
Nisa terbangun di pagi hari. Siska masih berada di tempat tidur. Dia masih belum bangun. Sementara Alan sudah berada di kamar mandi. Dan Roy juga masih tidur. Nisa
bergegas mandi, karena ingat hari ini harus menjemput kedua putrinya di bandara.
Saat kembali dari kamar mandi, Nisa melihat Alan sudah bersiap dengan pakaian rapi.
"Pagi-pagi sekali Alan,, kau mau kemana??".
"Aku ada wawancara kerja pagi ini".
"Aku tak bisa kan, terus-menerus seperti ini".
"Aku harus menghidupi kakak ku juga sekarang".
"Kau bisa bekerja di tempat Roy kan??".
"Aku tidak enak, kak Siska sudah di sana kan?".
"Biar aku cari kerja di tempat lain dulu".
Alan dan Nisa masih asyik berbincang, tiba-tiba Roy menggeliat bangun. Dia melihat ke arah Nisa dan Alan.
"Kau sudah siap Nisa??".
"Memangnya jam berapa sekarang??".
"Pesawatnya pukul 8 Roy, Sofia baru saja mengirim pesan".
"Tunggu sebentar, aku akan mengantar mu".
"Kita jemput si kembar sama-sama".
"Cepat mandi sana Roy,, aku tak mau kita terlambat".
"Aku sudah tak sabar ingin bertemu anak-anak".
Roy berlari dan langsung bergegas ke kamar mandi. Dia segera memakai pakaian dan langsung menemui Nisa.
"Sebaiknya kau bangun kan dulu kakak mu Alan".
"Dia nanti bingung karena kita semua pergi".
"Iya Roy".
"Ayo Nisa,, kita segera berangkat saja".
Keduanya bergegas menaiki mobil dan menuju bandara. Sementara Alan masih di rumah untuk mengurus Siska.
"Bangun kak, ini sudah siang".
"Aku harus mencari kerja".
Siska menggeliat. Dia menatap lekat wajah adiknya. Semalam dia langsung tertidur begitu Anton mengobatinya. Kali ini raut wajahnya masih tampak aneh.
"Alan,, ikutlah dengan ku,, kau akan hidup bahagia".
"Kau tak perlu lagi bekerja, kita akan banyak uang".
"Siska....sadarlah,, berhenti lah bergantung pada iblis itu".
"Kau harus mengabaikan dia, jangan turuti kemauan nya".
"Kau yang harus mendengar ku Alan".
"Kita pergi dari sini,, aku akan membawa mu ke rumah baru kita".
__ADS_1
"Satria sudah menyiapkan semuanya".
"Ayo....cepat Alan!!!".
Alan mengambil ponsel nya untuk menghubungi Anton kembali. Rupanya Siska masih belum sadar. Pikiran nya masih di pengaruhi oleh iblis bernama Satria tersebut.
"Anton, maaf mengganggu mu, tapi Siska masih kembali seperti semalam".
"Kali ini dia ingin menemui iblis itu".
"Kau bersama Nisa dan Roy kan,, ikuti saja terus, kemana Siska pergi".
"Aku kebetulan hanya sendiri".
"Nisa dan Roy, sedang menjemput putri nya di bandara".
"Begitu,,,,,ok....tunggu sebentar Alan, aku segera kesana".
"Kau tahan agar dia tak pergi terlalu jauh".
"Baik Anton, terimakasih banyak".
Ketika Alan selesai menelpon, Siska sudah menghilang entah kemana. Alan mencarinya sampai ke jalan, tapi tetap tak bisa menemukan nya. Baru sekejap saja, dia sudah kehilangan Siska. Entah kemana harus mencari dia.
Di tengah jalan, Alan bertemu dengan Anton.
Melihatnya kebingungan, Anton langsung menghampirinya.
"Sedang apa kau di sini,, Siska mana??".
"Itu dia, saat aku menelpon mu tadi, dia tiba-tiba menghilang".
"Aku sudah mencarinya kemana-mana".
"Sampai sekarang belum ketemu juga".
"Dari tadi dia menyebut nama Satria dan rumah baru, tapi aku tak begitu memperhatikan nya"
"Ya sudah,,,lebih baik kita pulang dulu".
"Aku akan mencoba mencarinya lewat mata batin".
Sementara Alan dan Anton masih mencari Siska, Nisa dan Roy sudah tiba di bandara.
Penerbangan dari Yogya baru saja mendarat.
Sudah beberapa lama, si kembar pasti sekarang sudah bisa berlari. Nisa jadi merasa bersalah karena tak bisa mengikuti tumbuh kembang kedua putrinya tersebut.
