
Upacara keberangkatan jenazah sudah hampir selesai. Iring-iringan mobil sudah siap
mengantar Nina ke pemakaman. Tampak Rudi dan istrinya sudah naik ke dalam mobil.
Nisa dan teman-teman nya menunggu sampai mobil keluarga berangkat ke pemakaman.
Setelah iring-iringan mobil berangkat menuju ke pemakaman, mereka berempat turun. Di rumah masih ada satpam dan beberapa warga yang masih tinggal. Sepertinya Deni,
anak Yeni tidak ikut keluar, berarti dia masih ada di dalam rumah.
"Mbak, keluarlah....carilah Deni, mumpung mereka sudah pergi dari rumah".
"Ku rasa tidak akan ada yang curiga, karena kuntilanak itu ikut ke makam".
Yeni keluar bersama Nisa dan Ratri. Ketiganya langsung masuk ke dalam rumah.
"Bu Yeni,,, kenapa anda kembali,,, apa ada yang ketinggalan??".
"Iya Bu,,, permisi, saya masuk duluan".
Yeni langsung masuk menuju kamar Deni, sementara Nisa dan Ratri menuju halaman
belakang rumah. Deni ada di dalam kamar
nya. Dia seperti orang stres, melihat Yeni di depan pintu, Deni merasa ketakutan.
"Sayang,,, ini mama, kemarilah nak,, mama rindu sekali padamu".
"Ampun ma,,,, Deni janji...akan menuruti perintah mama....jangan hukum Deni ma...".
Deni duduk di pojokan kasur. Yeni hendak
menghampiri dan memeluknya. Namun, ketika tangan Yeni terulur hendak memeluk Deni, tiba-tiba tangannya terasa panas terbakar.
Deni terkejut melihat tangan mama nya kesakitan, bukankah mama nya sendiri yang memberi pagar di kamar Deni agar dia tidak bisa keluar. Deni mengerti,,, berarti kali ini benar-benar ibunya yang datang.
"Mama,,, ini mama kan,, wanita itu tak mengijinkan Deni keluar ma,,, entah kenapa
setiap Deni melangkah, tubuh Deni terbakar seperti mama".
"Sayang,,, wanita itu jahat, dia bukan mama mu, tenang nak......mama akan mengeluarkan mu dari sini".
"Ma,,,,,cepat tolong Deni ma,, Deni takut sekali".
"Tunggu sebentar di sini,, mama akan segera kembali".
Yeni mencari Ratri dan Nisa untuk meminta pertolongan. Sementara, keduanya hampir tiba di pintu halaman belakang, ketika tiba-tiba tubuh mereka terpental.Di pintu berdiri sosok nenek yang menyerang Nisa malam itu.
"Nisa,,,, Tolong anakku, ayo cepat, sebelum Rudi pulang".
Yeni tak tahu kalau di depan Ratri dan Nisa ada sosok nenek menyeramkan yang menghadangnya. Dia langsung saja meminta pertolongan.
Nisa dan Ratri berlari sekuat tenaga menuju kamar anak Yeni.Terlambat,,,,nenek tua itu sudah menghadang di pintu.
"Bagaimana Nisa,,,, kau siap untuk memberinya pelajaran".
__ADS_1
"Kau masuklah,,, aku yang akan menghadapi nenek ini"
"Kita tak bisa masuk,,, sekitar Deni dikelilingi api besar yang menyala".
"Ratri,,,, kau bisa menembus pagar api itu??".
"Akan aku coba Nisa".
Nisa maju melawan nenek tua yang menghadangnya. Hanya dengan tatapan nya saja, Nisa sudah lumpuh, tak bisa berdiri.
Setiap kali Nisa mencoba bangun, namun tubuhnya sulit digerakkan. Entah apa yang menindih tubuhnya itu. Kali ini Nisa benar-benar dibuat tak berdaya oleh nenek tua itu.
Sementara Nisa menghadapi nenek tua itu,
Ratri bergerak membuka pagar gaib yang mengelilingi Deni. Dia memusatkan pikiran dan konsentrasi, serta membaca mantra pembuka sihir. Butuh waktu lama bagi Ratri untuk menghancurkan pembatas gaib tersebut.Setengah energinya terkuras habis.
Akhirnya dengan penuh perjuangan, terbuka juga.Yeni menarik Deni ke dalam pelukan nya, sementara Ratri segera membantu Nisa.
Yeni dan Deni langsung lari menuju mobil.
Anton dan Dito yang sedang berjaga di luar jadi cemas. Mereka menyusul Nisa dan Ratri ke dalam. Di dalam Anton melihat Ratri tengah dikerumuni ribuan laron, sementara Nisa merintih kesakitan tidak bisa bangun.
