Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Kegundahan Hati Bapak.


__ADS_3

Bapak menemui Mbah Cokro untuk mengatasi kegelisahan nya. Dia tidak tenang


karena di satu sisi telah membawa masalah di hidup Nisa. Tapi di sisi lain, liontin naga itu


sangat setia menjaga tuan nya.


"Kau ceroboh Ari,,, secara tidak langsung kau


memberikan Nisa kepada Genderuwo itu".


"Seharusnya kau simpan liontin itu, jangan kau berikan ke siapa pun".


"Waktu itu situasinya mendesak Mbah, saya tidak berpikir panjang".


"Nisa hamil muda dan ada sosok nenek tua yang membahayakan jiwanya dan calon bayi nya".


"Lalu saya harus bagaimana Mbah??".


"Aku yakin Genderuwo itu sudah bersama Nisa sekarang".


"Dan dia tak akan mungkin mau melepaskan


Nisa untuk kedua kalinya".


"Apa Mbah Cokro tidak bisa memanggilnya kembali ke hutan larangan??".


"Dia tak akan mau,, lagipula Genderuwo itu sudah bertambah sakti, kali ini akan sulit untuk memisahkan dia dari Nisa".


"Aku malah mengundang masalah bagi putri ku".


"Andai saja liontin itu tetap ku simpan saja, mungkin ceritanya jadi lain".


"Percuma kau menyesal Ari,,,semua sudah terlambat, lagipula Nisa sudah punya pelindung bukan, jadi kau tak perlu khawatir".


"Apa Nisa sudah memberitahumu tentang Genderuwo itu???".


"Dia belum menelpon Mbah, mungkin Genderuwo itu tidak berulah macam-macam".


"Sebaiknya kau peringatkan Nisa, supaya dia berjaga-jaga".


"Baik Mbah,,aku akan menelponnya".


Sampai di rumah, bapak masih saja gelisah.


Dia takut Nisa akan marah dengan nya. Namun bapak tetap memberanikan diri untuk


menelpon Nisa.


Bapak menjelaskan kepada Nisa perihal perkataan Mbah Cokro. Tak lupa dia juga meminta maaf, karena bertindak ceroboh dan malah membahayakan Nisa.


"Baiklah pak, Nisa mengerti".


"Nisa akan lebih hati-hati menjaga diri, lagipula Nisa juga belum melihat Genderuwo itu".


"Nisa,,,kalau terjadi sesuatu, hubungi bapak


biar nanti bapak dan Mbah Cokro langsung ke Jakarta".


"Mbah Cokro sedang mengupayakan memanggil Genderuwo itu pulang kembali ke hutan larangan".


"Baik pak, Nisa akan ingat pesan bapak".

__ADS_1


Nisa menutup telepon dari bapak. Dia juga menjelaskan kepada Dito semua permasalahan nya. Nisa tak ingin Dito beranggapan bahwa bapak sengaja mencelakai nya.


"Aku mengerti Nisa, lagipula memang selama ini tidak ada gangguan kan??".


"Iya,, aku berharap kita baik-baik saja mas".


"Soal itu tak usah terlalu kau pikirkan, nanti kau bisa stres dan itu akan berpengaruh ke bayi kita".


"Aku disini,siap melindungi mu 24 jam, jadi tak ada yang perlu kau takutkan lagi".


"Aku percaya,,, suamiku ini memang yang terbaik".


Nisa memeluk Dito erat. Tak perduli apapun yang akan ditemuinya nanti, Nisa yakin suaminya akan selalu ada di sisi nya. Dia tak perlu merasa ragu, takut apalagi khawatir


tentang hal gaib di luar sana".


"Kadang-kadang, kita memang dituntut untuk berani menghadapi apapun sayang!!".


"Tak perduli seberapa takutnya kita, disaat terdesak sudah pasti ada kekuatan yang nanti menggerakkan hati kita".


"Kau pun harus bisa seperti itu".


"Jangan jadi lemah hanya karena rasa trauma".


"Iya mas,, aku akan mengingat nasehatmu".


Belum selesai Dito menasehati, tiba-tiba listrik padam.Pintu kamar Nisa dibuka dan ditutup dengan kencang. Nisa memeluk suaminya sambil memejamkan mata.


"Hai.....kami sudah tahu siapa kamu..".


"Aku tak akan biarkan kau menyentuh Nisa, apalagi membawanya pergi".


"Pergi dari sini, jangan ganggu Nisa lagi".


Dito bersikap waspada, dia mengamati sekeliling ruangan sambil memeluk Nisa.


Tiba-tiba dari jendela kaca, dilihatnya sosok tinggi besar dengan mata merah menyala.


