
Wewe itu mengamati dari dalam pohon tua. Tangan nya berubah menjadi panjang dan berhasil menangkap baju Sheila. Kuku panjang nya di tancapkan di punggungnya hingga mengeluarkan darah. Seketika, Sheila menangis karena kesakitan.
Bapak segera berbalik dan mencoba melepaskan pegangan Wewe tersebut pada Sheila. Namun naas, bapak juga menjadi sasaran tangan panjangnya. Mereka berdua tak bisa bergerak.Tubuh keduanya terseret mendekati Wewe tersebut.
Di saat genting, tiba-tiba terdengar bunyi kerincing, tabuhan untuk mencari warga yang di bawa Wewe. Suaranya membuat telinga Wewe tersebut kesakitan. Serta merta, cengkeraman di tubuh bapak dan Sheila di lepaskan nya. Dia menutup telinga nya dan menjerit kesakitan.
Bapak tak tinggal diam, dia manfaatkan hal tersebut untuk melepaskan diri dari Wewe tersebut. Bapak menggendong Sheila dan berlari sekencang mungkin. Di depan nya, pintu gerbang gaib sudah mulai tertutup. Sebagian sudah berubah menjadi pohon besar. Bapak berlari lebih kencang, dan akhirnya dia bisa keluar dari dunia gaib, dengan Sheila di gendongan nya.
Bapak tersungkur di tanah dengan Sheila berada di pangkuan nya. Keduanya berlumuran darah akibat luka dari kuku sang Wewe. Roy cepat menggendong dan menenangkan Sheila. Putrinya itu pasti ketakutan akibat peristiwa yang di alaminya.
"Tenang sayang, papa sudah bersama mu sekarang".
"Bapak, baik-baik saja kan??".
"Iya Roy,, Untung saja aku dan Sheila bisa keluar tepat waktu".
"Bapak dan Sheila terluka, sebaiknya kita segera pulang biar bisa di obati".
"Menantu mu benar Ari, pulang lah kalian, aku masih ada urusan sebentar di sini".
"Ingat Ari, jangan lengah....mereka masih terus mengintai di sekitar rumah mu".
"Kalian antar pak Ari pulang, yang lain tetap di sini bersama saya dan Mbah Cokro".
"Baik pak RT".
Dua orang warga kampung memapah tubuh pak Ari yang masih lemas. Punggung nya masih mengeluarkan darah. Sementara, si kecil Sheila terlihat jauh lebih tenang di gendongan Roy. Mereka berjalan bersama menuju ke rumah pak Ari.
Roy memandangi wajah putrinya. Masih ada sisa air mata di pipinya. Darah segar juga masih membasahi pakaian nya. Gadis itu terlihat menahan tangis dan kesakitan nya.
"Tenang sayang, sebentar lagi kita sampai".
"Mbak Sofi akan mengobati mu nanti".
"Tidak begitu sakit kan??".
Sheila mengangguk lemah. Roy tahu pasti bagaimana perasaan putrinya. Terbangun di tempat asing bersama sosok mengerikan. Peristiwa itu, tentu saja akan menyisakan trauma yang membekas dalam di pikiran nya.
Rombongan warga yang membawa bapak, tiba di pelataran rumah. Ibu langsung saja keluar dan menyongsong tubuh bapak yang penuh luka dan noda darah.
"Ya Tuhan,, bapak....kenapa bisa sampai seperti ini??".
"Sheila juga,,,Nisa...cepat kemari!!!".
Nisa buru-buru keluar sambil menggendong Sheina, setelah mendengar teriakan ibu. Tak ketinggalan Sofia pun berlari di belakangnya.
Di lihatnya bapak dan putrinya bergantian, Nisa terlihat shock melihat keadaan dua orang yang di cintai nya tersebut.
"Sofi,, bawa perlengkapan medis mu".
__ADS_1
"Ayo mas, bawa Sheila masuk, biar aku yang bawa bapak".
"Terimakasih bapak-bapak, sudah membantu keluarga kami".
"Iya Nisa,, sebaiknya segera obati pak Ari dan putri mu, kami permisi pulang dulu".
"Iya pak, sekali lagi terima kasih".
Sofia sudah siap dengan peralatan medis di
tangan nya. Dengan hati-hati, Roy menyerahkan Sheila kepada Sofia untuk di bersihkan dan di obati lukanya. Ibu dan Nisa juga melakukan hal yang sama kepada bapak.
