
Pagi-pagi sekali, pak Sigit dan istrinya terbangun. Mereka berjalan ke dapur untuk merebus air. Roy langsung membangunkan Nisa. Walaupun istrinya itu mungkin baru 1 jam terlelap. Perasaan nya tidak enak sejak semalam. Dia ingin segera pergi dari kampung aneh ini.
"Bangun Nisa, sudah pagi, kita harus pulang".
"Apa motornya sudah jadi mas?".
"Makanya kita cari tahu sama pak Sigit".
"Kau bantu Bu Sigit di dapur dulu".
"Setelah itu baru nanti kita pergi dari sini".
Nisa bangun dan berjalan menuju dapur. Sementara Roy membuka pintu depan. Kali ini desa Kahyangan terlihat jelas, walaupun masih sedikit berkabut.
"Sudah bangun nak Roy??".
"Oh.....bapak rupanya,,,dari mana selagi ini pak??".
"Bapak baru saja melihat motor kalian".
"Bagaimana pak, bisa jadi kan??".
"Iya,,sebentar lagi di antar kemari".
"Syukurlah,, akhirnya saya dan istri bisa pulang juga".
Roy masuk ke dalam rumah dan menyuruh Nisa bersiap-siap. Mereka akan segera pulang. Pak Sigit mengikuti Roy masuk ke dalam rumah. Terlihat Nisa dan Roy sedang merapikan barang-barangnya.
"Kau kelihatan terburu-buru nak??".
"Iya pak, kami meninggalkan dua putri di rumah".
"Mereka pasti sudah cemas, karena tidak mendengar kabar kami sama sekali".
"O..ya pak, mohon maaf...untuk biaya servis motor saya berapa pak??".
"Simpan saja uang mu nak,, kami di sini ikhlas
membantu sesama".
Bu Sigit keluar dari dapur dengan membawa minuman dan cemilan. Kelihatan nya tidak ada warung di sekitar sini, tapi makanan yang di sajikan Bu Sigit sangat lengkap.
"Memang nya di sekitar sini ada pasar ya Bu??".
"Tahu gitu tadi saya ikut ibu".
"Mau beli oleh-oleh buat keluarga di rumah".
"Nggak usah beli nduk, biar di bawakan sama istri saya".
"Kalau cuma untuk oleh-oleh, makanan di sini banyak".
"Nggak usah repot-repot pak, ini tadi saja sudah di bantu".
"Nisa hanya bercanda saja".
"Tak apa,, Bu....bawa kesini bungkusan itu".
__ADS_1
Bu Sigit masuk dan mengambil bungkusan untuk diberikan kepada Nisa. Mereka berdua bahkan tak sempat minum air yang di sediakan. Keduanya segera pamit pulang kepada pak Sigit.
"Ingat nduk,, setelah meninggalkan tempat ini,
jangan pernah menoleh ke belakang".
"Memangnya kenapa pak??".
"Turuti saja perintah orang tua ini, kalau kamu ingin pulang dengan selamat".
"Sekali saja kau menoleh ke belakang, bapak tak akan bisa menjamin keselamatan kalian berdua'.
"Kau mengerti to nduk?".
"Baik pak".
"Yo wis,, sudah sana,, kalian harus segera pulang".
"Terimakasih banyak pak, kami permisi dulu".
Roy menghidupkan mobilnya dan mulai berjalan meninggalkan pelataran rumah pak Sigit. Sepanjang jalan dia berpesan pada Nisa agar tidak menengok ke belakang. Nisa pun mematuhi perkataan suaminya tersebut. Hanya saja dari kaca spion motor, di lihatnya
orang-orang berwajah menyeramkan melambaikan tangan kepadanya. Kampung Kahyangan yang semalam di singgahi nya, berubah menjadi semak belukar bekas kebakaran.
Nisa hanya bisa melihat dari kaca spion saja. Dia pun tak memberitahukan hal tersebut kepada suaminya. Pikirnya mungkin dirinya salah lihat. Makanya dia tak terlalu memperhatikan.
Setelah mengendarai motornya kurang lebih 2 km, Nisa dan Roy baru menjumpai rumah penduduk di pinggir jalan. Jalanan juga terlihat ramai, tidak sepi seperti jalur yang di lewatinya tadi. Aneh nya, orang-orang seperti keheranan melihat Nisa dan Roy dari arah atas. Setiap warga yang di jumpainya seakan melihat hantu.
