
Nisa mempersilahkan Alan untuk duduk di sofa ruang tamu nya. Sementara, Nisa sendiri sudah menunggu tentang apa yang akan di bicarakan oleh Alan.
"Katakan Alan, kau mau bicara apa?".
"Tentang Sheila bu,, apa benar anak itu bisa melihat makhluk tak kasat mata??".
"Soalnya dia tadi bilang kalau dia melihat bu Sri dan pak Paijo, padahal kita tahu kan bu, mereka berdua sudah meninggal".
"Iya Alan,,, kedua putri saya sepertinya memang memiliki indera ke enam".
"Jadi jangan heran kalau mereka sering bicara aneh-aneh".
"O....pantas saja bu,, mungkin memang mereka berdua mewarisi kemampuan ibu dan pak Dito".
Alan sebenarnya hanya berusaha memancing ingatan Nisa. Makanya dia sengaja menyebut nama Dito di depan Nisa. Alan ingin melihat bagaimana reaksi Nisa terhadap almarhum suaminya tersebut.
"Apa kau juga mengenal Dito??".
"Terus terang ingatan ku akan mendiang suami ku masih samar-samar".
"Tentu saja bu, bahkan beliau adalah kakak angkat saya".
"Lihat bu,, saya bahkan masih menyimpan foto kalian berdua".
Nisa mengambil ponsel Dito dan memperhatikan dengan seksama. Foto dirinya dan Dito saat sedang selfie berdua. Nisa berusaha mengingat-ingat, tapi memori di kepalanya tak kunjung terkoneksi. Dia sama sekali tak mengenali wajah mendiang suaminya itu.
"Maaf Alan, kepalaku masih belum bisa mengingat tentang Dito".
"Lagipula Roy sudah bilang kalau tidak perlu lagi mengingat kembali orang yang sudah pergi".
"Yang terpenting sekarang adalah anak-anak".
"Maaf kan saya bu Nisa, saya sama sekali tidak tahu".
"Ah....pasti pak Roy memarahi saya nanti, kalau tahu saya menunjukkan foto kak Dito pada bu Nisa".
"Jangan khawatir Alan, aku tak akan bilang pada Roy".
"Kalau sudah selesai kau boleh pergi,, kepalaku sakit sekali rasanya".
"Baik bu Nisa, saya permisi dulu".
Alan meninggalkan ruang tamj sambil sesekali melihat ke arah Nisa. Rupanya umpan yang di berikan oleh Alan mengena kepada Nisa. Tentu saat ini dirinya berusaha mengingat kenangan nya pada Dito suaminya.
__ADS_1
Nisa mengambil ponselnya dan menelpon Roy. Entah kenapa kepalanya tiba-tiba terasa pusing.
Apakah karena dia berpikir terlalu keras pada saat bersama Alan tadi. Ataukah ada hal lain yang mengganggunya.
"Ada apa Nisa,, apa ada sesuatu yang terjadi??".
"Sayang,, apa kau masih lama di rumah mbah Cokro?".
"Kepala ku tiba-tiba sakit sekali".
"Perasaan kau tadi baik-baik saja kan Nisa?".
"Iya sayang,,, tapi sekarang aku butuh obat, tolong kau belikan di apotik".
"Baik lah Nisa,, aku segera kembali, kau berbaring saja di kamar, tunggu aku pulang".
Roy terlihat panik. Dia lantas berpamitan pada bapak dan mbah Cokro. Padahal Roy baru saja sampai, dan dia harus ke apotik dulu. Nisa jauh lebih penting daripada masalah lain nya.
Nisa masuk ke kamar setelah menitipkan si kembar pada ibu. Sofi baru besok kembali dari kota. Ujian nya tidak bisa di tinggalkan. Makanya Roy menyuruh nya membawa si kembar ke sini sementara.
Nisa berusaha memejamkan mata sambil menunggu kedatangan Roy, tapi bayangan-bayangan buruk berkelebat di benak nya. Silih berganti seperti putaran film di bioskop.
Terakhir dia mendapat penglihatan tentang Paijo dan Sri yang di habisi dengan begitu kejam.Sayangnya sosok itu samar terlihat di bayangan Nisa, hanya berulang kali melihat pembunuh itu memegang pisau besar.
