
Semenjak kembali ke kampung nya, Nisa hanya mengurung diri di dalam kamar. Seolah tidak ada lagi gairah di dalam hidupnya. Berulang kali bapak dan ibu bergantian membujuk Nisa untuk sekedar makan dan bertemu kedua putri nya, namun Nisa tetap tak bergeming. Di pikiran nya hanya tampak bayangan Roy sedang bersenang-senang dengan iblis bernama Mohana tersebut.
Pagi ini, seperti biasanya bapak masuk ke kamar Nisa untuk mengantar sarapan.Putri nya masih terlelap. Bapak menarik selimut di tubuh Nisa, dan menyuruh putrinya tersebut untuk bangun.
"Sampai kapan kau akan terus begini Nisa", lanjutnya lirih.Nisa membuka matanya dan menatap wajah sendu bapak. Di lihatnya guratan kulit yang menghiasi wajah tua nya.
"Nisa tak tahu lagi mesti berbuat apa pak?",sahut Nisa dengan tatapan sayu ke arah bapak. Bapak menghela nafas panjang, seakan mengerti beban berat yang tengah ada di pikiran Nisa. "Sejak kapan kau menjadi seorang yang lemah?", lanjutnya kemudian. "Bapak tak pernah mengajarkan putri bapak untuk menyerah sebelum berjuang",katanya lagi.
"Kali ini berbeda pak, yang Nisa hadapi seperti bayangan ku sendiri", ucapnya lirih. "Bahkan Roy pun tak bisa mengenali lagi istrinya yang asli", lanjutnya putus asa. "Ayo Nisa,,ikut bapak sekarang!!!", lanjut bapak sambil menyeret tangan Nisa keluar dari kamar tidur nya. Keduanya melangkah ke rerimbunan hutan Larangan yang berada tepat di belakang rumah bapak.
Langkah kaki Nisa mengikuti bapak yang sedari tadi masih terus memegangi tangan nya. Nisa merasa asing dengan pemandangan yang ada di kiri kanan jalan setapak ini. Belum pernah sekalipun Nisa menginjak kan kakinya di tempat ini. Dia merasa sangat heran kalau ternyata di sudut hutan belakang rumah nya, ada tempat se indah ini. "Kita mau kemana pak,, tempat apa ini??", tanya Nisa kepada bapak. Pria tia itu seakan tak perduli dengan ucapan Nisa. Dia terus saja melangkah sampai terlihat bangunan mirip pendopo kuno, terbuat dari kayu jati asli.
"Kita sudah sampai Nisa, tunggu di sini sebentar, bapak akan segera kembali". Bapak melepaskan genggaman tangan nya dan langsung masuk ke dalam pendopo. Setelah menunggu cukup lama, bapak keluar bersama seorang pria lanjut usia yang sudah di hafal Nisa dengan baik.
__ADS_1
"Kemarilah nduk,,,kami sudah lama menunggu mu", ujar mbah Cokro sambil menatap ke arah Nisa. "Tempat apa ini mbah, kenapa bapak membawaku kesini??", jawab Nisa dengan penuh tanda tanya. "Sebentar lagi kau pasti mengerti".
"Sebelum masuk, bersihkan dulu badan mu di dalam sendang itu, lalu kenakan pakaian yang sudah di siapkan", lanjut mbah Cokro menerangkan kepada Nisa.
Nisa terdiam beberapa saat, namun langkahnya segera menuju ke tempat pemandian yang sudah di tunjukkan oleh mbah Cokro. "Apa pula ini??", batin nya sesaat setelah melihat bak mandi penuh dengan kembang tujuh rupa. Kain jarit serta kebaya sudah di letakkan di samping tempat pemandian nya. Tak membuang waktu lama, Nisa segera membersihkan tubuhnya dengan air mandi yang beraroma sangat wangi tersebut. Semacam relaksasi ketika menghirup aroma kembang setaman itu. Maklum saja, belakangan memang beban pikiran Nisa begitu berat di rasakan olehnya. Dia merasa sendirian dab putus asa. Namun, setelah mandi di tempat asing ini, seolah energi Nisa bangkit kembali.
