Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Dirawat Di Rumah Sakit.


__ADS_3

Walaupun sudah sadar, nyatanya Nisa masih belum pulih sepenuhnya. Dua hari di rumah sakit, dia hanya terus memejamkan mata. Dokter yang memeriksanya mengatakan kadar trombosit dalam darahnya rendah, sehingga dia harus transfusi darah.


Dito menelpon orang tua nya dan mertua nya untuk mengabarkan keadaan Nisa kepada mereka.


"Bapak dan ibu nggak usah khawatir, Nisa sudah ditangani dokter spesialis, jadi kondisi


nya tidak begitu mengkhawatir kan".


"Iya pak,, kalau ada perkembangan, pasti Dito kabari".


Bapak dan ibu merasa cemas dengan keadaan Nisa,namun Dito meyakinkan bahwa Nisa baik-baik saja.


Anton dan Ratri bergantian menemani Dito di rumah sakit. Beruntung sekali punya sahabat


seperti mereka. Selalu ada di saat senang maupun susah.


"Aku sangat berterimakasih kepada kau dan Anton,, kalian memang teman sejati".


"Tak perlu sungkan Dito,, kalian berdua sudah kami anggap keluarga".


"Aku masih belum tahu kapan Nisa bisa keluar dari sini".


"Sabar saja,, semoga Nisa lekas membaik".


Setelah transfusi darah sampai 5 kantong, barulah Nisa kelihatan lebih bertenaga.Walaupun masih lemah, tapi dia sudah dipindahkan ke ruang perawatan.


Jadi Dito sudah menunggunya di dalam kamar.


"Kau ingin sesuatu sayang,,, katakan...apa yang kau rasakan sekarang??".


"Aku hanya ingin tidur mas, entah kenapa mataku ini terasa berat".


"Tidurlah,,aku akan menjagamu disini".


Nisa masih terlelap di rumah sakit. Antara tidur dan terjaga, seolah -olah Nisa melihat


4 orang berjubah hitam berdiri di sampingnya. Nisa kemudian membuka matanya. Anehnya, seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan.


Dia hanya bisa melihat dan mendengar gerak- gerik orang-orang berjubah hitam tersebut.


Mereka terdengar bercakap-cakap di samping tubuh Nisa.


"Bagaimana kita akan membawa tubuhnya,,, kita sudah mencoba mengangkat tapi tubuhnya benar-benar berat".


Nisa ingin menjawab, tapi suaranya tidak keluar. Mereka berempat mencoba mengangkat tubuh Nisa, tapi tidak berhasil karena Nisa tak bergerak sedikitpun".


"Bagaimana kalau kita copot tangan dan kakinya, mungkin nanti akan terasa ringan".


"Baiklah ....kita coba".


Keempat orang itu langsung memegangi masing-masing tangan dan kaki Nisa.


"Jangan,,, kumohon,, hentikan......!!".


Nisa berteriak namun suaranya tidak keluar. Mereka sama sekali tidak perduli walau Nisa melihat semuanya. Tangan dan kaki Nisa berhasil di lolos i satu per satu. Anehnya tidak ada noda darah dari tubuhnya.


Mereka tampak seperti me lolos i tangan dan kaki boneka. Setelah selesai mereka menaruhnya di samping tubuh Nisa.

__ADS_1


Keempat orang itu kemudian bersiap menggotong tubuh Nisa pergi. Kali ini mereka berhasil, tubuh Nisa di panggul dan hendak dibawa keluar rumah sakit.


Nisa berteriak minta tolong, dia menangis memohon untuk tidak dibawa pergi. Namun keempat orang itu benar-benar tidak perduli. Mereka sudah hampir sampai pintu, dengan tubuh Nisa digotong di pundaknya.


Di depan pintu rumah sakit, ada sosok anak kecil yang menghadang langkah mereka. Anak itu berdiri di tengah pintu dan menatap


mereka berempat. Dia kemudian berbicara dengan mereka.


"Tolong,,jangan bawa ibuku".


"Aku masih membutuhkan kehadirannya".


"Aku mohon lepaskan ibuku sekarang".


Anak itu masih tetap menangis dan memohon kepada orang-orang berjubah tersebut. Mereka memandangi anak kecil yang menangis meraung-raung di depan nya.


Sesaat kemudian mereka mengembalikan tubuh Nisa ke tempat semula. Tangan dan kakinya kembali dipasang di tubuhnya.


Selanjutnya keempat lelaki itu mengusap kepala anak kecil yang menangis tadi. Mereka berdiri di samping Nisa dan menatapnya iba.


"Seharusnya kami sudah membawamu, namun anakmu menyelamatkanmu".


"Kembalilah,,,, kali ini belum waktunya kau pergi".


Setelah berkata demikian, keempat lelaki tersebut menghilang dari hadapan Nisa.


