
"Itulah sebab nya ku bilang untuk memulai dari awal lagi".
"Aku sudah sedikit mencari gambaran pemuda ini".
"Hanya seorang ibu paruh baya yang kerap kali menunggunya".
"Aku yakin dia belum punya istri atau pun anak".
"Anggap saja kita mulai pacaran lagi dan menikah lagi".
"Lalu, apa kau memikirkan kedua putri mu,, mereka tidak akan pernah melihat wajah ayah nya lagi".
"Orang tua mu, semua yang menyayangi mu akan kehilangan diri mu".
"Lalu apa kau memilih untuk tetap bertahan".
"Dengan arwah yang bergentayangan, dan tubuh yang sudah rusak semua".
"Tak akan mungkin Nisa,, mungkin memang aku masih ada, tapi hanya sebagai mayat hidup".
"Ini jauh lebih baik,, dalam hidup kadang memang kita mesti berkorban".
"Pengorbanan ini sebanding dengan waktu ku untuk menemani kalian".
"Semua orang akan mati,, tapi setidaknya aku masih punya satu kesempatan".
"Ayo kita jalani ini,,, mungkin tidak mudah, tapi kalau kau bersamaku, semuanya akan menjadi mudah''.
Nisa terdiam. Semua kata-kata Dito benar. Memang harus ada yang di korbankan dalam hidup.Entah itu materi,waktu atau perasaan.
Karena hidup terus berjalan,, maka nya Nisa berusaha menerima keadaan ini.
Nisa keluar bersama Alan. Mereka duduk di koridor rumah sakit. Jenazah Dito sedang di mandikan dan sebentar lagi di bawa pulang.
"Kembali lah ke kamar mu,, atau orang-orang akan curiga nanti".
"Aku akan keluar dari sini dan menemani mu ke rumah".
"Jangan,,,itu sangat beresiko, tetap lah disini,, aku akan menghubungi mu nanti".
"Pergilah,,sebentar lagi aku akan membawa tubuhmu pulang".
Nisa menelpon Anton dan Roy untuk mengabarkan kematian Dito.Nisa meminta bantuan mereka untuk mengurus persiapan di rumah. Tak lupa, Nisa juga menghubungi
kedua orang tua nya agar segera tiba di Jakarta.
"Nisa,, kau baik-baik saja kan??".
"Maafkan aku untuk semua ini".
"Tak apa Mawar, semuanya sudah terjadi".
__ADS_1
"Kita hanya harus ikhlas menerimanya bukan?".
"Lalu kau sendiri,, kenapa masih di sini".
"Urusan ku masih belum selesai, aku masih harus mengembalikan ini ke rumah ku".
"Dan itu otomatis memberitahukan kabar kematian ku".
"Aku sebenarnya ingin kau yang melakukan nya".
"Tapi nanti saja, setelah urusan Dito selesai".
Pikiran Nisa entah kemana, omongan Mawar tidak sepenuhnya di dengar oleh Nisa. Mereka justru di kejutkan dengan kedatangan Roy ke rumah sakit. Dia langsung memeluk Nisa dengan erat.
Nisa sebenarnya sungkan dengan perlakuan nya, tapi dia mengerti maksud Roy. Sesaat kemudian Nisa melepaskan diri darinya.
"Aku turut berduka cita Nisa".
"Kau jangan sungkan,, segera telpon aku kalau kau membutuhkan sesuatu".
"Terimakasih Roy,, aku baik-baik saja sekarang".
"Persiapan di rumah mu sudah di urus Anton dan Ratri".
"Kita bisa segera pulang kalau sudah selesai administrasinya".
"Tunggu sebentar lagi,, nanti mereka akan memanggil ku".
Dan Dito tak akan membiarkan hal itu terjadi. Dia akan menjaga Nisa sampai kapan pun, walaupun kini dalam tubuh orang yang berbeda.
Roy kembali dari kantin rumah sakit membawa minuman dan makanan untuk Nisa. Dalam situasi ini, harus ada yang memperhatikan dirinya. Dan Roy tak mau melewatkan kesempatan untuk berada di dekat Nisa dan memberinya dukungan.
"Minumlah,,kau juga harus menjaga kesehatan mu".
"Kalau kau ikut sakit, siapa yang akan mengurus si kembar".
"Terimakasih atas perhatian mu Roy".
"Jangan sungkan,, kau tahu kan aku bisa diandalkan.....".
