
Menjelang siang, Dito baru sampai di rumah. Nisa sudah pergi duluan ke kantor. Dia jengkel dengan kelakuan Dito yang tidak pulang semalam. Dito sangat merasa bersalah. Hidupnya berantakan sejak berjumpa dengan Mawar.
Dito sebenarnya ingin sekali tahu jati diri Mawar. Setiap kali pergi ke rumahnya, selalu berakhir di samping makam. Sudah kedua kalinya hal itu terjadi. Namun, ketika Dito hendak mengusutnya, pasti ada saja hal yang membuat niatnya tersebut kandas. Salah satunya dengan ngambek nya Nisa kali ini.
Dito harus pintar-pintar membujuknya.
"Sofi,,,Nisa sudah lama perginya??".
"Iya pak, Bu Nisa kesal karena semalam bapak tidak pulang".
"Wah.....gawat ini,,kalau Nisa sudah seperti ini, susah sekali di bujuk".
"Bapak mau saya siapkan sarapan??".
"Tak usah Sofi,,,aku langsung ke kantor saja".
Dito bergegas menyusul Nisa ke kantor. Sementara Roy,,dia sibuk mencari rumah mewah di sekitar makam. Pasalnya, menurut laporan anak buahnya, Dito selalu pulang ke rumah mewah yang terletak di samping pemakaman. Dia selalu bersama wanita yang sama, yang kemarin di bawa ke hotel. Dia menelpon anak buah nya untuk memastikan sekali lagi lokasi yang di tunjukkan.
"Kalian yakin di sini tempatnya???".
"Hanya ada satu rumah kosong yang tak terawat serta pemakaman umum".
"Aku sama sekali tidak nampak rumah mewah seperti di foto kalian semalam".
"Sumpah pak,,semalam kami melihatnya masuk rumah mewah di daerah situ".
"Kami sempat memotret mereka berdua".
"Ya sudah,,,tetap ikuti Dito,,jangan sampai kalian kehilangan jejak".
"Siap pak".
Roy menutup telpon nya. Dia masih mondar-mandir di sekitar makam. Sampai tak dilihatnya penjaga makam berdiri di belakang nya.
"Mau cari siapa mas??".
"Ya ampun pak........ngagetin aja,,, sejak kapan bapak di sini??".
"Tampaknya mas kebingungan, saya perhatikan dari tadi".
"Saya mencari rumah mewah di sekitar sini pak".
"Semalam teman saya ke sini, tapi kok sepertinya rumah nya menghilang".
"O,,,,jadi mas ini juga di ajak oleh Mawar??".
"Hmmmm........gadis nakal,,,kapan kau berhenti mengganggu para lelaki".
"Jadi namanya Mawar pak,,,berarti benar kalau gadis itu yang bersama teman saya semalam".
"Biasanya yang suka mengganggu memang si Mawar ini mas".
"Tapi teman mas harus hati-hati,, Mawar ini berbahaya Lo mas".
"Kemarin saja kami dibuat kewalahan olehnya".
__ADS_1
"Memang Mawar ini siapa pak??".
"Ceritanya panjang mas,, kalau mas punya waktu saya akan ceritakan".
Roy penasaran dengan gadis yang bernama Mawar tersebut. Karena nya, dia mengikuti penjaga makam ke pondoknya. Namun di tengah jalan, ada warga kampung yang memberitahukan kalau ada yang meninggal di kampungnya.
"Maaf mas,, saya terpaksa membatalkan cerita saya".
"Saya punya tugas menggali kubur untuk jenazah warga kampung".
"Lain kali ke sini lagi, moga-moga saya sedang senggang, jadi kita bisa ngobrol".
"Tapi pesan saya,, hati-hati sama Mawar ini mas,,, salah-salah nyawa teman mas bisa melayang".
"Baik pak,, lain kali saya ke sini lagi".
"Sekarang saya permisi dulu".
Roy sedikit kecewa. Tinggal selangkah lagi, dia hampir membongkar perselingkuhan Mawar. Tapi Roy tetap optimis, setidaknya dia sudah tahu nama wanita tersebut. Kalau ingin informasi lebih lanjut, dia tinggal datang dan menemui penjaga makam tersebut.
Nisa hanya sendirian di ruang kerjanya. Anton dan Ratri kembali cuti, mengingat usia kandungan Ratri sudah tinggal menghitung hari. Sejak pagi Roy juga tidak nampak batang hidung nya. Jadi Nisa bisa lebih fokus bekerja.
Namun, ketenangan itu nyatanya tidak berlangsung lama. Dito langsung masuk ke ruang kerja Nisa. Dia membawakan makanan kesukaan Nisa untuk membujuknya.
