
Nisa dan Roy langsung masuk ke ruangan, begitu mereka tiba di kantor. Nisa melihat-lihat ruangan yang masih asing baginya itu.
"Buat apa kita disini Roy,, katanya kau mau ajak aku jalan-jalan??".
"Iya,, sebentar....aku harus ambil uang kan??".
"O,, bilang dari tadi, kukira kau bohong".
"Duduklah dulu Nisa, lagi pula masih sepagi ini, mall juga belum buka".
Nisa kemudian duduk di sofa panjang di ruangan Roy. Dia mulanya sabar menunggu, tapi akhirnya ketiduran karena tidak melakukan apa-apa". Roy melihat Nisa tampak terpesona. Dia tidur seperti kucing yang lucu.
"Maaf Roy, aku jadi ketiduran di sini".
"Aku bosan sekali".
"Ya sudah,,,sekarang kita jalan-jalan sekalian makan siang di mall".
"Wah.....asyik,, ayo Roy, kita berangkat sekarang".
Nisa menggandeng tangan Roy dan buru-buru mengajaknya keluar kantor. Semua karyawan menatap Nisa heran. Mereka kaget dengan perubahan Nisa yang sangat mencolok.
"Devi, tunda semua meeting saya hari ini".
"Saya ada keperluan di luar kantor".
"Baik pak".
Sudah setengah hari, Roy bersama Nisa. Dia benar-benar berbeda dengan Nisa yan kemarin. Seperti dua orang asing, namun dalam satu tubuh yang sama. Walaupun dokter bilang Nisa terkena sindrom bipolar,
tetap saja ini bukan lah Nisa menurut Roy.
"Sejak kapan kau jadi suka belanja seperti ini?".
"Sejak aku kecil Roy,, mama dan papa ku sudah memanjakan aku dengan barang-barang mewah".
"Sejak kecil,, bukan nya kau hidup di kampung??".
"Kau ingat kan rumahmu dimana??".
"Roy,, kuberi tahu sesuatu padamu, tapi ini rahasia".
"Baik,, katakan rahasia apa yang kau punya".
"Sebenarnya aku bukan Nisa".
"Aku ini Amira,,,Nisa yang bodoh itu, masih ada di hutan bersama siluman ular".
"Sekarang aku bisa kembali lagi, walaupun dengan tubuh milik Nisa".
"Ulangi sekali lagi perkataan mu".
"Sudah Roy,, aku malas kalau bicara harus diulang-ulang".
"Ayo kita belanja lagi".
__ADS_1
Roy menuruti permintaan Nisa sambil berpikir keras. Kalau benar yang dikatakan nya bahwa dia Amira, berarti Nisa masih dalam bahaya. Dan kali ini tak ada yang menyadarinya. Amira hantu yang licik, dia bisa mengelabui semua orang dengan berpura- pura menjadi Nisa.
Roy menuruti keinginan Amira keliling mall dan memborong belanjaan. Mereka kemudian melanjutkan makan di restoran. Setelah itu, Amira meminta untuk diantar ke rumahnya.
Tentu saja Amira bersikap lebih terbuka karena Roy adalah sahabat dari orang tuanya. Dan Roy kenal betul tentang sifat dan karakter Amira ini. Tak heran dia ingin kembali ke dunia dengan meminjam tubuh Nisa. Yang tidak Roy pahami, mengapa bisa terjadi seperti ini.
"Roy, aku tinggal dengan mu saja, aku sudah bosan bersama om Dito itu".
"Amira, kau tidak bisa seperti ini".
"Biarkan Nisa kembali ke keluarganya".
"Kau sudah meninggal, terimalah itu, jangan jadikan tubuh orang lain sebagai mainan".
"Lagipula, Nisa sudah menolong menemukan tubuhmu bukan?".
"Dia juga yang mengungkap kasus kematian
mu".
"Kasihan anak-anaknya masih kecil".
"Kembalikan tubuh Nisa, dan kau terima takdirmu, jangan bersekutu dengan roh jahat".
"Terimalah takdir mu Amira".
"Tidak.....kau jangan ikut campur urusan ku".
"Selamanya, tubuh Nisa akan menjadi milikku".
"Aku belum mau mati".
Roy mencengkram tangan Nisa dan menyeretnya keluar dari restoran. Kali ini,. Roy sendiri yang akan bertindak. Dia menghubungi pengawal nya serta memerintahkan untuk membawa ustad ke hutan di dekat persimpangan.
"Sore ini juga, semuanya harus berakhir".
"Kau yang harus mengembalikan roh Nisa, atau aku tak segan bertindak lebih jauh lagi padamu".
"Kumohon Roy,,aku tak mau pergi, tubuh Nisa sudah jadi milikku sekarang".
