
Nisa dan Dito sampai di rumah menjelang Maghrib. Seisi rumah sedang kebingungan karena lagi-lagi Sheina menghilang. Sofia hanya meninggalkan nya sebentar untuk menyiapkan air mandi, tapi Sheila sudah menangis dengan kencang. Ketika Sofia kembali ke dalam, rupanya Sheina sudah menghilang.
Ibu dan bapak mencari Sheina ke seluruh penjuru rumah. Tapi tak ada satupun tanda-tanda keberadaan anak itu. Bapak sudah kebingungan, takut terjadi sesuatu kepada Sheina.
Nisa yang baru sampai, segera sadar kalau sedang ada yang tidak beres di rumahnya.
"Kenapa pak,,ada apa lagi sekarang??".
"Anakmu hilang lagi nduk!!".
"Apa.....siapa yang hilang pak??".
"Sheina Bu,,tiba-tiba nggak ada di kasur".
"Bapak sudah cari di bilik itu,,ayo kita ke sana lagi pak".
"Bapak sudah langsung ke sana Dito,tapi putrimu itu nggak ada, entah dimana dia menyembunyikan anakmu??".
"Dia siapa pak,,,ayo katakan yang jelas sama Nisa".
"Siapa yang sebenarnya menyembunyikan Sheina?".
Bapak sudah membuka mulutnya hendak menjelaskan cerita yang sebenarnya, ketika kemudian terdengar suara tawa anak kecil dari arah kamar. Nisa dan Dito cepat berlari ke dalam. Dilihatnya diatas kasur tak ada apapun.
Suara tawa itu masih terdengar, rupanya dari arah kolong tempat tidur. Sheina sedang berbaring dengan seorang wanita berada di sampingnya. Wanita yang sama, berbaju putih lusuh sedang bercanda dengan si kecil Sheina.
Nisa langsung mengangkat Sheina ke atas dan menggendongnya. Namun sejurus kemudian, Sheina tampak menangis dalam gendongan Nisa. Dia meronta-ronta hendak kembali ke kolong tempat tidur.
"Jangan ke sana sayang,, disitu kotor??".
"Lihat, ini kan sudah sama mama,, kenapa kamu masih menangis?".
"Tolong,,,,siapapun kau, jangan ganggu anakku lagi".
"Pergi kau dari rumah ini sekarang juga,,,pergi!!".
Nisa sudah hilang kesabaran. Kedua kalinya hari ini dia dikerjai makhluk halus. Dan sialnya,,, lagi-lagi Sheina yang menjadi sasaran mereka. Sheina sekarang bahkan lebih nyaman bersama makhluk halus itu daripada bersama Nisa.
"Kendalikan dirimu nak,,, kau harus bersabar".
"Kalau tentang Nisa sendiri pak,,, tak masalah mereka mau melakukan apapun".
"Tapi kalau sudah menyangkut kedua putriku,, jangan harap aku bisa bersabar lagi pak".
"Nisa tak akan membiarkan mereka menyentuh si kembar, walau pun hanya seujung kuku".
Suasana rumah Nisa menjadi tegang. Sheina terus saja menangis seolah-olah mencari wanita yang kerap mengajaknya bermain.
Bapak tengah berpikir keras. Keselamatan kedua cucunya sedang dipertaruhkan. Mengingat sudah kedua kalinya Sheina berhasil dibawa dan disembunyikan oleh makhluk halus itu.
"Bagaimana ini pak,, kalau terus-terusan begini, kasihan cucu kita".
"Iya Bu,,, aku akan ke rumah Mbah Cokro".
"Siapa tahu dia punya jalan keluarnya".
"Iya pak,, hati-hati!!".
__ADS_1
Bapak melangkah ke luar rumah. Dia hendak meminta nasehat dari Mbah Cokro, sesepuh di kampung Nisa. Beliau harus tahu kalau penghuni Bilik tersebut sudah mulai berulah lagi.Kali ini bahkan mereka sudah berani mengganggu cucu bapak".
"Masuklah Ari,, aku sudah menduga kalau kau pasti datang kemari".
"Begitulah Mbah,,,rupanya dia sudah nekat".
"Pagar yang dulu Mbah pasang, sudah berhasil dilewatinya".
"Kalau dulu aku terpaksa harus berkorban, tapi sekarang, dia tak boleh mengambil cucu ku lagi Mbah".
"Tenang lah Ari,, aku akan mencari cara supaya kita tak perlu melakukan nya lagi".
Bapak masih belum pulang, tapi tembang pengantar tidur itu masih terdengar dari arah luar rumah Nisa. Sehabis Maghrib tadi, ketika si kembar menangis kencang, suara nyanyian itu membuat keduanya langsung terdiam.
Bahkan kini si kembar sudah terbuai ke alam mimpi. Sofia masih bergidik ngeri mendengar
tembang Jawa tersebut.