Penasaran dengan sikap warga sekitar, iseng-iseng Roy turun dan membeli bensin di warung yang ada di pinggir jalan. Penjual bensin itu pun juga memandang aneh ke arah Nisa.
"Sejak tadi saya perhatikan ibu terus menatap saya dan istri saya".
"Maaf mas, saya cuma penasaran saja, kalian berdua ini manusia kan?".
"Tadi saya lihat kakinya napak ke tanah apa nggk".
"Ternyata kalian memang beneran manusia".
"Lah...ibu ngira kami berdua ini hantu gitu??".
"Kok bisa sih Bu??".
"Soalnya kalian kan habis dari lokasi pasar Bubrah yang kebakaran itu to?".
"Biasanya yang dari sana nggak pernah bisa kembali Lo mas".
"Maksud ibu,, saya nggk paham??".
"Tempat kalian berdua turun tadi, itu jalan buntu mas".
"Lokasi itu sudah di tutup setahun yang lalu karena pasarnya terbakar".
"Tapi Bu, di sana tadi ada kampung bernama Kahyangan".
"Kami semalam menginap di sana?".
"Itu lah mbak,,,untung kalian bisa kembali dengan selamat".
__ADS_1
"Memang dulu satu kampung terbakar dan semua penduduknya tewas, tak ada satupun yang selamat".
"Di waktu-waktu tertentu, mereka meminta tumbal dari pengendara motor yang di buat tersesat".
"Sudah puluhan pasangan menghilang, dan jasadnya tak bisa di temukan".
Nisa dan Roy terkejut mendengar penuturan dari penjual bensin tersebut. Mereka mang merasa sangat aneh sejak pertama kali tiba di kampung tersebut. Roy mengambil ponsel di saku celananya. Sinyal di handphone nya sudah kembali. Dia segera menelpon bapak di rumah.
"Halo pak, ini Roy".
"Roy,,kau dan Nisa baik-baik saja kan??".
"Iya pak, sebentar lagi kami pulang pak".
"Maaf kalau semalam tak bisa memberi kabar".
"Semalam bagaimana,,,kalian sudah seminggu menghilang".
"Bapak baru saja mau melapor ke kantor polisi".
"Syukurlah ponsel mu sudah aktif kembali".
Roy terduduk lemas di aspal pinggir jalan raya. Dirinya dan Nisa rupanya sudah masuk ke alam lain selama seminggu. Untung saja mereka tidak makan dan minum selama di sana.Kalau tidak,mungkin sekarang mereka belum bisa kembali".
"Kenapa mas,,bapak bicara sesuatu?".
"Nisa,,buka bungkusan pemberian pak Sigit tadi, aku penasaran isinya apa".
Nisa membuka bungkusan yang di letakkan di motornya. Betapa terkejutnya Nisa dan Roy, saat di buka ternyata isinya ular, kadal tikus busuk, yang perutnya hampir meledak. Nisa langsung muntah-muntah di tempat, karena tak tahan bau busuknya.
Roy jadi paham sekarang. Perkataan bapak dan penjual bensin itu semua nya benar. Dalam seminggu ini, rupanya Roy dan Nisa tersesat di alam lain.
"Kau sudah baikan,, atau kita istirahat saja dulu".
"Aku tak apa mas,, lebih baik kita segera pergi dari sini".
"Aku takut terjadi sesuatu yang tak di inginkan lagi".
"Kau tahu satu hal Nisa??".
"Kita sudah menghilang selama satu Minggu".
"Apa,,,kau tidak sedang bercanda kan mas?".
"Bapak baru mau ke kantor polisi hari ini".
"Untung kau menurut perkataan ku,, kalau tidak, mungkin kita pulang tinggal nama".
"Kalau begitu kita pulang saja mas".
"Aku takut lama-lama di sini".
Roy dan Nisa menaiki motornya kembali dan melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan Nisa berpikir kalau apa yang di lihatnya di kaca spion tadi berarti memang nyata.
Mereka adalah arwah para korban kebakaran di desa tersebut. Aktivitas malam hari yang mirip pasar, mungkin adalah pasar setan, tempat berkumpulnya para roh halus yang mendiami wilayah tersebut.
...****************...
__ADS_1