
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit,
Hari ini Ratri diperbolehkan pulang. Rencana
nya Nisa dan Dito akan menjemputnya hari ini.Ki Santoso masih menunggu Ratri di rumah sakit, untuk mengantisipasi iblis di dalam tubuh Nisa, mencoba membunuh
Ratri lagi.
Ki Santoso sudah seperti ayah bagi Ratri.
Sejak kecil dia sudah merantau jadi jauh dari orang tua.
"Apa kau yakin menerima tawaran Dito dan Nisa untuk tinggal di rumahnya sementara??".
"Iya Ki,,,tenang saja, aku akan menjaga diri".
"Kalau memang betul iblis itu di dalam tubuh
Nisa,,,maka aku sendiri yang akan menghancurkannya.
"Tunggulah sebentar sampai kau sembuh, aku juga tengah menyusun strategi untuk
memaksanya keluar dari jiwa Nisa".
"Aku akan mengawasi gerak-geriknya selam disana Ki".
"Kau jangan lupa Ratri, bangkitkan kekuatan Nisa yang sebenarnya, supaya dia tidak dikuasai iblis itu".
"Baik Ki"
Nisa dan Dito sudah tiba di rumah sakit. Mereka bergegas ke ruang perawatan untuk menjemput Ratri.
"Rupanya kau sudah siap pulang,".
"Iya,,,,aku minta maaf kalau harus merepotkan kalian seperti ini".
"Tidak apa-apa Ratri,,,yang penting kau cepat sembuh".
"Terimakasih atas kebaikan kalian, bersedia menampungku di rumah kalian".
"Mas, mobilnya sudah siap kan,,,biar aku yang
mendorong Ratri".
"Aku akan ke bawah melihatnya".
Nisa mendorong kursi roda Ratri, sementara Dito mengambil mobil. Saat hanya berdua, Iblis itu kembali mengancam Ratri.
"Kemarin entah karena apa kau bisa lolos dari
kematian,,, tapi kali ini, kau sendiri yang mengantarkan nyawamu kepada ku".
"Dengar,,,,iblis jahat,,,sebentar lagi, aku sendiri yang akan menghancurkan mu".
"Dan Nisa mu ini, ku pastikan dia juga akan mati bersama denganku".
"Awas.........kalau kau berani menyentuh Nisa,,
kau tak tahu yang bisa kami lakukan padamu".
"Ha......ha......ha........dasar kalian manusia lemah!!!!!".
Dito yang baru datang, merasa heran dengan kelakuan Nisa.
"Sayang,,,,,pelan kan suaramu,, ini di rumah sakit, kau bisa mengganggu yang lain".
"Aku sedang menertawakan lelucon dari Ratri,
rupanya dia sudah benar- benar sembuh, mas".
"Sini, biar aku yang mendorongnya".
Mereka berjalan beriringan ke tempat parkir.
Ratri harus berpikir ekstra keras untuk mengusir iblis itu dari tubuh Nisa, kalau tidak,
Nisa benar-benar bisa meninggal.
__ADS_1
"Masuklah Ratri,anggap ini rumahmu sendiri".
"Terima kasih Dito".
"Omong-omong, badanmu kelihatan semakin kurus saja, apa kau sakit??".
"Suamiku baik-baik saja Ratri, tenang saja, biar aku yang mengurusnya".
Ratri yang baru masuk rumah saja bisa merasakan aura yang sangat jahat di sini.Dia juga melihat Dito sepertinya pelan-pelan akan
dijadikan tumbal oleh iblis itu.
Ratri bertekad akan memanggil jiwa Nisa. Dia
tak ingin iblis itu terus berkuasa dan mencelakai orang-orang di sekitarnya. Tapi,
bukan pekerjaan mudah, memanggil sang pemilik jiwa murni, ketika dirinya sudah
dikuasai iblis.
"Nisa,,,,,aku ingin kau mendengar ku,, bangun Nisa!!!! lawan iblis itu".
"Nisa sudah pergi,,,,jangan lagi kau menyebutnya di hadapanku".
"Tunggu saja,, sebentar lagi kami akan mendapatkan Nisa kembali".
Nisa yang kesal lantas keluar dari kamar dan meninggalkan Dito dan Ratri berdua.
"Dito, kalau kau ingin Nisa mendapatkan kembali jiwanya, kau harus ikuti kata-kataku".
"Nisa itu bukan istrimu,,malam itu, rupanya iblis itu masuk ke dalam tubuh Nisa, dan sampai saat ini terus menguasainya".
"Lalu,,,,apa yang harus kita lakukan???".