"Aku tak mau jadi penghuni hutan itu lagi".
"Aku akan membantu mu".
"Kami akan mengadakan doa dan pembersihan di hutan ini".
"Sebelum semuanya terlambat bagi Nisa, lebih baik kau segera kembalikan tubuhnya".
Hari sudah menjelang malam saat sampai di hutan. Roy bukan hanya membawa satu, tapi banyak ustad dan paranormal untuk membersihkan hutan ini dari makhluk halus dan mengembalikan roh Nisa ke tubuhnya lagi.
Roy dan para pengawalnya sudah memasuki hutan dengan pasukan yang lengkap. Arwah Amira sudah sangat gelisah sejak tadi.
"Ayo,,,katakan dimana kerajaan gaib itu".
"Aku tidak tahu,,lepaskan aku".
__ADS_1
"Jangan memaksaku Amira,,atau kau akan merasakan akibatnya".
"Cepat bicara.....sekarang!!!!!".
Amira lalu menunjuk tempat yang dimaksud oleh Roy. Pintu gerbang kerajaan gaib, ternyata ada di tengah kolam. Para ustad dan paranormal yang dibawa Roy kemudian bersiap mengadakan ritual. Nisa diikat dalam. sebuah papan panjang dan diletakkan di atas kolam.
"Pak Roy,, mengingat ini adalah kerajaan gaib, tentunya akan ada perlawanan nantinya. Sebaiknya pak Roy menunggu agak jauh dari tempat ini.
Amira yang masih berada di tubuh Nisa, meronta-ronta minta dilepaskan. Dia berteriak histeris, menolak untuk kembali ke alam gaib.
Paranormal itu kemudian menggelar ritual pemanggilan arwah Nisa.
"Pak Roy, sebelum kita mulai, sebaiknya kami membuka mata batin anda, supaya nanti anda mengenali wajah Nisa".
"Baiklah,, aku setuju".
Dua orang paranormal mengoles minyak pada kedua alis Roy. Mereka kemudian mengusap kepala Roy sambil membacakan doa. Seketika, Roy seperti dibawa masuk ke dalam pintu gerbang sebuah kerajaan kuno.
Roy kemudian mengawasi keadaan sekitar. Tak lama kemudian, datang seekor ular sangat besar, bermahkota dan matanya merah menyala. Ular itu nampak membelit seorang wanita dengan ekornya. Wanita itu kesulitan bergerak dan nampak pucat. Roy mengenali wajahnya. Ular itu ternyata membelit arwah Nisa. Roy kemudian berbisik pada ustad dan paranormal tersebut.
Mereka kemudian berusaha berkomunikasi dengan raja ular tersebut.
"Mau apa kalian memanggilku kemari???".
"Kami ingin mengambil Nisa, dia bukan tawanan mu, lepaskan dia".
"Pergi kalian dari sini, ini bukan urusan kalian".
"Kalau kau mau melepaskan wanita itu, maka kami akan pergi dari sini".
"Kalian menantang ku rupanya..!!!".
Paranormal itu bersiap melawan raja ular yang tengah marah. Dia meletakkan Nisa di tanah dan menyerang menggunakan ekornya.
Api berkobar di masing-masing sisi kolam, dan mulut ular itu mendesis dengan kencang.
Arwah Amira yang sudah keluar dari tubuh Nisa, langsung memegangi kedua tangan Nisa agar tidak pergi. Para penghuni kerajaan gaib berdatangan membantu raja mereka yan sedang diserang.
Para ustad tidak tinggal diam, mereka membacakan doa dan ayat Al-Qur'an ke seluruh penjuru hutan. Pasukan raja ular tentu saja merasa kepanasan. Sebagian lagi bahkan ada yang terbakar dan ada yang menghilang.
Arwah Amira pun mengalami hal yang sama. Dia merasa kepanasan hebat dan kepalanya sakit. Lama-kelamaan arwah Nisa menghilang entah kemana. Roy kemudian menghampiri Nisa dan menariknya mendekat ke tubuhnya.
Salah satu paranormal membantunya memasuki tubuhnya kembali. Tak lama kemudian Nisa segera sadar kembali.
Melihat siluman ular yang sudah kepanasan karena serangan dari para ustad dan para normal itu Nisa perlahan maju ke dekat kolam. Dari cincin nya keluar sinar merah. Rupanya ibu ratu yang datang ke pertempuran kali ini.
"Lepaskan ular itu, aku akan membawanya ke laut selatan".
"Kalian sudah cukup menghukum mereka".
"Sekarang mereka adalah tanggung jawabku".
Ibu ratu membawa siluman ular itu masuk ke dalam cincin Nisa. Roy kemudian menghentikan para ustad dan paranormal yang berada di tempat tersebut.
...****************...
__ADS_1