Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Pria Misterius.


__ADS_3

Rumah Alan terletak jauh di pinggiran kota. Untuk ukuran rumah di kota, rumah Alan memang jauh lebih besar. Hampir mirip kastil di luar negeri. Bangunan rumahnya pun mengambil ide dari sana. Ornamen serta hiasan dinding nya mencerminkan gaya klasik kuno. Lukisan tokoh-tokoh dunia ada di dalam rumahnya. Kesan mistis nampak sekali


ketika masuk ke dalam rumahnya.


Di rumah yang besar ini, Alan hanya tinggal dengan asisten nya. Sepasang suami istri paruh baya yang sudah lama bekerja di rumah Alan. Bahkan ketika Alan di rumah sakit pun, mereka yang bergantian menjaganya. Sampai sekarang pun, Dito yang sudah menempati tubuh Alan, belum tahu tentang seluk beluk kehidupan nya.


Alan sejak tadi masih berada di parkiran. Entah apa yang di lakukan nya. Dia tak juga masuk menyusul Nisa. Dia merasa asing di tengah rumah yang aura nya menyeramkan seperti ini.


"Silahkan non, bibi tinggal ke belakang dulu".


"Sebentar lagi den Alan ke sini".


"Iya bi, terima kasih".


Dua cangkir teh manis beserta cemilan disajikan oleh bibi untuk Nisa. Sejenak Nisa ragu untuk meminumnya, tapi kemudian Alan yang datang dari luar, langsung saja mengambil cangkir dan meminum teh nya.


"Kau tahu,,teh buatan bibi ini rasanya lain".


"Kau harus coba,,,kau pasti ketagihan ingin meminum nya".


"Dari mana saja kau, lama sekali di luar".


"Aku hendak mengusir teman gaib mu itu, tapi entah kenapa dia pergi sendiri".


"Seperti ketakutan melihat sesuatu".


"Kau minumlah dulu, dan aku akan tunjukkan kamar ku padamu".


"Untuk apa,,aku kan tamu di sini".


"Tenang saja, bibi dan paman tak akan mengganggu kita".


"Ayo,,,ikut lah dengan ku Nisa".


Alan menggandeng tangan Nisa menaiki tangga memutar ke lantai atas. Sepertinya dalam beberapa hari saja, dia sudah hafal dengan keadaan di rumah Alan. Namun Nisa


masih saja merasa ada yang janggal di rumah Alan ini.


Di lantai atas ada dua kamar yang masing-masing di lengkapi dengan balkon. Mirip seperti di hotel. Sementara masih ada satu ruangan lagi di lantai atas. Entah di gunakan untuk apa Nisa benar-benar tak tahu.


Nisa dan Dito masuk ke kamar pribadi Alan. Aroma melati jelas sekali tercium dari dalam ruangan pribadi Alan. Ada banyak lukisan wanita cantik di sana. Salah satunya Nyi Roro kidul. Nisa menatap satu persatu lukisan di dinding. Semuanya tampak hidup dan memandangi Nisa. Dia jadi bergidik di buatnya.


"Kenapa kau tak nyaman di tempat ini".


"Entahlah.....alih-alih nyaman, aku malah merasa takut".

__ADS_1


"Mereka semua menatap ku tampaknya".


"Kita bisa buka tirai nya, agar terlihat pemandangan luar".


Alan menekan tombol remote. Seketika, tirai membuka dan hanya terlihat kaca sebagai pembatas kamar Alan. Tentu saja gemerlap lampu di bawah terlihat sangat indah. Suasana kota nampak dari ketinggian rumah Alan.


"Satu lagi,, ayo ikut aku".


"Aku akan tunjukkan keindahan dunia padamu".


Alan membawa Nisa memasuki lift dan membawanya naik ke lantai atas. Mereka keluar dari lift dan di sambut angin kencang yang menerpa wajah keduanya. Kamar tidur terbuka lengkap dengan fasilitas mewah di dalamnya. Dari atas bahkan pemandangan terlihat jauh lebih indah.


"Apalagi ini Dito,,, ini indah sekali".


"Ya,, itulah mengapa aku memaksamu kemari".


"Alan ini punya cita rasa yang tinggi rupanya".


"Interior mewah seperti ini, sayang sekali dia tak sempat menikmatinya".


