
Susana bercanda di ruangan Nisa terhenti ketika handphone Ratri berbunyi. Yeni menelpon dari rumahnya.Dia mengabarkan kalau belum berhasil masuk ke ruangan
di halaman rumah belakang.
"Tapi,,tak ada kejadian aneh menimpamu kan mbak??".
"Tentu ada,, Rudi kesurupan saat aku hendak membuka pintu, lalu aku sendiri diserang sampai hidungku mimisan".
"Lalu aku harus bagaimana Ratri??".
"Kita tunggu saja mbak,,, karena mereka juga
menyerang ruangan Nisa semalam".
"Ini kami sedang membereskan kekacauan yang dibuat nenek tua itu".
"Namanya Mbah 'Rah' dia penjaga rumah kuno milikku, katanya dia sudah seribu tahun di rumah kami".
"Jadi, dia bersatu dengan kuntilanak itu??".
"pantas saja kekuatan nya sangat besar".
"Baik mbak, aku akan bicara dengan yang lain,
nanti aku hubungi lagi".
"Ok....Ratri".
Yeni menutup telponnya. Dia kemudian membicarakan tentang nenek tua yang menyerang Nisa tersebut.
"Baiklah,,,, kita lihat saja kelanjutannya nanti".
"Kau harus hati-hati Nis, dia mengincar mu".
"Tulisan itu,,, dia menginginkan kematian mu".
"Benar,,,aku mengerti!!".
Ruangan Nisa sudah kembali seperti semula.
Nisa berterimakasih pada OB yang membantu membersihkan nya. Dia lalu mulai
mengerjakan tugas-tugasnya yang sudah tertunda karena Nisa ijin sakit.
Nisa tidak begitu memperdulikan ancaman dari makhluk gaib yang menyerang kantor nya. Toh....dua hari lalu Nisa sudah merasakan serangan nya secara langsung.
Ratri dan Anton sudah keluar kantor dari tadi.
Mereka menghadiri rapat di restoran dekat rumah Rudi. Rencananya mereka sekalian
akan mampir ke sana.
Tidak sampai 1 jam, proyek itu berhasil di dapat keduanya. Mereka meninggalkan restoran dengan hati gembira.
"Rudi,,,aku dan istriku di dekat rumahmu,
kalau boleh, kami mau sekalian mampir".
"Ok....dengan senang hati!!".
Ratri dan Anton kembali mengunjungi rumah
Rudi.Kali ini disana ada Yeni asli,bukan kuntilanak yang menyamar. Ini akan jauh lebih mudah bagi keduanya, untuk masuk dan memeriksa isi rumah.
Kedatangan mereka berdua sudah disambut dengan suara gemuruh dan angin kencang di sekitar rumah Rudi.Mereka bergegas masuk ke dalam untuk menghindari celaka. Angin berhenti bertiup, tepat di saat Yeni membuka-
kan pintu.
"Sambutan yang luar biasa, Yeni!!".
"Apa maksudmu???".
__ADS_1
"Yang punya rumah ini menyambut kami dengan ramah mbak".
"Ya,,,, angin kencang dan suara gemuruh, hampir saja aku berbalik dan pulang".
"Ayo,,masuklah...mas Rudi sudah menunggu
kalian".
Mereka bertiga segera menuju ke ruang tamu
Yeni sudah menyiapkan minuman dan makanan kecil untuk kedua tamunya.
Anton dan Rudi bersalaman,,, suasana yang
jauh berbeda dengan waktu kuntilanak itu
masih menyamar menjadi Yeni.
"Kau tidak mengundang kami ke pernikahan mu??".
"Itu....kau terlalu sibuk waktu itu, jadi mungkin kau tidak bisa hadir".
"Ya,,,, aku merasa agak aneh,, dulu Yeni suka sekali mengajakku bepergian".
"Tapi setelah dia membawa pulang Deni beberapa waktu lalu, dia kembali menjadi
Yeni yang betah tinggal di rumah".
"Kau sendiri,, apa sudah beraktivitas lagi,setelah Nina meninggal???".
"Belum,,,, aku masih ingin dirumah, kehilangan Nina merupakan pukulan berat bagiku".
"Kau harus bangkit dan semangat kawan,,,,
Nina sudah bahagia di sana".
"Terima kasih atas dukungan mu".
Mereka meneruskan obrolan sambil terus bercanda. Kehadiran Anton dapat sedikit menghibur hati Rudi.
"Kebetulan sekali,,,ok....silahkan tunjukkan bangunan yang ingin kau renovasi itu".
