Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Genderuwo itu Muncul lagi.


__ADS_3

Hari sudah semakin siang, rombongan Nisa kemudian menyudahi acara liburan mereka di pantai. Lagipula kasihan si kembar kalau harus berpanas-panas an dibawah terik matahari. Bapak dan juga Roy sudah lebih dulu berjalan ke tempat parkir, ketika Dito menarik tangan Nisa.


"Ular besar apa yang dimaksud oleh Roy tadi?".


"Apa ada yang mengganggumu lagi??".


"Tidak mas, kau tenang saja, Roy baru pertama datang ke sini, mungkin dia disambut oleh penghuni tempat ini".


"Bukan nya ibu ratu yang menghuni tempat ini??".


"Ibu ratu penguasa di sini, selain itu ada Nyi Blorong dan yang lainnya".


"Sudah mas jangan bahas itu lagi, sebaiknya kita susul mereka di parkiran".


Dito memegang erat tangan Nisa. Mereka berjalan bergandengan menuju tempat parkir.


Dari kejauhan, tampak siluman ular itu masih


berada dia atas laut. Dia seolah enggan melepaskan Nisa dari pandangan nya. Mahkotanya terlihat berkilauan ditimpa cahaya matahari.


"Sekarang, ibu sama bapak mau kemana lagi?".


"Mumpung Nisa dan mas Dito masih di Jogja Lo,, nanti kalau sudah balik ke Jakarta, kita nggak sempat piknik-piknik lagi".


"Liburan nya dilanjut besok lagi,, ini anakmu sudah kepanasan Lo, mereka juga kelihatan sudah ngantuk".


"Bapakmu bener Nis,, kita pulang dulu saja,, yang muda-muda, Monggo kalau mau lanjut jalan-jalan".


"Iya Sofi, kamu boleh Lo, kalau mau jalan-jalan lagi".


"Atau kau minta antar pak Roy saja,, sekalian jelajah alam Jogja".


"Sofi ikut Bu Nisa saja, lagipula saya sudah kangen banget sama si kembar".


"Kamu gimana Roy??".


"Aku juga ikut kalian,, pingin icip-icip sayur lodeh buatan ibu".


Akhirnya rombongan itu sepakat meninggalkan pantai dan kembali ke rumah orang tua Nisa. Mereka tiba di rumah pas jam makan siang. Bapak dan ibu segera turun dan masuk ke dalam rumah. Mereka menyiapkan makan siang untuk Roy dan Sofia.


"Bu, Sofi tidur disini saja ya,,di hotel sepi nggak ada si kembar".


"Boleh,,tapi lesehan ya, bareng- bareng di depan TV".


"Nggak papa Bu".


"Ayo sini,, pada makan dulu, nih...ibu udah siapin sayur lodeh".


"Iya Bu,, beres pokoknya!".


"Nis,, besok kita ada pertemuan ya,, aku jemput kamu jam 10".


"Ya,, tenang aja, kan Sofi udah balik ke sini".


"Trus, aku ngapain dong, ini?".


"Kamu ikut bapak aja Dit, kita mau persiapan karnaval".

__ADS_1


"Ya......boleh deh pak".


Mereka masih asyik berbincang sambil menyantap makan siang bikinan ibu. Sayur lodeh dan ayam goreng kampung, menu sederhana, namun rasanya istimewa.


Setelah makan siang, Roy pamit untuk kembali ke hotel, sementara Sofi tetap tinggal


di rumah Nisa. Sofia menidurkan si kembar, sementara Nisa dan Dito memilih untuk berjalan-jalan di sekitar desa.


Mereka berdua sengaja hanya berjalan kaki. Sedianya mau ke pasar desa, tempat Nisa bekerja dulu. Mereka melewati deretan pohon tebu yang sebentar lagi dipanen. Di persimpangan jalan ke arah hutan larangan, nampak seorang pemuda berjalan ke arah mereka.


Nisa memperhatikan dengan seksama. Wajah familiar yang tak asing baginya. Begitu pemuda itu mendekat, barulah dia mengenali pemuda tersebut.


"Dion,,, kau juga sedang berlibur di sini???".


"Iya Nisa, apa kabar mu?".


"Aku baik,,, omong-omong kau dari mana??".


"Aku baru dari hutan".


"Hati-hati Lo,, jangan bepergian sendirian".


"Iya Nisa".


Sepanjang obrolan kami bertiga, raut wajah Dion tampak aneh. Dia lebih banyak menunduk ke bawah, dan tak sekalipun menatap wajah ku dan mas Dito. Raut wajahnya pun tampak tak bersahabat.