Tampaknya sosok itu tidak berani masuk ke dalam rumah.Makanya dia hanya bisa meneror penghuninya. Apa mungkin karena


liontin itu, jadi dia tidak bisa mendekat.


Dito langsung memeriksa liontin yang dipakai Nisa. Sepasang naga itu berubah posisi.Dia sekarang berjajar dengan sikap menyerang.


Dito paham sekarang, inilah yang dimaksud bapak dengan memberi liontin ini kepada Nisa.


Sepasang naga itu menyemburkan api ke arah Genderuwo di halaman rumah. Seketika listrik menyala lagi. Nisa kemudian membuka matanya.


"Sudah selesai sayang..makhluk itu sudah pergi".


"Apa benar dia Genderuwo mas?".


"Sudah,,, jangan lagi membahas hal ini, ayo kita makan".


"Acara makan kita jadi terganggu, kasihan anak papa nanti kalau sampai kelaparan".


Dito mendudukkan Nisa di ruang makan dan menyuapinya dengan mesra. Dia berharap


Genderuwo itu memperhatikan dan kemudian menjauh pergi dari Nisa.


"Tumben sekali kau romantis seperti ini??".

__ADS_1


"Tentu saja,, aku kan mencintai kalian berdua".


"Kau juga harus makan mas,,, ayo buka mulutmu".


Nisa menyuapi makan juga untuk Dito.Keduanya saling menunjukkan kemesraan.Bahkan hal itu terus berlanjut hingga ke kamar tidur. Mereka bercinta sampai larut malam. Walaupun Dito harus berhati-hati melakukannya karena Nisa masih hamil muda, tidak mengurangi keromantisan diantara mereka berdua.


Adzan subuh sudah berkumandang di masjid komplek. Dito dan Nisa masih bergelung di bawah selimut.Tubuh keduanya masih polos


karena bercinta semalaman. Nisa membuka matanya dan mencium pipi Dito.


"Sayang,,,kemarilah....kau harus tanggung jawab karena sudah menggodaku".


"Aku kan hanya mencium pipi mu mas".


"Kalau begitu.....bagaimana dengan ini".


Dito merengkuh Nisa ke dalam pelukannya.


Dia mencium bibir Nisa dalam.Ciuman dilanjutkan keduanya dengan keintiman lainnya.


Dan pagi ini, sekali lagi mereka melakukan


nya. Dito seakan tidak ada puasnya menikmati tubuh Nisa yang semenjak hamil


jadi makin kelihatan seksi.


Aktivitas mereka berakhir dengan mandi bersama. Nisa kemudian membuka pintu depan untuk membeli sarapan.Tapi Bayu sudah ada di depan pintu.Dia berdiri dengan membawa 2 kotak nasi.


"Apa yang kau lakukan di sini pagi-pagi begini?".


"Ini untukmu mbak,,, aku sedang merindukan adikku, jadi aku menunggumu bangun".


"Kau memang sudah gila,,, dari tadi kau berdiri di depan rumah??".


"Siapa sayang...??".


"Bayu mas,, dia sudah disini dari tadi".


"Ajak dia masuk,,, kasihan kalau membiarkannya di luar".


Nisa mempersilahkan Bayu masuk.Dia juga membuatkan minum untuknya. Dito kemudian membuka sarapan yang sudah dibelikannya. Mereka bertiga sarapan bersama pagi ini.


"Maaf mbak, kalau ternyata mbak Nisa nggak nyaman dengan kehadiran ku".


"Bukan begitu Bayu, untung kau tidak diteriaki maling karena nekat berdiri di depan rumah pagi-pagi buta".


"Saya keburu ingin bertemu mbak Nisa".


"Baiklah,,, tapi maaf Bayu, aku dan Nisa harus segera berangkat ke kantor sekarang".


"Kau bisa main lagi nanti saat kami sudah pulang dari kantor,, ok....!!".


"Baik mas,, saya permisi dulu".


Dito mengantar Bayu sampai ke pintu. Dia kemudian masuk dan bersiap-siap berangkat ke kantor.


"Dia bukan psikopat kan mas,,,kerjaan nya tiap hari mengawasi rumah kita Lo".


"Dia putus asa Nis, kau belum pernah merasakan kehilangan seseorang yang dicintai kan??".


"Kalau bisa berbuat baik untuk orang lain, kenapa tidak??".

__ADS_1


"Setidaknya dengan melihatmu, dia punya harapan dan keinginan hidup".


Nisa mencerna kata-kata suaminya. Dito yang mempunyai empati tinggi selalu bisa mengejutkan Nisa setiap hari dengan tindakan nya. Menolong orang yang sedang kesusahan itulah prinsip hidup Dito.


__ADS_2