Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Rahasia Malam.


__ADS_3

Matahari sudah hampir terbenam di ufuk senja. Kedua sejoli itu masih saja berada di dalam kamar. Mereka kelelahan sehabis melakukan aktivitas kilat sesaat tadi. Nisa bangun dan langsung mandi serta berganti pakaian. Setelah itu dia membangun kan Satria.


"Mas,, bangun...atau kita akan menginap di sini".


"Ini sudah hampir malam".


"Apa,,, kenapa aku bisa ketiduran seperti ini".


"Kau sendiri yang memaksa melakukan nya bukan??".


"Aku sudah menolak kan tadi??".


"Ya....sudah,, mana handuknya, aku sekalian mandi saja".


"Aku selalu seperti ini, kepala ku pusing".


"Entah apa yang baru saja ku lakukan".


Nisa heran mendengar Satria menggerutu. Jelas-jelas dia yang menggoda Nisa dan memaksanya untuk bercinta. Tapi dia selalu marah tiap kali terbangun setelahnya.


Nisa membersihkan sprei yang berantakan sehabis dipakainya tadi siang. Lagi-lagi dia menemukan bulu-bulu halus berserakan dia atas tempat tidur. Dengan sapu lidi, Nisa membersihkan ranjang yang habis dipakainya.


"Memangnya, disini ada kucing tadi".


"Aku tidak menyadari kehadiran nya".


"Mas Satria begitu hebat,, jadi aku serasa lupa segalanya".


"Ah.....sudahlah,,,lebih baik aku siap kan makan buat mas Satria dulu".


Bayangan tinggi besar di pojok kamar Nisa menyeringai, seolah tersenyum kepada Nisa.


Dia kemudian menghilang di balik tembok kamar.


Satria keluar dari kamar mandi. Dia lantas memakai bajunya kembali. Dari rumah Satria tidak membawa ganti. Bukan salahnya jika akhirnya dia dan Nisa menikmati bulan madunya di kamar Nisa, sebelum membawanya ke Jakarta.


Nisa sudah tak terlihat di dalam kamar. Ingin keluar, Satria malu karena melewatkan makan siang bersama mertuanya. Alhasil dia hanya duduk bersandar di ranjang sambil memainkan ponsel.


Tak berapa lama, Nisa kembali masuk membawa makan siang dan teh hangat untuk suaminya. Dia letakkan meja tersebut di atas ranjang.


"Makan dulu mas, sebelum kita pulang".


"Rama dan ibu sudah duluan tadi".


"Mereka kelamaan menunggu kita yang tak kunjung keluar dari kamar".


"Ini...makan lah mas,, kita sudah kemalaman, harus segera pulang bukan??".


"Iya,, aku tak bisa kalau harus menginap, tiket ke Jakarta, sudah di pesan jauh-jauh hari".

__ADS_1


"Tak mungkin juga bisa di batalkan".


Keduanya segera menghabiskan makan siang mereka yang tertunda. Sebentar lagi gelap, jalanan akan tampak sepi. Berbeda dengan di kota, di desa ini masih minim penerangan. Mereka masih sanggup bertahan walau hanya memakai lampu minyak.


Nisa dan Satria keluar dari kamarnya dan berpamitan kepada kedua orang tua Nisa.


Di luar, suara kodok dan jangkrik bersahutan memecah keheningan malam. Mobil Satria, pelan-pelan merayap meninggalkan rumah orang tua Nisa.


Sepanjang jalan yang di lalui keduanya, hanya tampak kegelapan. Bayangan pohon besar tertimpa cahaya bulan membuat merinding bulu kuduk Nisa. Di tambah lagi suara burung hantu yang menakutkan, mengikuti perjalanan mereka berdua.


Saat di dalam mobil, bisikan di hati Nisa seolah meminta nya untuk menengok ke belakang. Mungkin sekedar mengenang rumah yang sebentar lagi akan dia tinggalkan.


Namun betapa terkejutnya Nisa melihat pemandangan rumah yang sudah berganti dengan Padang ilalang. Gelap gulita, tak ada penerangan sedikitpun. Samar-samar nampak bayangan wanita tua berdiri memakai tongkat. Rambut putihnya panjang terurai serta badan nya membungkuk. Tersenyum dan melambaikan tangan pada Nisa.


Nisa panik dan meminta suaminya berhenti. Memastikan kalau penglihatan nya salah. Tak mungkin rumah orang tua nya lenyap seketika. Dan wanita tua itu,, sedang apa dia di sana. Seolah mengantarkan perjalanan Nisa menembus kegelapan malam.


