Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Ulah Nakal Genderuwo.


__ADS_3

Nisa yang sudah terkena hipnotis dari asap berwarna hijau milik Genderuwo, mendekatinya dengan wajah berbinar-binar.


Dia terlihat mabuk kepayang dan jatuh cinta kepadanya. Roy yang melihatnya Daria atas pohon, segera memanggil namanya, agar segera sadar.


"Mas Dito,,,,,sedang apa kau disini mas".


"Kemarilah Nisa,, aku sudah lama merindukan mu"


"Aku juga mas Dito".


Genderuwo itu memegang tangan Nisa dan membawanya ke bibirnya. Dia mencium lembut tangan halus Nisa. Hal itu sontak membuat Nisa tersenyum senang. Namun suara Roy kembali memanggil nama Nisa.


"Nisa,,,,sadarlah.....dia bukan Dito...!!".


"Kau sudah diperdaya oleh Genderuwo itu!!".


"Bangunlah Nisa,,, dengarkan aku....!!".


Nisa seolah tuli. Dia sama sekali tidak mendengar suara dari Roy. Dirinya sedang kasmaran dengan Genderuwo itu. Tidak memperdulikan apapun lagi.


Sementara di balai desa, Bapak Dito dan yang lain tengah kebingungan. Tiba-tiba saja Nisa dan Roy menghilang dari tempat karnaval. Semua tempat sudah di telusuri, tapi keduanya seperti raib. Sampai akhirnya Mbah Cokro datang. Beliau menjelaskan keberadaan Nisa kepada Dito dan bapak.


"Hmmm......Genderuwo itu sudah mendapatkan Nisa kembali".


"Aku yakin,, dia pasti membawanya ke sana".


"Aku sudah menduga, hal ini pasti akan terjadi".


"Lantas,, bagaimana Mbah, kita ke hutan larangan sekarang??".


"Ari dan Dito, ikuti aku ke sana dan yang lain tetap disini".


"Kita akan membawa Nisa pulang kembali".


"Semoga ini masih belum terlambat".


"Ayo cepat,, kita pergi sekarang".


Bertiga mereka menuju hutan larangan, setelah sebelumnya berpamitan kepada pak Kades. Acara tak akan dimulai tanpa kehadiran Mbah Cokro. Jadi,untuk sementara, para peserta karnaval berpawai terlebih dahulu.


Ketiga nya sudah memasuki hutan larangan.


Bapak dan Dito memperhatikan sekitar hutan. Sayup-sayup terdengar suara minta tolong dari kejauhan. Bapak dan Dito kemudian mengikuti arah sumber suara.


"Sepertinya ada yang minta tolong Mbah".


"Iya, tapi bukan suara perempuan, mungkin warga sekitar yang sedang mencari kayu".


Mereka melanjutkan perjalanan ke arah rumah kosong. Konon tempat itu memang dipercaya sebagai rumah Genderuwo. Belum sampai ke sana, datia tas pohon terdengar suara memanggil Dito.


"Dito,,tolong aku Dit,,aku di sini".

__ADS_1


Dito mendongak ke atas. Dilihatnya Roy sedang tergantung di atas pohon dengan dililit tali. Dito sebenarnya ingin tertawa tapi takut dosa. Dia hanya senyum-senyum memperhatikan dari bawah pohon.


"Kamu ngapain disitu,, kurang kerjaan banget sih...".


"Tolong aku woy.......Genderuwo itu mengikatku diatas sini".


"Dia membawa nisa ke dalam rumah pohon itu".


"Genderuwo itu berubah menjadi dirimu, Dito".


"Kau serius...!!!".


"Iya,, makanya Nisa mau pergi bersamanya".


Bukan nya menolong Roy, Dito segera berlari mengejar Nisa ke rumah kosong. Alhasil, Roy berteriak memanggil-manggil Dito agar kembali menolongnya.


"Dito,, tolong aku dulu".


"Kaki ku sudah kesemutan dari tadi".


"Pak,, tolong turunkan saya dari sini pak".


"Saya udah nggak betah tergantung disini".


"Tunggu Roy, biar saya cari bantuan dulu".


"Lagipula, di hutan ini nggak ada tangga".


"Sayang,,,, kau bersama siapa???".


"Ini aku, Dito.....suamimu!!!".


Nisa menoleh ke arah pintu. Dia melihat Dito seperti orang lain. Dan sebaliknya, Genderuwo dikira suaminya sendiri.


Nisa menggandeng tangan Genderuwo yang berwajah Dito tersebut.


"Siapa kau,,,pergi sana....aku tidak mengenal mu".


"Suamiku ada di sini".


"Kalian mau apa datang ke rumah ku??".


