
Alan mencegat mobil di pinggir jalan, untuk bisa pulang ke rumah Nisa. Mereka berdua tidak membawa uang sama sekali. Sedangkan jarak dari rumahnya masih sangat jauh. Beruntung, mobil angkot berhenti dan memberi mereka tumpangan gratis.
Mereka masuk ke dalam angkot. Ada beberapa pengendara yang lain, namun mereka tidak saling bicara. Anehnya lagi, wajah mereka terlihat pucat dan sorot matanya tampak layu.
Saat Nisa mencoba mengajak berkomunikasi, tak satupun yang menyahut. Mereka seolah berada di dunia lain. Bahkan tatapan para penumpang pun kosong.
"Alan, apa kau merasa ada yang aneh dengan angkot ini??".
"Kenapa,,, sepertinya mereka baik-baik saja".
"Hanya kita berdua yang bicara di sini, yang lain seperti bukan manusia".
"Kau bisa saja, pelan kan suara mu, nanti mereka mendengarnya".
"Sebaiknya kita turun saja di sini,, aku takut kalau ternyata angkot ini Fransisca yang sengaja mengirimnya".
"Tunggu sebentar,, biar aku bicara dengan sopirnya".
"Pak, kami berhenti di depan saja, rumah kami di sekitar situ".
"Angkot ini tak sembarangan berhenti,, tunggu sampai di terminal baru boleh turun".
"Aneh sekali,, angkot lain tidak seperti itu".
"Berhenti pak,, atau kami akan loncat".
Sopir itu sama sekali tak mau menghentikan mobilnya. Kelihatan nya justru malah semakin kencang berjalan. Alan dan Nisa semakin bertambah panik, karena di depan nya tampak jurang besar.
"Cepat,,, pegang tangan ku Nisa, kita loncat saja".
"Ayo......sekarang Nisa,,loncat.....!!!!!".
Alan dan Nisa jatuh berguling ke rumput di tepi jalan. Tangan dan kakinya bahkan tergores batu dan aspal. Mereka menyaksikan angkot yang melaju kencang dan akhirnya masuk ke dalam jurang. Nisa dan Alan menghampiri tepian jurang, namun angkot tersebut tak di lihatnya sama sekali.
Bekasnya pun seperti menghilang tanpa jejak.
"Benar kan kata ku Alan,, Francis sengaja mengirimnya untuk mencelakai kita".
"Kau lihat,, itu bukan mobil angkot betulan".
__ADS_1
"Mungkin hanya angkot yang suka mencari tumbal".
"Ya sudah Nisa,, sebaiknya kita pergi saja dari sini".
"Ku lihat luka mu banyak keluar darah".
"Apa aku perlu menggendong mu".
"Tidak usah Alan,, aku baik-baik saja".
Keduanya meneruskan perjalanan ke rumah dengan berjalan kaki. Sesekali Nisa dan Alan beristirahat di pinggir jalan. Luka di kaki Nisa semakin bertambah melebar. Sehingga Alan berinisiatif untuk memanggil taxi.
"Pak, dompet kami tertinggal di rumah,, kalau boleh nanti kami bayar belakangan".
"Ya sudah, naik saja mas, kasihan istrinya ".
"Terima kasih banyak pak".
Keduanya bernafas lega. Mereka segera naik ke mobil dan meneruskan perjalanan pulang.
Sesampainya di rumah, Nisa langsung ambruk seketika. Jelas saja Alan panik bukan main. Dia segera membawanya ke tempat tidur.
Alan meraba kening Nisa, sangat panas. Namun dia menggigil kedinginan. Dari mulutnya mengigau keluar bermacam-macam ucapan. Sementara, Luka di kakinya masih mengeluarkan darah.
Dokter segera memberi suntikan dan perawatan di luka Nisa.
Sepanjang malam, Alan berjaga di samping tempat tidur Nisa. Dia terus mengigau dan panas badan nya tak kunjung turun. Alan bahkan sudah mengompres dahinya, tetap saja tidak ada pengaruhnya.
Sementara di alam bawah sadar Nisa, dia merasa dirinya di bawa pergi oleh seorang kakek tua. Dia mengunjungi tempat yang sangat indah. Pilar-pilar emas berdiri kokoh di sepanjang jalan yang di lalui nya.
