Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Memulai Hubungan Baru.


__ADS_3

"Ayolah Nisa,, aku sudah sangat merindukan mu".


"Hentikan Roy, tidak pantas kau berbuat seperti ini".


"Tanah di makam Dito masih basah,, tolong...hargai perasaan ku".


Dito mendengar setiap kata yang di ucapkan Nisa dan Roy. Dia bergegas keluar dari rumah nya dan menuju rumah Nisa. Mobilnya di kendarai dengan kecepatan tinggi, agar segera sampai ke rumah Nisa.


"Kurang ajar sekali pria itu".


"Masih berani dia menggoda Nisa di sat seperti ini".


"Awas saja nanti, aku pasti menghajarnya".


Alan bergegas melajukan mobilnya masuk ke halaman rumah Nisa. Dia segera turun dan menekan bel pintu.


Roy dan Nisa terkejut mendengar bunyi bel pintu rumahnya. Buru-buru dia bangkit dan membuka pintu. Nisa menghela nafas lega. Sudah di duga itu pasti Dito. Nisa menyuruhnya masuk ke dalam rumah.


"Roy,, kau kenal Alan kan,, dia adik angkat mas Dito".


"Maaf mengganggu waktu kak Nisa, aku ada hal penting yang harus di bicarakan".


"Ini tentang wasiat bang Dito dan beberapa barangnya yang ada pada ku".


"Baiklah, kalau kalian ada urusan,aku permisi".


"Lain kali, aku ke sini lagi Nisa".


"Iya,,terima kasih Roy, sudah menjenguk ku".


Nisa mengantar Roy sampai ke depan pintu.


Setelah itu dia kembali menutup pintunya dan masuk ke dalam.


"Untung kau datang tepat waktu mas,,kalau tidak, aku tak tahu apa yang bisa di perbuat oleh nya".


"Lalu,,,sekarang apa yang akan kau berikan pada ku sebagai imbalan nya".


"Jangan bercanda mas, badan ku masih sakit semua karena semalam".


"Kemarilah,,,,mumpung anak-anak masih belum pulang".


"Jarang-jarang kan kita bisa dapat momen seperti ini".


"Berdua di kamar kita lagi,,home sweet home".


Nisa tak kuasa menolak permintaan suaminya. Mereka menghabiskan pagi itu dengan percintaan singkat karena arwah Mawar keburu datang mengacaukan suasana.


"Kalian,,,tak tahu malu bercinta di depan ku".


"Justru kau hantu yang tak tahu malu".


"Pergi sana, jangan ganggu aku dan Nisa".


"Dito,,aku bahkan sudah melihat semua yang ada di tubuhmu".


"Sayang sekali karena ini adalah tubuh Alan, dan kau belum pernah menyentuhnya sama sekali".

__ADS_1


"Mawar,,,setidaknya biarkan aku berpakaian dulu, pergi sama!!".


"Iya,,,iya...aku akan kembali lagi nanti".


Nisa segera mengenakan pakaian nya kembali dan menoleh pada Dito yang masih berbaring santai di ranjang.


"Tunggu apalagi, kenakan pakaian mu cepat".


"Kenapa,,Mawar kan sudah pergi".


"Ini jam anak-anak pulang,aku tak mau Sofia melihat mu seperti ini".


"Baik, tapi berjanjilah...nanti malam kita ke rumah ku lagi".


"Iya baik,,cepat berpakaian dan keluar".


"Itu sepertinya mobil mereka".


Buru-buru Alan bangkit dari ranjang dan memakai pakaian nya. Selanjutnya dia duduk di sofa, sementara Nisa membuka pintu dan menyambut si kembar.


"Kalian sudah pulang rupanya,,ayo..di dalan ada om Alan sedang menunggu".


"Ini dia yang aku tunggu,,ayo Sheila, Sheina, om punya sesuatu untuk kalian".


"Satu untuk Sheila, satu untuk Sheina dan satu lagi untuk kak Sofia yang baik hati".


"Terimakasih atas hadiahnya".


Si kembar masuk ke kamar setelah berterima kasih pada Alan. Sofi tersenyum sambil sesekali mencuri pandang ke arah Alan. Nampaknya gadis itu menaruh hati pada pemuda yang sering mengunjungi Nisa akhir-akhir ini.


"Kenapa kau menatap ku seperti itu??".


"Nanti malam kau ambil sendiri hadiah mu di rumah ku".