"Sofi,, kau rawat bapak saja, tampaknya luka bekas benda tajam tampak lebih dalam".
"Sini,, biar Sheila bersama ku".
"Baik Bu Nisa".
Sofia memeriksa punggung bapak. Tampak sayatan yang dalam seperti bekas kuku harimau. Bapak tampak meringis kesakitan saat Sofia membersihkan lukanya dengan alkohol.
"Sepertinya yang bagian ini harus di jahit pak".
"Sayatan nya sangat dalam,, saya takut bisa infeksi kalau di biarkan".
"Kalau begitu, biar aku yang antar bapak ke puskesmas".
"Kalian tak apa-apa kan, di rumah sendiri".
"Ibu kasihan melihatnya seperti itu".
"Baik Bu".
Roy bergegas ke puskesmas dengan mengendarai mobilnya. Sementara, Sheila sudah selesai di mandikan dan di obati oleh Sofia. Saat ini, dia sedang berada di pangkuan Nisa dan di suapi oleh pengasuhnya. Sementara, Sheina berada di pangkuan ibu.
"Sayang,, anak mama,,coba katakan.
bagian mana lagi yang sakit??".
Sheila menggeleng. Dia jadi tak banyak bicara kali ini. Hanya sesekali memegangi lengan dan punggungnya. Mungkin masih merasakan perih akibat luka yang di dapatnya.
"Sayang,,, apa kau sudah kenyang??".
"Sedikit sekali makan mu".
"Sheila ngantuk mama......pingin tidur".
"Ya sudah....sini,, tidur di pangkuan mama".
"Sheila takut mama......nanti kalau tidur, nenek jahat itu membawa Sheila lagi".
__ADS_1
"Tidak akan,, mama akan menjaga Sheila terus".
"Pokoknya,, Sheila aman di pangkuan mama".
"Tidur lah sayang....semua yang ada di sini akan menjaga Sheila".
Nisa memandangi wajah putrinya yang sudah memejamkan mata. Tak mudah bagi anak sekecil dirinya harus melalui peristiwa menakutkan seperti ini. Pasti dia sangat ketakutan semalam.
Nisa teringat pengalaman nya waktu itu. Saat dirinya di culik oleh Genderuwo. Dia lebih besar dari Sheila, namun traumanya tak kunjung hilang sampai saat ini. Putri nya pasti juga merasakan hal yang sama seperti dirinya.
"Ah....putri ku,,kasihan sekali kau nak!!".
"Pasti kau sudah melihat banyak hal selama di hutan itu".
"Semoga jiwa mu kuat seperti ibu mu ini sayang".
"Kau aman sekarang,,mama sudah memeluk mu!!".
Nisa tak hendak meletakkan Sheila, walaupun putri nya itu sudah tertidur. Ibu terlihat cemas menantikan kepulangan bapak, sementara..
Sofia membawa Sheina ke kamar nya.
Tak berapa lama, suara mobil Roy memasuki halaman rumah. Ibu langsung membukakan pintu dan menyambut bapak. Roy membawanya ke kamar dan menyuruh bapak beristirahat. Dirinya juga sangat capek dan ngantuk, karena bergadang semalaman.
"Bagaimana dengan Sheila, Nisa??".
"Apa dia sudah lebih baik?".
"Iya mas,,,tapi aku janji untuk selalu di dekatnya".
"Dia masih sangat ketakutan".
"Sini,,biar aku bawa dia ke kamar".
"Kau bisa ikut berbaring di sampingnya".
"Dari semalam kau juga belum tidur, jangan sampai kau sakit nanti".
Nisa menyerahkan Sheila kepada Roy, dan mengikuti dari belakang. Nisa tahu, Roy juga pasti sangat lelah, tapi dia masih memikirkan istri dan anaknya. Setelah meletakkan Sheila di kasur, Roy segera melangkah ke kamar mandi. Nisa membuat minum dan menyiapkan makan untuk suaminya.
Tiba-tiba saja Sheila terbangun dan menangis kencang. Dia terlihat sangat ketakutan. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Melihat hal itu, Nisa langsung meraih dan memeluk tubuhnya dengan erat.
"Tenang sayang,, mama ada di sini".
"Tidur lah,,kau hanya mimpi buruk, sayang!!".
"Mama ada di sini bersama mu".
Sheila menatap wajah Nisa. Perlahan-lahan dia mulai tenang dan bisa tertidur kembali.
__ADS_1
Ini lah yang di takuti Nisa. Putrinya trauma dengan yang di alami nya.
...****************...