
Segala yang terjadi di rumah Roy, rupanya sudah di atur sedemikian rupa. Konspirasi jahat di tujukan kepada Nisa dan kedua putrinya. Mbah Cokro tahu sejak Roy memanggilnya waktu itu.
"Ari,,,sebenarnya kejadian ini sudah terencana dengan baik".
"Dan sayangnya, Nisa serta Roy sudah terjebak dan masuk ke dalam perangkap yang mereka buat".
"Saya semakin bingung mbah, tolong ceritakan lebih rinci lagi".
"Ibu Roy,,,nyonya Rahmi bukan lah orang biasa".
"Kau pernah dengar tentang cerita harta karun dari presiden pendahulu kita yang sampai saat ini masih terus di buru?".
"Saya pernah dengar mbah, tapi...apa hubungan nya dengan Nisa mbah?".
"Nyonya Rahmi menghabiskan separo usianya untuk berburu harta karun tersebut".
"Bisa kau bayangkan betapa kuat wanita itu menjalani 'lelakunya' untuk menemukan harta tersebut".
"Dia sudah menemukan nya Ari,,, ada tersimpan di dalam rumah Roy".
"Dan kunci dari harta tersebut, hanya Nisa yang tahu di mana tempatnya".
"Lebih tepat nya, Nisa lah pemegang kunci nya".
"Sebentar lagi,,,dia akan mencapai tujuan nya, menjadi orang terkaya di dunia ini".
"Tapi,,harga yang harus di bayar adalah dengan mengorbankan putri mu".
"Maksud mbah Cokro,, apa yang akan di lakukan mertua Nisa??".
"Kau pasti sudah tahu kan, semua yang tahu rahasia harta karun itu, satu persatu sudah lenyap secara misterius".
"Dia akan muncul, memaksa Nisa mengatakan di mana kunci peti harta itu dan langsung menghabisi putri mu".
"Saran ku Ari,, jangan biarkan Nisa kembali ke kota".
"Kalau perlu Roy juga harus tetap disini".
"Tentang sosok Mohana, penunggu patung emas yang mirip dengan Nisa, aku yakin dia tak akan mungkin berani kemari".
"Sebentar lagi, kita akan mendengar kabar kematian lagi".
"Mbah Cokro tahu segalanya, apa tidak bisa mencegah bencana ini??".
"Sebenarnya di mana harta itu di simpan??".
"Hal itu jauh diuar kuasa ku Ari".
__ADS_1
"Kalau aku nekat, aku mungkin juga bisa menjadi korban".
"Mohana adalah sosok yang sangat kuat dan jahat".
"Lebih baik kau peringatkan Nisa, sebelum semuanya terlambat".
"Yang di hadapinya kali ini, bukan lawan yang sembarangan".
Bapak semakin khawatir setelah mendengar kebenaran cerita dari mbah Cokro. Rupanya orang tua Roy bukan seperti orang normal kebanyakan. Dan Roy sama sekali tidak tahu tentang perilaku ibunya. Itu yang akan menyulitkan bapak untuk memperingatkan Nisa nanti.
"Lalu,,bagaimana dengan Roy mbah,,apa kita harus memberitahu dia?".
"Sangat sulit Ari,,anak itu tak mungkin percaya kejahatan orang tua nya".
"Sebaiknya jangan gegabah,, tunggu instruksi dari ku".
"Kalaupun Roy kembali ke rumah itu, ibunya atau pun Mohana tak mungkin mencelakai nya".
"Pemuda itu,,,Alan....dia juga tak boleh pergi ke rumah itu lagi".
"Baik mbah, aku akan mencegah mereka sebisa ku".
Bapak berpamitan pada mbah Cokro untuk pulang ke rumah. Sebentar lagi Nisa akan segera sampai. Sebenarnya tidak semua hal di sampaikan oleh mbah Cokro kepada bapak. Dia menyembunyikan kekuatan hantu jahat bernama Mohana.
Mohana adalah hantu wanita jahat yang mempunyai kemampuan menghisap jiwa para korban nya. Setelah jiwa-jiwa mereka terkumpul di angka 1000, Mohana bisa hidup kembali dengan kekuatan jahat yang sangat dahsyat. Kebangkitan nya akan menyerupai sosok perempuan yang di lihatnya pertama kali. Dan itu adalah Nisa.
