
Beberapa hari belakangan, sejak terjadinya kematian berturut-turut, warga kampung Larangan masih belum berani keluar malam.
Walaupun pak kadus sudah mengumumkan kalau situasi sudah kembali normal, mereka tetap saja masih takut dengan hantu yang bergentayangan. Apalagi makhluk halus itu sampai mengambil korban dari anak muda di kampung.
Di rumah bapak, situasi sudah kembali normal. Roy dan Nisa berencana ke Jakarta untuk mengurus kepindahan mereka. Makanya, pagi-pagi sekali bapak sudah bersiap mengantar keduanya ke bandara.
"Kalian selesaikan dulu urusan kalian di Jakarta".
"Anak-anak dan Sofia biar di sini dulu".
"Kami tinggal mengurus surat pindah pak, rumah ku masih di kontrak, sedang rumah Nisa sudah laku".
"Kami pun sudah membeli rumah di kota ini".
"Untuk tempat persinggahan kalau harus ada pertemuan bisnis atau bisa di gunakan saat lembur kerja".
"Terserah kalian, bapak ikut senang kalau kalian sudah punya rencana yang matang".
"Saya dan Nisa sudah mantap menetap di Yogya pak".
"Soal pekerjaan, kita bisa memulai semuanya di sini".
"Ya sudah, kalian hati-hati, telepon bapak kalau sudah sampai di Jakarta".
"Baik pak".
Bapak hanya mengantar sampai di pintu masuk. Dia lalu pulang kembali, sementara Nisa dan Roy masuk ke ruang tunggu. Sepuluh menit lagi, pesawat mereka berangkat. Roy menggenggam erat tangan istrinya.
"Kau kenapa Nisa,, dari tadi wajah mu kelihatan murung?".
"Tidak Roy, aku hanya kurang enak badan".
"Kenapa kau tak bilang dari tadi?".
"Tahu begini, kita tunda dulu perjalanan kita".
"Aku tak apa Roy, mungkin hanya mau flu saja".
"Ya sudah, sampai Jakarta nanti kita langsung ke dokter".
Sepanjang penerbangan, Nisa hanya menyandarkan kepalanya di bahu Roy. Entah kenapa rasanya kepalanya pusing sekali. Seperti tak kuat untuk di gerakkan.
Sesampainya di Jakarta, Roy langsung membawa Nisa ke rumah sakit terdekat. Dia sangat khawatir dengan keadaan Nisa.
"Bagaimana dengan istri saya dokter, apa perlu opname??".
"Apa Bu Nisa sebelumnya pernah mengalami amnesia?".
"Iya dokter,, beberapa waktu yang lalu".
"Memang apa hubungan nya dengan sakitnya Nisa?".
"Mungkin memori Bu Nisa mulai merekam ingatan nya kembali".
"Dan biasanya, di tandai dengan serangan sakit kepala yang hebat".
__ADS_1
"Saya sudah meresepkan obat supaya nyeri nya berkurang".
"Selanjutnya, tolong dampingi istri anda saat proses ini".
"Karena, mungkin dia akan sedikit kebingungan".
"Baik dokter,, terima kasih banyak".
Pasangan pengantin baru itu pun keluar dari rumah sakit. Roy sengaja menyewa hotel untuk tempat tinggal mereka sementara. Nisa harus menjauhi rumah lamanya, atau ingatan tentang iblis bernama Satria, akan kali lagi ke dalam memorinya.
"Memangnya ini arah ke rumah mu?".
"Setahuku, jalan nya bukan kesini kan Roy?".
"Kita menginap di hotel, rumah mu sudah di jual Nisa".
"Sementara rumahku sudah di kontrak dua-dua nya".
"Jadi, hanya ini yang bisa kita lakukan".
"Begitu,, tapi....Roy,, dalam pikiran ku, aku masih ada ikatan dengan rumah lama ku".
"Tidak ada, anak-anak dan Sofi sudah di Yogya, kau sendiri bersama ku bukan??".
"Ada Roy, seorang laki-laki,, aku merasa dekat sekali dengan nya".
"Itu mendiang suami mu Dito, kau mulai mengingat nya?".
Nisa memegangi kepalanya. Gambaran lelaki ini bukanlah Dito suaminya. Ini adalah laki-laki yang berbeda. Entah kenapa Nisa merasa ada kontak batin dengan dirinya.
"Apa kau melihat wajahnya dalam gambaran mu?".
"Biar kau yakin kalau suami mu sudah meninggal".