Nisa mencoba tersenyum dengan candaan dari Roy. Dia minum dan makan sedikit untuk menghormati Roy yang sudah perduli padanya. Tak berapa lama, dokter memanggil Nisa untuk menyelesaikan administrasi kepulangan jenazah Dito. Setelah semua selesai, Nisa ditemani Roy memasuki mobil jenazah.
Mereka tiba di kediaman Nisa dengan di sambut oleh warga sekitar. Para pelayat juga sudah banyak yang hadir di rumahnya. Jenazah segera di semayamkan di dalam rumah Nisa. Sementara dirinya langsung menemui kedua putri kembarnya.
Nisa kembali menangis di pelukan Sofia dan Ratri. Dia menumpahkan perasaan kehilangan nya. Dengan memeluk putri kembarnya, Nisa terlihat larut dalam kesedihan.
Malam itu juga orang tua Nisa dan Dito tiba di Jakarta dengan menggunakan pesawat. Mereka sangat terkejut dengan meninggalnya Dito. Pasalnya, Nisa tak pernah mengabari mereka tentang kecelakaan yang menimpa suaminya.
Mereka semua larut dalam tangisan haru. Baik orang tua Nisa maupun Dito memeluk erat Nisa saling menguatkan. Mereka memberi semangat kepada Nisa agar kuat demi kedua putrinya.
Hari semakin larut malam. Hanya tinggal pihak keluarga dan teman yang masih berada di rumah duka. Beberapa warga sebagian sudah ada yang pulang.
__ADS_1
Nisa dan keluarganya masih menunggu jenazah Dito yang di semayamkan di ruang tamu.Dari pintu depan rumahnya, seorang pemuda masuk dan menghampiri jenazah Dito. Dia menangis merasa sangat kehilangan.
Hanya Nisa yang tahu tentang pemuda itu. Dia adalah Alan.Pemuda yang bertukar jiwa dengan Dito. Nisa tentu saja terkejut dengan kehadiran nya di rumah. Apalagi semua keluarga tidak ada yang mengenalinya.
Pemuda itu kemudian mendatangi keluarga Nisa dan Dito. Tak lupa dia memberikan pelukan untuk semua orang. Sampai-sampai kedua orang tuanya keheranan.
"Maaf nak, kau siapa,,kami tidak mengenal mu".
"Ah.....ya Bu,,perkenalkan saya Alan".
"Saya ini adik angkat nya bang Dito".
"Dia lah yang telah membiayai kuliah saya selama ini".
"Bahkan kak Nisa juga sudah mengetahuinya".
Nisa gugup mendengar kata-kata Alan. Dia terpaksa harus mengikuti sandiwara yang telah di buatnya, agar semua orang tidak curiga.
"Ah....ya ma,,,,mas Dito tak pernah cerita ke siapa pun kalau punya saudara angkat".
"Alan sudah beberapa kali kemari ma".
"Anak-anak juga sudah lengket sama dia".
"Aku dan mas Dito sudah anggap Alan seperti keluarga".
"Ah ...mulianya hati anakku Dito".
"Iya Tante,,,bahkan di saat terakhirnya bang Dito menitipkan kak Nisa dan anak-anak pada saya".
"Beliau orang yang sangat baik".
"Kalau tak keberatan, mulai sekarang saya yang akan menggantikan bang Dito mengurus kalian".
"Ini wujud dari balas Budi saya kepada Abang".
"Terimakasih nak Alan,,ibu sangat senang mendengarnya".
"Tapi omong-omong kenapa gaya bicara mu mirip Dito ya??".
"Atau mungkin hanya perasaan ibu saja".
"Ibu boleh anggap saya sebagai bang Dito".
"Kapan pun,, jangan sungkan untuk meminta bantuan saya".
"Saya akan berusaha untuk selalu berada di sisi kalian".
Nisa dan kedua orang tuanya menyambut baik niatan Alan. Mereka merasa kalau semua yang ada pada Alan mengingatkan tentang Dito. Mereka seolah merasa Dito tidak meninggal.
Kalau orang tua Nisa merasa terbuka dengan kehadiran Alan, lain halnya dengan Roy. Dia merasa seperti ada keanehan. Mengingat dirinya sama sekali tidak pernah melihat pemuda ini. Dito juga tidak pernah sekalipun terlihat bersamanya. Diam-diam Roy sedang mencari tahu identitas pemuda yang baru saja datang ini.
__ADS_1
...****************...