"Kau terlalu percaya diri".


"Apa kau tak lihat tatapan mata Sofi padamu, setiap kali kau datang kemari??".


"Mungkin dia jatuh cinta pada Alan yang ganteng ini".


"Jangan menggodaku Nisa, atau aku tak akan mengampuni mu nanti".


Nisa masih berbincang sebentar dengan Alan. Lalu pemuda itu pamit pulang. Sofia ada di rumah, dia tak mau gadis itu curiga dengan hubungan mereka.


Setelah Alan pergi, Sofi datang ke kamar Nisa. Dia baru saja menidurkan si kembar. Dia sepertinya ada keperluan dengan Nisa.


"Bu,,, ibu tidak sedang sibuk kan??".


"Memang nya ada apa Sofi, tumben kau sampai datang ke kamar ku".


"Sofi cuma ingin ngobrol sama ibu,, sudah lama kan Bu, kita tak pernah ngobrol seperti ini".


"Ya,, baiklah...mumpung hari ini aku libur".


"Semenjak pak Dito pergi, rumah ini jadi sepi ya bu??".


"Iya Sofi,,kau benar sekali".

__ADS_1


"Ibu tidak kepikiran untuk mencari pengganti pak Dito??".


"Untuk saat ini belum Sofi,, aku masih ingin membesarkan anak-anak".


"Lalu pak Roy bu??".


"Memangnya Roy kenapa,, dia hanya teman ku".


"Ah...tidak, saya pikir dia akan menikah dengan ibu".


Siang itu, Nisa tak jadi beristirahat. Dia ngobrol dengan Sofia sampai anak-anak terbangun. Tak terasa hari memang sudah sore. Nisa lalu ingat janjinya dengan Dito. Dia bergegas mandi dan berdandan. Nisa tak mau Dito sampai kecewa padanya.


"Sampai di mana kau,, aku sudah menunggu mu di dekat taman".


"Aku masih di rumah, sebentar lagi aku keluar".


"Ada yang harus ku kerjakan tadi, jadi aku hampir kelupaan".


"Cepatlah,,aku tunggu sekarang".


"Sabar mas,,ini juga baru jalan".


Alan menunggu Nisa di dalam mobilnya yang terparkir di samping taman. Rencananya mereka akan kembali menghabiskan malam bersama. Namun keduanya masih harus bersembunyi dari orang-orang, mengingat tak ada yang tahu perihal yang terjadi kepada Alan dan Dito.


Setelah beberapa saat menunggu, Nisa mengetuk kaca mobil Alan. Dia segera membukanya dan Nisa langsung masuk ke dalam. Keduanya bergegas menuju ke rumah Alan. Banyak hal yang sudah dipikirkan oleh Nisa akan dilakukan di rumah Alan nanti.


"Malam ini kau menginap kan??".


"Aku belum tahu mas,,tapi bagaiman dengan kedua orang asisten Alan tersebut".


"Kau tenang saja,,mereka tak akan mengganggu kita".


"Aku sudah menyuruh mereka liburan di hotel selama dua hari".


"Dan mereka mau??".


"Tentu saja,,sudah lama sejak Alan sakit, mereka tak pernah keluar rumah".


"Baguslah,, jadi kita punya waktu dua hari untuk mencari tahu".


"Yang pasti untuk berbulan madu dengan mu".


Nisa merasa tenang karena asisten Alan tidak ada di rumah nya. Untuk selanjutnya hanya tinggal mengumpulkan informasi dari rumah Alan tersebut.Nisa harus bisa memecahkan misteri tentang Alan ini.


"Kita sudah sampai,,,ayo masuk".


"Aku merasa aneh setiap kali masuk ke sini, seperti ada seseorang yang tengah mengawasi".


"Itu hanya perasaan mu saja".


"Tidak ada siapa-siapa di sini".


"Malam ini hanya ada kita berdua Nisa".


Nisa dan Dito memasuki rumah Alan. Mereka langsung menuju kamar pribadinya. Alan tipikal orang yang perfeksionis rupanya. Tak ada barang terlewat sedikit pun. Bahkan kamarnya bersih dan rapi.


Nisa mengambil laptop yang ada di laci meja belajar nya. Dia menyalakan nya, sementara Dito sedang mengambil minuman. Rupanya laptop Alan terkunci, makanya Dito tak bisa membukanya. Nisa berpikir tentang kata sandi yang mungkin di pakai olehnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2