"Lihatlah,,, kita bisa melihat kota Jakarta dari atas sini, tanpa khawatir ada yang mengganggu".


Dito meraih remote di atas meja. Dia juga menekan tombolnya. Seketika muncul kaca dari dalam dinding menutup seluruh ruangan tersebut. Layaknya rumah kaca, otomatis bisa di pasang dan di buka tergantung cuaca.


Lagi-lagi Nisa terpana. Dia takjub melihat kecanggihan rumah yang di miliki oleh Alan.


"Ayo,,,kemarilah Nisa....!!".


"Sudah lama sekali aku merindukan mu".


"Dito,, jangan di sini,, aku tak enak ini bukan rumah kita".


"Dan kau,,, tubuh mu milik Alan bukan??".


"Apa bedanya sekarang,,, aku di depanmu".


"Aku ini suami mu bukan??".


Dito memeluk erat tubuh Nisa. Dia mencoba membelai rambutnya dan perlahan turun ke bibirnya. Dito mengusap pelan bibir merah merekah itu. Kemudian dia menciumnya lembut.


Nisa tak kuasa menolak. Dia juga sangat merindukan suaminya tersebut. Semua perlakuan dan sentuhan itu sama seperti milik Dito. Nisa larut dalam gairah dan cinta dari Dito. Angin malam yang berhembus sepoi-sepoi dan suasana rumah kaca yang temaram menambah kesan romantis.


Nisa dan Dito melupakan segalanya. Gairah dan rindu telah bercampur menjadi satu. Keduanya saling memiliki malam itu, sebagai sepasang suami istri. Walaupun tubuh nya milik Alan, tapi perlakuan dan ucapan nya segalanya adalah Dito.


Mereka bercinta di bawah langit malam dan ditemani oleh bintang dan rembulan. Suami istri itu seakan melampiaskan segala rasa dan kecemasan di hatinya. Penyatuan yang dalam dan lama. Keduanya terbaring kelelahan di bawah deru angin malam yang semakin menggigit.

__ADS_1


"Aku mencintai mu Nisa".


"Aku juga mas,, aku mencintaimu".


"Semoga selamanya seperti ini,, tak ada lagi yang akan memisahkan kita".


"Semoga sayang....".


Dito mengecup kening Nisa dan menyelimuti tubuh mulus istrinya. Bersamaan dengan itu, sekelebat bayangan seperti lewat di depan mereka. Nisa tersadar dan segera bangun dan mengenakan pakaian nya.


"Bangun mas,, seperti nya ada yang mengawasi kita".


"Cepat, pakai kembali pakaian mu, kita pergi dari sini".


"Ini rumahku,, kau ini kenapa??".


"Aku takut sekali mas,, seperti ada yang aneh".


Nisa mengumpulkan kembali kesadaran nya. Dia menatap suaminya. Seketika dia menyadari kalau wajah itu milik Alan. Suaminya meminjam tubuh pemuda tersebut supaya bisa tetap hidup.


Nisa mengusap wajahnya. Dia seperti orang yang kebingungan. Tak tahu apa yang baru saja di buat nya.


"Minumlah.....kau akan lebih baik".


"Aku melihat ada bayangan lewat di sini tadi".


"Kau mungkin berhalusinasi,, tidak ada siapa-siapa di sini".


"Hanya ada kita berdua sayang,,".


"Tetap saja aku takut mas".


"Sebaiknya antar aku pulang sekarang".


"Baik,,, tunggu sebentar!!".


Nisa minum secangkir teh yang ada di meja. Entah sejak kapan minuman itu ada di sana. Benar saja, minuman itu terasa lain sekali, yang jelas Nisa merasa rileks dan tenang setelah meminumnya.


"Yakin tidak mau bermalam di sini saja".


"Besok pagi aku antar kau pulang".


"Tidak,,kasihan anak-anak di rumah bersama Sofia".


"Baiklah,,,ayo.....kita turun".

__ADS_1


Nisa memegang tangan Alan dengan kencang. Entah kenapa rumah ini seperti lain dari ketika dia datang tadi. Seperti auranya berubah setelah tengah malam. Dalam hati Nisa berjanji untuk secepatnya mencari tahu tentang Alan dan keluarganya. Malam itu juga dia meninggalkan kediaman Alan dan kembali ke rumah nya.


...****************...


__ADS_2