
Keluarga Nisa dan Roy, nyatanya belum bisa lepas dari bayang-bayang makhluk halus. Sesuatu sosok berhasil mengikuti perjalanan keluarga tersebut sampai di rumah. Apalagi sekarang Sheila dan Sheina sudah bisa merasakan kehadiran makhluk gaib yang ada di sekitarnya.
Malam hari di rumah Nisa yang baru, suasana sangat sepi. Semua keluarga sudah tertidur karena kecapekan. Hanya suara bising kendaraan yang lalu lalang di depan rumahnya, yang masih terdengar ramai. Selebihnya, seluruh penghuni rumah itu terlelap dalam mimpi.
Bu Sri dan Paijo masih ada di dapur, sedang membersihkan sisa makan malam keluarga Nisa tadi. Keduanya memang terbiasa tertidur larut malam dan terbangun di awal pagi, itulah makanya Roy bersedia mempekerjakan keduanya. Suami istri itu sungguh rajin dan cekatan.
"Pak, tampaknya den Roy membawa tamu tak di undang ke rumah ini".
"Aku beberapa kali melihat sekelebat bayangan hitam mondar-mandir di halaman".
"Aku tahu Bu, itulah kenapa dari tadi aku terus-menerus menyeduh kopi".
"Mungkin dia sekedar mampir saja, dan kita harus menjamu nya bukan??".
"Ku harap gelas ke tiga ini bisa langsung membuatnya pergi dari rumah ini".
"Memang nya apa to pak, yang ikut mampir ke rumah??".
"Ibu nggak usah tahu, nanti malah takut sendiri".
"Nanti biar bapak saja yang mengusir nya".
"Sudah,,, selesaikan pekerjaan mu, setelah itu pergilah tidur Bu".
"Iya pak, ibu juga sudah ngantuk".
"Bapak ke depan dulu Bu, mau patroli sebentar".
"Hati-hati pak".
Paijo melangkah keluar rumah meninggalkan istrinya. Dia melihat sosok hitam itu tenaga berada di atas pohon di depan rumah. Untung saja dia tidak jahil dan mengganggu para pengendara. Dia hanya berdiam diri sembari
mengawasi sekitar.
"Nih......kopi buat kamu,,, setelah ini pergi dari rumah ini".
"Jangan ganggu penghuni rumah, mereka juga tidak menganggu mu to?".
"Atau di situ boleh, tapi jangan bikin takut, nanti Ndak tak bikin kan kopi Lo".
Dari kejauhan, kalau orang-orang melihat, mereka pasti mengira Paijo gila karena berbicara sendiri dengan pohon. Untung saja hari sudah malam, jadi tak ada yang memperhatikan ulah nya tadi.
Tidak heran kalau orang seperti Paijo dan Sri punya kemampuan yang tak biasa. Mereka kerap kali di tugaskan untuk menunggui rumah kosong orang-orang kaya. Mau tak mau keduanya harus terbiasa melihat keanehan yang ada di dalam rumah. Lama kelamaan, Sri dan Paijo tidak takut, bahkan menganggap penghuni gaib itu sebagai teman.
Konon katanya, jika di perlakukan dengan baik
mereka tidak akan mengganggu. Tapi sebaliknya, kalau penghuni rah takut, mereka justru semakin nekat mengganggu manusia tersebut.
__ADS_1
Sebelum pergi tidur, Paijo memastikan pintu gerbang sudah terkunci. Dia juga tak lupa membakar sedikit menyan di samping kopi yang di taruh di bawah pohon. Setelah itu Paijo masuk lewat dapur dan mengunci semua pintu rumah.
Keesokan paginya, seluruh keluarga di buat heboh karena Sheila menghilang dari tempat tidurnya. Sofia panik dan langsung menuju kamar Nisa.
"Bu......Sheila nggak ada di kamar nya, saya sudah cari kemana-mana, tapi belum ketemu juga".
"Bagaimana bisa,,, kau sudah cari di semua ruangan??".
"Sudah Bu,, tidak ada....hanya ada Sheina yang masih tertidur".
"Panggil pak Paijo kemari,, dia kan yang pegang kunci pagar".
"Dari tadi sudah di cari, mereka juga menghilang Bu".
"Sofi, Nisa....kalian tenang dulu, mungkin Sheila tidur di tempat bapak".
"Jangan terlalu panik, ini masih pagi kan?".
