Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Dilema.


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Nisa langsung masuk ke kamar nya. Pikiran nya bimbang, tak bisa memgambil keputusan. Di satu sisi ada Roy, suami yang begitu di cintai nya, dan harus segera di selamatkan. Tai, di sisi lain, ada nyawa begitu banyak orang yang harus di korban kan demi merebut kembali Roy dari tangan iblis Mohana.


Kalau pun Nisa harus merelakan Roy,,bisa jadi suaminya lah yang akan bertindak sebagai pencari tumbal dan mewarisi ilmu hitam milik keluarga besar nya. Dan sudah pasti akan lebih banyak lagi korban yang berjatuhan, sementara Nisa walaupun tidak secara langsung, tapi sudah pasti bisa menyaksikan hal itu terjadi. Tapi, membinasakan Mohana, sama artinya dengan mengakhiri nyawa kedua orang tua Roy. Dan pastinya akan sangat berat di lakukan oleh Nisa.


Nisa berjalan mondar-mandir di dalam kamar nya, ketika tak berapa lama, dering suara ponsel mengagetkan dirinya. Panggilan masuk dari nomer baru yang tidak di kenal nya. Nisa tertegun sesaat, ragu untuk menjawab ponselnya. Namun kemudian, di angkat nya ponsel tersebut dan menekan gambar telepon berwarna hijau.


"Halo........siapa di sana??", tanya Nisa ragu-ragu.


"Hentikan ulah mu sekarang juga, atau kau tidak akan lagi bisa melihat wajah suami mu". Sapaan halus namun tegas dari seberang telepon mengagetkan Nisa. Suara itu adalah suaranya. Dan Nisa tahu betul kalau Mohana yang saat ini tengah menghubungi dirinya.


"Aku sama sekali tidak takut dengan ancaman mu wanita licik".


"Tunggu saja,,,setelah ini kau tidak akan lagi bisa menyentuh keluargaku, terutama suami ku!!", tegas Nisa dengan berani. Wanita di seberang telepon itu tertawa terbahak-bahak. Suara nya nyaring, persis seperti kuntilanak. Meskipun begitu, Nisa sama sekali tidak takut dengan nya.


"Mohana.....tunggu saja,aku akan membawa Roy pulang bersama ku. Dan saat itu, kupastikan kau akan segera lenyap dari muka bumi ini!!", teriak Nisa sambil menutup ponsel nya. Dia sungguh tak habis pikir kalau ternyata Mohana sudah leboh dulu mengetahui langkah yang akan di ambil olehnya dan mbah Cokro. Iblis itu sungguh sangat berbahaya.

__ADS_1


Di sisi lain, Roy sangat menikmati hidupnya di rumah nya yang lama. Tinggal bersama istri dan anak serta orang tuanya, membuat dirinya setiap hari merasa bahagia. Roy sama sekali tqk menyadari keganjilan yang terdapat pada seluruh anggota keluarganya. Penghuni rumah tersebut semua nya adalah makhluk tak kasat mata. Kecuali Mohana serta kedua orang tuanya. Majikan dari iblis yang di puja nya.


"Nisa, aku bosan berada di dalam rumah setiap hari seperti ini. Apa sebaiknya kita mengunjungi bapak dan ibu di kampung saja??. Sudah lama sekali kita tidak kesana bukan?", ujar Roy tiba-tiba. Mohana terkejut, tapi dia segera bisa memhendalikan situasi. Hanya dengan menatap mata Roy lekat, pria itu sudah bisa di kendalikan oleh nya. "Aku akan membawa bapak dan ibu kemari mas, kau tenang saja. Lagipula, mereka sedang sibuk panen saat ini", jawab Mohana kemudian. Tidak banyak kata yang bisa di ucapkan oleh Roy lagi. Dia terdiam dan menuruti perkataan Nisa dengan patuh.


Tatkala ilmu sihir itu sudah merasuk ke dalam otak nya, Roy bagaikan robot yang akan selalu patuh dan mendengarkan perkataan dari Mohana sepenuh nya. Dia tak ubahnya wayang, yang bergerak kesana kemari dengan kuasa si dalang.