"Sayang....bangun lah....Nisa,,, sadar lah".
"Roy,, bu Sri....wanita itu membunuhnya,, dia sangat jahat Roy!!!".
"Apa yang kau katakan,, wanita mana yang kau maksud".
"Ayo bangun....minum lah obat mu, kau pasti bermimpi buruk lagi".
"Aku sudah bilang kan, jangan berpikir terlalu berat, begini akibat nya".
Roy menyodorkan segelas air putih dan obat sakjt kepala yang baru di beli olehnya.Perlahan-lahan Nisa mulai bisa menguasai keadaan. Dia tidak lagi terkena serangan panik.
"Kau jangan lagi memikirkan apapun, urusan di rumah kita, biar aku yang membereskan nya".
"Bapak dan mbah Cokro sedang mencari keberadaan mama".
"Maaf Roy,, aku sudah banyak menyusahkan mu".
"Tidak sayang,, aku hanya tak ingin kau sakit".
__ADS_1
"Apapun bisa ku hadapi, tapi tidak kalau melihat mu menderita".
"Kau lah sumber kekuatan ku Nisa".
"Asal bersama mu, aku bisa melewati apapun".
Nisa memeluk Roy dengan erat.Tak perlu lagi mengingat yang sudah pergi kalau ada yang seperti Roy. Nisa terlalu terpengaruh oleh Alan, jadi malah menyiksa dirinya sendiri.
Alhasil sepanjang sore, Roy hanya menemani Nisa di kamar nya. Polisi juga belum memberi kabar sama sekali. Entah misteri apa yang sebenarnya terjadi di rumah baru nya. Dua orang tewas sekaligus, dengan tubuh yang masih belum bisa di temukan. Roy pusing sendiri memikirkan nya.
Saat malam tiba, bapak berbincang dengan Roy.
Pria itu tahu dari mbah Cokro tentang kejadian yang sebenarnya. Tapi bapak tak kuasa untuk mengatakan pada Nisa dan Roy. Biarlah polisi nanti yang menerangkan langsung, saat kasus nya terungkap.
"Sebaiknya kau pindah saja sekolah si kembar di sini Roy, biar ibu mu yang mengurus mereka".
"Tapi pak, saya sudah menyewa rumah di kota".
"Lebih kecil dari rumah kami, tapi saya yakin Nisa dan anak-anak pasti betah".
"Rumah lama biar nanti di jual setelah tidak di jadikan tkp oleh polisi".
"Itu pun baik Roy, tapi bapak tak izin kan kalian pergi kalau kasus pembunuhan di rumah mu belum terungkap".
"Biar anak-anak tetap di sini,jadi mereka tidak akan tahu yang sudah terjadi di rumahnya".
"Bapak benar,, jangan sampai mereka takut atau trauma".
Alan mendengarkan dari ruang tamu. Tak berapa lama, pandangan nya tertuju pada wanita cantik yang lewat di depan rumah Nisa. Seolah sudah kenal, tangan nya memberi isyarat agar Alan mengikutinya.
Bapak dan Roy tentu saja terkejut melihat Alan keluar rumah melewati mereka berdua. Dia berjalan menuju ke arah hutan, sambil terus tetsenyum. Bapak dan Roy saling berpandangan, untuk seterusnya mengejar Alan.
"Alan,, kembali...kau mau kemana?".
Alan sama sekali tidak menghiraukan panggilan bapak dan Roy, karena asyik berbincang dengan wanita cantik yang mengajaknya itu.Keduanya berjalan semakin jauh. Bapak dan Roy sampai kepayahan mengejar nya.
"Tunggu....jangan kau ganggu keluargaku lagi".
"Lepaskan anak itu, atau aku akan memberi mu pelajaran".
"Hi......hi.......hi.....hi...!!!".
Mendengar ancaman bapak yang berdiri sambil memegang kdris kecilnya, wanita jadi-jadian itu terbang sambil tertawa cekikikan. Begitu sadar, Alan seperti orang linglung. Bapak dan Roy membawanya kembali ke rumah.
__ADS_1
...****************...