Dari pintu kedatangan, terlihat Sofia dan si kembar serta kedua orang tua Nisa. Dia melambaikan tangan kepada keluarganya tersebut. Sofia segera menghampiri Nisa di pintu penjemputan.
"Ibu,,,bapak....Nisa kangen sekali dengan kalian".
"Kau apa kabar nak,, badan mu tambah kurus saja sekarang".
"Bu Nisa,,akhirnya kita bertemu kembali".
"Senang sekali Sofi, bisa memelukmu seperti ini".
"Sayang.....ini mama,,, ayo sini....mama ingin sekali memeluk kalian".
Kedua putri Nisa itu malah saling berpandangan menyaksikan wajah Nisa. Mereka seperti tidak mengenali ibunya.
Sheina justru terlihat menghampiri Roy dan minta di gendong oleh nya. Sementara Sheila masuk ke dalam pelukan Sofia.
"Rupanya anak-anak ku sudah melupakan aku Sofi".
__ADS_1
"Hmm....berapa lama mereka tinggal di Yogya??".
"Dia justru mengingat Roy, bukan ibunya".
"Sabar nak, mungkin anak-anak mu masih bingung karena baru turun dari pesawat".
"Sebaiknya kita pulang dulu saja,, biar mereka bisa segera beristirahat".
Mereka lantas berjalan menuju pintu keluar.
Saat Roy hendak mengambil mobil, Sheina tidak mau turun dari gendongan nya. Alhasil dia mengalah, membawa putri Nisa ke tempat parkir. Sementara yang lain menunggu di depan.
"Sayang,, Tante Sofi kan capek,,sini biar mama yang gendong".
"Aku mau Tante Sofi aja...".
"Nanti mama kasih hadiah buat Sheila".
"Tak mau....mau ikut Tante Sofi aja".
Kekecewaan di wajah Nisa tak bisa disembunyikan dari kedua orang tuanya. Ibu langsung memegangi pundak Nisa dan menenangkan nya.
"Apa lagi yang tersisa sekarang Bu".
"Dito sudah pergi, dan si kembar bahkan melupakan ku".
"Hanya kalian berdua yang tetap setia mendampingi ku".
" Sabar nak......ibu tahu kamu wanita hebat".
"Ayo,, kita pulang sekarang".
"Pak, Bu....silahkan naik duluan".
Setelah semua masuk ke dalam mobil, Nisa kebagian tempat di kursi depan bersama Roy dan Sheina. Anak itu masih duduk di atas pangkuan Roy. Mungkin mereka rindu pada ayahnya.
"Sheina sayang,,,, kamu duduk sama mama Nisa sebentar ya??".
"Enggak mau,,, mau ikut om aja!!".
"Sheina lihat,, di depan ada pak polisi lo,, nggak boleh nyetir mobil sambil pangku Sheina, nanti kita di tangkap pak polisi".
"Jadi Sheina duduk sama mama dulu ya?".
Gadis kecil itu memandang wajah Nisa sejenak. Dia lalu mengangguk, tanda setuju kalau duduk bersama Nisa. Gadis kecil itu bergeser dan langsung duduk di pangkuan Nisa.
"Apa ini mamanya Sheina om??".
"Tentu sayang,, mama Nisa kan mamanya Sheina dan Sheila".
"Maafkan mama nak,, harus berpisah lama dengan kalian".
"Mama melakukan nya demi keselamatan kalian".
Sheina mendongak ke atas melihat Nisa yang sedang menangis. Gadis itu bangkit dan mengusap air mata di pipi Nisa. Sesaat kemudian dia mencium bibirnya lalu memeluknya erat.
"Mama jangan nangis lagi".
"Kata Tante Sofi, tak suka jadi anak cengeng mama".
"Harus senyum ya??".
"Iya sayang,, mama janji nggk akan menangis lagi".
Perjalanan mereka tak terasa sudah hampir sampai ke rumah Nisa. Saat sedang melintas di jalan masuk perumahan, mobil Roy di tabrak seorang wanita. Wajahnya tiba-tiba menempel di kaca depan. Terlihat sangat menakutkan. Sheina bahkan menangis ketika melihatnya.
__ADS_1
Roy segera turun dan memeriksa. Anehnya tak ada siapa pun di sekitar mobilnya. Padahal Nisa sangat yakin sudah melihat wanita tersebut. Cukup lama Roy mencari,, tak ada jejak siapa pun. Akhirnya mereka meneruskan perjalanan sampai ke rumah Nisa.
...****************...