Semilir angin sore yang bertiup membuat Nisa dapat mencium aroma busuk seperti limbah kamar mandi. Dan juga bau singkong bakar yang menyengat, membuat bulu kuduk


Nisa berdiri. Saat Nisa mengutarakan hal tersebut, Dion cepat-cepat berpamitan dan meninggalkan Nisa dan Dito.


"Rupanya semua orang pulang kampung, untuk merayakan festival di sini ya mas".


"Sudahlah..jangan diingat lagi, kasihan Dion, harus kehilangan kedua orang tuanya sekaligus".


"Pantas saja sewaktu bertemu kita, raut wajahnya jadi murung".


Nisa dan Dito melanjutkan perjalanan mereka. Tanpa sadar, keduanya diawasi oleh sesosok makhluk halus yang sedari kemarin susah menyambut kedatangan nya. Dari balik pohon tebu, sosok makhluk halus itu terus mengintai dan mengawasi keduanya.


Di pasar desa, Nisa membeli perlengkapan, sementara Dito pamit untuk ke kamar kecil.


Dito datang ketika Nisa sudah selesai berbelanja. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan pulang.


Dito yang habis dari kamar mandi, langsung menghampiri Nisa ke toko. Namun pemilik toko mengatakan sesuatu hal yang membuat Nisa terkejut.


"Lo,, masih kurang ya mas belanjanya, suruh balik lagi kesini??".


"Maksudnya,,, memang Nisa sudah selesai??".


"Mas ini gimana to, bukan nya tadi pulang berdua".


"O,,,iya......maaf mbak, saya yang lupa meninggalkan Nisa di belokan depan".


"Saya permisi ya mbak".


Dito langsung bergegas berlari mengejar Nisa. Dito berpikir keduanya mungkin belum terlalu jauh.


"Inilah yang ku khawatirkan kalau ke sini".

__ADS_1


"Semoga Nisa cepat menyadari kalau itu bukan aku".


Sepanjang perjalanan pulang, Dito bersikap sangat aneh. Dia agresif sekali pada Nisa. Bahkan tangan Nisa digandeng dan tidak dilepaskan nya. Dia juga mencuri-curi ciuman dari Nisa di sepanjang jalan. Bahkan rangkulan dan pelukan mewarnai perjalanan pulang mereka kali ini.


"Tunggu,,,,kau sebenarnya kenapa sih mas??".


"Jangan aneh-aneh deh!!".


"Nisa,, aku sudah kangen sekali".


"Kemarilah Nisa, mari kita saling melepas rindu".


Suara Dito berubah berat ketika mengucapkan perkataan tersebut. Nisa segera menyadari kalau itu bukan Dito suaminya. Dia menjauh dari samping sosok makhluk yang menyamar jadi Dito.


"Berhenti......aku tahu siapa kau sekarang".


"Nisa.......kemari.....Nisa....!!!".


"Untuk apa kau mengganggu ku lagi, aku kemari bukan untuk menemui mu".


"Urusan kita sudah selesai, pergilah.....


jangan lagi kau menggangguku".


"Aku mau kamu Nisa!!".


"Aku bilang berhenti,,, pergi kau sekarang!!".


Sosok itu adalah Genderuwo hutan larangan. Dia selalu tahu kedatangan Nisa. Dia masih berharap kalau Nisa menjadi jodohnya.


Genderuwo itu mendekati Nisa, namun dari kejauhan, dilihatnya Dito sedang berlari ke arah mereka. Genderuwo itu pun tiba-tiba menghilang dari pandangan Nisa.


Dito berlari kencang untuk menyusul Nisa.Sia khawatir Nisa akan diculik lagi. Dari jauh, Nisa terlihat berhenti di persimpangan hutan larangan. Dito mendekat dan menghampiri Nisa.


"Kau sudah tahu siapa yang bersama mu??".


"Iya mas, untung saja aku segera tahu, kalau tidak mungkin dia sudah membawaku".


"Syukurlah....kita pulang saja kalau begitu".


"Ayo mas!!".


"Kenapa dia masih saja mengejar mu, dia kan tahu kau sudah menikah".


"Bagi makhluk halus, jodohnya hanya satu mas, dan menurut dia, aku mungkin jodohnya".


"Makanya setiap kali aku pulang, dia selalu mencari cara agar bisa dekat denganku".


"Inilah resiko dari orang seperti ku mas".


"Aku hanya khawatir Nisa, untungnya kau tak apa-apa".


"Sudah,, jangan pikirkan...kita pulang saja".


Keduanya lalu melanjutkan perjalanan pulang.


Genderuwo itu masih saja mengintai dari balik pepohonan. Berharap ada kesempatan untuk bersama dengan Nisa lagi. Dia selalu menunggu jodohnya kembali ke hutan larangan ini.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2