Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Menyatukan Kekuatan


__ADS_3

Nisa,Dito dan Ratri kembali ke Jakarta keesokan harinya. Apa yang di katakan oleh


Guru spiritual Ratri sudah cukup menjadi bekal Nisa untuk mengambil langkah selanjutnya.


Dito dan Nisa pulang ke rumah mereka. Tiba-


tiba Nisa menangis di pelukan Dito.


"Sebenarnya aku sudah lelah menghadapi


semua ini mas.....!!".


"Aku hanya ingin hidup tenang, memiliki anak


yang lucu dan menikmati hidup bersama


keluarga kecil kita".


"Tapi kenapa???? mereka bahkan tidak membiarkan aku hidup tenang".


"Kenapa mas??? kenapa aku???".


"Sayang,,,,kendalikan dirimu......".


"Jangan khawatir, selama aku masih hidup,


entah itu setan, iblis, ataupun manusia, tak akan ku ijinkan menyentuh sehelai rambutmu".


Nisa masih menangis terisak-isak. Baru kali


ini selama berurusan dengan makhluk gaib,


Nisa begitu tertekan.


Nisa bahkan merasa kalau memang ajalnya


sudah dekat. Dia bukan seperti Nisa yang tangguh dan pemberani. Nisa kehilangan


kendali dirinya dan pikirannya.


Dito selalu setia mendampingi Nisa disisinya.


Iblis itu benar-benar menyerang kendali diri


Nisa. Nisa dibuat merasa diri seolah-olah


sendirian di dunia ini.


Karena melihat istrinya yang tertekan, Dito


memutuskan akan membawa Nisa pergi dari


Jakarta. Dia mengutarakan hal ini kepadanya.


"Kau,,,tangani lah urusan iblis sialan itu,,,aku


akan membawa Nisa ke Medan malam ini juga".


"Apa kau yakin Nisa akan aman di sana???".


"Yang penting Nisa jauh dari sini".


"Kalau kau ingin Nisa selamat,,jangan bawa


Nisa pergi ke mana-mana".


"Kami sedang memusatkan pikiran kami untuk melindungi Nisa saat ini".


"Bersabarlah,,kalian tidak sedang berjuang sendiri".


Tiba-tiba dari kamar Nisa terdengar suara yang berat. Suara itu menyuruh Ratri pergi.


"Perempuan itu harus pergi dari sini".


"Singkirkan dia sekarang juga".


Ratri dan Dito menuju kamar, mereka melihat Nisa tertawa terbahak-bahak mengancam


Ratri. Matanya merah menyala dan wajahnya


berkilat marah.


Seketika Ratri terdiam dan memanjatkan doa.


Dia bertindak melalui kekuatan telepati nya, untuk menyadarkan Nisa. Ratri menatap tajam mata Nisa dan menantang iblis yang sedang menguasainya.


"Nisa.........kembalilah,,,,,mereka sedang menguasai mu.......sadarlah Nisa...".


"Ratri.....bawa aku kembali....".


Suara Nisa kembali beberapa saat, namun lagi-lagi suara iblis itu kembali.


"Nisa.....ada dalam genggamanku sekarang,,


selangkah lagi......aku akan menjelma....


tunggulah hari kebangkitan ku....".

__ADS_1


Ratri duduk di pojokan. Dia bermeditasi dan


meminta bantuan gurunya.


Tak lama kemudian, sinar biru muncul dari luar dan menembus tubuh Nisa. Sesaat Nisa


terasa seperti tersengat aliran listrik, kemudian kesadaran nya kembali.


Nisa menemui Ratri yang masih duduk.


"Kau harus mendengar ku, kalau ingin iblis itu


lenyap, kita harus menemukan pak Ali yang


asli".


"Dion pernah menelpon ku, dia sudah menemukan ruangan rahasia tempat


menyimpan kepala manusia".


"Baiklah,,,aku yang akan mengurusnya".


"Tanpa kita cari pun,,,dia pasti mendatangimu".


"Soal ruang rahasia itu,,, orang ku akan menemui Dion nanti".


"Rupanya kau juga tahu , Dion???".


"Nisa,,, isi di kepala mu, aku bisa membaca


semuanya".


"Nanti kalau kau mendapat bisikan lagi, atau


ada yang ingin masuk ke tubuhmu, gunakan


cincin mustika itu".


"Cincin Mustika itu pelindungmu".


"Baiklah...".


Nisa menghampiri Dion yang duduk di sofa


ruang tamu.


"Maaf kan aku,,selalu menyusahkan mu".


"Aku sudah memikirkan ini jauh sebelum


menjadi suamimu".


bisa memahami mu".


"Kita hadapi ini bersama-sama".


