
"Kau juga melihatnya kan Ratri???".
"Iya,,, kuntilanak.....".
"Mau apalagi dia kemari???".
Kuntilanak itu menampakkan diri di dekat dapur. Dia tertawa cekikikan, entah hanya berniat mengganggu atau memang memiliki
niat tertentu.
Ratri dan Nisa bersiap, kalau-kalau kuntilanak itu melakukan serangan. Namun tampaknya dia kembali menghilang. Hanya tawanya yang masih menggema di udara. Dan satu lagi, dia meninggalkan jejak telapak kaki berdarah di lantai dapur.
Perut Nisa tiba-tiba mual melihat jejak kuntilanak itu. Dia berlari ke kamar mandi dan
memuntahkan semua isi sarapannya pagi itu.
Belum selesai rasa mulanya, tiba-tiba dia melihat sosok kepala melayang dengan darah berceceran. Kepala itu berputar-putar mengelilingi ruangan kamar mandi. Kembali
perut Nisa rasanya seperti diaduk-aduk. Dia sampai berteriak kesakitan.
Ratri panik di depan pintu kamar mandi, sementara Dito segera berlari dari ruang tamu untuk melihat keadaan Nisa.
"Sayang,,, buka pintu nya".
"Tolong mas..!!!!".
Dito segera mendobrak pintu dapur.Wajah Nisa pucat pasi, dia hampir limbung tak sadarkan diri. Beruntung Dito sigap menangkap tubuhnya. Sekali lagi tawa kuntilanak itu menggema di udara.
Dito membopong Nisa ke tempat tidur. Kedua ibu dan mertuanya sigap membalurkan minyak ke telapak kakinya. Tidak berapa lama, Nisa pun akhirnya sadar.
"Darah....ada banyak darah....aku mual mas".
"Tidak ada sayang,,, lihatlah.....".
"Dia hanya ingin mengganggumu Nisa,,, kau harus kuat".
"Iya nak,,, kamu semua disini bersamamu".
Nisa sudah lebih tenang setelah mendengar
semua kata-kata keluarga nya. Entah kenapa
akhir-akhir ini Nisa sensitif sekali dengan
darah. Perutnya akan mual seketika saat ada
darah di depan matanya.
Ki Santoso lalu memperingatkan Nisa untuk lebih hati-hati, gangguan yan dialaminya akan terus terjadi, apalagi kalau mereka sampai tahu bahwa Nisa tengah mengandung.
"Usahakan jangan tinggalkan Nisa sendirian Dito".
"Kalian belum tahu apa yang akan kami hadapi, makanya kami kesini untuk memintamu menghubungi kyai Ahmad".
"Baiklah Ki,,,aku akan segera menelponnya".
"Lalu, kapan lagi kalian ke rumah Rudi".
__ADS_1
"Kita tinggal menunggu kesanggupan kyai Ahmad,,beliau harus membebaskan 38 arwah perawan yang terkurung dalam perut siluman itu".
"Dan kau Nisa,,jaga kandunganku baik- baik".
"Baik Ki....".
Mereka semua meninggalkan kamar Nisa dan kembali ke ruang tamu. Dito tetap menemani
Nisa di sisinya.
"Sebaiknya aku mencari perawat untuk mengurusnya selama aku di kantor".
"Tidak usah mas,, kantor kita kan sama,, aku ikut saja sekalian di kantor".
"Percaya mas,,,aku tidak apa-apa".
"Tapi kau harus janji untuk menjaga dirimu dengan baik".
"Ok,,mas".
Dito sangat mencemaskan kandungan Nisa,
apalagi Ki Santoso sudah memperingatkan
untuk menjaga Nisa dari gangguan makhluk halus selama kehamilannya.
Setelah menelpon kyai Ahmad, beliau setuju untuk berkunjung ke rumah Rudi. Sore ini rencananya mereka akan berangkat bersama.
Setelah Anton, Ratri dan Ki Santoso pulang, bapak masuk ke kamar Nisa. Dia memberikan kalung dari nenek buyut Nisa sebagai jimat pelindung agar tidak ada yang mengganggu bayi di kandungannya.
"Pakailah ini Nis, semoga dengan melihat ini
"Tapi ini apa pak??".
"Itu kalung emas dengan liontin berbentuk sepasang naga, kalung itu diwariskan oleh nenek buyutmu dulu sewaktu ibumu hamil dirimu".
"Kalau ada gangguan makhluk halus atau binatang buas, naga itu akan bergerak sendiri dan mengeluarkan api, sehingga lawan mereka jadi mundur ketakutan".