"Aku takut kejadian kemarin terulang lagi mas".
"Sheila di bawa makhluk halus".
"Trauma nya saja belum di sembuhkan,, ayo mas, kita cari dia".
Nisa dan Roy keluar rumah setelah tak menemui Paijo dan Sri. Di bawah pohon, mereka menemukan kopi hitam dan sisa kemenyan yang di bakar. Nisa semakin cemas. Mengira sesuatu pasti terjadi kepada putrinya tersebut.
"Dia memasang sesajen di tempat ini".
"Aku yakin, mereka sengaja menculik Sheila untuk di jadikan tumbal".
"Pokoknya, aku mau Sheila ketemu mas, bagaimanapun caranya".
"Sabar Nisa,, biarkan aku berpikir sebentar!!".
Nisa masih berdiri dengan raut muka menahan marah, sementara Roy sibuk menghubungi ponsel Paijo yang tak kunjung di angkat.
Tanpa di duga, dari kejauhan terlihat Paijo dan Sri sedang turun dari becak dengan membawa tas berisi sayuran. Paijo menggendong Sheila yang kelihatan tertawa riang karena mainan baru yang di belikan oleh pasangan suami istri tersebut. Paijo menurunkan Sheila dari gendongan dan langsung membuka pagar. Sementara Sheila berlari menghampiri Nisa dan Roy.
"Ma......Sheila seneng deh ikut ke pasar sama Bu Sri".
"Naik becak yang di genjot,, sampai bapaknya nggak kuat".
"Sheila juga di beliin mainan sama Bu Sri, buat Sheina juga ada".
"Ya sudah sayang,, sana masuk....kasih mainan nya ke Sheina dan minta mbak Sofi memandikan Sheila".
"Iya ma..".
__ADS_1
Sheila berlari-lari kecil sambil tertawa riang masuk ke dalam rumah, sementara Roy segera menegur Bu Sri dan Paijo.
"Apa-apa an ini Bu,, kami kan jadi khawatir, kami kira Sheila di culik".
"Untung saja kami belum jadi lapor polisi".
"Maaf den Roy, non Sheila terbangun waktu subuh dan tak punya teman".
"Mbak Sofi juga masih tidur, jadi kami ajak ke pasar sekalian saja, daripada di rumah sendiri".
"Non Sheila seneng sekali Bu, sampai nggak mau pulang dari pasar".
"Maaf kalau tadi nggak ijin sama ibu dulu, soalnya masih pada tidur semua".
"Ya sudah Bu Sri, lain kali kalau bawa anak-anak, tinggal catatan di tempel di kulkas, biar kami nggk bingung".
"Kami pikir Sheila di culik, ternyata di ajak.bu Sri".
"Maaf Bu, saya lanjut bikin sarapan dulu".
"Iya Bu Sri".
Setelah Paijo dan Sri masuk ke dalam rumah, Roy tersenyum kepada istrinya. Dia menyentuh lembut bahu Nisa dan memijatnya ringan.
"Kita terlalu paranoid,, padahal kau lihat sendiri kan bagaimana senangnya putri mu tadi".
"Itu justru yang bisa mengobati traumanya".
"Paijo dan Sri orang baik Nisa,, dia sudah bertahun-tahun ikut keluarga ku".
"Untuk masalah kesetiaan, kau tak perlu meragukan nya".
"Mungkin kau benar mas,, aku terlalu khawatir berlebihan".
"Mungkin anak-anak malah akan cocok tinggal di lingkungan seperti ini".
"Baiklah.....ayo,,,kita bisa mandi bersama kan sekarang??".
"Atau kau masih mau berdiri di sini seharian?".
Roy dan Nisa masuk ke dalam rumah dengan wajah sumringah. Kekhawatiran mereka sama sekali tidak beralasan. Apalagi saat di lihatnya tawa gembira Sheila dan Sheina memainkan permainan tradisional yang di belikan oleh Bu Sri di pasar tadi.
Nampaknya tanpa harus di terapi pun, trauma Sheila sudah hilang saat ini. Dengan lancar dia menceritakan keadaan di pasar, naik andong keliling pasar. Ah......rupanya anak ku ini butuh hiburan. Walaupun hanya hal-hal sepele. Giliran Sheina yang merengek kepada Bu Sri untuk di ajak ke pasar seperti Sheila.
Inilah kebahagiaan yang sesungguhnya.
...****************...
__ADS_1