Nisa memeluk Dion erat.Dion pun balas mencium keningnya. Nisa sangat beruntung,


suaminya selalu mendukungnya,dan menjadi


penyemangat nya.


Sudah hampir purnama, Nisa sudah mulai


bisa menggunakan kekuatannya. Ratri tak


henti-hentinya mengajarkan kepada Nisa


tentang cara menggunakan kekuatannya .


Bisikan- bisikan gaib itu setiap malam masih


terus didengarnya. Namun Nisa juga sudah bisa menguasai diri agar tidak terbawa oleh


suara yang menyesatkan.


Pagi ini Ratri menemui Nisa seperti biasanya.


"Temanmu Dion itu menghilang".


"Kau yakin??".


"Orang-orangku tak pernah meleset dalam memberi informasi".


"Lantas Bu Mimin??".


"Suaminya membawanya pulang, perawatannya di lanjutkan di rumah".


"Aku yakin pasti terjadi sesuatu pada Dion".


"Terakhir kali, dia mengetahui letak kamar


yang digunakan menyimpan kepala manusia".


"Itulah,,,,iblis itu sangat licik,,,dia memutuskan


segala hubungan demi kebangkitannya".

__ADS_1


"Kau sudah tahu kan,,,,saat bulan purnama nanti, gunakan cincinmu untuk menutupi


cahaya bulan".


"Dengan begitu, kekuatan iblis itu akan melemah,,lalu biarkan aku dan yang lain


bertindak".


"Iya,,,aku paham".


Sehari sebelum bulan purnama, Ratri dan


para penasehat spiritual berkumpul di dekat


Gunung Mijan. Nisa juga sudah sampai bersama Dito.Mereka akan menggunakan


kekuatan spiritual mereka untuk menutup cahaya bulan dari mata iblis.


"Tepat tengah malam nanti,,,,kekuatan iblis akan 2kali lipat lebih besar dari biasanya".


"Kalian sudah siap kan??".


"Jangan sampai kita lengah,,, dia bisa berubah menjadi siapa saja".


Sampai saat ini belum ada kabar dari Dion.


pak Ali juga tidak terlihat.Harusnya di saat


seperti ini mereka sudah bersiap-siap untuk


menjalankan ritual kebangkitan iblis itu.


"Kau tahu,,iblis itu sudah berada di sekitar sini".


"Segala kemungkinan bisa saja terjadi, maka


kau jangan pergi jauh dariku".


"Kami yang sudah terlatih, bisa merasakan aura negatif di sekitar gunung".


"Waspadalah Nisa, waktunya sudah semakin dekat".


Karena saking fokusnya mereka memusatkan


pikiran dan kekuatan, Nisa menyadari kalau


Dito sudah lama pergi dan belum kembali.


Berulang kali Nisa berusaha menghubungi, namun tidak tersambung. Di tengah-tengah


kepanikan Nisa, ada telepon masuk dari nomer asing.


"Jika kau ingin selamat,, datanglah ke gunung Mijan sekarang".


" Kau siapa,,,dimana mas Dito??".


"Nisa,,, cepat pergi dari sini, jangan perduli kan aku,,cepat lari......".


"Kau sudah dengar kan, cepat kesini sebelum


tengah malam,,,atau suamimu tinggal nama


saja".


Nisa tergesa-gesa keluar dari kamar. Ratri yang kebetulan melihatnya, jadi heran.Dia kemudian mengikuti Nisa dari belakang.


Nisa yang tak tahu arah ke gunung Mijan,mencoba bertanya pada penduduk sekitar.Saat itulah, Ratri menemuinya.


"Untuk apa kau ke gunung Mijan tanpa memberitahu kami??".


"Mereka membawa Dito, dia dalam bahaya".


"Tenanglah.....bukan Dito yang mereka inginkan, tapi kau Nisa".


"Aku tahu,,,,makanya aku mau ke sana, aku tak mau mereka melukai Dito".


"Tenanglah,,,,mereka hanya memancingku


keluar".


"Kau tak paham,,,,suamiku dalam bahaya,,,,


aku harus menyelamatkannya.....!!!!".


"Jangan memintaku tenang lagi,,,,aku rela mereka melakukan apa saja padaku, tapi tidak


pada Dito".


Ratri menampar Nisa yang terus berteriak


dan tak bisa dikendalikan. Nisa terduduk


lemas di pelataran parkir hotel.Dia menyesal,,,


tak bisa berbuat apa-apa untuk suami nya.


"Maafkan aku Nisa, terpaksa berbuat kasar padamu".

__ADS_1


"Sekarang kita tunggu penculik itu menelpon kembali, percayalah aku yang menjamin


nyawa Dito".


__ADS_2