"Pakailah,, jangan pernah kau lepaskan".
"Setidaknya itu yang bisa bapak berikan untuk
menjaga keselamatan mu dan calon anakmu".
"Terima kasih pak, Nisa senang sekali memakai nya".
Bukan tanpa alasan bapak memberikan kalung itu kepada Nisa. Bapak ingat, dulu ketika Nisa masih bayi, waktu itu habis Maghrib, Nisa tiba-tiba menghilang dari tempat tidurnya. Rupanya ada Genderuwo yang sengaja hendak membawa Nisa.
Nisa sudah melayang ke atas di gendongan Genderuwo itu. Dia dibawa menuju ke hutan larangan. Bapak yang tengah panik mencari keberadaan Nisa. Setelah lama mencari,tiba-tiba Nisa sudah berada di tempat tidur dan tangannya menggenggam liontin naga tersebut.
Rupanya penunggu liontin itu sepasang naga
yang kemudian mengejar Genderuwo itu dan merebut Nisa dari tangannya. Setelah dilawan oleh sepasang naga penjaga, Genderuwo itu akhirnya kalah dan melepaskan Nisa. Sepasang naga itu kemudian membawa Nisa pulang dan kembali lagi ke dalam liontin yang dipegang oleh Nisa.
Itulah kenapa bapak merasa perlu untuk memberikan liontin itu untuk menjaga Nisa.
Karena sejak dari bayi pun liontin naga itu yang selalu menjaganya.
__ADS_1
"Kau jangan kaget kalau di malam-malam tertentu, sepasang naga itu menghilang dari liontin ini".
"Itu tandanya mereka sedang memperkuat ilmunya atau sedang melindungi mu dari bahaya".
"Baik pak, aku mengerti".
Bapak sangat berharap kedua naga itu akan menjadi sosok penjaga bagi Nisa dan bayi yang dikandungnya. Bapak memang sudah lama menyimpan kalung dan liontin tersebut.
Semula dia menunggu sampai Nisa siap menerima warisan tersebut.
Tapi dikarenakan sekarang situasinya sudah lain, maka bapak akhirnya menyerahkan nya pada Nisa. Dia tak ingin siluman kera itu sampai menyakiti ataupun mengambil bayi yang dikandung Nisa.
Bapak kemudian keluar kamar dan menemui besan nya. Mereka melanjutkan obrolan sambil menonton televisi.
Dito kembali masuk ke kamar membawa susu hangat. Setelah muntah-muntah tadi, perut Nisa masih belum terisi makanan.
"Ini sayang,, minum susu mu, ingat..sekarang,
kau makan untuk dua orang Lo".
"Perutku masih mual,,, aku takut nanti muntah lagi".
"Ini hangat Nisa,, kau bisa minum sedikit dulu".
Nisa menuruti kata-kata Dito. Dia minum sedikit demi sedikit. Perutnya masih belum mau bertoleransi.
Kyai Ahmad tiba di rumah Nisa sore hari. Beliau sekalian menjenguk dan memberi selamat atas kehamilan nya kepada Nisa.
Nisa kemudian menelpon Ratri dan mengatakan bahwa kyai Ahmad sudah sampai. Mereka bergegas menjemput kyai Ahmad dan membawanya ke rumah Rudi.
Kyai Ahmad memandang rumah Rudi. Dari luar tampak kabut hitam menutupi seluruh rumah. Penampakan dari jauh sudah terlihat seperti kuburan dengan dua pohon besar.
"Ini memang sudah bukan rumah lagi".
"Mereka sudah menjadikannya sarang, jadi orang awam tidak mungkin bertamu ke sini".
"Lalu bagaimana dengan penghuni nya??".
"Putri mereka sudah ikut menjadi tumbal kyai".
"Rudi semula beristrikan kuntilanak, kurasa kesadaran nya pun belum sepenuhnya
kembali".
"Hanya Yeni dan Deni yang masih punya akal sehat di rumah ini".
"Namun mereka kerap kali diserang oleh makhluk gaib di sini".
"Ayo kita masuk,,, dimana rumah siluman itu??".
"Ada di halaman belakang rumah".
"Tunggu sebentar, biar aku panggil Yeni".
Ratri menekan Bella pintu. Dia memanggil Yeni, namun tak ada sahutan. Di luar juga nampak sepi. Dia mengulangi menekan Bell.
Tak lama kemudian Rudi keluar dengan wajah
__ADS_1
marah.Dia berniat mengusir teman-teman istrinya itu.Kyai Ahmad segera tahu kalau Rudi tengah dirasuki makhluk halus.