Yeni menggandeng tangan Ratri dan berjalan ke arah rumah belakang. Mereka saling melempar senyum karena sudah sukses membohongi Rudi.Anton menyusul di belakang mereka. Mereka langsung bergerak ke tempat tujuan.
"Lihatlah,,,ruangan itu sudah seperti tempat
pemujaan setan".
"Ini kuncinya,, kemarin aku dan Deni belum berhasil membukanya".
"Kami sudah keburu di serang nenek itu".
Anton dan Ratri mengamati sekeliling, tampaknya tak ada penampakan terlihat di sana. Anton kemudian membuka kunci ruangan, ketika tiba-tiba dirinya terhempas jauh ke belakang. Dia seperti dilemparkan oleh seseorang.
Benar saja, sosok nenek tua itu berdiri persis di depan pintu.Ratri dan Yeni kaget melihat
Anton terlempar. Ratri segera berlari menolong Anton.
"Pergi kalian.........pergi!!!!!!!!".
Suara nenek tua itu seolah memecahkan gendang telinga keduanya. Anton dan Ratri sibuk menutup kedua telinga mereka. Di saat
yang bersamaan, darah menetes dari hidung keduanya. Mereka langsung lemas, nyaris pingsan.
Anton berusaha fokus dan menangkis suara itu dengan tenaga dalamnya. Sayang, karena tidak fokus, maka dia semakin sakit kepala.
Mereka berdua sudah sangat kepayahan, ditambah lagi dengan angin kencang yang
memutar-mutar tubuh mereka di udara.
"Anton,,, aku tidak kuat,, tenagaku nyaris habis".
__ADS_1
"Nenek ini benar-benar berbahaya".
Mereka masih memegangi telinganya. Kalau dibiarkan, lama kelamaan gendang telinga nya bisa benar-benar pecah.
"Mbak Yeni,, lemparkan garam kearah pintu dan cabut kuncinya".
Dengan raut wajah kebingungan melihat Ratri dan Anton, Yeni segera berlari ke dapur dan
melaksanakan perintah Ratri.
Dia mengambil garam dan dilemparkan ke pintu. Yeni juga mencabut kunci dan menaruhnya di sakunya kembali.
Ratri dan Anton terjatuh seketika. Sosok nenek tua itu sudah menghilang. Keduanya
segera membersihkan darah yang masih menetes dari hidungnya.
"Aku harus bagaimana ini,,,aku tak sanggup jika harus mengangkat kalian berdua".
"Mbak,,, tolong beri kami air putih hangat yang diberi sedikit garam".
"Iya.....aku ambilkan sekarang".
Yeni berlari ke dapur untuk mengambil minuman yang dimaksud Ratri.Keduanya
sudah sangat lemas tak bertenaga. Minuman itu langsung diberikan oleh Yeni.
Walaupun masih lemas,,tapi keduanya berangsur-angsur membaik. Tiba-tiba
terdengar suara serak nenek-nenek, menggema di halaman belakang.
"Aku peringatkan kalian,,,,jangan ikut campur
yang bukan urusanmu".
"Aku penghuni disini selama 1000 tahun....
jangan coba-coba melawanku".
"Pergi........!!!!!!!!".
Anton dan Ratri kali ini tak kuasa untuk melawan. Kekuatan nenek itu sungguh di
luar dugaan. Mereka terpaksa menuruti
perintah suara itu.
Keduanya meninggalkan rumah Rudi dan Yeni dengan perasaan kecewa. Baru kali ini, Anton dan Ratri gagal mengendalikan makhluk halus. Tak ingin kehilangan nyawa, mereka pun akhirnya pulang.
"Kita kurang strategi,,, mengira lawan kita mudah dihadapi".
"Aku juga tak menyangka kekuatan nya sebesar itu".
"Aku akan meminta bantuan Ki Santoso".
"Mungkin dia punya cara menghadapinya, seperti ketika menghadapi iblis di tubuh Nisa".
"Aku melewatkan kejadian itu???".
"Mungkin karena kau masih dipenjara,,, aku akan mengenalkan mu dengan Ki Santoso nanti".
"Baiklah..".
"Ratri,,, hidung mu masih berdarah,,, sebaiknya kita ke rumah sakit".
"Tidak apa,, aku hanya perlu rebahan sebentar".
"Tapi, wajahmu pucat seperti Nisa,,, nenek tua
itu tidak bisa diremehkan".
"Kita tunda saja dulu pekerjaan ini sampai
__ADS_1
Ki Santoso datang ke sini".
"Aku setuju dengan mu".