
"Ini anakmu kenapa to Nis,,diajak main ke depan kok malah nangis nggak berhenti-berhenti".
"Apa dia tahu kalau susternya pergi??".
"Coba sini Bu, biar Nisa yang gendong".
Nisa mencoba menenangkan Sheila yang memang menangis dari tadi. Apa mungkin karena Sofia sudah ke hotel bersama Roy, jadi dia merasa kangen dengan susternya itu. Tapi Sheina tampak baik-baik saja. Dia sedari tadi tertawa kegirangan seperti ada yang mengajaknya bermain.
Nisa menggendong Sheila dan menenangkan nya. Dia membawanya masuk ke dalam kamar untuk ditidurkan. Nisa berpikir mungkin putrinya itu sudah mengantuk atau kecapean di perjalanan.Nyatanya di dalam kamar, Sheila malah mengajak Nisa bermain.
Dia merangkak ke sana kemari sambil sesekali tertawa kegirangan.
Anehnya, saat mas Dito membawa Sheina masuk, Sheila menangis lagi dan tampak ketakutan.Dia menghampiri Nisa untuk minta digendong. Nisa mengamati dengan seksama
di sekitar ruangan. Tak ada yang mencurigakan. Namun tiba-tiba sekelebat bayangan muncul di depan Sheina.
Bayangan seorang wanita berbaju putih lusuh, sedang membelakanginya. Dia nampak mengajak Sheina bermain, karena dilihat oleh Nisa, putrinya itu sampai tertawa lepas. Nisa menghampiri putrinya hendak melihat wajah wanita itu, namun urung dilakukan karena Sheila menangis kencang tiba-tiba. Nisa membawa keluar Sheila dan menenangkan nya lagi. Sementara Sheina masih di dalam bersama Dito.
Rupanya ini yang membuat putrinya tidak nyaman. Dia takut pada sosok penampakan yang mengikuti Sheina. Sheila tidak suka dan sangat takut berdekatan dengan makhluk astral, namun sebaliknya, saudara kembarnya itu malah menganggap makhluk halus itu sebagai teman nya.
"Belum berhenti juga nangisnya dari tadi Nisa??".
"Sudah Bu, tapi ini nangis lagi".
"Sepertinya malam ini Nisa tidur di depan TV saja Bu, boleh kan??".
"Ya tentu boleh to,,, nanti bapak dan ibu temani kamu".
"Iya Bu".
Nisa sengaja tak bercerita tentang penampakan yan dilihatnya. Dia tak ingin membuat seisi rumah merasa tidak nyaman.
Dia hanya harus bersikap waspada terhadap sosok perempuan itu.
"Mas,,bawa Sheina ke sini, biar ibu yang gendong".
"Sheina anteng kok di kamar, dari tadi dia bermain sendiri".
"Sini...biar ibu yang tungguin, kamu makan sana, mumpung Sheila tidur, ajak Nisa sekalian".
"Iya Bu"
__ADS_1
"Kalian makan saja, biar bapak sama ibu yang tunggu di kembar".
"Bapak sudah selesai di balai desa?".
"Sudah, bapak cuma rapat untuk acara sedekah an desa, syukur-syukur kalian besok masih disini".
"Semoga saja pak, sudah lama Nisa nggak ikut merayakan Merti desa".
"Tahun ini akan lebih meriah Nis, ada warga baru yang menyumbang dana lumayan besar".
"O ya,,,syukurlah kalau begitu".
Nisa dan keluarganya masih berbincang-bincang di ruang tengah sambil makan. Si kembar masing-masing sudah tidur. Yang satu di kamar yang satu di ruang tengah.Bapak dan ibu betah sekali menemani cucu-cucunya. Mereka berdua sampai ikut ketiduran di samping si kembar.
"Mas,,bagaimana kalau besok pagi kita ke pantai??".
"Aku ingin sekali mengajak anak-anak ke sana".
"Aku setuju,, kita berangkat pagi saja, biar tidak terlalu panas".
"Ok, nanti kita ajak bapak dan ibu sekalian".
Keasyikan ngobrol di halaman belakang, tak terasa hari sudah sore. Nisa masuk hendak membangunkan anak-anaknya supaya mereka tidak mandi kemalaman. Sheila masih di ruang tengah sama ibu, tapi Sheila tidak nampak di tempat tidur. Hanya ada bapak di sana. Nisa panik dan membangunkan bapak.
"Waduh ...bapak ketiduran Nis, barangkali digendong ibumu??".
