa ada yang terluka".


"Aku baik-baik saja Sofi,, bawalah anak-anak berangkat".


"Biar aku yang bereskan kekacauan ini".


Sofia lantas membawa anak-anak, sementara


Nisa masih kesulitan bangun. Badan nya sakit semua akibat di benturkan ke tembok berkali-kali. Dia meraih hand phone nya di kolong tepat tidur dan segera menelpon Roy.


"Roy,, aku datang siang ke kantor ya??".


"Aku lagi nggak enak badan".


"Kenapa lagi,, perasaan kemarin kau baik-baik saja kan??".


"Apa perlu ku temani ke dokter??".


"Ku rasa tidak perlu ke dokter Roy,, tapi ke rumah Fransisca dan membuat perhitungan dengan nya".


"Dia terus menyerang ku tanpa alasan".


"Semalam aku di buat kewalahan sama makhluk gaib yang di kirim nya".

__ADS_1


"Tapi kau aman kan,, anak-anak baik-baik saja kan?".


"Hanya aku yang luka tapi tak berdarah".


"Sementara kamar ku sudah mirip kapal pecah".


"Kau pindah saja sementara dari rumah".


"Aku akan menjemputmu dan anak-anak,, kalian bisa tinggal di sini sementara".


"Setidaknya kau bisa minta bantuan ku kalau ada apa-apa".


"Nanti aku pikirkan Roy".


"Kita ketemu di kantor siang nanti".


"Dengan tenaga yang tersisa, Nisa bangun dan mengumpulkan nyawanya yang sempat


blank ketika diserang semalam. Dia mulai memberesi satu persatu barang-barang pribadinya yang sudah di acak-acak.


Dalam hatinya teringat Dito. Bagaimana tekanan yang di alaminya saat hidup di tengah keluarga Fransisca. Mereka adalah orang-orang yang kejam. Menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan hidupnya. pun ketika harus mengorbankan nyawa karena bersekutu dengan iblis.


Fransisca sendiri di rumahnya tengah resah. Alan tak kunjung di temukan, sementara Nisa yang di serang nya ternyata berbalik melawan. Fransisca bahkan tak memperhitungkan kalau ternyata Nisa mempunyai kekuatan yang luar biasa. Mahluk kasat mata yang menyertai dirinya begitu kuat sehingga sulit di musnahkan.


"Sudah ada kabar dari adik ku??".


" Belum nona,, kami masih berusaha mencari, tapi tuan muda seperti lenyap di telan bumi".


"Dia ada di suatu tempat,,, tapi tempat itu seperti ada benteng yang melindungi nya".


"Kekuatan ku bahkan tak mampu menembusnya".


"Kalian cari terus keberadaan nya".


"Laporkan perkembangan nya padaku".


"Aku tak akan kembali ke Inggris kalau Luis belum ditemukan".


"Baik nona".


Para pengawal segera berlalu dari hadapan Fransisca. Mereka takut kalau majikan nya itu mengamuk. Para pengawal itu sudah kenal betul tabiat majikan nya. Untung kali ini dia tidak marah seperti biasanya.


Nun jauh di tempat persembunyian Alan, dia merasa kan kekhawatiran akan keadaan Nisa dan kedua putrinya. Firasat nya mengatakan kalau mereka sedang tidak baik-baik saja. Tapi Alan tak kuasa untuk berkirim kabar maupun berkunjung ke tempat istri dan anaknya tersebut. Dia khawatir hal itu justru malah menambah masalah bagi keluarganya.


Biarlah Alan menahan kerinduan nya sebentar. Dia berharap penantian nya tidak akan lama. Kalau waktunya sudah tiba,, Dia pasti akan berkumpul kembali dengan Nisa dan putrinya. Semoga itu tidak lama lagi.


Atau Alan akan tersiksa karena menahan kerinduan dan kesepian.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2