Anton lalu menggunakan ilmunya untuk menghalau ribuan laron yang menutupi badan Ratri. Keduanya kemudian menyelamatkan Nisa, dengan menangkis kekuatan magis si nenek tua itu.
Ratri dan Anton mengerahkan sisa kekuatan
mereka untuk melawan nenek tua. Bukan hal yang mudah,,,ternyata makhluk gaib satu ini sudah berilmu tinggi, sama seperti kuntilanak yang menyamar itu.
Saat nenek itu lengah, Dito membopong Nisa keluar.Hal itu membuat nenek semakin marah. Dia bersiap-siap membuka mulutnya untuk menyemburkan serangga.
Keduanya segera berlari. Dibelakangnya ribuan laron mengejar mereka.Dito menutup pintu dan menguncinya kemudian keluar dari rumah itu.
Mereka berempat segera masuk mobil dan
meninggalkan rumah Rudi. Nisa kelihatan terluka parah. Dalam dekapan Dito, mulutnya mengeluarkan darah.
"Sayang,,,kita langsung ke rumah sakit ya".
"Tidak,,,aku baik-baik saja".
Ratri langsung menelpon Ki Santoso. Dia menjelaskan kejadian yang menimpa Nisa.
Dia menyuruh Dito untuk menyalurkan energi
dalamnya untuk menyembuhkan Nisa.
"Dito,,, taruh cincin Nisa ke dalam cawan dengan 7 bunga melati, setelah itu lepaskan
pakaian kalian dan salurkan energi mu untuk Nisa.Taruh cincin itu di tengah-tengah kalian,
aku akan membantu dari sini,,, apa kau mengerti???".
"Baik Ki,,,akan saya lakukan".
Mereka mengantar Nisa dan Dito duluan kembali ke rumah. Luka Nisa harus segera diobati. Setelahnya mereka langsung pulang ke rumah Anton.
__ADS_1
Sesampainya dirumah Anton, Deni masih tampak takut dan kebingungan.
"Sayang,,,tenanglah,,ada mama di sini,,, mama nggak akan menyakitimu".
"Tapi.....di rumah itu, mama jahat padaku dan kak Nina".
"Itu bukan mama,, itu wanita jahat yang menyamar jadi mama nak,,percayalah".
"Benar Deni,,,,kami semua disini tengah berusaha membantu mama mu".
"Jangan takut,,kau aman disini".
Deni akhirnya menangis lega dalam pelukan ibunya. Anton dan Ratri menceritakan kejahatan wanita itu, yang tega merenggut nyawa Nina, kakaknya.
Ratri lalu menyuruh Yeni dan putranya untuk
beristirahat. Mereka masih punya pekerjaan
ketika Rudi dan istrinya pulang dari makam nanti.
Sementara itu,,di rumah, Nisa semakin lemah.
Sesekali dia masih batuk darah. Dito lantas
melakukan apa yang diperintahkan oleh Ki Santoso.
Setengah jam berlalu, Dito masih menyalurkan tenaga dalamnya untuk Nisa.
Tiba-tiba Nisa muntah darah lagi, dan kali ini disertai dengan jarum dan silet. Hampir setengah cawan kecil dikeluarkan Nisa dari perutnya.
Jarum dan silet yang sudah berkarat itu bercampur dengan muntahan darah Nisa.
Dito seakan tak percaya, benda-benda itu ada di tubuh Nisa,,, namun kondisi Nisa berangsur-angsur membaik setelahnya.
Dito memindahkan Nisa ke kamar dan memakaikan baju untuknya. Dia sudah kelihatan lebih segar dan tidak kesakitan lagi.
Cincin mustika nya dipakaikan kembali ke
jari Nisa,,,agar dia lekas pulih.
Rumah Rudi masih tampak ramai dengan
kedatangan teman-teman Nina untuk melayat. Rudi dan istrinya baru turun dari mobil, dan langsung menemui teman-teman Nina. Yeni masuk ke dalam, dan melihat kekacauan di rumahnya. Deni juga sudah menghilang dari kamarnya.
Yeni tersulut emosi. Dia marah pada nenek tua penjaga rumah.
*"Teko sing tenang nduk,,,bocah kae wis tak
leboni sengkolo, ora bakal suwe maneh patine".*
*"Tenang anakku,,,,anak itu sudah kuberi
ilmu hitam(bencana), hidupnya tidak akan lama lagi".*
Yeni mondar-mandir di dalam kamar, untuk
__ADS_1
mencari siasat atas hilangnya Deni kepada Rudi.