"Ibu cuma bawa Sheina pak,,,duh kemana anak ini,,dia kan belum bisa jalan pak".
"Tenang, kita cari dulu, siapa tahu dia merangkak ke luar rumah".
Seisi rumah panik mencari keberadaan Sheina. Semua tempat sudah didatangi oleh bapak,ibu dan Dito, tapi Sheina tak nampak sama sekali. Apalagi ini sudah menjelang magrib, Nisa jadi bertambah panik di buatnya.
"Kamu kemana sih nak,,, ayo pulang lah".
"Tenang Nis,, bapak akan minta tolong warga untuk mencari anakmu".
"Iya pak,, sana cepat berangkat, kasihan cucu kita diluar sana".
"Nggak usah pak,,tunggu sebentar....bapak dengar kan, itu suara tertawa Sheina".
"Iya bener, tapi siapa yang nembang itu??".
__ADS_1
"Ayo pak, kita ikuti suaranya".
Nisa meletakkan Sheila di pangkuan ibu. Dia lalu menyusul bapak dan Dito mencari sumber suara tawa anak kecil yang mirip sekali dengan suara Sheina. Ternyata suara Sheina berasal dari ruang *senthong* ruangan kecil di sebelah kamar mandi yang sudah lama tidak dibuka.
Ruangan itu berupa bilik kayu kecil yang dibangun mirip rumah panggung.Kata bapak ruangan itu sudah lama disegel karena tidak digunakan lagi. Di dalam ruangan itu terdapat benda-benda pusaka dan juga tempat sesajen untuk memanggil arwah leluhur atau memanggil pesugihan.
Bergegas bapak masuk ke alam dan mencari kunci dari bilik tersebut. Setelah ketemu, cepat- cepat bapak membuka kuncinya. Benar saja, Sheina ada di ruangan itu. Dia duduk sambil tertawa-tawa sendiri. Dito langsung menggendong Sheina, sementara Nisa memperhatikan sekeliling.
Masing-masing pusaka di situ ada penunggunya. Ada kakek berjenggot, dan ada nenek- nenek dengan rambut berantakan. Serta ada jenglot juga, serta sosok wanita yang waktu itu dilihat Nisa, mungkinkah dia yang membawa Sheina ke sini.
Semua sosok makhluk halus itu nampak tak bersahabat sama sekali. Raut wajah mereka menyimpan kemarahan. Nisa maju hendak melihat wajah wanita berpakaian putih lusuh tersebut, namun bapak seketika menarik tangan Nisa keluar dan menutup pintu bilik tersebut.
"Mau ngapain kamu,,,nggak usah aneh-aneh".
"Nisa mau lihat wanita itu pak".
"Ndak usah,,, pintu bilik ini harusnya Ndak boleh dibuka".
"Tapi bapak sudah melanggar pantangan ini demi cucu bapak".
"Semoga saja tidak terjadi apa-apa".
"Ayo, kita pergi dari sini Nis".
"Ini bulan suro, kita tidak boleh dekat-dekat tempat ini".
"Tapi pak di dalam itu ada......".
"Wis to,,, kamu itu Ndak usah ngeyel,, ayo kita cepat masuk rumah".
"Yang penting Sheina sudah ketemu sekarang".
Nisa menurut saja sewaktu bapak menggandeng tangan nya. Ini persis seperti kejadian waktu Nisa kecil, Nisa juga hampir masuk ke dalam, tapi bapak selalu menakuti Nisa kalau di dalam ada macan yang siap menerkamnya.
Kali ini Nisa sudah melihat isi di dalam ruangan tersebut. Tapi Nisa masih belum paham juga, kenapa bapak tetap melarang Nisa mendekati tempat itu.
"Ah......sudahlah,,, mungkin benar tempat itu berbahaya seperti yang bapak bilang".
"Tapi, bagaimana nanti kalau mereka membawa Sheina lagi kemari??".
"Sepertinya penghuni tempat itu menyukai putriku,,, aku tidak boleh tinggal diam kali ini".
__ADS_1
Sampai di dalam rumah, Nisa masih saja memikirkan kejadian yang dialami oleh putrinya. Sheina bahkan sama sekali tidak menangis, padahal dia di ruangan gelap dan sendirian. Lagi pula bagaimana bisa mereka membawa Sheina tanpa ada satupun orang yang menyadarinya. Nisa betul-betul tak habis pikir dengan ulah makhluk halus tersebut.
...****************...