Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Tempat Baru Ular Siluman.


__ADS_3

Dito membawa Sheina masuk ke dalam rumah. Ibu terlihat masih menggendong Sheila. Dia kemudian memeriksa keadaan Sheina.Dia masih baik-baik saja.


"Nisa, gendong anakmu, ini sudah mau Maghrib, nanti kejadian lagi dia hilang dari tempat tidur".


"Nggak papa Bu, biar Dito saja yang gendong Sheina, ibu kalau capek, serahkan Sheila sama Nisa saja".


"Ibu Ndak capek Dito, lagipula Sheila masih tertidur, biar sama ibu dulu".


Nisa duduk di sofa bersama bapak. Dia kemudian berusaha mencari tahu tentang ruangan yang sebelumnya tidak pernah dilihat oleh Nisa.


"Memangnya kenapa bapak menyembunyikan bilik itu dari Nisa selama ini pak??".


"Ceritanya panjang Nis, bapak melakukan nya demi kebaikan mu juga".


"Kejadian tadi persis sama dengan yang kau alami dulu Nisa".


"Bapak mu masih trauma dengan hilangnya dirimu dulu".


"Itulah sebabnya bapak menutup bilik itu untuk selamanya".


"Tapi Bu, disana ada sosok......".


"Cukup Nisa,,, jangan kau sebut kan mereka,, bapak tak ingin hal buruk terjadi di rumah ini".


"Mereka sudah berani mengganggu cucu bapak, dan bapak kali ini tak bisa tinggal diam".


"Sebaiknya kalian tidur dulu, biar bapak yang berjaga di sini".


Nisa diam mendengar kata-kata bapak. Baru kali ini bapak marah dan membentak Nisa.Mungkin ada suatu kejadian yang disembunyikan bapak berkaitan dengan bilik di belakang rumah itu.


Nisa kemudian mengambil Sheila dari gendongan ibu. Dia mengajak Dito ke kamar untuk menidurkan kedua putrinya itu. Sementara bapak dan ibu menggelar kasur di depan televisi. Mereka berbaring di sana sambil berbincang-bincang.


"Apa bapak melihatnya??".


"Wanita itu ada di sana bersama Mbah Sri??".


"Iya Bu, bapak melihat semuanya, walaupun wanita itu membelakangi Nisa, tapi bapak yakin dia dan Mbah Sri pelakunya".


"Terus gimana ini pak???".


"Sheina memang mirip sekali dengan Nisa sewaktu kecil".


"Anak itu juga tidak punya rasa takut seperti Sheila".


"Sudah Bu,, sebaiknya kita diam saja dulu, kita lihat saja dulu".


"Ibu tidur saja dulu, biar bapak yang terjaga".


"Memangnya kau lihat apa Nisa, bapak sebegitu marahnya sama kamu??".


"Bukan begitu mas, bapak cuma khawatir dengan Sheina, anak ini nggak ada takutnya sama sekali".

__ADS_1


"Sebaiknya kau jauhi tempat itu Nis, kau baru saja keluar dari bahaya, kau ingat itu??".


"Iya mas Dito,, kita kesini kan dalam rangka menjauhi hutan itu juga".


"Itu kau sudah tahu,, jadi jaga kelakuan mu,kali ini buang sifat ngeyel mu itu???".


"Iya, mas Dito sayang!!".


Sudah hampir tengah malam. Nisa, Dito dan si kembar sudah terlelap di kamar. Ibu masih berbaring menemani bapak, mereka masih terjaga di depan televisi. Suasana hening malam ini, terusik dengan panggilan dari luar rumah.Suara berat khas nenek-nenek.


"Ari,,, kemarilah.....aku menunggumu".


"Ari......aku datang menagih janji...!!".


"Pak,, suara itu lagi pak, gimana ini pak??".


"Tenang Bu, biar saja, kita jangan keluar".


Sepanjang malam, sosok nenek tua menghampiri rumah Nisa. Dia memutari rumahnya dengan tertawa dan kadang menangis. Dia juga membuat suara berisik semacam batu dipukulkan ke pintu dan suara-suara berisik lainnya. Untung saja bapak tidak terpancing dan tetap berada di dalam rumah. Pukul 3 pagi, barulah gangguan dari nenek tua itu berhenti.


Pukul 5 pagi, Nisa dan keluarganya sudah bersiap untuk berangkat ke pantai.Saking lelahnya, Nisa tidak melihat gangguan di rumahnya semalam. Bapak dan ibu juga sengaja tak memberi tahu kepada Nisa.


"Bapak dan ibu tidak ada yang ketinggalan kan??".


"Iya,, kita berangkat saja, nanti keburu macet jalan nya".


"Ok,, pak".