"Tinggal 5 korban lagi,,,dan purnama sebentar lagi muncul".
"Semoga saja semesta mencegah kebangkitan Mohana".
Mbah Cokro berdiri dan berjalan menuju ke tempat persembahan yang biasa dia gunakan. Dia bersemedi sebentar untuk menenangkan hatinya. Seluruh penunggu kampung Larangan di ajaknya untuk turut menjaga agar kekuatan jahat Mohana tidak bisa masuk ke wilayah nya.
Bapak baru sampai di persimpangan jalan, saat mobil Nisa melewati dirinya. Alan menghentikan mobilnya dan meminta bapak untuk maduk ke dalam mobil.
"Darimana pak, ini sudah malam lo".
"Bapak ke rumah mbah Cokro tadi".
"Memangnya ada yang penting, hingga bapak pergi ke sana?".
"Tentang rumah mu Roy,,sebaiknya kalian tidak kembali ke sana dulu untuk sementara".
"Tapi pak, di rumah itu ada sesuatu yang bapak belum tahu, makanya aku harus kesana".
"Bapak tahu Roy,,harta karun bukan??".
"Kalau kau tak merasa memilikinya, tinggalkan saja, itu bukan hak kalian".
__ADS_1
"Turuti kata bapak, tinggal lah disini dulu, bapak tak ijinkan siapa pun pergi dari rumah".
Bapak terlihat marah saat menyampaikan keinginan nya. Roy pun ciut nyali nya, mengingat baru sekali ini melihat bapak bersikap tegas semacam ini. Dia harus menuruti kemauan bapak, kalau tak ingin ada keributan.
"Baik pak, kami akan tinggal di sini dulu".
"Bapak benar, itu memang bukan milik kita".
"Lagipula, siapapun tak mampu mengambil atau memegang nya, kecuali Nisa".
"Apa....jadi Nisa sudah masuk ke sana!!".
"Iya pak, bahkan Nisa sempat kesurupan dan pingsan di sana".
Seketika tubuh bapak lemas. Wanita yang di lihat Mohana pertama kali adalah Nisa. Semoga saja tidak terjadi sesuatu pada putrinya ini.
"Sejak memegang patung wanita dari emas itu, Nisa kerap mengalami mimpi buruk pak".
"Itu sebab nya Roy mengajak Nisa untuk pulang dulu".
"Kepala Nisa seperti mau pecah rasanya".
"Entah apa yang terjadi dengan diri ku ini pak".
"Sudah...jangan di bahas lagi, kalian terlalu capek tenaga dan pikiran".
"Mulai saat ini, jangan bicarakan apapun kejadian di kota".
"Kalian harus benar-benar rileks di kampung ini".
Roy dan Nisa mendengarkan dengan seksama ultumatum dari bapak. Pun mereka tak kuasa menolak ketika bapak mengambil ponsel keduanya. Bapak juga meminta Alan menyerahkan handphone nya juga. Ketiga ponsel tersebut di matikan dan disimpan di saku bapak.
Tak lama kemudian, mobil mereka sudah memasuki pelataran rumah. Bapak turun lebih dulu dan menyimpan ponsel ketiganya di lemari.
Pikir bapak, dengan menutup akses informasi, Nisa dan Roy tak mungkin terpikir untuk kembali ke kota untuk sementara. Setidaknya sampai kondisi aman.
Nisa dan Roy langsung masuk kamar. Anak-anak sudah tidur. Keduanya membersihkan diri dan langsung beristirahat di ranjang.
"Sayang, apa kau merasa ada yang aneh dengan sikap bapak tadi".
"Sepertinya begitu mas, tapi aku yakin kalau bapak punya alasan dengan kelakuan nya ini".
"Tapi...ada baik nya juga, kita tak bergantung pada ponsel sampai bapak mengembalikan nya".
"Tidur lah...mulai malam ini, kehidupan di kampung kita mulai".
Roy tersenyum memandang Nisa yang sudah sedikit ceria. Tak masalah bagi Roy kehilangan ponsel, asal kan ada Nisa di samping nya. Itu yang paling penting dari semua hal di dunia ini.
__ADS_1
...****************...