"Apa kau mau mengantarku ke sana??".
"Tentu saja,, kita mampir ke sana sebentar".
Roy menyuruh sopir taxi untuk berhenti sebentar di makam. Nisa harus tahu kalau Dito memang sudah meninggal. Jadi, sah-sah saja kalau Nisa dan Roy akhirnya menikah.
Taxi yang mereka tumpangi, tiba di makam Dito. Roy menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam. Nisa mengangkat kepala
nya, dan beberapa makhluk halus tak sengaja terlihat dalam pandangan nya. Padahal beberapa waktu lalu, Nisa sudah kehilangan kemampuan nya sama sekali.
Nisa merapatkan tubuhnya ke samping Roy. Dia terus memegangi lengan suaminya yang sedang berdoa di depan makam Dito. Tiba-tiba, Nisa berbisik di telinga nya.
"Roy, apa kau juga melihat yang sedang aku lihat sekarang?".
"Apa maksudmu,, memangnya apa yang kau lihat?".
"Bermacam sosok manusia yang sangat mengerikan penampilan nya".
"Aku tak paham".
"Kau diam saja dulu,, mereka mulai menghampiri ku".
__ADS_1
"Aku akan berpura-pura tak melihat".
Keduanya terdiam, berpura-pura sibuk membersihkan rumput, padahal dalam hati Nisa merasa sangat ketakutan. Bukan hanya satu sosok yang menghampiri mereka di makam, tapi banyak sekali sosok tak kasat mata yang bermunculan di belakang Nisa dan Roy.
Setelah selesai berdoa dan menabur bunga, Nisa dan Roy segera keluar dari makam. Ada satu sosok tak kasat mata yang mengikuti mereka berdua sampai ke mobil. Dia seorang gadis berambut pirang, dengan gaun pengantin putih penuh noda darah.
Nisa berpura-pura cuek dan tak melihatnya. Hanya sesekali Nisa melirik ke arahnya yang sepertinya tertarik dengan Roy. Nisa menarik Roy agar cepat masuk ke dalam mobil, kemudian buru-buru meninggalkan makam.
"Apa saja yang kau lihat, sampai panik begitu".
"Banyak Roy, dan semuanya menyeramkan".
"Ada satu yang tertarik dengan mu rupanya".
"Gadis pirang dengan gaun pengantin penuh dengan darah".
"Ada juga laki-laki yang kehilangan kepalanya".
"Dia meraba tanah makam, hanya untuk mencari kepalanya Roy".
"Masih banyak lagi yang tak bisa ku ceritakan".
"Sudah Nisa, lupakan itu semua".
"Kepala mu masih sakit sekarang?".
"Sedikit Roy, di tambah perut ku mual melihat darah dan penampakan mengerikan di makam tadi".
"Ya sudah,,,kita istirahat di hotel saja".
Begitu tiba di hotel, mereka berdua langsung masuk dan naik ke kamarnya menggunakan lift.
"Aku seperti mencium sesuatu di sini".
"Jangan aneh-aneh deh, kita masih di dalam lift".
"Iya Roy,,, tapi ini memang....bau anyir darah".
"Kau lihat, dalam lift ini sangat bersih".
"Tak ada apapun, mungkin hanya perasaan mu saja".
"Pencet tombol nya Roy,, di belakang mu ada rambut panjang!!".
"Cepat Roy,,atau dia akan.....!!".
Belum selesai Nisa bicara, tetesan darah dari atas jatuh ke pakaian mereka. Nisa mendongak ke atas. Nampak kepala seorang wanita terpenggal dengan leher yang masih berlumuran darah. Rambutnya terjepit di sela-sela pintu lift. Wajahnya terlihat mengerikan, dengan kedua bola mata yang hampir terlepas keluar.
Nisa menjerit sejadi-jadinya ketika bola mata wanita itu terlepas dan jatuh di sela-sela kaki Nisa. Dia hanya bisa memeluk Roy dan bersembunyi di balik badan nya.
"Cepat Roy,,atau dia akan membunuh kita".
"Sebentar lagi, kepala itu pasti jatuh kesini".
"Tunggu sayang, aku sedang berusaha".
__ADS_1
Nisa sudah panik karena kepala buntung itu terus mendekatinya. Namun, pintu lift terbuka dari luar. Seseorang masuk ke dalamnya, dan hantu kepala itu pun menghilang. Buru-buru Nisa dan Roy keluar dari lift dan masuk ke kamar mereka.
...****************...