Tinggal seorang anak kecil yang berdiri di ruangan ini. Dia memeluk tubuh Nisa dan menangis gembira. Anak itu mencium dan mengusap kepalanya. Lambat lauk mata nisa


tertutup dan terlelap.


Nisa tersentak kaget. Napasnya naik turun tak beraturan. Dia seperti habis terlempar dari tempat yang sangat jauh. Dito memberi minum kepada Nisa yang sudah membuka


"Sayang,,, apa perlu aku panggil dokter, kau seperti sesak nafas".


"Tidak mas,, aku hampir mati tadi...".


"Untung anak kita menyelamatkan ku".


"Sayang,, kau masih belum pulih,, berhenti bicara dan beristirahatlah".


"Jangan tinggalkan aku mas,,, mereka semua menginginkan kematian ku".


"Aku takut mas...!!!".


Dito menggenggam tangan Nisa erat. Dia menyeka air mata yang membasahi pipinya.


Cobaan yang dialami nya sungguh berat. Andai Dito yang bisa menggantikan tempatnya.


Sudah hampir seminggu Nisa dirawat di rumah sakit. Malam hari terkadang dia masih sering mengigau dan tiba-tiba terbangun sendiri.Kadar trombositnya sudah naik dan sudah tidak terlalu lemas.Rencana nya hari ini


Nisa akan pulang dari rumah sakit. Tinggal menunggu dokter yang memeriksa.


"Kau sudah kelihatan segar sayang".


"Aku berencana, setelah kau sembuh nanti, aku akan membawamu mengunjungi orang tuaku di Medan".


"Sekalian kita adakan acara 4 bulanan di sana".

__ADS_1


"Aku ikut kau saja mas".


"Tersenyumlah sayang,,, sudah berhari-hari aku merindukan senyuman mu".


"Kau memang harus berlibur, sementara menjauh dari tempat ini".


"Iya mas,, aku juga merasa seperti itu".


Nisa tersenyum kepada suaminya. Hanya dia yang bisa menghibur Nisa di situasi apapun.


Ratri sudah datang menjemput mereka berdua. Dia masuk ke ruangan Nisa untuk berbicara dengannya.


"Kau sudah lebih segar sekarang".


"Lagi-lagi aku merepotkan mu Ratri, jauh-jauh kau datang dari Surabaya".


"Itu belum seberapa,,, nanti aku akan mencatatnya, dan saat aku menikah nanti kau juga harus tinggal di Surabaya".


"Kau juga harus menunggui aku di hari bahagiaku nanti".


"Aku janji,,, saat waktunya tiba nanti, aku akan segera pindah ke sana".


"Siapkan uangmu untuk jajan keponakan mu ini nanti".


"Aku senang kau sudah bisa bercanda lagi, berarti kau memang sudah sehat".


"Aku harus segera sehat, demi bayi yang ada di kandungan ku ini".


Mereka tertawa bersama. Dito terlihat masuk ke dalam ruang perawatan.


"Bagaimana Dito??".


"Aku sudah mengurus administrasinya, dokter sudah datang untuk pemeriksaan terakhir".


Setelah dokter menyatakan Nisa sehat, mereka segera meninggalkan rumah sakit. Dito mendorong Nisa melewati bangsal rumah sakit.Nisa tiba-tiba meminta berhenti karena melihat seorang ibu tengah bersedih


di depan kamar jenazah.


Nisa menghampiri nya. Dia terlihat menangis sendirian.


"Dimana keluarga ibu??".


"Mereka semua di dalam neng,, ibu takut melihat jenazah nya".


"Yang kuat ya Bu,,, semoga almarhum diterima di sisi nya".


Ibu itu berlalu dan mengucapkan terimakasih kepada Nisa dan Dito. Tidak lama terlihat seorang perawat membawa jenazah dari kamar mayat. Nisa memperhatikan rombongan tersebut.Mungkin mereka keluarga ibu tadi. Mereka tampak mencari seseorang.


"Mas, ibu nya pergi ke arah sana, dia kelihatan sangat sedih sekali".


"Ibu siapa mbak???".


"Maaf, saya kira orang tadi adalah ibu anda".


"Ibu saya baru saja meninggal mbak, ini jenazah nya mbak, kami akan membawanya pulang".


Nisa memperhatikan dengan raut wajah sedih.Ketika hendak pergi, angin tiba-tiba menerbangkan kain yang menutupi kepala si mayat. Dito berlari dan menangkap kain tersebut. Betapa terkejutnya Dito, ibu yang ditemuinya barusan ternyata sudah meninggal.

__ADS_1


Nisa dan Dito saling berpandangan. Mereka kemudian pamit undur diri. Dalam hati Nisa ikut terenyuh karena roh ibu yang meninggal tadi sangat bersedih menangisi kematian nya.


__ADS_2