"Biar Nisa keluar sekarang Bu, Nisa harus tahu, siapa yang sudah bermain- main dengan si kembar".
"Jangan nduk,,,tunggu bapakmu pulang sebentar lagi".
"Tapi Bu,,,ibu dengar....wanita itu masih terus bernyanyi".
"Arahnya dari dalam bilik,, mana kuncinya Bu, biar Nisa yang masuk".
"Tunggu Nisa,, ibu bilang jangan!!!".
"Sekali ini turuti ibumu nak,,, jangan membantah".
Nisa terdiam, baru kali ini ibu memakai nada keras pada ucapan nya. Sebelumnya ibu selalu lemah lembut, tidak pernah sekalipun beliau membentak orang lain. Nisa menduga pasti ada yang di sembunyikan oleh bapak dan ibu. Tapi untuk melangkah terlalu jauh, Nisa masih menghormati keduanya.
Bapak baru saja hendak masuk ke halaman rumah, ketika sayup-sayup dia mendengar suara tembang Jawa dari arah bilik belakang rumah. Suara yang tidak asing di telinga bapak. Mengingatkan dirinya akan masa lalu.
Bapak kemudian berjalan ke arah bilik. Dia berhenti di depan pintu.
*"Wis.....Ndang leren anggon mu nembang".*
*" Bocah e uwis turu".*
*"Terus no anggon mu lelaku, Ojo ngganggu".*
artinya: *" Sudah....berhentilah bernyanyi".*
*"Anak itu sudah tidur".*
*" Teruskan pekerjaan mu, janganlah
mengganggu".*
Suara dari dalam bilik langsung berhenti seketika. Bapak kemudian kembali melangkah masuk ke dalam rumah.
"Bapak sudah pulang,, syukurlah.....!!!".
"Pak, ijinkan Nisa melihat sekali lagi ke dalam bilik itu, tolong berikan kuncinya pak".
"Nisa,,, ini bukan urusanmu nak".
__ADS_1
"Kau tenang saja, biar bapak yang menyelesaikan semuanya".
"Jelas ini urusan Nisa pak, dia sudah berani mengganggu si kembar".
"Dia tidak mengganggu, itu hanya perasaan mu saja".
"Sudah,, kalian tidur saja, biar bapak yang berjaga".
"Nisa belum mau tidur kalau bapak belum menjelaskan kejadian di rumah ini".
"Kamu itu nggak usah ngeyel, Dito ajak istrimu masuk ke dalam!!".
"Baik pak,,,....ayo Nis,, sebaiknya kita segera tidur".
Nisa masih ingin membantah, tapi tatapan Dito membuat Nisa urung melakukan nya.
Dia kemudian mengikuti langkah Dito ke kamar. Sofia masih menemani kembar di dalam.Dia ikut merasa tidak enak dengan suasana rumah ini.
"Sofia,, kamu disini saja,,kita tidur bersama
malam ini".
"Lagipula,, ini akan menjadi malam yang panjang bagi kita,,, bersiaplah".
"Bu,, Sofi boleh bicara sedikit??".
"Katakan saja Sofi,, apa yang ingin kau sampaikan".
"Bu,,, Sofia melihat wanita berbaju putih yang sering mengajak Sheina bermain".
"Iya,, aku juga berkali-kali melihatnya,, kamu jangan khawatir".
"Bukan itu Bu,,, wajah wanita itu.......dia itu...
anda Bu Nisa, wanita itu adalah anda sendiri!!".
"Apa maksudmu,,,jangan aneh-aneh!!".
"Tapi itu benar Bu,, bedanya separuh wajahnya telah hancur!!"
"Kapan kau melihatnya,, katakan padaku??".
"Tadi sore, sewaktu di dalam kamar, Sofi pura-pura tertidur".
"Wanita itu menghampiri Sheina, dan mengelus-elus punggungnya".
"Saya kira itu anda Bu,, tapi, ketika dia menoleh....wajahnya hancur sebelah".
"O,,, aku tahu sekarang, kenapa Sheina tidak takut didekati olehnya".
"Rupanya dia menyamar menjadi diriku mas".
"Tunggu, kalian jangan gegabah,, kita tunggu sampai bapak mau bercerita".
"Tidak akan mungkin bapak melakukan nya, aku mengenal nya, kalau dia mau cerita, itu sudah dilakukan nya dari dulu bukan??".
"Kita harus mencari tahu sendiri,, siapa sebenarnya wanita itu".
__ADS_1
Nisa semakin penasaran mendengar penjelasan dari Sofia. Ada hantu di rumahnya, yang menyamar jadi dirinya. Ini tak bisa dibiarkan. Nisa akan bertindak, dengan atau tanpa dukungan dari suaminya Dito, Nisa tetap akan mencari tahu kebenaran dari kisah ini.
...****************...