Terdapat taman bunga yang di tumbuhi aneka macam jenis bunga. Dari jauh, wanginya semerbak tercium di hidung Nisa. Di dalam taman itu, semua orang berkumpul untuk menyambut kedatangan nya.
Kedua orang tua serta putrinya dan juga teman-teman nya semua hadir dengan memakai baju putih. Seperti pesta perayaan pernikahan. Namun Nisa masih bingung, siapa yang sedang menikah di sana.
Nisa ingin sekali menghampiri Mereka, namun kakek tua berjenggot itu malah membawanya semakin menjauh dari taman.
Nisa berteriak memanggil keluarganya, tapi tak seorang pun mendengarnya.
Sekilas Nisa melihat Dito menggandeng mempelai wanita menuju ke altar di taman bunga. Nisa hendak berlari menghampirinya.
__ADS_1
Tapi tangan kakek tua itu tidak bisa lepas.
Mereka malah berjalan semakin cepat.
Tiba-tiba Nisa berhenti di depan pintu gerbang. Kakek tersebut melepaskan tangan nya dan mendorong Nisa masuk ke dalamnya. Pintu gerbang kembali di tutup.
Nisa meronta-ronta hendak keluar, namun tak seorang pun mendengar teriakan nya.
Nisa hanya bisa menangis meratapi nasibnya yang terkurung sendirian. Dia ingin berjumpa dengan semua keluarganya. Namun tembok besar itu seakan mengungkungnya.
Kakek tua itu selalu mengawasi gerak-gerik Nisa. Dia tak pernah memejamkan mata, sehingga Nisa sangat sulit untuk keluar.
Dia hanya bisa menunggu kedatangan seseorang yang membebaskan nya.
Semua kekuatan yang di miliki Nisa seakan musnah seketika. Ibu ratu yang di panggil nya pun sama sekali tak menampakkan diri. Nisa sudah benar-benar kalah. Hidupnya sekarang sudah berakhir. Pertarungan ini akhirnya di menangkan oleh sang iblis.
Kekuatan Nisa sungguh tak mampu menandinginya. Di dunia nyata Nisa pun tergeletak tak berdaya. Nafasnya sesak dan wajahnya seperti menahan rasa sakit.
Alan tak tahu harus berbuat apa. Semua orang yang harusnya membantu Nisa dengan kekuatan nya, sedang tidak ada.
"Bertahanlah Nisa, aku tahu kau wanita kuat".
"Kau tak akan menyerah hanya dengan keadaan seperti ini bukan??".
"Kau harus sadar kembali, demi aku dan demi anak-anak".
Kondisi Nisa semakin melemah. Dia tak kunjung mendapatkan kesadaran. Jiwanya masih menjadi tawanan kakek tua. Entah sampai kapan Nisa akan terbebas dari sana.
Di dunia nyata Nisa tetap tidak sadar. Mungkin saja Nisa sudah menyerah dengan iblis yang menawan nya. Seakan tidak ada lagi kekuatan untuk melawan atau pun bertahan.
Mungkin hanya harus menunggu kekuatan lain yang bisa membebaskan jiwa Nisa dan membuatnya sadar kembali. Yang jelas, untuk saat ini, Nisa sungguh tak berdaya di bawah kendali kakek tua yang membawanya.
Alan pun hanya bisa pasrah. Dia pun juga tak bisa berbuat banyak. Nisa seakan tak bernyawa. Namun dia masih tersadar. Entah berada di mana jiwanya. Mungkinkah iblis yang di sembah Francis yang sudah melakukan semua ini.
Di dorong faktor kelelahan saat berada di kediaman keluarga Wibisana, Nisa akhirnya menyerah. Perlawanan nya sudah usai. Kekuatan nya untuk melawan sudah habis tak bersisa.
Rupanya iblis itu jauh lebih kuat dibandingkan hanya seorang Nisa sendirian. Pengikutnya bahkan sudah sering menyerahkan tumbal persembahan untuk menambah kekuatan nya. Hanya keajaiban saja yang bisa menyelamatkan Nisa.
Entah kekuatan siapa yang akan hadir menolongnya. Nisa hanya bisa menunggu. Alan pun tak bisa berbuat apa-apa. Raga Nisa tergolek lemah tak berdaya di atas ranjang.
__ADS_1
Iblis telah berhasil melumpuhkan nya.
...****************...