Sesuai janjinya, Nisa pagi ini hendak melaksanakan amanat dari ibu ratu. Dia akan melepas raja ular yang diambil ya dari kerajaan gaib di tengah hutan waktu itu.


"Bu, tolong jaga Sheila sebentar ya, aku ingin mandi di laut".


"Sebentar lagi Sofia datang bersama Roy, kalian tunggu saja disini".


"Kamu itu mbok ya jangan aneh-aneh to Nis!!".


"Sebentar saja Bu, Nisa cuma mau mandi, mumpung liburan kesini, boleh kan mas??".


Dito mengangguk mendengar permintaan istrinya itu. Nisa kemudian menuju ke tengah laut. Dia sudah berpakaian hijau lengkap. Tangan nya di letakkan di depan dada, dan dia mengucapkan mantra pemanggil penguasa laut kidul.


Nisa kemudian menunggu kemunculan ibu ratu ditengah lautan. Tak berapa lama, sosoknya tampak berjalan di atas air bersama dayang-dayang cantiknya. Dia menghampiri Nisa. Ibua ratu lalu berbicara dengan Nisa.


"Lepaskan ular itu sekarang Nisa, serahkan dia padaku".


"Baik ibu ratu".


Nisa mengangkat cincin nya ke atas permukaan air. Dia kemudian mengarahkan ke atas dan memanggil raja ular tersebut. Tak berapa lama, keluar cahaya merah dari cincin Nisa. Dia keluar dan langsung membelit tubuh Nisa di dalam air.


"Sekarang,, disinilah rumahmu".


"Kau akan menjaga samudera ini di sisi tengah lautan".

__ADS_1


"Masuklah ke kerajaan ku wahai siluman ular".


Siluman ular itu melepaskan lilitan di kaki Nisa. Kemudian dia berputar mengelilingi tubuh Nisa untuk selanjutnya menghilang di tengah lautan. Ibu ratu bersama para datangnya kemudian kembali berjalan di atas air. Sampai di tengah lautan, ibu ratu masuk ke dalam laut dan tak terlihat lagi.


Nisa kembali ke daratan setelah menunaikan tugasnya. Aura wajahnya kali ini terlihat semakin cantik saja. Saat Nisa kembali ke pantai, Sofia dan Roy rupanya sudah ikut bergabung bersama keluarga nya.


"Wah....Nisa, kau kelihatan cantik sekali, apa air laut itu bisa membuat awet muda ya??".


"Kau harus mencobanya Roy, mandi pagi hari


segar sekali rupanya".


"Kau menikmati liburanmu Sofia, sudah kemana saja kau??".


"Sofi jalan-jalan Bu, mumpung lagi di Jogja".


"Halo sayang,, kalian kangen sama suster Sofi nggak nih??".


"Sini,, biar suster cium dulu kesayangan suster Sofi ini".


Sofia mencium si kembar dengan gemas. Sudah dua hari mereka tidak bersama. Sheila terlihat menangis ingin digendong oleh Sofia. Sementara Sheina anteng saja digendong oleh Dito.


"Mereka tidak rewel kan Bu,,,soalnya malah saya yang kepikiran".


"Tenang saja Sofi, aku dan mas Dito bisa menangani kedua putri kami ini".


"Iya Bu, mereka tampak sangat manis".


Nisa memandang ke laut lepas. Ular itu masih berputar-putar di tengah lautan Sesekali dia muncul ke permukaan. Tentu saja hanya Nisa yang bisa melihatnya.


Nisa masih duduk di tepi pantai bersama Dito dan si kembar. Sofia dan Roy, berdiri tidak jauh dari mereka. Tiba -tiba dari tengah laut, siluman itu menghampiri Nisa dan berdiri di depan nya, seolah- olah hendak memangsanya. Tangan Nisa terulur hendak mengusap mahkota bermata merah tersebut.


Namun tiba-tiba, Roy berlari menghampiri Nisa, sehingga membuat siluman ular itu terkejut.


"Awas Nisa,,,ada ular besar di depanmu!!".


Nisa kebingungan melihat tingkah Roy. Dia tidak beranjak dari tepi pantai, sampai Roy menarik tangannya untuk menjauh dari tempat itu.


"Ular itu mau memangsa mu, apa kau tidak tahu??".


"Tenang Roy,,mungkin kau salah lihat".


"Aku tak mungkin salah lihat,, dia itu ular yang ditengah hutan bukan??".


"Bagaimana dia bisa sampai ke sini??".


"Roy, pelan kan suaramu, ini tempat umum".


Beberapa pasang mata pengunjung, memperhatikan kejadian tadi dengan heran. Mereka mengira bahwa Roy sedang mengada-ada. Nisa menanggapi dengan tersenyum para pengunjung yang sedari tadi menatapnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2