"Sayang,,,aku bawakan makanan kesukaan mu,,kau pasti belum sarapan kan??".
"Tak usah merayu mas,,,untuk apa kau pulang??".
"Kau tak perlu mengingat keluargamu lagi,,kami sudah terbiasa tanpa mu".
"Klien kita memaksaku minum sampai mabuk,,,dan memesan hotel untuk ku".
"Jadi, aku tak bisa menolak mereka".
"Lagipula, kalau aku menyetir dalam keadaan mabuk, itu juga akan membahayakan bukan??".
"Terserah kau saja mas, aku sudah capek mendengar alasan mu".
"Lakukan apa yang menurutmu baik,,,dan jangan ganggu aku lagi".
"Lagipula, mulai detik ini,aku berhenti mengkhawatirkan mu".
"Apa saja yang ingin kau buat, aku sudah tidak lagi peduli".
Nisa berjalan keluar dan membanting pintu ruang kerjanya. Dia meninggalkan Dito yang masih berwajah polos,seperti tidak bersalah.
Nisa sudah benar-benar capek. Hubungan nya dengan Dito sudah mustahil di selamatkan.
Dito memegangi kepalanya. Dia tak menyangka sudah begitu jauh meninggalkan Nisa. Malam-malam yang di lalui nya bersama Mawar sungguh tak terlupakan. Di akui Dito, Mawar adalah tipe gadis yang hiperseks. Dia tak segan mencoba gaya dan permainan baru. Hal itulah yang membuat Dito tak bisa lepas dari jerat nya.
Roy nyelonong masuk ke ruangan Nisa untuk menyampaikan temuan nya tadi pagi. Namun dia tak menyangka kalau Dito yang ada di sana dan bukan Nisa.
"Nisa,,kau harus tahu ini".
"Aku sudah tahu nama gadis itu,,,dia ......!!!!".
__ADS_1
"Teruskan Roy,,,siapa nama gadis itu".
"Katakan saja padaku sekarang".
"Namanya Mawar,,,,betul kan....!!!".
"Dan kau meninggalkan Nisa, hanya demi seorang gadis pinggir jalan".
"Selera mu terlalu rendah".
"Jadi,,,bersiap lah,,sebentar lagi kau dapatkan gadis mu itu dan aku akan mengambil Nisa dan si kembar".
"Jaga bicara mu Roy,,,Nisa itu masih istri ku".
"Ya,,,,tapi tidak lama lagi".
"Begitu Nisa tahu selingkuhan mu si Mawar itu,,,kau akan langsung habis...!!!!!!".
"Tutup mulut mu.....dasar ...ba****an kau!!!".
Kali ini perkelahian keduanya sudah tidak terelakkan lagi. Mereka baku hantam sampai keluar ruangan. Anton yang kebetulan datang siang, segera melerai keduanya. Sementara Nisa yang baru datang dari kantin, mengikuti
ketiganya menuju ruang rapat.
Sampai di ruang rapat, Nisa langsung menampar wajah Roy dan Dito bergantian. Dia juga meluapkan kekesalan nya pada sikap mereka berdua.
"Keterlaluan kalian,,ini kantor bukan jalanan".
"Kalau kalian mau berkelahi, bukan di sini tempatnya".
"Aku sungguh malu melihat tingkah laku kalian yang macam anak kecil".
"Sama sekali tidak berpendidikan....!!!".
"Cukup Nisa,,,sebenarnya ada apa ini??".
"Apa yang coba kalian sembunyikan dari ku".
"Sekarang juga,,aku ingin mendengar penjelasan dari kalian semua".
"Insiden ini benar-benar mencoreng muka ku sebagai pimpinan di perusahaan ini".
Dito tak bicara sepatah kata pun. Dia berlalu pergi dari ruang rapat. Sementara Nisa menyusulnya ke bawah. Roy yang masih bertahan di dalam ruangan, memilih untuk diam.
"Roy,,aku menghormati mu selama ini".
"Tolong,,,jelaskan padaku tentang kesalahpahaman ini".
"Anton,,,ini bukan waktu yang tepat untuk bicara".
"Lain kali aku akan jelaskan semuanya padamu".
"Untuk sekarang,,biar ini jadi urusan ku dan Dito saja".
Roy juga memilih pergi meninggalkan ruang rapat. Tinggal Anton yang semakin bingung. Dia tak tahu apa yang mesti diperbuat. Sementara, masalah nya pun masih belum diketahui oleh nya.
__ADS_1
...****************...