Cukup lama bagi Nisa untuk memutuskan langkah yang akan di ambilnya. Sampai pada suatu titik kalau dia harus bisa melawan Mohana. Hanya Mohana saja yang harus binasa, sedang kan yang lain tak sepatutnya ikut menjadi korban.


Nisa akan melawan Mohana, dan mengambil Roy dari sisinya. Urusan ibu mertuanya bukan lah menjadi bagian dari wewenang nya. Biar saja dia mempertanggung jawabkan kejahatan nya sendiri. Yang terpenting adalah menyelamatkan orang yang sangat di cintai nya.


"Ada tamu dari Jakarta nduk, mereka teman-teman mu, Ratri dan suaminya bersama dengan Alan", sahut bapak seketika.


Nisa tersenyum sumringah. Sudah lama sekali mereka tak bertemu. Ratri dan Anton seperti tahu kalau Nisa sedang punya masalah besar. Sahabatnya itu tentu sudah punya firasat kalau Nisa sedang mengalami kesulitan. Nisa bergegas berlari ke depan untuk menyambut ketiga tamu yang datang ke rumah nya.


"Ratri,,,aku merindukan diri mu...sudah lama sekali kita tidak bertemu", sambut Nisa sambil memeluk erat tubuh mungil Ratri. Sementara Anton dan Alan tersenyum menyaksikan tingkah keduanya. Mereka melepas rindu, layaknya seorang kakak kepada adik nya.

__ADS_1


"Ayo...duduk lah dulu, biar aku bikinkan minum untuk kalian. Perjalanan dari Jakarta tentu sangat melelahkan bukan??",sahut Nisa sambil berteriak. Tubuhnya sudah menghilang di dapur, tanpa sempat mendengar jawaban dari ketiga teman nya tersebut.


Sesaat setelah minuman dan cemilan terhidang, barulah mereka berempat mengobrol dengan santai dan melepas rindu satu sama lain. Ratri mengutarakan perihal kedatangan nya ke kampung halaman Nisa. Tak lain karena masalah Roy. Alan sudah banyak bercerita kepada keduanya, sehingga Ratri dan Anton merasa terpanggil untuk membantu Nisa.


"Kau tenang saja Nisa, kau tidak sendirian. Kami akan membantu mu untuk mendapatkan kembali Roy. Kita akan mengeluarkan suami mu dari rumah terkutuk itu", kata Anton dengan tekad bulat. Memang sudah lama Anton merasa janggal karena partner bisnisnya menghilang begitu saja. Padahal dulu mereka intens bertukar pikiran. Apalagi bisnis keduanya kian berkembang pesat belakangan ini. Namun, Roy sulit sekali di hubungi. Bahkan minggu-minggu terakhir ini, Anton lost kontak dengan Roy.


Sampai Alan kembali dan bercerita mengenai Nisa dan Roy, barulah Anton paham kalau ada yang tidak beres dengan kedua rekan nya tersebut. Rupanya memang ada yang sengaja mencelakai Nisa dan Roy. Dan parah nya lagi, mertuanya sendiri dalang di balik peristiwa tersebut.


"Jangan kan kalian, aku sendiri sudah benar-benar kehilangan Roy. Dia bahkan tak bisa membedakan istrinya yang asli dengan iblis yang menyamar", ujar Nisa terlihat putus asa.


"Alan yang menyaksikan semuanya, bagaimana wanita itu membuang ku seperti sampah, di depan gerbang rumah kami", lanjutnya lagi.


"Kami tahu Nisa, bersabar lah....kita akan mencari cara untuk mengalahkan iblis di rumah mu. Kalau dulu kita bisa, lalu kenapa sekarang mesti menyerah. Kami akan selalu ada di belakang mu", lanjut Ratri sambil meraih bahu Nisa dan memberinya kekuatan. "Terima kasih....kalian memang yang terbaik", ucap Nisa sambil menyeka air matanya.


Bantuan sudah datang dari teman-teman nya. Paling tidak ada tambahan kekuatan yang akan berjuang bersama dengan nya. Nisa yakin, kali ini pun, dia pasti bisa menyelesaikan masalahnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2