Cukup lama Nisa berada di dalam bak mandi. Memejamkan mata sambil sesekali membasuh badan nya dengan kembang setaman yang di menutupi seluruh permukaan air. Mood nya kembali naik, sampai dia terkejut ketika mendengar suara bapak dari arah luar. "Kalau sudah selesai, cepat kemari Nis, pakai baju yang sudah di siapkan, mbah Cokro sudah menunggu di dalam", sahut bapak memecah keheningan.
"Baik pak, sebentar lagi Nisa selesai", jawabnya kemudian.
Nisa terlihat cantik, bak seorang putri keraton mengenakan pakaian itu. Dia melangkah keluar dari kamar mandi. Tanpa di ketahui oleh nya, sosok ular besar mengikuti dirinya dari belakang.
Nisa berdiri di ambang pintu pendopo.Dirinya berpikir sejenak dan bertanya di dalam hati, sejak kapan bangunan megah seperti ini ada di dalam hutan Larangan. Begitu indah dan tersembunyi di balik rerimbunan hutan.
__ADS_1
"Masuklah Nisa,, duduk lah di sebelah bapak mu", sahut mbah Cokro membuat Nisa tersentak kaget. Tak berapa lama, dia segera beringsut mendekati bapak yang sudah lebih dulu duduk bersimpuh di belakang mbah Cokro.Ruangan yang mereka tempati tidak begitu lebar.Ada satu kursi singgasana yang nampak begitu indah di depan mereka bertiga. Nisa masih duduk diam, memperhatikan dan mengamati gerak-gerik mbah Cokro selanjut nya.
Kedua pria tua itu masih terdiam di tempat nya. Duduk bersila dengan memejamkan kedua mata mereka. Terlihat khusyuk bersemedi. Lain hal nya dengan Nisa. Dia bingung harus berbuat apa. Terlebih kain yang di pakai nya saat ini membuat dirinya kesulitan duduk. Bersimpuh lama-lama membuat kaki Nisa terasa mati rasa. Tak berapa lama, hembusan angin kencang masuk ke dalam pendopo, di iringi oleh kehadiran seekor ular raksasa yang besar nya setara dengan pohon kelapa.
Nisa beringsut, mendekati bapak dan menarik tangan nya, namun bapak tetap diam tak bergerak. Ular besar itu berwarna putih, dengan mahkota hijau berkilau yang bertengger di atas kepalanya. Tatapan matanya tajam berwarna merah. Ular besar tersebut bergerak cepat menuju ke kursi singgasana. Tubuhnya melingkar memenuhi kursi mewah tersebut, dengan kepala tegak menghadap ke depan.
Nisa hendak berteriak, kalau saja dia tak melihat bapak dan mbah Cokro membuka kedua matanya serentak. Mereka menghaturkan salam kepada ular besar yang ada di hadapan nya.
"Nyi Blorong,, terima kasih sudah memenuhi panggilan kami", ucap mbah Cokro dengan lembut. "Hmm....ada perlu apa kau memanggilku kemari,,, aku harap ini hal yang penting!!", jawab ular besar tersebut. Nisa menutup mulutnya karena kaget melihat hewan tersebut bisa berbicara. Tentu saja dia masih belum begitu pulih ingatan nya, sehingga hal ganjil macam ini sungguh di luar logika akal nya.
"Kami bermaksud meminta bantuan Nyai untuk mengatasi masalah yang menimpa putri kami", sahut mbah Cokro selanjutnya. Ular itu tidak menjawab, tapi langsung mengarahkan tatapan nya kepada Nisa. Dia tahu betul kalau saat ini hanya Nisa satu-satu nya orang asing yang di bawa ke pendopo. "Hmm.....kemari kau cah ayu,, biar ku lihat seberapa besar masalah mu", ujarnya kemudian.
Bapak dan mbah Cokro memberi isyarat supaya Nisa mendekat ke kursi singgasana. Dengan perasaan takut, Nisa melangkah ke depan, duduk tepat di bawah kepala ular besar tersebut.
__ADS_1
...****************...