"Ini memang tidak mudah, tapi baiklah,,, akan kita coba".
"Tunggu beberapa hari lagi sampai aku benar-
benar pulih".
"Sementara kau hubungi orang tua Nisa dan kyai yang kau anggap bisa untuk membantu
"Aku akan menentukan harinya dengan Ki Santoso dulu".
"Jangan lupa,,, amankan cincin mustika dan baju kebaya itu, dan untukmu Dito,,, usahakan
untuk tidak mendekati Nisa dulu".
"Baiklah,,, aku akan menelpon bapak dan ibu dulu".
Dito keluar dari kamar Ratri dan bergegas mengambil handphone nya.Dia kemudian
menghubungi bapak dan menceritakan semua kejadian yang dialami oleh Nisa.
"Baiklah,,, bapak dan ibu akan segera ke Jakarta".
"Baik pak, Dito tunggu".
Ketika Dito hendak menghubungi kyai Ahmad,
Nisa mah lebih dulu pulang ke rumah. Jadi Dito urung melaksanakan rencana nya.
"Sayang, kau dari mana saja??".
"Aku habis beli makanan mas".
"Kau tahu,,,aku punya kabar gembira
untukmu".
"O,ya...katakan mas..",
"Bapak dan ibu akan ke Jakarta menengok kita".
"Mereka sudah kangen sekali padamu".
"Hanya itu?????".
__ADS_1
"Kau tidak senang,,,,biasanya kau sangat antusias jika tentang bapak dan ibu".
"Aku senang mas,,,cuma aku agak lelah sekarang".
"Kalau begitu, istirahatlah.......siapa tahu saat
bapak dan ibu kesini nanti, kau sudah jauh lebih baik".
"Sayang,,,,jadilah Nisa yang dulu, aku sangat
merindukan nya".
"Akhir-akhir ini, aku merasa kau bukan Nisa yang periang, ramah,penuh cinta,,,entah sejak
kapan aku kehilangannya".
Dito melangkah keluar dengan mata berkaca-kaca menahan tangis. Nisa yang mendengar
curahan hatinya,sangat bersedih, tapi dia tak
bisa berbuat apa-apa".
"Aku disini mas,,,,,nisa mu ini tak kuasa untuk
melawan iblis ini".
"Hentikan Nisa,,,kau jangan cengeng,,suamimu itu ada main dengan Ratri,
jadi kau harus menyingkirkan mereka berdua".
Itulah,,,,setiap kali jiwa Nisa bersuara, iblis itu akan semakin menghasutnya. Dia akan membuat Nisa semakin marah.Setelah itu, di dalam kemarahan, iblis itu akan menguasainya dan membuat Nisa mencelakai atau bahkan membunuh orang
yang dibencinya.
Keesokan paginya, Bapak memberi kejutan
dengan kedatangannya.Dia tidak menelpon
untuk minta dijemput. Tahu-tahu bapak sudah di depan pintu.
"Bapak,,,ibu,,,,,,kejutan sekali,,,aku senang akhirnya kalian bisa kemari".
"Iya Dito,,,,kami pikir kalau anak rindu mana mungkin kami tak memenuhi nya".
"Ayo masuk pak,,,kenalkan ini Ratri, sahabat sekaligus rekan bisnis kami berdua".
Bapak dan ibu menjabat erat tangan Ratri, seolah ingin berterimakasih padanya. Dion sudah menceritakan kebaikan Ratri terhadap
Nisa dan Dito".
"Dimana Nisa,,,bapak belum melihatnya".
"Dia masih tidur pak".
Bapak dan ibu menggelengkan kepala mengetahui tingkah laku Nisa yang sekarang.
Mereka masuk ke kamar Nisa dan membangunkannya.
"Nisa,,,,ayo bangun nak,,ini sudah siang, apa kau tak malu sama Bu Ratri".
"O,,,,kalian rupanya,,, kapan kalian sampai??".
"Apa ini yang bapak dan ibu ajarkan kepada
mu, sikapmu sudah benar- benar keterlaluan".
"Bangun!!!! atau bapak yang akan menyeret
mu ke kamar mandi".
"Kalian ini kenapa,ini kan rumahku, terserah aku mau bangun jam berapa".
"Plak........,Bapak menampar mulut Nisa dengan keras.
Baru kali ini bapak terlihat sangat marah. Dia keluar kamar dengan wajah memerah menahan perasaannya.
"Kendalikan diri bapak,,,,memang butuh strategi untuk menghadapi iblis itu".
__ADS_1
Nisa masih terlihat pura-pura menangis di depan ibu.Dia tak menyangka bapak tega sekali memukulnya.