
"Syukurlah sayang,,, kau tak apa-apa".
"Ibu khawatir sekali padamu nak".
Nisa menggendong Sheina keluar kamar. Ibu dan Sofia masih termangu menyaksikan keanehan yang mereka alami.
"Jelas-jelas tadi Bu Nisa ada di dalam kamar seharian, bukan begitu kan uti??".
"Iya Sofia,,, sudahlah....yang penting Sheina baik-baik saja".
"Ini sebenarnya kenapa sih Bu,,, kenapa kalian
diam saja,,, sudah dua kali ini terjadi".
"Siapa sebenarnya wanita itu".
"Nisa, kendalikan diri mu,, bapak sudah bilang kan,,, bapak yang akan mengurus semuanya".
"Tapi pak,,, ini sudah kelewatan".
"Kalau seperti ini terus, sebaiknya Nisa kembali ke Jakarta saja".
"Tunggu sebentar sayang,,, kau hanya sedang capek saja,, istirahatlah dulu, jangan membuat bapak dan ibu cemas".
"Tapi mas,, kali ini dia sudah mengunci Sheina di dalam kamar,, aku hanya takut....".
"Percayalah,,, mas yakin,, masalah ini akan segera kita ketahui jawaban nya".
Nisa mendekap erat Sheina ke dalam pelukan nya. Banyak pertanyaan yang ingin diungkapkan nya, tapi Nisa memilih untuk diam. Dia masih menghormati bapak dan Dito. Nisa percaya mereka pasti akan mencari jalan keluar yang terbaik.
"Bapak mengerti perasaanmu Nisa,,,,, apalagi menyangkut kedua putri mu".
"Tapi inilah resiko yang harus kau hadapi".
"Tinggal di dekat hutan larangan, dengan segala macam penghuni di dalamnya".
"Sungguh tidak lah mudah".
"Kau sendiri juga sudah sering mengalaminya bukan??".
"Ada hal-hal tertentu yang diluar kuasa kita".
"Pada akhirnya kita hanya harus menerima mereka hidup berdampingan dengan kita".
"Bukankah seperti itu alurnya??".
Seisi ruangan terdiam mendengar kata-kata bapak. Semua ada benarnya juga. Kita tidak bisa mengendalikan makhluk halus sesuai kehendak kita. Hanya harus bertoleransi
dan tentunya waspada, karena kelakuan mereka kadang tidak terduga.
Ibu tiba-tiba keluar dari ruang tamu. Dia kelihatan aneh sekali. Seperti ada sesuatu yang ditahan nya. Bapak segera menyusul ibu, sementara Sofia membuatkan minum untuk Roy.
"Bagaimana pekerjaan kalian".
"Baik Dito,, tinggal kontrak tanda tangan, besok pagi mungkin mereka menghubungi lagi".
__ADS_1
"Sepertinya klien puas dengan presentasi dari Nisa tadi".
"Baguslah....lusa ada karnaval,, kau bisa datang kemari untuk memeriahkannya".
"Itung-itung hiburan, sebelum pulang ke Jakarta".
"Ok,, aku pasti datang".
Ibu masuk ke kamarnya. Dia tak bisa menahan tangisnya lagi. Air matanya jatuh tertahan di wajahnya.
"Jangan seperti ini Bu,, nanti Nisa bisa tambah curiga".
"Tapi pak,,, apa Ndak sebaiknya kita terus terang saja sama Nisa".
"Dia berhak tahu pak,,, karena ini menyangkut dia dan putrinya".
"Bersabarlah Bu,, tunggu sampai karnaval selesai, setelah itu kita ke rumah Mbah Cokro lagi".
Ibu keluar dari kamar dengan mata sembab.
Beliau segera ke dapur untuk menyiapkan makanan. Nisa kebetulan melihatnya.
"Ibu kenapa,,,habis menangis??".
"Nggak nduk,, itu tadi ibu kena asap tungku, perih sekali rasanya".
"Wis,, Ndak papa, nanti juga ilang sendiri".
"Bu,,, kalau ada sesuatu, cerita aja ke Nisa"
Nisa dan Sofia bergegas menyiapkan makanan. Dalam hati Nisa masih ada perasaan yang mengganjal, pasti ibu ada sesuatu yang dirahasiakan. Nisa hafal betul sifat ibu dari dulu.
Malam itu mereka makan bersama di depan televisi.Kebetulan Roy juga belum kembali ke hotel. Suasana makan malam yang menyenangkan, walaupun cuma dengan lauk ala-ala orang kampung.
"Sepertinya aku menginap saja disini kalau kalian tak keberatan".