"Mas,, coba kita berhenti dulu sebentar, ruang ibu sudah nggak kelihatan".


"Sudah lah Nisa,, kita buru-buru,, lagi pula ini keburu malam".


"Apa kau mau menginap di tempat gelap sepeti ini".


"Kau mungkin cuma salah lihat".


"Sudah,,,lihat saja ke depan, jangan lagi menoleh ke belakang".


Nisa menuruti perintah Satria. Di menatap lurus jalanan gelap di depan nya. Kanan kiri jalan yang di lalui bak sebuah terowongan. Tak ada satupun rumah yang di lihatnya.


Dari kejauhan Nisa melihat seorang wanita menggandeng anak kecil hendak menyeberang. Tapi mobil Satria sudah sangat dekat dengan nya.


"Awas .....mas......!!!!".


Satria kaget dan menginjak rem mendadak.


Mobilnya segera berhenti. Tapi ibu dan anak itu sudah tak lagi tampak di depan nya.


"Kemana mereka Nisa,, apa sudah tertabrak??".


"Aku tak tahu mas,, sebaiknya kita periksa saja".


"Jangan,,, kalau kita turun,, tak mungkin lagi kita bisa keluar dari sini".


"Sudah,, ikuti saja perkataan ku".


Mereka melajukan mobil kembali, diiringi suar lengkingan tawa seorang wanita yang seolah mengejeknya. Selanjutnya berganti dengan rengekan tangis bayi yang sedang kelaparan.


Telinga Nisa terasa sakit mendengar suara-suara yang mengganggu dia dan suaminya.


Tangan nya di gunakan untuk menutupi telinga agar suara-suara ganjil itu tak lagi terdengar.

__ADS_1


"Sebenarnya kita di mana ini mas??".


"Dari tadi belum sampai juga ke rumah".


"Sabar Nisa,, sebentar lagi kita sampai, kau lihat lampu di depan, itu rumah bapak dan ibu".


"Syukurlah....aku takut sekali mas".


"Kau harus terbiasa dengan hal-hal seperti ini".


"Mereka akan selalu menyertai mu, di manapun kamu berada".


Tak berapa lama, mobil Satria memasuki pelataran rumah mertuanya. Mereka masih terlihat bercakap-cakap di ruang tamu. Nampak pula Kinanti yang langsung berdiri menyambut kedatangan Satria.


"Mas Satria,, kau pasti capek bukan,, aku sudah buatkan teh hangat untuk mu".


"Kau bisa keluar dengan selamat dari jalanan gelap itu,, aku sungguh kagum pada mu".


"Lepas Kinan,, aku akan ke kamar ku sekarang".


Nisa mematung di tempatnya berdiri. Rupanya Satria masih marah pada Kinan. Makanya, gelas berisi teh itu, langsung dilemparkan ke benteng rumahnya.


"Kinan, jangan ganggu kang mas mu dulu".


"Kau tidak lihat, dia sangat capek".


"Sekar..masuk lah,, layani suami mu sana".


"Baik ibu".


Tatapan sinis Kinanti mengikuti langkah Nisa memasuki ruang tamu. Dari awal memang tampak kalau Kinanti tak menyukainya. Entah ada alasan apa sehingga gadis itu bersikap dingin kepadanya.


Nisa langsung masuk ke kamarnya. Satria sedang mandi air hangat. Sementara Nisa sudah membawa minuman untuk nya. Dia menunggu Satria selesai, sambil tiduran di atas sofa.


"Nisa,, kemari sebentar,, aku butuh bantuan mu".


Nisa berdiri mendengar panggilan dari suaminya. Dia segera beranjak ke depan pintu kamar mandi.


"Kau butuh bantuan apa mas??".


"Masuk lah,, pintunya tidak di kunci".


Nisa membuka pintu dan mendapati Satria sedang berendam dengan air panas. Malu-malu Nisa mendekati suaminya yang terlihat bentuk tubuhnya secara keseluruhan.


"Bantu aku menggosok punggung ku".


"Tangan ku tidak bisa menjangkaunya".


Nisa mengangguk dan segera menggosok punggung mulus Satria. Tangan nya mengusap punggung Satria dengan penuh perasaan. Hingga sedetik kemudian, ciuman hangat Satria sudah mendarat lembut di bibirnya. Nisa terhanyut, pakaian nya sudah basah. Bentuk tubuhnya pun tercetak nyata.

__ADS_1


Satria tak berkedip memandanginya.


...****************...


__ADS_2