Mengetahui keadaan Nisa, Mbah Cokro menjelaskan bahwa Nisa telah terkena ajian jaran goyang dari Genderuwo tersebut. Nisa melupakan semuanya. Dia hanya terfokus pada Genderuwo itu saja.


"Kalian bersabarlah,,,aku akan mengembalikan penglihatan Nisa".


"Rupanya sekarang Genderuwo itu sudah tidak punya rasa takut".


"Karena cintanya pada Nisa, sehingga dia membuatnya seperti ini".


"Menyingkir dari situ Dito, biar aku yang melawan nya".

__ADS_1


"Baik, Mbah.....!!".


Mbah Cokro bersiap-siap. Dia bersemedi di depan pintu rumah kosong. Dia menyatukan kedua tangan nya di depan dada. Tiba-tiba dari kedua tangan nya keluar asap putih. Mbah Cokro meniupnya sampai memenuhi rumah kosong.


Tidak berapa lama, asap putih tersebut menghilang. Genderuwo yang sedang memegang tangan Nisa itu kembali ke wujudnya semula. Nisa terkejut tangan nya dipegang oleh makhluk tinggi besar. Dia segera mundur dan menghampiri suaminya yang asli.


Genderuwo itu marah melihat Nisa dan suaminya berpelukan. Dia hendak menyerang tubuh Dito, tapi Nisa berhasil menangkisnya dengan cincin merah delima. Mbah Cokro juga tak tinggal diam. Dia mengambil sehelai rambut dan melilitkan pada Genderuwo itu. Rambutnya berubah menjadi panjang, dan melilit semua badan Genderuwo.


Semakin marahlah Genderuwo. Dia menggeram keras dan berusaha melepaskan ikatan rambut tersebut. Namun karena rambut tersebut sudah di beri mantra oleh Mbah Cokro, dia kesulitan melepaskan diri.


Mbah Cokro segera menutup pintu rumah kosong dan mengunci dari luar. Mereka meninggalkan hutan. Suara geraman Genderuwo yang kesakitan, masih terdengar di telinga mereka.


Sampai di tempat Roy tergantung,,, bapak kebetulan juga sudah datang membawa tangga dan bala bantuan. Mereka menurunkan Roy dari atas pohon. Warga sedikit kesulitan karena Roy tergantung di dahan yang tinggi. Butuh waktu lama, sampai akhirnya Roy berhasil turun dari atas pohon.


"Sekali lagi aku bertemu dengan Genderuwo itu, aku tak akan mengampuninya!!!".


"Jaga bicaramu nak,, disini hutan larangan, banyak makhluk lain yang mendengarkan".


"Bisa jadi mereka nanti tetap mengikuti mu sampai ke rumah".


"Tidak baik bicara sembarangan di hutan larangan ini".


"Sebaiknya kita segera pergi, upacara sedekah kampung akan segera dimulai".


"Nisa, kau harus berhati-hati, konsentrasi dan fokus pada diri sendiri".


"Kalau tidak,, kejadian seperti ini pasti terulang lagi".


"Baik, Mbah".


Rombongan itu segera meninggalkan hutan. Mereka masih harus melanjutkan acara di balai desa.


Sampai di tempat acara, para warga sudah bersiap. Tinggal menunggu Mbah Cokro sebagai sesepuh kampung untuk memimpin doa. Mbah Cokro langsung menuju ke tempat yang telah disediakan. Sementara Nisa, Roy dan yang lain, segera bergabung dengan warga kampung.


Sedekah hasil bumi sudah tertata rapi. Mbah Cokro duduk di tempatnya untuk memimpin doa. Dia duduk bersila dan memejamkan mata. Para warga terdiam seketika. Mereka khusyuk menyimak bacaan yang dilafalkan Mbah Cokro tersebut.


Tiba-tiba dari arah tempatnya duduk, Nisa berdiri dan menarikan satu tarian penyambutan di kampung tersebut. Penampilan nya sukses membuat mata warga kampung tercengang. Nisa bak boneka hidup, meliuk- liuk mengikuti irama Gending Jawa. Setelah satu tarian berhasil dibawakan, dia berhenti. Tangan nya membungkuk memberi hormat. Setelahnya dia berbicara di hadapan warga kampung.


"Persembahan dari kalian, aku terima".


"Terimakasih atas penghormatan warga kampung terhadapku dan leluhur yang mendahuluiku".


"Aku sungguh merasa tersanjung".


"Aku akan mengawal acara ini sampai selesai".


"Aku jamin, tidak akan ada gangguan di kampung ini".


"Salam hormat untuk seluruh penghuni kampung khususnya bangsa gaib di kampung ini".


Nisa kemudian duduk dan kembali mendapatkan kesadaran nya. Warga kampung bersorak gembira karena persembahan mereka diterima. Acara berjalan lancar tanpa ada gangguan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2