"Aku takut lewat perkebunan tebu,, ini sudah hampir malam kan??".
"Boleh saja Roy,, tapi rumah bapak ya cuma seperti ini,,bukan seperti hotel mewah".
"Nggak apa pak,, malah jadi keinget kampung halaman".
Alhasil, malam ini Roy menginap di rumah Nisa. Mereka menggelar kasur lantai di depan televisi. Si kembar kebetulan juga belum tidur, jadi Roy dan Dito mengajak keduanya bercanda. Nisa dan Sofia bergabung setelah selesai membereskan dapur.
Hari belum terlalu larut. Mereka juga masih asyik bercanda di ruang tamu, ketika tiba-tiba ada suara tangisan bayi yang terdengar sangat kencang. Arah suara itu berasal dari bilik dibelakang rumah Nisa.
Semua nya kaget mendengar lengkingan tangis bayi tersebut. Nisa reflek menarik Sheina ke dalam pelukan nya. Sementara Sheila dipegang oleh Sofia. Bapak berdiri hendak keluar rumah, Namun pintu dan jendela rumah mereka diketuk dengan sangat kerasnya.
"Kalian tenang saja, jangan panik".
"Biar bapak lihat dulu keluar".
"Tunggu pak, Dito ikut".
"Jangan mas,, siapa tahu mereka hanya memancing kita, supaya pintu terbuka".
__ADS_1
"Pokoknya jangan ada yang kemana-mana".
"Kita lihat saja,, apa lagi yang akan dilakukannya kali ini".
Bapak urung keluar, dia kembali duduk bersama anak dan cucunya. Mereka berkumpul di depan televisi. Sementara di luar,, bunyi ketukan tersebut kian bertambah kencang, ditambah suara tangis bayi yang tak jua berhenti dari tadi.
"Sofia jadi takut Bu,, bagaimana kalau mereka masuk dan menyerang kita".
"Kau jangan khawatir Sofi,, kita tunggu sampai mereka pergi sendiri".
Suasana rumah yang sudah tegang, semakin dibuat mencekam, karena tiba-tiba lampu di dalam rumah padam. Si kembar pun otomatis langsung menangis. Dito dan Roy langsung menghidupkan senter ponselnya.
Bersamaan dengan lampu mati,, suara-suara di luar rumah itu pun berhenti. Berganti dengan suara tangis si kembar yang takut kegelapan. Belum lagi selesai teror di rumah Nisa, seketika mereka dikejutkan lagi dengan suara tembang Jawa pengantar tidur.
"Sebentar, biar bapak periksa listriknya".
"Kalian tetap disini".
Bapak menyalakan senter, dan berjalan keluar, namun semuanya menjerit ketakutan, karena bapak diikuti oleh nenek-nenek dengan rambut acak-acakan dan berkebaya serta memakai Jarit.
"Pak,, awas....dibelakang bapak".
Nenek itu menoleh,, dia memperlihatkan mukanya yang menyeramkan. Tangan nya hampir menyentuh leher bapak, tepat di saat lampu menyala. Nenek itu juga lenyap tak berbekas.
"Sudah,, kalian tenang saja,, dia sudah pergi".
"Ayo,,, lanjutkan lagi ngobrolnya".
"Bapak yakin,,, sejak Nisa datang, sampai sekarang,, mereka terus saja mengganggu kita pak".
"Bilik itu sumbernya,, mereka tinggal disana kan pak??".
"Bilik itu bukan wewenang bapak".
"Itu peninggalan kakek buyutmu,,, bapak akan terkena sial kalau sampai mengusik bangunan itu".
"Kita hadapi saja,, selama mereka tidak mencelakai kita, biarkan mereka berbuat semaunya".
"Kalau bapak tidak berani, biar Nisa yang melakukan nya".
"Jangan lancang kau Nis,, kau itu hanya anak
perempuan,, dengarkan ucapan bapakmu nduk".
"Bu.....Nisa sudah tak tahan lagi".
"Kalau kalian tak ingin diganggu, sebaiknya kalian menginap di hotel bersama Roy".
"Atau,, kembalilah ke Jakarta,,, biarkan bapak dan ibumu ini tenang di sini".
Nisa termangu mendengar kata-kata ibu. Baru kali ini Nisa melihat kemarahan ibu. Nisa semakin penasaran. Sebenarnya apa yang mereka sembunyikan di bilik tersebut.
Bukan nya takut, Nisa malah tertantang untuk tetap tinggal di rumah orang tuanya. Sebelum misteri bilik belakang rumah itu terpecahkan, Nisa belum akan kembali ke Jakarta.
...****************...
__ADS_1